
Dengan sabar, Jidan menunggui Jihan dirumah sakit. Amel pun setia menemaninya.
Davan kembali kerumah karna Jidan yang memintanya, Jidan tidak ingin ada satu orangpun yang menyudutkan Jihan hingga membuat Jihan semakin drop.
Ghea dan Fadhil datang untuk melihat kondisi Jihan. Meski kecewa, namun mau seperti apapun Jihan adalah cucu yang mereka sayangi.
"Jid.. Bagaimana kabar saudarimu?" Tanya Fadhil.
"Kondisinya masih lemah, Kek." Jawab Jidan. "Maafkan Jihan, Kek. Jika Kakek malu karna Jihan tlah mencoreng nama baik keluarga, Jidan akan membawanya pergi." Kata Jidan serius.
Fadhil melihat keseriusan diwajah Jidan. Jidan yang begitu menyayangi saudarinya dan tetap melindunginya.
"Kakek tidak menyalahkan Jihan, Jid." Kata Fadhil pada akhirnya. "Kakek tetap menyayangi Jihan. Dan Kakek bangga padamu karna slalu menjadi yang terdepan untuk saudarimu." Fadhil menjeda kalimatnya. "Pria itu tidak datang?" Tanya Fadhil.
Jidan menggelengkan kepalanya, "Dan Jihan tetap bungkam, Kek." Ucapnya lemah.
Fadhil mengangguk, "Kalau begitu tanggung jawabmu bertambah, Jid. Kau harus menjadi pelindung untuk anak yang dikandung oleh Jihan."
Jidan menatap wajah Fadhil, "Itu pasti, Kek. Anak Jihan berarti anak Jidan juga dan Jidan akan menjaga keduanya." Kata Jidan sungguh sungguh.
"Ibumu luar biasa, Jid. Dia mengajarimu menjadi pria sehebat ini. Bahkan Ayahmu saja tidak bisa sepertimu." Kata Fadhil yang slalu merasa kecewa pada Davan, putra bungsunya.
"Jangan pernah berpikir untuk membawa Jihan pergi, Jid. Kami semua menyayangimu dan juga Jihan." Ucap Ghea. "Jika tidak ingin kembali kerumah Ayahmu, tinggalah dirumah Oma." Tambahnya lagi.
Jidan mengangguk. "Trimakasih, Kek, Oma." Ucapnya tulus.
Keesokan harinya, Jihan bangun dan sudah terlihat sedikit kuat. Amel membantunya untuk menyeka tubuh Jihan.
"Maafkan aku, Mel." Kata Jihan.
"Hei, kita ini teman. Tidak perlu sungkan, Ji." Balas Amel.
Jihan mengangguk, "Aku berharap, Jidan menikah denganmu." Kata Jihan sambil tersenyum.
Amel berdecak, "Jidan terlalu tinggi untukku dan aku bukan levelnya." Balas Amel.
"Kita semua sama, Mel. Jidan sudah menyukaimu sedari kecil. Hanya saja dia merahasiakannya dariku."
"Sudahlah, Ji. Jangan dibahas lagi. Aku ke Jakarta untuk mengadu nasib, bukan untuk mencari jodoh." Jawab Amel tertawa.
Jidan masuk saat keadaan Jihan lebih terlihat segar.
"Jid aku ingin melihat Kak Alaska." Kata Jihan.
Jidan mengangguk, "Aku akan meminta suster untuk membawakanmu kursi roda." Ucapnya.
Jihan tersenyum, karna Jidan mau menurutinya.
Jidan mendorong kursi roda Jihan untuk menuju kamar perawatan Alaska yang masih satu lantai denganya.
"Ji, kau sudah lebih baik?" Tanya Clara saat Jihan tiba dikamar perawatan Alaska.
__ADS_1
"Sudah, Mom." Jawab Jihan dengan tersenyum meski masih terlihat sedikit pucat.
"Bagaimana kondisi Kak Alaska, Mom?" Tanya Jihan.
"Semalam sempat bangun, tapi tidur lagi. Mungkin karna masih lemah dan efek obat." Jawab Clara.
"Bang Beni, apa sudah ada kemajuan, Mom?" Tanya Jihan.
Clara menggelengkan kepalanya, "Belum, Beni masih koma."
Jihan terlihat sedih, bagaimana tidak. Beni adalah rekan kerja satu ruangan dan juga saksi terjadi peristiwa itu.
Arghhh..
Suara Alaska terdengar menahan sakit. Membuat semua orang yang berada didalam ruangan itu melihat kearah Alaska.
"Al.." Kata Clara lalu bergegas memanggil suster lewat tombol didekat brankar.
"Mommy, kenapa Mommy disini?" Tanya Alaska.
"Kau kecelakaan, mana mungkin Mommy tidak menemanimu." Jawab Clara.
"Apa Mommy bersama Daddy?" Tanya Alaska.
"Daddy sedang ke kantor menghandel pekerjaanmu." Jawab Clara lagi.
"Menghandel? Pekerjaan?" Tanya Alaska bingung.
"Tunggu, Mom. Apa ini di Jakarta? Bukankah Aku sedang kuliah S2 di Inggris bersama Rayyan dan Jidan yang masih kuliah S1?" Tanya Alaska bingung.
"Sayang, kau sudah kembali hampir satu tahun yang lalu." Jawab clara.
