BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 128


__ADS_3

"Ceritakan padaku apa yang terjadi, dan beritahu aku siapa pria itu." Ucap Jidan dengan mengusap lembut kepala Jihan.


Jihan semakin erat menggenggam tangan Jidan, rasa mulas itu semakin sering terasa.


"Kau tidak ingin bercerita?" Tanya Jidan.


"Aku takut kau hilang kendali, Jid. Kau akan membunuhnya dan anakku benar benar tak mempunyai seorang Ayah." Kata Jihan lemah.


"Tapi dia tidak tanggung jawab padamu, Ji." Ucap Jidan yang slalu kesal jika membahas hal ini.


"Dia akan datang, Jid. Datang membawa bukti jika apa yang tlah kami lakukan karna sebuah jebakan." Ucap Jihan.


"Tapi dia tidak datang, Ji." Kata Jidan masih dengan mengusap keringat didahi Jihan.


"Dia bukan tidak datang, Jid. Tapi dia sedang tersesat. Aku tidak ingin mengatakannya sampai dia bisa kembali." Ucap Jihan.


Jidan mengernyitkan dahinya, instingnya yang tajam membuatnya bisa menebak. "Ji, apa dia Alaska?" Tanyanya.


Jihan hanya diam sambil meringis karna merasakan sakit yang lebih sering.


"Dia orangnya, Ji?" Tanya Jidan lagi dan Jihan mengangguk.


"Kami sama sama meminum obat yang sudah dibubuhi obat perangsang, Jid. Ini bukan kesalahan Kak Al saja, Jid. Kami dijebak." Kata Jihan.


Jidan merasa terkejut, Jihan akhirnya berbicara jujur padanya.


"Kak Al hanya sedang tersesat, Jid." Kata Jihan. "Dia ke Bali untuk mencari bukti siapa dalang penjebakan itu, tapi Kak Al dan Bang Ben mengalami kecelakaan, dan Bang Ben adalah satu satunya saksi namun kini keadaannya koma." Jihan menjelaskannya.


"Tapi dia akan menikah hari ini, Ji." Kata Jidan.


Jihan mengangguk, "Ini memang sudah takdirku." Ucapnya. "Rahasiakan ini, Jid. Kumohon." Ucap Jihan.


"Kenapa kau tidak bilang, Ji? Jika saja kau bilang, aku bisa mencegah pernikahan Alaska dengan Rania dan membawanya padamu." Ucap Jidan.


"Tidak akan ada yang percaya, Jid. Kak Al saja melupakannya, Beni koma. Siapa yang akan mempercayaiku?" Jihan menangis. Tangisan antara menahan sakit diperutnya dan juga hatinya yang teras perih.


Alaska berjalan dengan setengah berlari, Davan yang melihatnya segera menghalangi Alaska.


"Aku ingin melihat Jihan, Om. Tolong lepaskan aku." Kata Alaska.


"Kau ingin menyakiti putriku lagi? Tidak akan aku biarkan." Ucap Davan.


"Tidak, Om. Tolong maafkan kesalahan Alaska pada Jihan, Om. Alaska janji tidak akan menyakiti Jihan lagi." Pinta Alaska.


"Dav lepaskan Alaska kali ini saja, Alaska ingin bertanggung jawab pada Jihan." Aldrich mencoba menengahi.


"Apa maksudmu?" Tanya Davan curiga.


"Tunggu Joni membawa Beni, kita akan bicarakan semuanya." Jawab Aldrich.

__ADS_1


Jidan keluar dari ruang bersalin setelah mendengar sedikit keributan. Jidan melihat Alaska yang tengah dihalangi oleh Davan.


"Biarkan Alaska masuk, Yah." Kata Jidan dengan tatapan tak lepas dari Mata Alaska.


"Son, apa kau yakin?" Tanya Davan.


Jidan mengangguk, "Lepaskan Alaska, Yah." Katanya sekali lagi.


Davan melepaskan tangannya dari Alaska. Dan Alaska menatap wajah Davan. "Maafkan Al, Om. Al janji akan menebus semua kesalahan Al pada Jihan dan keluarga Om." Ucapnya yakin meski tak dimengerti oleh Davan.


Lalu Alaska berjalan mendekat pada Jidan.


"Kau sudah ingat semuanya?" Tanya Jidan.


Alaska mengangguk. "Maafkan aku, Jid. Aku akan menjelaskan semuanya nanti." Ucapnya.


"Harusnya aku membunuhmu, Al." Gumam Jidan yang terdengar oleh Alaska.


"Jid, kau bisa membunuhku setelah aku bertemu Jihan." Kata Alaska dengan serius.


"Masuklah, Jihan sudah terlalu lama menunggumu meski aku ingin sekali menghajarmu terlebih dahulu." Kata Jidan serius.


"Kau bisa menghajarku nanti, Jid. Aku janji tidak akan melawan karna aku memang pantas mendapatkan hal itu." Balas Alaska. "Hanya saja, jangan sampai membuatku mati, karna aku tidak ingin anakku menjadi yatim secepat itu." Ucapnya lagi kemudian segera masuk menuju ruang bersalin, tempat dimana Jihan akan melakukan persalinan.


Alaska masuk dan segera menuju tempat Jihan yang sedang menahan rasa sakitnya.


"Jihann..." Panggil Alaska dan segera menghampiri Jihan.


"Maafkan aku, aku melupakanmu dan anak kita terlalu lama." Lirih Alaska.


