
Praakkk
Arghhh...
"Rania!!" Pekik Alaska lalu menolong Rania yang ditarik oleh seseorang hingga tersungkur.
Alaska menatap tajam pada Jihan. Tatapan memburu dan sinis menjadi satu. Jihan dengan berani menarik Rania dari dalam pelukan Alaska.
"Apa apaan kau ini, Ji?" Tanya Alaska membentak.
Jihan memejamkan matanya menahan emosi, ia menyadari dirinya yang tidak bisa mengontrol emosi saat melihat Alaska dan Rania berpelukan.
"JIHAN!!" Bentak Alaska lagi.
Jihan menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Maaf pak, tapi ini kantor." Ucap Jihan pada akhirnya.
"Kau ini norak sekali, Ji. Aku dan Rania adalah sepasang kekasih, dan diluar negri kami terbiasa melakukan hal itu bahkan didepan umum sekalipun." Kata Alaska kesal.
"Ada apa ini?" Tiba tiba saja Aldrich datang keruangan Alaska.
"Jihan telah berlaku tidak sopan pada tamuku, Dad. Jihan menarik Rania dan menjatuhkannya." Kata Alaska mengadu.
Aldrich menoleh pada Jihan, "Benarkah itu, Ji?" Tanya Aldrich.
Jihan mengangguk, "Mereka berpelukan didalam kantor, Dad." Jawab Jihan setenang mungkin meski hatinya tengah hancur.
"Diluar negri kami terbiasa berbuat hal seperti itu, Dad. Bahkan didepan umum sekalipun." Jawab Alaska membela diri pada Aldrich.
"Kau ini memang barbar sekali, Ji. Aku heran kenapa Om Dav bisa mempunyai anak sebarbar dirimu, dan aku juga yakin anak yang kau kandung tidak akan jauh berbeda dengan dirimu." Kata Alaska berapi api.
Jihan langsung menatap tajam Alaska, tidakkah Alaska mengingat bahwa dirinya yang mengakibatkan Jihan seperti ini.
"ALASKA!!" Aldrich memperingatkan Alaska untuk tidak berkata negatif pada Jihan.
"Biarkan aku, Dad. Aku memang benar. Jihan wanita barbar dan murahan, entah akan jadi apa anak yang akan dilahirkannya nanti!!" Kata Alaska semakin menjadi.
Hancurlah hati Jihan, dadanya terasa sesak dan air matanya jatuh begitu saja.
Suara langkah sepatu dari seseorang terdengar semakin mendekat. Semua menoleh dan terlihat Davan dengan wajah yang tidak bersahabat.
Davan melangkah mendekat pada Jihan dan menariknya kedalam pelukan.
__ADS_1
Jihan menangis sejadi jadinya didalam pelukan Davan.
"Ada Ayah, Ayah akan menjagamu." Ucap Davan sambil memeluk Jihan dan megusap punggung Jihan untuk menenangkannya.
"Kita pulang ya, Ji." Ajak Davan dan Jihanpun mengangguk.
Davan melangkah sambil membawa Jihan yang masih menangis didalam pelukannya. Namun langkahnya terhenti saat didepan Aldrich.
"Mulai saat ini, Jihan resmi berhenti dari perusahaan kalian. Kirimkan padaku berapa penalty nya. Aku akan membayarnya. Kau bisa menghubungi Yoda, dia yang akan mengurusnya." Kata Davan dengan nada dingin.
"Dav.. Kita bicarakan masalah ini baik baik." Pinta Aldrich. "Aku minta maaf." Kata Aldrich lagi.
"Aku menghargai persahabatan kita. Menghargai pernikahan Nenekmu dengan Kakekku. Tapi aku tidak bisa menerima penghinaan yang dilontarkan oleh putra mahkotamu terhadap putri tercintaku, Al." Kata Davan dengan mata memerah. "Hatiku sakit saat mendengar semua hinaan yang keluar dari putramu, aku pastikan Putramu tidak akan pernah ada di hadapan putriku lagi." Kata Davan dengan nada pelan namun penuh keseriusan.
