
"Hai Om.. Ini nomor ponselku yang sekarang ya." Pesan masuk dari nomor tak dikenal pada Davan.
Davan melihat foto profilnya dan hanya menggambarkan sebuah pantai yang ia ambil dari google, namun Davan tau siapa yang mengiriminya pesan, siapa lagi kalau bukan Billa, karna hanya Billa seorang yang memanggilnya dengan panggilan Om.
"Kamu beli Hp?" Balas Davan.
"Beli, Om. Biar Om gampang hubungin aku. Aku beli ponsel dari uang yang Om kasih." ~Billa~
Davan tersenyum saat membaca isi pesan Billa, Billa membeli ponsel dengan alasan agar Davan bisa menghubunginya dengan mudah. Padahal Davan sudah berencana akan membelikannya sebuah ponsel saat Billa lulus sekolah yang bertepatan dengan umur Billa yang ke tujuh belas tahun.
Diam diam sikap Davan memancing rasa penasaran Aldrich, Aldrich menyenggol lengan Chelsea dan menunjuk Davan dengan dagunya. "Lihat Davan, Chel." Bisik Aldrich.
Mereka kini tengah berkumpul dirumah Ghea untuk ikut merasakan kegembiraan yang Chelsea dan Zayn dapat, yaitu kehamilan Chelsea.
"Gejala, Al." Jawab Chelsea.
"Gejala apa?" Tanya Aldrich bingung.
Chelsea menyipitkan matanya menatap Aldrich, "Sepertimu. Gejala Bucin."
Clara yang berada disamping Aldrich pun ikut tertawa seperti Chelsea.
"Ishh kalian kompak sekali." Kata Aldrich.
"Siapa wanitanya?" Kali ini Clara yang bertanya.
"Entahlah, dia gak bilang bilang sama aku." Jawab Aldrich.
"Sejak kapan ya?" Gumam Chelsea yang terdengar oleh Davan dan Clara.
"Pantas saja tiap aku aku ke perusahaan Kakek Erick, asistennya Davan bilang, Davan sedang keluar. Sepertinya bertemu dengan wanita." Kata Aldrich.
"Lain kali kalau kamu ke perusahaan Kakek Erick, jangan tanya asistennya, coba aja langsung masuk keruangan Davan." Ide Chelsea.
Aldrich mengangguk. "Akan kujalankan idemu itu Chel."
"Orang hamil idenya ada aja." Ledek Clara.
"Kamu mau hamil juga, Yank? mau aku hamilin?" Tanya Aldrich menggoda.
"Ck kalian ini. Masalah ranjang jangan diumbar disini. Lagipula memang tiap malam kamu gak berusaha buat hamilin Clara?" Cibir Chelsea.
Aldrich tertawa, "Jawabanku sama dengan jawabanmu, Chel. Memang Kak Zayn tiap malam tidak membuatmu hamil?"
Mata Chelsea membola, lalu mentoyor kepala Aldrich. "Udah nikah kenapa mikirnya mesum sih Al?"
Aldrich berdiri sambil tertawa, "Karna udah tau yang enak enak." Lalu ngeluyur pergi untuk mendekati Davan dan mencari tau.
Clara hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tiap hari, Ra?" Tanya Chelsea menggoda.
Clara mengangguk, "Itu alasan aku resign kerja, Chel. Pagi pagi saja aku masih dibuat lemas olehnya." Ucap Clara.
Chelsea tertawa, "Begitulah pria, Ra. Tapi kita menyukainya kan."
__ADS_1
Clara dan Chelsea tertawa bersama.
Sementara dikumpulan para orang tua, Jessi dan Stevi juga Ghea tengah membicarakan anak anak mereka.
"Davan belum ada tanda tanda ada jodohnya, Ghe?" Tanya Jessi.
Ghea menggelengkan kepalanya, "Davan keasikan kerja, gak pernah bicara soal cewek." Jawab Ghea.
"Lagi pula umurnya masih dua puluh lima tahun, biar aja masih seneng senengnya kerja." Sahut Stevi.
Ghea mengangguk, "Papanya aja nikah pas umurnya kepala tiga." Ghea tertawa mengingat kejadian dulu saat menikah dengan Fadhil.
"Ya, nikahnya sama gadis berumur delapan belas tahun." Sahut Fariz yang ikut masuk kedalam obrolan.
"Ish lu nyamber aja." Cibir Ghea.
"Kan gue saksi hidup perjalanan lu, Ghe." Kata Fariz sambil merangkul bahu Stevi.
**
Dua bulan sudah Davan terus menerus bertemu dengan Billa dikantornya, dan hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah Billa. Davan menunggu Billa yang katanya sudah jalan kekantornya menaiki ojek online.
Billa tiba pukul sebelas siang memang selama ujian berlangsung, Billa pulang lebih cepat.
Billa berjalan memasuki perusahaan tempat Davan bekerja. Saat di Lift, Billa berpapasan dengan Aldrich. Didalam lift, Aldrich melihat sekilas kearah Billa yang masih memakai seragam sekolahnya, ia berpikir untuk apa anak SMA berada diperkantoran.
Mereka sama sama menuju lantai dimana terdapat ruangan Davan, hal itu membuat Aldrich semakin curiga, pasalnya dilantai itu khusus staff CEO dan Presdir saja.
