
Pagi pagi Gibran sudah berada dihalaman rumah Jihan, hari ini jadwalnya Gibran untuk menjemput Jihan.
"Selamat pagi, Om." Sapa Gibran pada Davan saat Davan keluar dari rumah dan mencium punggung tangannya.
Davan tersenyum, ia akan berusaha mencoba menerima pilihan sang putri tercintanya, terlebih Davan pun pernah menyelediki latar belakang Gibran dan Gibran merupakan orang yang baik dan santun. Gibran tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, masa remaja nya ia habiskan untuk belajar dan mengembangkan bisnis kedua orang tuanya yang kini diambil alih oleh Gibran dan semakin berkembang.
Tidak ada alasan untuk Davan menolak hubungan Jihan dan Gibran, karna Gibran adalah pemuda yang baik juga mapan.
"Jemput Jihan?" Tanya Davan ramah.
"Iya, Om. Sekalian saya ijin sama Om hari ini saya yang antar dan jemput Jihan." Ucap Gibran dengan santun.
Kesan pertama, Davan pun begitu menyukai Gibran, dan ia akan berusaha menerima hubungan Jihan dan Gibran.
"Kalau begitu, nanti kau harus makan malam disini sekalian." Kata Davan.
"Baiklah, Om. Saya akan makan malam disini." Balas Gibran.
"Hai Gab." Sapa Jidan lalu ber tos ria bersama Gibran.
"Belum jalan, Jid?" Tanya Gibran.
"Ini mau jalan, nunggu Jihan dulu, katanya mau dijemput pacar." Jidan tertawa.
Gibran hanya tersenyum.
"Jaga adikku, Gab. Kau tau Jihan sangat berarti untukku." Kata Jidan serius didepan Davan.
"Aku tau itu, Jid. Dan kau juga harus tau jika kini Jihan juga begitu berarti untukku." Katanya dengan mantap.
"Aku mempercayaimu."
Jihan keluar bersama Billa, Gibran juga mencium pnggung tangan Billa.
"Sudah lama nunggu, Gab?" Tanya Jihan.
"Sudah empat belas tahun nungguin kamu, Ji." Jawab Gibran yang membuat wajah Jihan merona merah.
"Gab, wajahmu alim sekali tapi ternyata kau pandai menggombal juga." Ledek Jidan, sementara Billa hanya tersenyum.
Gibran mengusap tengkuknya, "Sory, Jid." Ucapnya.
"Ayo, Gab kita jalan sekarang aja." Ajak Jihan.
Gibran berpamitan pada Davan dan Billa juga Jidan, lalu membukakan pintu untuk Jihan dan ia sendiri mengitari mobil untuk masuk kedalam kemudi.
"Terimakasih, Yah." Kata Jidan pada Davan setelah mobil Gibran meninggalkan rumahnya.
"Untuk?" Tanya Davan.
"Untuk tidak memaksakan apa yang Ayah mau. Dan maafkan aku jika aku tidak bisa menjadi yang Ayah harapkan."
Davan nengangguk, "Kamu sudah begitu baik manjaga Jihan. Ayah bangga padamu, Jid." Kata Davan sambil menepuk pundak Jidan.
Didalam mobil menuju perusahaan Dewantara.
__ADS_1
"Sudah sarapan?" Tanya Gibran.
"Sudah." Jawabnya.
"Jidan dan Ayahmu tau soal kita?" Tanya Gibran lagi.
"Aku memberitahu Jidan dan Jidan yang memberitahu Ayah." Jawab Jihan. "Apa Ayah bersikap baik padamu?" Tanya Jihan kali ini.
Gibran mengangguk, "Ayahmu menyambut baik, dan nanti malam dia mengundangku untuk makan malam dirumahmu."
Jihan menoleh kearah Gibran, "Benarkah, Gab?"
Gibran menoleh dan tersenyum. Mengatakan bahwa dirinya benar.
"Aku kira Ayah akan sulit menerimamu. Nyatanya tidak." Kata Jihan dengan pandangan lurus kedepan.
"Husnudzon saja, Ji.. Kita bukan sedang melawan orang tua, kita mempunyai niat baik." kata Gibran memberi nasihat.
"Kamu ingin hubungan kita berlanjut serius, Gab?" Tanya Jihan.
Gibran mengangguk, "Setelah kamu bisa membalas perasaanku, aku akan segera melamarmu."
"Tapi umur kita, masih..."
"Sebentar lagi umur kita 23 tahun, Ji. Apa salahnya menikah muda. Lagi pula itu semua tergantung jika kamu sudah mulai mencintaiku, aku ingin mensegarakan niat baik jika hal itu sudah terjadi." Gibran tersenyum.
