BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 121


__ADS_3

"Aku ingin memindahkan Jihan dari sini, Mas." Kata Billa sambil mengusap air mata di pipinya.


Menurut Billa, luka dihati Jihan adalah tanda jika dirinya ikut terluka.


"Tidak semudah itu, Dear. Jihan membutuhkan Jidan dan Jidan tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya. Terlebih ada Amel, Kita juga harus memikirkan Jidan yang sedang mengejar cintanya." Jawab Davan mencoba sebijak mungkin.


"Aku tidak ingin berhubungan kembali dengan keluarga Dewantara. Sungguh tidak ingin, Mas." Kata Billa serius.


Davan mengangguk, untuk sementara kita tidak akan berhubungan dengan keluarga Dewantara, aku akan membatasi mereka untuk berhubungan dengan kalian.


Didalam kamar, Jihan mengusap perutnya. Air matanya sudah mengering dan Jihan bertekad untuk tidak menangis lagi.


"Kau tidak butuh seorang Daddy. Mommy akan menjagamu dengan baik." Kata Jihan dengan tegar.


Sejak hari itu, Jihan sudah tidak kembali lagi bekerja di Dewantara. Ia menenangkan dirinya dirumah dan akan ikut bekerja dengan Jidan di perusahaan sang Ayah. Meski bagaimanapun, Jihan harus menghidupi calon bayinya ketika sudah lahir nanti.


Setelah beberapa hari, Jidan merasa heran mengapa tiba tiba saja Jihan resign dari perusahaan DW Group. Davan dan Billa sepakat untuk merahasiakan pada Jidan atas sikap Alaska yang tlah menghina Jihan. Namun pada akhirnya Jidan menyuruh asistennya untuk menyelidiki dan akhirnya mengetahui semua prilaku Alaska pada Jihan yang membuat Davan geram dan menarik Jihan dari perusahaan itu. Dengan hati yang penuh amarah, Jidan mendatangi kantor DW Group dan menuju ruangan Alaska, Joni yang melihatnya langsung segera memanggil bos besarnya itu karna tau tidak akan bisa menahan Jidan.


Brakkk


Jidan dengan kasar membuka Pintu.


Matanya memerah memperlihatan kilatan amarah. Dilihatnya Alaska asik makan siang sambil tertawa bersama dengan Rania diruangan kerjanya tanpa beban.


Alaska dan Rania terkejut melihat Jidan yang terlihat marah.


"Jidan.." Panggil Rania yang terlihat senang karna akhirnya bisa bertemu kembali dengan Jidan.


Namum Jidan mengabaikannya dan berjalan kearah Alaska lalu menarik kerah bajunya.


"Beraninya kau menghina saudariku, Al." Kata Jidan, pelan namun penuh penekanan.


"Kau sangat tau bukan, Jihan sangat berarti untukku dan kau menghinanya semaumu." Ucapnya lagi.


"Apa salah Jihan padamu? Mengapa kau menghancurkan mental Jihan? Tidak taukah kau Jihan sedang mengandung dan butuh dukungan, TAPI KAU MALAH MENGHINANYA!!" Bentak Jidan di kalimat terakhirnya.


"AKU SAJA SAUDARA KANDUNGNYA TIDAK PERNAH MEMBENTAK APALAGI MENGHINANYA, MENGAPA KAU LAKUKAN ITU PADA JIHAN, JAWAB AL!!"

__ADS_1


Bughhh..


Jidan memberi pukulan diperut Alaska hingga Alaska terduduk disofa sambil memegang perutnya.


Jidan meraih kembali kerah Alaska, bughh dan mendaratkan bogemnya di pipi Alaska hingga sudut bibir Alaska mengeluarkan darah.


"Jid..." Panggil Aldrich yang datang bersama Joni.


Jidan menoleh kearah Aldrich, lalu jari telunjuknya menunjuk kearah Aldrich seraya memberi peringatan. "Jangan pernah ganggu lagi keluargaku atau aku akan menghancurkan kalian semua." Kata Jidan dengan tatapan tajam dan penuh dengan keseriusan.


"Jid, Daddy minta maaf atas kesalahan Alaska." Kata Aldrich.


"Tidak perlu, keluargaku termasuk Ayah tidak akan pernah lagi berhubungan dengan keluarga Dewantara." Ucap Jidan dengan tatapan tajam.


"Dan kau, Al." Jidan menunjuk Alaska, "Apapun yang terjadi, aku akan menghajarmu jika kau berani menampakan dirimu dihadapan Jihanku." Ucap Jidan penuh ancaman pada Alaska.


"Jid.... Aku.." Kata Alaska yang tidak ingin persahabatannya hancur bersama Jidan.


Namun Jidan pergi begitu saja meninggalkan ruangan Alaska.


Aldrich merasa geram pada Alaska, karna ucapan putranya memang tidak bisa ditolerir lagi.


