
"Ji, uang kita diambil." teriak Jidan yang berlari mengejar pencopet itu.
Jihan juga ikut berlari, namun naas saat Jihan turun ke jalan, sebuah motor menyerempet Jihan hingga terjatuh dan kepalanya membentur trotoar.
"Aaaaahhh." Teriak Jihan.
"Jihaaaannn." Jidan segera berlari kearah Jihan yang sudah menutup matanya dan berlumuran banyak darah.
"Ji.. bangun Ji.. Jihaaaan."
Prankk
Billa menjatuhkan pajangan dekorasi rumah yang akan ia packing.
Prankk
Davan pun tak sengaja menjatuhkan sebuah gelas dimeja kerjanya.
**
Jihan ditolong oleh pengendara yang melintas dijalanan dan segera dibawa kerumah sakit. Jidan terlihat shock dan terus menangis. Pakaiannya berlumuran darah Jihan membuat Jidan merasa takut.
"Dimana orang tua kalian?" Tanya seorang suster.
Jidan hanya menangis karna shock sambil memeluk tas milik Jihan.
Suara tangisan Jidan menarik perhatian banyak orang, Aldrich dan Clara yang baru saja memeriksa kesehatan bayinya melihat kearah keributan itu.
"Dad, itu Jidan anaknya Billa dan Davan kan?" kata Clara.
Aldrich melihat kearah keributan itu. "Ya tuhan apa yang terjadi dengan anak itu." Kata Aldrich.
"Sayang, kamu pulang ke Villa bersama supir dulu, ya. Aku disini dulu. Tidak baik Alfika jika terlalu lama di rumah sakit." Kata Aldrich dan Clara memahami itu.
"Beri aku kabar." Kata Clara.
Aldrich segera menghampiri Jidan, "Jid." Panggil Aldrich.
Aldrich semakin tak karuan saat melihat baju Jidan yang berlumuran darah.
"Ada apa, Jid?" Tanya Aldrich.
"Anda keluarganya?" Tanya Suster.
"Dia keponakan saya, ada apa?" Tanya Aldrich.
"Adiknya keserempet motor, dan kepalanya terbentur trotoar, sedang ditangani di IGD, kami butuh tanda tangan keluarganya untuk tindakan dan proses selanjutnya." ucap Suster.
__ADS_1
Aldrich segera kebagian administrasi sambil menggendong Jidan. Ia mendeposit sejumlah uang untuk memudahkan tindakan Jihan.
Berapa nomer ponsel Ibumu?" Tanya Aldrich pada Jidan.
Jidan hanya menggelengkan kepalanya, memang Billa sudah lama tidak memiliki ponsel karna ponsel yang pernah dibelinya, ia jual kembali untuk membeli perlengkapan bayi saat ia akan melahirkan Jidan dan Jihan.
"Kau tau dimana ibu mu bekerja?" Tanya Aldrich.
Jidan menuliskan alamat tempat dimana ibunya bekerja. Dengan segera, Aldrich menelpon supirnya yang lain untuk segera menjemput Billa dan mengatakan bahwa Jihan mengalami kecelakaan.
Kurang dari setengah jam, Billa datang dengan kondisi tak karuan.
"Jidd.." Panggil Billa.
"Ibu..." Jidan berhambur memeluk Billa.
"Jihan Bu, Jihan.. Huuuu."
Billa pun menangis, ia juga merasa takut apa lagi saat melihat seragam sekolah Jidan penuh dengan darah.
"Bill.." Panggil Aldrich.
Billa mendongak, "Kak Al, tolong bantu aku, Kak. Tolong selamatkan Jihanku." Kata Billa dengan kacau.
Aldrich menenangkan Billa, "Kau tidak perlu khawatir, aku sudah meminta tindakan terbaik untuk Jihan."
"Wali dari anak bernama Jihan Davina." Panggil suster.
"Dokter ingin bicara dengan anda." Kata Suster.
"Bill, aku ikut." Kata Aldrich.
Billa tak kuasa menolak karna saat ini Billa juga butuh bantuan Aldrich untuk biaya pengobatan Jihan.
Dokter mengatakan jika Jihan harus dioperasi karna adanya penyumbatan dan akan berakibat fatal jika dibiarkan. Mendengar kata operasi membuat Billa melemas seketika.
"Kami membutuhkan darah tambahan untuk Jihan, dan golongannya adalah O dengan rhesus negatif. Stock di rumah sakit kami sedang kosong dan ini sangat urgent." Jelas dokter.
Billa sudah tidak bisa berpikir apa apa, golongan darahnya A, dan tidak bisa mendonorkannya pada Jihan.