Alaska terlihat bingung. "Tidak mungkin, Mom. Kuliah Al belum selesai." Jawabnya.
"Ada yang tidak beres." Gumam Jidan.
"Jid, kenapa kau disini? Kuliahmu kan belum selesai." Kata Alaska pada Jidan.
"Apa yang terakhir kau ingat, Al?" Tanya Jidan.
Alaska seperti mengingat sambil menahan nyeri di kepalanya. "Kita akan menghadiri ulang tahun Rania di restoran Italy." Jawab Alaska.
Jidan memutar kembali ingatannya, hari dimana ulang tahun Rania adalah hari dimana Rania dengan jelas mengatakan jika dirinya menyukai Jidan dan Alaska melihatnya. Itu tandanya Alaska tidak mengingat kejadian itu, ingatannya terhenti sampai ketika mereka bersiap akan menghadiri pesta ulang tahun Rania.
"Kak Al.." Panggil Jihan.
Alaska menoleh kearah Jihan. "Ji, kau kenapa di kursi roda? Kau sakit?" Tanyanya biasa saja.
Suster datang bersama dokter, dan Aldrich pun tiba bersamaan. Jidan menjelaskan apa yang terjadi pada dokter tentang ingatan yang hilang pada Alaska.
"Pasien mengalami trauma yang diakibatkan oleh benturan keras, hingga beberapa ingatannya hilang." Kata Dokter. "Untuk lebih jelasnya kami akan melakukan CT Scan." Tambahnya lagi.
__ADS_1
"Apa ingatannya bisa kembali, Dok?" Tanya Aldrich.
"Dalam kasus ini, ada yang ingatannya kembali, ada juga yang tidak. Itu semua tergantung dari pasien seberapa inginnya untuk mengembalikan ingatannya. Tapi bisa juga untuk teraphy dan menjalani hidup seperti biasa dengan orang orang disekitarnya selama dua tahun terakhir ini. Itu bisa lebih merangsang ingatan yang hilang." Kata Dokter menjelaskan.
Dada Jihan terasa sesak. Alaska kehilangan sebagian memorynya dan tidak tau apa yang sudah terjadi.
"Apa yang harus kulakukan? Kak Al tidak mengingatnya, Bagaimana dengan bayiku?" Batin Jihan.
"Jid, aku ingin kembali ke kamar." Kata Jihan.
"Kau tidak apa apa, Ji?" Tanya Jidan.
"Aku hanya lelah, Jid." Jawabnya lagi.
Jidan membawa Jihan kembali kekamarnya, Alaska menatapnya, ia terasa berat melihat Jihan pergi begitu saja, namun Alaska tidak merasakan apa yang membuatnya berat.
"Jihan sakit apa, Dad?" Tanya Alaska.
"Jihan hamil, kondisinya sangat lemah." Jawab Aldrich.
"Hamil? Memangnya Jihan sudah menikah, Dad?" Tanya Alaska terkejut.
Aldrich melirik kearah Clara dan Clara hanya diam saja.
"Jihan hamil, tapi Jihan bilang dijebak. Jihan bilang yang menghamilinya akan bertanggung jawab, tapi hingga detik ini pria itu tidak pernah datang." Jawab Aldrich.
"Kasihan.. Jidan pasti sangat marah." Kata Alaska. "Apa itu tandanya rencana perjodohanku dengan Jihan batal, Dad? Tidak mungkin kan aku menikahi wanita yang sedang hamil anak orang lain." Ucapnya enteng.
"Kau benar benar lupa, Al. Perjodohanmu sudah lama dibatalkan oleh kakek Fadhil." Ucap Aldrich.
Alaska menghela nafas. "Baguslah." Ucapnya lega namun jauh didalam hatinya ada perasaan yang entah apa yang dirasakan oleh Alaska.
Sementara Jihan hanya terus diam, ia cukup shock karna ternyata Alaska kehilangan sebagian memorynya. Kedua tangannya memegang perutnya. "Mommy harus bagaimana? Daddy melupakan janjinya pada kita." Katanya dalam hati.
"Jid..." Panggil Jihan. Kini mereka hanya berdua di kamar perawatan, sementara Amel sedang membeli beberapa cemilan di mini market dekat dengan rumah sakit.
"Hem.." Jawab Jidan.
"Apa kau akan menyayangi bayiku?" Tanya Jihan sendu.
"Tentu saja, bayi mu adalah anakku juga." Jawab Jidan. "Kau masih tidak mau jujur padaku?" Tanya Jidan.
Jihan menggelengkan kepalanya. "Bolehkah kali ini saja aku menyimpan rahasia ini sendiri saja, Jid?" Tanya Jihan.
Jidan mengangguk paham, ia tidak akan memaksa Jihan untuk berkata jujur.
"Kau mau berjanji, Jid? Untuk menjadi Daddy agar bayiku tidak kekurangan kasih sayang seorang Ayah?" Tanya Jihan.
Jidan tersenyum. "Aku berjanji. Jangan dipikirkan lagi, ya. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan juga bayi ini. Kau harus kuat agar bayi mu juga kuat."
"Maafkan aku, Jid. Sungguh aku tau tlah membuatmu kecewa." Kata Jihan lalu menangis kembali dan Jidan memeluknya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...