BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 42


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Aldrich menaruh ponselnya di atas nakas.


"Al, haruskah kita menempel seperti ini?" Tanya Clara.


Aldrich bukannya melepas dekapannya malah semakin mendekap Clara dengan erat. "Kita suami istri, Ra. Tidak boleh ada batasan." Kata Aldrich dengan santai.


"Tapi, Al. Kamu bilang kalau kita..."


"Aku tidak akan menyentuhmu slama kamu belum mencintaiku?" Tanya Aldrich.


Clara mengangguk pelan.


"Aku memang tidak akan menyentuhmu lebih, Ra. Tapi aku akan tetap melakukan kontak fisik denganmu agar rasa cinta di hatimu cepat tumbuh." Kata Aldrich.


"Jangan melarangku, Ra. Aku berhak atas tubuhmu. Tapi kamu jangan berpikir aku akan memaksamu, sungguh aku akan menunggu hingga rasa cinta itu ada dihatimu."


Clara begitu tersentuh dengan apa yang ia dengar sendiri dari pria yang kini berstatus suaminya itu.


"Jika nanti waktunya tiba, jika memang sudah ada cinta dihatimu, jangan mengatakannya padaku, cukup tunjukan dengan sikapmu." Kata Aldrich lagi.


"Contohnya?" Tanya Clara.


"Hmm. Misal dengan memakai lingeri dihadapanku, mungkin itu tanda jika kau siap dan sudah mencintaiku." Aldrich tertawa sementara wajah Clara sudah bersemu merah.


"Ayo tidur, aku tau kamu lelah dan aku pun juga lelah sekali." Dalam posisi tidurpun, Aldrich tetap mendekap Clara dan Clara tidak menolaknya. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan dalam dekapan Aldrich. Tangan Clarapun dengan sukarela melingkar datas perut Aldrich dan merekapun terlelap bersama.


**


Davan tengah menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda, beberapa hari ini ia memang kurang fokus bekerja karna menemani sahabat yang tlah menjadi Kakak iparnya itu untuk kesana kesini menghilangkan badmoodnya yang ditinggal oleh suaminya dinas luar kota.


Davan membuka kacamata anti radiasinya dan memijat pengkal hidungnya.


Sementara Chelsea, entah mengapa ia merasa jenuh di dalam pernikahannya. Hampir tiga tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak membuat hidupnya terasa hampa, belum lagi sikap Zayn yang gila kerja dan lebih sibuk dengan urusan pekerjaannya. Terkadang Chelsea merasa jenuh, ia juga memikirkan kata kata Jessi yang mengatakan takut jika Zayn berselingkuh, terlebih Zayn adalah dosen muda yang slalu dikelilingi oleh mahasiswi cantik.


Tanpa disadari air mata mengalir begitu saja dipipinya, Chelsea memang mempunyai perasaan yang sensitif dan gampang menangis. Ia memikirkan bagaimana jika Zayn benar berselingkuh hanya karna dirinya tak kunjung memberinya seorang anak.


**


Clara perlahan bangun saat mendengar alarm di ponsel milik Aldrich, ia meraih ponsel Aldrich dan mematikan alarmnya.


Clara melihat wajah tampan pria yang kini berstatus suaminya.


"Dia benar benar tampan." Gumam Clara.


Sebenarnya Aldrich juga sudah tersadar saat mendengar bunyi alarm, namun ia begitu berat membuka mata, namun pergerakan Clara yang meraih ponsel miliknya membuat Aldrich sedikit tersadar, apalagi ketika Clara mengatakan bahwa dirinya begitu tampan.


Clara bergerak ingin menuju kamar mandi namun tangan Aldrich menahannya. "Mau kemana, Ra. Ini masih terlalu subuh." Suara berat Aldrich terdengar ditelinga Clara.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi, Al." Jawabnya pelan sambil menatap wajah suaminya itu. Wajah tampan dengan rambut yang acak acakan semakin membuat ketampanan Aldrich berkali lipat.


Aldrich bangun dan duduk lalu mencium kening Clara, Clara terkesiap ketika mendapatkan ciuman yang tiba tiba itu.


"Morning kiss, Sayang." Kata Aldrich.


Sementara Clara hanya diam, wajahnya terasa panas dan terlihat memerah.


Aldrich tersenyum saat melihat wajah Clara yang terlihat malu malu itu. "Nanti juga biasa." Kata Aldrich menggoda.


Selesai menunaikan kewajiban, Aldrich terlelap kembali, sementara Clara yang sedang tidak menunaikan kewajibannya memilih turun untuk membuatkan kopi untuk Aldrich.


