
Aldrich terkejut saat melihat isi map coklat yang diberikan oleh orang orang suruhannya.
Beberapa lembar foto sepasang anak kembar dengan wanita yang ia kenali.
Kurang dari tiga hari, orang orang Aldrich berhasil mendapatkan informasi tentang Jidan dan Jihan.
"Billa, jadi benar perasaanku yang megatakan bahwa anak itu dalah anak Davan." Kata Aldrich bermonolog.
"Jidan Davanka, Jihan Davina. Itu nama anak kembar mereka."
Aldrich semakin terkejut saat mengetahui pekerjaan Billa yang hanya admin di online shop dengan gaji satu juta rupiah setiap bulan. Mereka pun tinggal disebuah rumah yang tlah ditinggal oleh pemiliknya dan Billa membayar rumah itu dengan menjaga dan mengurus rumah itu.
"Ya Tuhann.." Gumam Aldrich. "Aku menemukan mereka, Dav. Istri dan anak anakmu."
Aldrich segera menyelesaikan meetingnya bersama penanggung jawab proyek yang bekerjasama dengannya. Kemudian ia segera menuju kerumah Billa, menurut laporan dari orang orangnya, Billa akan pulang kerumah tepat pukul empat sore.
Billa membuka pintu setelah seseorang mengetuknya, Billa terkejut saat melihat ternyata Aldrich yang kini ada didepan matanya. Dengan cepat Billa menutup kembali pintunya namun Aldrich menahannya.
"Bill, aku harus bicara padamu." Kata Aldrich sambil berusaha menahan pintu.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan, Kak Al. Tolong aggap saja kita tidak pernah bertemu." Ucap Billa.
"Billa, tolong. Kita harus bicara. Aku harus meluruskan semua ini." Aldrich masih terus berusaha namun Billa sepertinya susah ditaklukan.
"Jika kamu tidak mau bicara, aku akan membawa Jidan dan Jihan pada Ayahnya." Kata Aldrich dengan terpaksa mengancam.
Billa terdiam, tidak mungkin ia membiarkan Davan mengetahui soal Jidan dan Jihan.
Billa tidak lagi menahan pintunya dan membiarkan Aldrich membukanya.
"Jangan katakan apapun pada Mas Davan, Kak Al. Aku mohon." Ucap Billa.
"Bill, Davan mencarimu." Kata Aldrich.
Billa menggelengkan kepalanya, "Dia akan melepaskanku, mengapa mencariku?" Tanya Billa tak suka.
"Bill, tidak semua yang kamu dengar itu benar. Kamu tidak mendengarnya sampai selesai." Kata Aldrich.
"Tetap saja Mas Davan mempunyai niat melepaskanku. Untuk apa aku bertahan jika tidak diperjuangkan?" Kata Billa sedikit emosi. "Aku tidak pernah tau apa kesalahan Ibuku, Mengapa mereka menganggapku salah juga?"
"Tidak ada yang menganggapmu salah, Bill. Tanta Ghea dan Om Fadhil bahkan sudah memaafkan kesalahan Ibumu demi meringankan beban Ibumu. Kamu hanya tidak memberi Davan waktu sedikit lagi saja, Bill."
Billa diam mendengarkan setiap perkataan Aldrich.
"Hidup Davan berantakan, Bill. Ia bahkan menutup diri dan hanya menghabiskan waktu dengan bekerja. Sepanjang hidupnya hanya dipakai untuk menyesali perbuatannya. Bahkan tespek yang kamu tinggalkan, diberinya bingkai dan diletakan dimeja kerjanya. Davan benar benar hidup dalam penyesalan, dia merindukanmu dan anak anak kalian. Pulanglah Bill." Kata Aldrich.
"Ibuuu!!" Jidan dan Jihan segera berhambur memeluk pinggang sang Ibu.
"Bapak ngapain kesini?" Tanya jidan tak suka.
__ADS_1
Aldrich berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Jidan.
"Hei. Aku adalah Om mu. Aku adalah Kakak dari Ayahmu." Kata Aldrich.
Jidan mendongakan wajahnya, seolah menanyakan pada Ibunya, namun Billa hanya diam saja.
Supir Aldrich yang menunggu didepan gang, menyusul Aldrich.
"Pak, Ibu kontraksi di hotel. Langsung dibawa kerumah sakit." Kata Supirnya.
Aldrich seketika langsung panik.
"Aku tinggal dulu, Bill. Pikirkan lah semua ucapanku. Pulanglah, Bill. Maafkan kesalahan Davan." Kata Aldrich sebelum akhirnya meninggalkan rumah Billa.
"Bu..." Panggil Jihan.