Alaska terdiam, kini dirinya sadar jika sudah keterlaluan pada Jihan. Alaska melupakan satu hal jika Jihan adalah saudari kembar Jidan dan Jidan akan sangat terluka jika Jihan juga terluka.


"Al, ada apa ini? kenapa Jidan semarah itu? Dan apa hubungan Jidan dengan Jihan? Mengapa Jidan membela habis habisan wanita itu?" Tanya Rania bertubi tubi.


Alaska menggusar rambutnya, "Jihan dan Jidan adalah saudara kembar tapi tidak identik." Kata Alaska.


"Apa? Jadi Jidan itu kembar dan asistenmu itu adalah kembarannya?" Tanya Rania tak percaya yang diangguki oleh Alaska.


Rania terdiam, ia berpikir jika pantas saja Jidan semarah itu, yang Alaska hina adalah saudara kembarnya. Dan sungguh Rania baru mengetahui jika Jidan ternyata memiliki saudara kembar.


Jidan mengarahkan mobilnya untuk kembali pulang kerumahnya, ia sudah tidak mood untuk meneruskan pekerjaannya. Baginya adalah Jihan yang harus kembali bahagia dengan apapun caranya.


"Ji..." Panggil Jidan saat membuka pintu kamarnya.


"Masuklah, Jid." Kata Jihan yang sedang fokus duduk menonton acara senam hamil di smart televisi nya.

__ADS_1


"Kau tidak ikut daftar senam hamil di rumah sakit?" Tanya Jidan saat duduk disebelah Jihan.


Jihan menggelengkan kepalanya, ia merasa tidak percaya diri jika mengikuti acara senam hamil diluar, ia menghindari pertanyaan dimanakah sang suami dan mengapa tidak menemani.


"Aku lebih suka nonton di televisi, Jid." Jawab Jihan tak percaya diri dan Jidan sangat tau itu.


Jidan mengangguk, sesaat terdiam sampai akhirnya berbicara kembali. "Kau ingin kembali ke Jogja, Ji?" Tanya Jidan pada akhirnya.


Jihan menoleh kearah Jidan yang pandangannya lurus menatap televisi.


"Rumah itu sudah ku beli, Ji. Tapi aku mewakafkannya untuk kujadikan sebuah masjid atas nama ibu dan kau." Kata Jidan.


Jihan mengangguk lalu menyandarkan kepalanya dibahu Jidan.


"Aku sengaja merahasiakannya sebagai hadiah untuk ulang tahun ibu tahun depan nanti." Ucapnya lagi.


"Aku tidak apa apa, Jid." Kata Jihan yang tau jika Jidan sudah mengetahui semuanya. Karna itulah Jidan menanyakan apakah dirinya ingin kembali ke Jogja atau tidak. Jidan seolah ingin melindungi Jihan, menjauhkannya dari keluarga Alaska.


"Mengapa tidak bercerita padaku?" Tanya Jidan pada akhirnya.


"Aku akan menjadi orang tua, Jid. Tunggal. Tidak mungkin aku banyak mengadu lagi padamu." Kata Jihan dengan helaan nafas.


"Meski kau menjadi orang tua, aku tetap saudara kembarmu, Ji. Berbagilah denganku." Kata Jidan.


Jihan mengangguk, "Maafkan aku." Kata Jihan.


"Anakmu tidak akan kekurangan kasih sayang seorang Ayah, akulah yang akan menjadi Daddynya." Kata Jidan yang kini tangannya terulur mengusap perut Jihan.


Bayi didalam perut Jihan bereaksi, "Dia menyapaku, Ji." Kata Jidan antusias.


Jidan mendekatkan kepalanya keperut Jihan. "Hai, Baby.. Apa kau senang karna memiliki Daddy setampan aku?" Tanya Jidan dengan percaya diri dan Jihan tertawa mendengarnya.


"Aku harap kau bayi perempuan agar tidak ada yang menyaingi ketampananku." Kata Jidan lagi dan Jihan masih tertawa.


Namun lama kelamaan tawa Jihan berubah menjadi isakan, Jidan yang peka pun langsung menarik Jihan kedalam pelukannya. "Tidak akan ada lagi yang menyakitimu, siapa yang berani menghinamu dan bayimu akan berhadapan langsung denganku. Aku berjanji padamu, Ji. Aku akan membuatmu dan bayimu bahagia."


"Hatiku sakit, Jid. Sakiiitt sekali." Kata Jihan mengadu sambil memukul mukul dadanya.

__ADS_1


Jidan pun ikut terbawa suasana, ia merasakan luka hati yang Jihan rasakan, penghinaan sebagai wanita murahan yang dilontarkan oleh Alaska untuk Jihan memang tak termaafkan.


Tanpa Jidan sadari, jika luka hatinya bukan hanya penghinaan itu, tetapi juga karna Alaska melupakan janjinya dan kembali menjalin hubungan dengan Rania tanpa Alaska tau jika Jihan tengah hamil anaknya.


__ADS_2