"Jangan merasa terbebani dengan apa yang ku katakan, Ji. Aku ingin kamu merasa nyaman bersamaku, aku akan slalu menunggu hingga hatimu terbuka." kata Gibran lembut dan membuat Jihan merasa lega.
Setelah dua puluh menit, Mobil Gibran tiba didepan loby DW group, Gibran membukakan pintu mobil untuk Jihan dan Jihan tersenyum saat menerima uluran tangan Gibran.
Jihan mengangguk.
"Nanti kujemput lagi sore, ya." Kata Gibran.
"Tentu saja kamu harus menjemputku, aku tidak bawa mobil." Jihan tertawa dan membuat Gibran tersenyum.
Gibran pamit untuk menuju kantornya sendiri dan Jihan masih tersenyum sambil melihat mobil Gibran yang semakin menjauh.
Ekhemm
Suara Alaska berdehem sambil menghampiri Jihan. Rupanya sedari tadi Alaska memperhatikan Jihan dan Gibran.
"Orangnya udah jauh, masih dilihat aja." Cibir Alaska.
"Lho, Kakak sudah pulang?" Tanya Jihan yang bingung. Pasalnya yang Jihan tau, Alaska akan kembali sore dihari ini.
"Urusan dikantor cabang sudah selesai." Jawab Alaska.
Jihan hanya mengangguk.
"Ayo masuk." Ajak Alaska.
Jihan mengekori Alaska dan Beni masuk kedalam kantor.
"Ji, keruanganku dulu." Titah Alaska yang langsung menuju kedalam ruangannya.
__ADS_1
Jihan melirik kearah Beni dan Beni hanya mengerdikan bahunya lalu masuk kedalam ruangannya sendirian.
Jihan melangkah masuk kedalam ruangan Alaska.
"Ini untukmu." Kata Alaska tiba tiba yang memberikan sebuah paperbag untuk Jihan dan menaruhnya diatas meja kerjanya.
"Untukku?" Tanya Jihan memastikan.
Alaska hanya mengangguk.
Jihan membuka paperbag dan melihat sebuah liontin berbandulkan mutiara asli khas daerah yang Alaska kunjungi.
"Kak Al ini bagus sekali." Ucap Jihan. "Ini benar untukku?" Tanya Jihan lagi.
"Itu untukmu, Ji. Kau menyukainya?" Tanya Alaska.
Jihan tersenyum, "Sangat, ini indah sekali."
Alaska mendekat pada Jihan, "Sini aku pakaikan." Kata Alaska.
Jihan bagai terhipnotis dan mengangguk begitu saja. Lalu ia membalikan tubuhnya membelakangi Alaska dan menaikan rambutnya tinggi agar Alaska bisa memakaikan liontin itu.
Deruan nafas Alaska terasa ditengkuk Jihan, membuat Jihan sedikit meremang dan menutup matanya.
"Kau sangat cantik, Ji." Kata Alaska lirih sambil memakaikan liontin itu.
Kata kata Alaska membuat Jihan membeku tak percaya.
Setelah beberapa saat, hal tak terduga dilakukan oleh Alaska, ia mengecup sekilas tengkuk Jihan dan Jihan seketika terkesiap lalu menampar Alaska.
"Kakak jangan kurang ajar ya!!" Pekik Jihan.
Alaska tersadar dengan perbuatannya, ia mengusap pipinya yang baru saja ditampar oleh Jihan.
"Ji, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Itu diluar kendaliku." Kata Alaska.
"Aku tidak suka perbuatan Kakak padaku!!" Kata Jihan tegas lalu ia membuka kembali liontin yang tadi Alaska pasangkan dan menaruhnya diatas meja kerja Alaska.
"Ji.. Maafkan aku Ji." Kata Alaska memohon.
"Jangan sentuh aku!!" Bentak Jihan saat Alaska menarik lengannya.
"Aku menyukaimu, Ji. Aku meyadari jika aku menyukaimu!!" Ucap Alaska pada akhirnya.
Jihan menatap tajam mata Alaska, sungguh ia tidak menyukai sikap Alaska yang tidak sopan kepada dirinya.
"Jangan mengucapkan itu atau aku akan berhenti dari pekerjaanku, Kak." Ucap Jihan. "Dan satu hal lagi, kakak sudah memiliki kekasih, Kakak harus setia dengan kekasih Kakak itu, jangan membawaku masuk kedalah hubungan kalian karna aku sendiri juga sudah memiliki kekasih.
Deg..
Dada Alaska bergemuruh saat Jihan mengatakan sudah memiliki kekasih.
Brakk..
Jihan pergi dengan kondisi marah sambil menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...