Aldrich membiarkan Billa keluar dari lift terlebih dahulu, ia ingin tau siapa gadis yang memakai seragam SMA itu.
Rasa penasaran Aldrich semakin menjadi saat melihat Billa masuk kedalam ruangan Davan setelah tersenyum pada Samsul, asisten Davan.
"Davan didalam?" Tanya Aldrich tanpa basa basi.
"Siapa gadis berseragam sekolah itu? Apa dia sering kemari?" Tanya Aldrich tajam.
"Jawab, Sul!! Kamu tau aku juga mempunyai saham dan hak istimewa diperusahaan ini, aku bisa bilang pada Kak Damian untuk memecatmu dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan." Tegas Aldrich.
"Maaf, Pak Aldrich. Gadis itu tamu nya Pak Davan." Jawab Samsul.
"Tamu atau kekasihnya?" Tanya Aldrich.
"Bukan, tuan. Yang saya tau jika Pak Davan hanya membantu gadis itu, mereka tidak memiliki hubungan." Jawab Samsul apa adanya.
Aldrich neninggalkan Samsul dan berjalan kearah ruangan Davan.
Aldrich masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Suara pintu terbuka membuat Davan dan Billa menoleh kearah pintu. Davan duduk dikursi kebesarannya sementara Billa duduk bersebrangan dengan Davan, mereka terlihat membahas sesuatu dan itu adalah soal ulangan Billa yang Davan koreksi.
"Al..." Panggil Davan dengan datar.
Aldrich menatap gadis berseragam itu kemudian menghampiri Davan. "Kau susah sekali dihubungi." Ucap Aldrich.
"Aku sibuk." Jawab Davan.
__ADS_1
"Sibuk bersama kekasihmu?" Tanya Aldrich menyelidik sambil melirik kearah Billa.
"Hei, dia bukan keksasihku." Jawab Aldrich cepat. "Lalu, siapa dia?" Tanya Aldrich.
"Dia Billa." Jawab Davan santai.
Billa berdiri dari duduknya, ia merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Om, aku pulang aja ya." Kata Billa sambil merapihkan isi tasnya.
"Duduk Bill, tunggu disini sebentar." Ucap Davan.
"Al, ikut aku." Davan mengajak Aldrich keluar dan menuju keruangan rapat untuk berbicara dengan Aldrich.
"Kamu menyukainya, Dav?" Kata Aldrich tiba tiba.
"Kau ini ngomong apa, Al? Dia hanya anak kecil." Jawab Davan santai.
"Tapi kau menyukainya, Dav." Kata Aldrich lagi.
"Jangan sok tau, Al. Aku hanya membantu dia." Jawab Davan.
"Membantu apa?" Tanya Aldrich menyelidik.
"Aku mengenalnya saat di resort, dia tengah di bully oleh teman temannya dan trnyata dia salah satu penerima bea siswa dari yayasan Papa." Kata Davan. "Lalu aku bertemu dengannya lagi saat dia sedang berjualan menjadi tukang asongan dilampu merah, aku menyuruhnya kesini dan meperkerjakannya, tapi dia masih dibawah umur, tidak mungkin aku memperkerjakan dia. Karna itu aku menyuruhnya setiap hari kesini untuk belajar, dan kubayar dia satu juta untuk satu minggu." Jelas Davan panjang lebar.
Aldrich mengernyitkan dahinya. "Hei, hal konyol macam apa yang kau buat, Dav. Kamu menyuruhnya kesini untuk belajar dan kamu membayar dia? Konyol sekali."
Davan memutar malas bola matanya. "Kau lebih konyol, rela jadi supir gadungan untuk dekati Clara." Kata Davan mengingatkan.
"Aku jelas tujuannya, untuk mengejar Clara. Lah kamu apa tujuannya?" Pertanyaan Aldrich cukup menjebak.
"Tujuanku ya membantu gadis itu." Davan yang cerdaspun bisa menjawabnya dengan santai.
Aldrich menghela nafasnya, "Dav. Kau menyukainya." Kata Aldrich pada akhirnya.
Davan tetap bersikukuh untuk membantahnya.
"Dav, kau tak pernah seperduli ini pada wanita." Kata Aldrich.
"Aku perduli pada Chelsea." Jawab Davan yang seolah olah tidak pernah kehabisan stock jawaban.
"Itu beda, Dav. Chelsea bukan orang asing untuk kita. Sedangkan gadis itu dia gadis asing." Ucap Aldrich.
Davan mengusap wajahnya kasar. "Aku bilang aku hanya menolongnya, Al."
Aldrich mengangguk, "Cukup berikan dia uang saja itu sudah membantunya. Mengapa harus sampai membuatnya datang menemuimu setiap hari."
"Agar dia tidak membohongiku. Bisa saja dia malah kelayapan dan menghambur hamburkan uang yang kuberi." Kata Davan.
"Tetap ini hal tidak masuk akal, Dav." Kata Aldrich yang mulai melemahkan suaranya.
Davan hanya diam, ia sendiri juga bingung mengapa sampai bertindak sebegitunya untuk membantu Billa.
"Dia memanggilmu Om, apa dia kau sugar daddy nya?"
__ADS_1
Davan menatap tajam Aldrich.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...