"Hai sayang, sudah bangun." Sapa Stevi lembut.


"Sudah Ma.." Clara menjawab dengan tersenyum.


"Mana suamimu?"


"Tadi Al tidur lagi, Ma." Jawab Clara.


"Semalam kalian bergadang?" Stevi mencoba menggoda menantunya itu.


"Mama..." Wajah Clara bersemu merah.


Stevi tertawa, "Beritahu Mama jika suamimu nakal ya, Ra. Mama akan memberinya pelajaran."


Clara memeluk Stevi erat, "Makasih, Ma. Makasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku."


Ekhemmm


Fariz berjalan kearah dua wanita berbeda generasi itu. Stevi mengurai pelukannya, Fariz langsung menempel pada Stevi, memeluknya dari belakang dan nendaratkan dagunya dibahu Stevi.


Clara yang melihatnya merasa malu sendiri. Namun ia tidak menyangka, atasanya yang terlihat tegas berwibawa tapi dihadapan istrinya berubah menjadi anak kucing yang menggemaskan.


"Mana suamimu, Ra.?" Tanya Fariz.


"Tadi tidur lagi, Pak." Jawab Clara.


"Sayang, suamiku ini sekarang Papa mertuamu juga. Panggillah Papap." Kata Stevi tersenyum.


Clara mengangguk, baginya ini masih asing sekali.


Clara kembali masuk kedalam kamar setelah membuatkan kopi untuk Aldrich. Clara duduk disisi tempat tidur, dimana posisi Aldrich sedang tertelungkup.


Tangan Clara terulur untuk membelai rambut Aldrich yang tidak beraturan itu.


"Al.." panggil Clara lembut dan tangannya masih setia mengusap rambut Aldrich.

__ADS_1


"Iya, Ma.. Al masih ngantuk." Gumam Aldrich yang masih belum sadar jika yang tengah membangunkannya adalah Clara.


Clara tersenyum, ia tak menyangka jika Aldrich ternyata bisa semanja ini.


"Al.. Bangun, ini sudah mau jam delapan." Kata Clara lagi.


Aldrich membalikan tubuhnya, kemudian menggeliat, matanya masih terpejam sampai ia tersadar bahwa tangan lembut itu masih berada dikepalanya.


Aldrich membuka matanya dan melihat senyum cantik yang penuh kehangatan.


"Ra..." Kata Aldrich dengan suara berat.


"Aku Clara, bukan Mama mu."


Aldrich meraih tangan Clara dan menyimpannya didada, "Iya kamu bukan Mama, tapi kamu akan menjadi seorang Mama dari anak anakku nanti."


Clara tersenyum, "Apa kamu menyerah dan tidak akan menungguku sampai mencintaimu?"


"Sepertinya aku harus melanggar janjiku. Mungkin jika aku menyentuhmu, kamu akan lebih cepat mencintaiku." Kata Aldrich menggoda.


Clara tertawa, "Tunggu sampai beberapa hari lagi."


"Kenapa? Kenapa aku harus menunggu?"


"Ya karna, aku sedang datang bulan, baru beberapa hari." Clara tertawa lepas.


"Oh my God, Claraaaaa." Aldrich memindahkan tangan Clara untuk menutupi wajahnya sendiri.


"Ayo bangun, aku sudah membuatkanmu kopi." Kata Clara.


Aldrich bangun dan pindah duduk disofa bersama Clara.


"Antar aku kerumah Chelsea dong, Al." Pinta Clara.


Aldrich mengangguk, "Aku juga ingin kesana, Chelsea terlihat seperti sedang tidak baik baik saja."


Clara mengangguk.


"Kamu gak cemburu sama Chelsea?" Tanya Aldrich.


Clara menggelengkan kepalanya, "Ngapain? Chelsea tuh cinta mati banget sama suaminya. Dan kamu juga cinta mati banget kan sama aku." Kini Clara sudah berani menggoda Aldrich.


Aldrich tertawa, ia memeluk pinggang Clara dan bibirnya mencium pipi Clara, "Istriku tau banget sihhh."


Clara tersenyum, ia mulai memikirkan kehidupannya bersama Aldrich untuk masa depannya nanti, ia akan menjadi istri yang baik untuk Aldrich, siap tidak siap, jika masa periodenya sudah selesai, ia akan menyerahkan dirinya pada Aldrich. Dan saat itu Clara berjanji akan menceritakan semua yang terjadi dimasa lalunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Catatan Author:


Disini, cerita rumah tangga Chelsea-Zayn juga mulai diceritakan ya, dan akan ada cerita juga tentang Davan yang akan mendapatkan cintanya juga.


__ADS_2