"Bill, aku akan menghubungi Davan. Kau tidak bisa menolak, mungkin aku bisa menolong Jihan dari segi biaya, tapi yang bisa menyelamatkan Jihan hanyalah Davan, karna hanya Davan yang golongan darahnya sama dengan Jihan." Kata Aldrich dengan memberi pengertian.
Billa hanya mengangguk lemah.
Ditempat lain, Davan sudah berada didepan rumah Billa, namun rumah itu tertutup rapat, Davan mengetuk pintu namun tak juga ada yang membukanya.
"Kemana mereka? Apa Billa tau jika aku yang akan datang lalu Billa membawa mereka pergi?" Tanya Davan bermonolog.
__ADS_1
Perasaan Davan sedari tadi tidak enak, terutama saat ia menjatuhkan gelas dari meja kerjanya secara tak sengaja.
Drrt..
Ponsel Davan berdering.
Terlihat nama Aldrich memanggilnya.
Davan nengangkatnya dan betapa terkejutnya saat Aldrich mengatakan jika dirinya untuk segera datang ke rumah sakit.
Aldrich tidak mengatakan apapun, Davan pun berpikir tejadi sesuatu pada Alfiqa atau Clara yang sedang dalam masa pemulihan pasca melahirkan secar setelah kontraksi spontanya namun tetap berujung operasi kembali.
Davan segera menuju rumah sakit, namun ia terkejut saat melihat Billa yang sedang duduk dengan tatapan kosong, dipangkuannya ada Jidan yang sedang tetidur dengan pakaian yang penuh dengan berlumuran darah.
Aldrich melihat kedatangan Davan dan segera menghampirinya. "Jihan kecelakaan, diserempet orang dan kepalanya terbentur trotoar, Jidan sangat shock dan Billa terlihat kacau. Jihan membutuhkan darahmu karna golongan darah kalian sama. Segera hubungi suster, nanti saja bicara dengan Billa nya." Jelas Aldrich sambil mengajak Davan terus berjalan keruang pemeriksaan.
Davan berjalan sambil sesekali menengok kebelakang, "Tak bisakah aku memeluk Billa dulu?" Tanya Davan.
"Kalian bukan remaja lagi, kalian sudah menjadi orang tua, Billa tidak butuh pelukanmu, tapi Jihan membutuhkan segera darahmu, hilangkan bucinmu untuk sekali ini saja, Dav." Omel Aldrich.
Davan terus memikirkan Billa dan kedua anaknya, apa yang akan ia katakan jika nanti menghampiri Billa? Kata maaf saja mungkin terasa basi karna kebodohan Davan yang membuat Billa pergi.
Akankah Billa masih memberinya maaf dan kesempatan, mengingat kehidupan Billa bersama kedua anaknya yang sangat memprihatinkan.
"Sudah selesai." Kata Suster sambil melepaskan jarum dari lengan Davan.
"Bagaimana kondisi putriku, Sus?" Tanya Davan.
"Akan segera masuk ruang operasi." Jawab suster.
Davan berjalan keluar, ia melihat Jidan yang kini sudah duduk di kursinya sendiri, dan Billa tetap duduk dengan tatapan kosong.
Aldrich berdiri disamping pintu operasi dengan menyandarkan tubuhnya ke tembok.
Perlahan, Davan berjalan mendekati Billa. Davan berjongkok dengan satu lutut menahan tubuhnya, tangannya menggenggam tangan Billa.
Mata Billa menatap wajah Davan, wajah yang sangat ia rindui, rasa sakit yang pernah Davan torehkan tidak mampu membuat kadar cinta Billa berkurang.
"Maaf.. Aku terlalu lama membiarkan kalian kesusahan." Kata Davan pada akhirnya.
Air mata Billa terus mengalir semakin deras, "Kamu jahat." Lirih Billa.
Davan menarik Billa kedalam pelukannya, Billa semakin menangis meluapkan emosi, rindu, dan ketakutan didalam pelukan Davan.
Jidan yang melihat hal itu pun ikut menangis kembali, "Jihann.. Huuu." Tangis Jidan.
Davanpun menarik Jidan kedalam pelukannya, Davan memeluk Billa dan Jidan bersamaan. "Maafkan Ayah. Maafkan Ayah, Nak." Kata Davan yang sama sama ikut menangis.
__ADS_1
Aldrich ikut terharu, ia pun merasakan haru yang begitu dalam, ia menghapus air mata diujung matanya, kemudian mengambil ponselnya dan memotret pertemuan mengharukan Davan bersama Billa dan Jidan meski masih harus menunggu keadaan Jihan membaik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...