"Ingatanmu sudah kembali, Kak?" Tanya Jihan.


Alaska mengangguk, "Maafkan aku, aku sungguh tidak berniat melupakanmu." Ucap Alaska penuh penyesalan.


"Kau terlalu menyakitiku, Kak." Ucap Jihan.


Suster datang memeriksa keadaan Jihan. "Pembukaannya sudah lengkap. Bayinya akan segera lahir." Kata suster.


"Dimana Jidan?" Tanya Jihan.


"Ijinkan aku yang menemanimu, Ji. Aku ingin menemanimu." Kata Alaska.


"Aku ingin Jidan yang menemaniku." Kata Jihan keras kepala.


Alaska menggelengkan kepalanya, "Ji, aku mohon, biar aku yang menemanimu. Tolong maafkan aku Ji." Ucap Alaska memohon dan penuh penyesalan. Akhirnya Jihan mengangguk karna sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.


Jihan kini sudah bersiap untuk melakukan persalinan, sementara diluar ruang bersalin. Aldrich menjelaskan semuanya pada Davan dan keluarganya. Juga diperkuat dengan kesaksian Beni.


"Rosa?" Tanya Gibran yang sedari tadi ada juga disana.

__ADS_1


"Kau mengenalnya, Gab?" Tanya Davan dan Gibran nengangguk.


Beni membeberkan apa yang ia tau, jika Jihan memang diberi obat perangsang dan akan Rosa kerjai dengan cara membiarkan teman temannya ikut menjamah tubuh Jihan. Namun tanpa di duga, Alaska malah ikut meminum minuman yang sudah dibubuhi obat perangsang, membuatnya ikut terjebak.


Dua orang dalam satu ruangan dalam pengaruh obat perangsang, tidak mungkin bisa menghindari apa yang akan terjadi.


Entah mengapa Davan dan Jidan merasa lega mendengar penuturan dari Beni. Entah akan bagaimana nasib Jihan jika jatuh ke tangan pria pria tidak bermoral. Jidan mengepalkan tangannya, ia bersumpah akan menyeret Rosa ke pengadilan. Dan Gibran merasa tidak enak pada keluarga Jihan, Rosa berbuat seperti ini dengan tujuan agar Gibran mencampakan Jihan. Sungguh Gibran pun merasa Geram karna Rosa berhasil menghancurkan hubungannya dengan Jihan.


"Karna dari itu, Dav. Aku mohon, maafkanlah keluargaku terutama Alaska. Aku berjanji Alaska akan bertanggung jawab penuh." Ucap Aldrich dan Davan hanya diam.


"Nak Gibran. Saya meminta maaf karna masalah ini membuat hubungan Nak Gibran dan Jihan jadi berantakan. Saya mohon Nak Gibran berbesar hati merelakan Jihan untuk Alaska. Meski bagaimanapun, Alaska adalah ayah kandung dari anak yang akan dilahirkan Jihan, Alaska harus bertanggung jawab pada Jihan." Kata Aldrich pada Gibran.


Gibran pun hanya bisa diam, ia sendiri tidak menyalahkan Alaska setelah mendengar penjelasan dari Beni, hanya saja jika diminta untuk merelakan, Gibran sungguh belum rela.


"Dorong sekali lagi ,Bu. Bayinya sudah terlihat." Kata dokter yang menolong persalinan Jihan.


"Ayo Ji, kamu pasti bisa." Ucap Alaska.


"Ini sakit sekali, Kak." Kata Jihan.


"Kamu pasti bisa, Sayang." Ucap Alaska dengan setia sambil sesekali mengusap keringat di kening Jihan.


"Dorong lagi, Bu. Sedikit lagi." kata dokter.


Jihan menarik nafas dalam dalam dan mulai mengejan kembali.


Owekk Owekkk Owekk..


Suara tangis bayi perempuan memecah ketegangan.


Jihan mencoba mengatur nafas, sementara Alaska terus menciumi wajah Jihan. "Terimakasih untuk perjuanganmu, Ji. Aku tidak akan pernah lagi menyakitimu." Kata Alaska.


Suster memberikan bayi yang sudah dibersihkan. "Bayinya cantik sekali. Selamat untuk kelahiran putri pertamanya." Kata Suster.


Alaska mencoba menggendong putri pertamanya itu, "Dia cantik sekali." Kata Alaska yang memandang dengan takjub.


"Kakak akan mengadzaninya?" Tanya Jihan.


Alaska mengangguk, "Tentu saja, dia putriku." Ucapnya dengan senyum penuh haru.


Alaska mengadzaninya dengan penuh khidmat, air matanya mengalir begitu saja di pipinya, ia masih merasa jakjub dengan keajaiban yang berada dalam dekapannya.


"Maafkan Daddy, Daddy akan menjagamu dan Mommymu." Bisik Alaska tepat ditelinga sang bayi.


Jihan dipindahkan kedalam ruang perawatan, ia merasakan tubuhnya yang sangat lelah sehingga lebih cepat terlelap. Alaska mengusap kepala Jihan dengan begitu sayang.


"Kalian belum halal. Tidak boleh bersentuhan meski Jihan tlah melahirkan putrimu." Kata Fariz dengan suara tegas.


Alaska berdiri saat melihat Fariz dan juga ada Fadhil dan Ghea.

__ADS_1


"Kakek." Kata Alaska kikuk. "Oma Ghea, Kakek Fadhil." Alaska menunduk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2