Billa menunduk. "Iya, Ji."
"Benar dia Kakaknya Ayah, Bu? Mengapa Ayah tidak ikut kesini, Bu?" Tanya Jihan lagi.
"Ji. Ayo kita masuk." Ajak Jidan yang mengerti kondisi sang ibu yang terlihat sedih.
Billa duduk termenung memikirkan semua perkataan Aldrich. Namun ia belum siap jika untuk bertemu dengan Davan. Bagaimanapun Davan tidak memperjuangkannya dan cenderung memilih melepaskannya saat itu.
Hari berganti, Jidan dan Jihan kembali berjualan di area keramaian. Billa pun kembali bekerja seperti biasa.
"Tidak, Ji. Bukankah Ibu bilang jika kita harus menjauhi kawasana perhotelan?" Kata Jidan mengingatkan.
"Tapi apa salahmya jika kita coba, Jid. Apa lagi ini hari terakhir diliburan sekolah. Banyak yang akan keluar dari hotel, mana tau jualan kita laku disana, uang kita hampir cukup untuk membeli sepatuku dan juga sepatumu." Kata Jihan.
Jidan tampak berpikir, kemudian mengangguk.
Mereka berdua mengasongkan dagangannya pada mobil yang keluar dan masuk diarea hotel. Billa senang karna dagangganya sudah berkurang tiga pak. Jidan tersenyum melihat adiknya yang terlihat senang seperti itu.
"Hei, Kalian, sini." Panggil seorang wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang tidak lagi muda.
Jidan dan Jihan menghampirinya.
"Kalian berjualan apa?" Tanya Wanita itu.
Jihan mengasongkan dagangannya.
"Ma.. Kenapa tidak masuk." Suara bariton membuat wanita itu menoleh.
Mama ingin membeli souvenir dari mereka, Dav." Kata wanita yang ternyata adalah Ghea.
Davan melihatnya, ia memperhatikan kedua wajah Jidan dan Jihan.
"Kalian Kakak beradik?" Tanya Davan.
__ADS_1
"Kami kembar tapi tidak identik, dia kakakku selisih tiga menit." Jawab Jihan sementara Jidan hanya diam seperti biasanya.
"Aku ingin membeli ini dua." Kata Ghea. "Berapa?" Tanya Ghea lagi.
"Empat puluh ribu." Jawab Jidan.
Ghea mengeluarkan uang lima puluh ribu, "Ambil saja kembaliannya." Kata Ghea.
"Benarkah, Bu?" Tanya Jihan berbinar.
Ghea mengangguk,
"Kita bisa beli sepatu untuk besok sekolah, Jid. Ayo kita kepasar." ajak Jihan.
Tidak boleh diterima, Ji. Kembalian tetap harus kita kembalikan." Kata Jidan mengingatkan.
Jihan mengangguk meski terpaksa. Jidan memberikan uang pecahan sepuluh ribu kepada Ghea. "Maaf, Bu. Ini kembaliannya." Kata Jidan.
"Ambil saja, Nak." Jawab ghea.
Jidan menggelengkan kepalanya.
"Ambillah, Nak." kata Ghea lembut.
Jidan merasa terhipnotis dengan tatapan lembut Ghea kemudian mengangguk. "Terimakasih." Ucapnya.
Ghea dan Davan memang tengah berada di Jogja untuk melihat kondisi Clara yang melahirkan secara spontan saat sedang liburan di kota ini.
"Siapa nama kalian?" Tanya Davan yang kini berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jihan. Davan bagai terhipnotis melihat mata bulat Jihan.
"Namaku Jihan, dan dia Jidan." Jawab Jihan.
"Nama yang cantik sekali." Kata Davan. "Kalian kelas berapa?" Tanyanya lagi.
"Kami kelas dua SD." Jawab Jihan.
"Jika kalian berjualan, apa kalian tetap sekolah?" Tanya Davan penuh rasa ingin tau. Tiba saja Davan merasa perduli pada kedua anak kembar itu.
"Tentu saja kami sekolah, pulang sekolah kami akan kembali berjualan." Kali ini Jidan yang menjawab. Bahkan biasanya Jidan sulit sekali berinteraksi dengan orang asing. Namun kali ini Jidan bisa berhasil berinteraksi dengan Davan.
"Apa pekerjaan Ayahmu?" Tanya Davan.
"Kami tidak memiliki Ayah, kami hanya memiliki Ibu. Ibu bekerja ditoko yang menjual pernak pernik dekorasi rumah." Jawab Jidan.
Deg...
Pikiran Davan teringat saat mengajak Billa berbicara dipinggir pantai. Billa yang tidak memiliki Ayah dan mencari pekerjaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1