"Dan kau, Al. ingat satu hal. Anak yang akan dilahirkan Jihan, dia akan jadi anak yang paling beruntung karna memiliki Mommy yang hebat seperti Jihan. Dan suatu saat, anak yang kau hina ini, akan membuatmu menyesal karna kau tlah pernah menghinanya." Kata Davan dengan tatapan tajam.
Davan kembali mengajak Jihan berjalan untuk membawanya pulang.
Entah mengapa, ada rasa menyesal yang kini menyelimuti perasaan Alaska, namun slalu saja Alaska menepisnya.
"Kau keterlaluan, Al. Kau bukan hanya menyakiti Jihan tapi kau juga menyakiti perasaan Om Dav, Dan kau juga menghancurkan persahabatan Daddy dengan Om Dav." Kata Aldrich.
"Dad, Jihan yang salah. Kenapa semua membela Jihan tanpa melihat dulu masalahnya." Kata Alaska membela diri.
"Dad..." Panggil Alaska dan aldrich menatap wajah putra yang menyebalkannya itu.
"Ini Rania." Kata Alaska memperkenalkan Rania.
Aldrich hanya bergeming tanpa berkata apapun. Bisa bisanya Alaska memperkenalkan Rania disaat seperti ini.
"Jika kalian ingin berpacaran, carilah tempat diluar, jangan dikantor dan memberikan contoh yang tidak pada bawahanmu."
Aldrich membalikan tubuhnya ingin keluar dari ruangan Alaska, namun ia menahan langkahnya. "Masih untung Jihan tidak membuat pacarmu luka luka." Katanya lagi dengan tatapan sinis.
Alaska merasa tidak enak dengan Rania, "Ran, maafkan aku." Kata Alaska.
Rania tersenyum, "Tidak apa, Al. asistenmu memang benar, kita seharusnya tidak berpelukan dikantor." Ucap Rania.
Alaska diam, ia sungguh penasaran mengapa Jihan bersikap seperti itu, seperti marah dan kecewa terhadap Alaska, namun apa alasannya, Alaska sendiri tidak tau.
Aldrich masuk kedalam ruangannya dan memijat pelipisnya, ia sungguh merasa bersalah pada Davan.
__ADS_1
Davan yang dikenalnya sabar terlihat marah dan sangat kecewa.
Aldrich juga memikirkan mengapa Jihan seperti marah saat Alaska berpelukan dengan Rania? Sebenarnya ada apa dengan Jihan? Batin Aldrich.
"Jon.. Bagaimana kabar Beni?" Tanya Aldrich pada Joni.
"Masih sama, Pak. Belum ada perkembangan." Jawab Joni.
Aldrich menghela nafas, "Selidiki urusan apa yang terjadi sehingga Alaska dan Beni bertolak ke Bali tanpa Jihan. Bukankah sebelumnya juga mereka ke Bali bertiga?" Kata Aldrich.
"Saya juga menaruh curiga, hanya saja belum menemukan bukti." Ucap Joni.
Aldrich menatap Joni. "Apa yang kau curigai, Jon?" Tanya Aldrich.
"Kehamilan Nona Jihan. Entah kenapa saya berpikir Ayah dari bayi Nona Jihan diantara Tuan muda Alaska atau Beni." Jawab Joni sedikit ragu.
Aldrich membolakan matanya, "Selidiki terus, Jon!!" Perintahnya.
"Nona Jihan masih bungkam, ia hanya bilang dijebak. Namun yang sering saya dengar dari Rissa, Nona Jihan sering mendatangi kamar perawatan Beni lalu mengajaknya berbicara seolah Beni bisa mendengarkan, lalu tak lama Nona Jihan menangis. Saya juga tidak mengerti kenapa Nona Jihan masih bertahan bekerja disini padahal kondisinya sedang hamil, dan tentang Nona Jihan yang marah pada teman wanita tuan muda yang memeluk tuan muda. Itu semua masih abu abu, Pak." Jawab Joni.
Aldrich menghela nafas. Ia kembali memijat pelipisnya.
"Usia kandungan Nona Jihan dengan kepulangannya dari Bali saat itu sudah saya cocokan dan itu dipastikan memang terjadi di Bali." Kata Joni lagi.
"Matilah aku, Jon. Jika Alaska yang melakukannya dan Alaska sendiri yang menghina Jihan dengan kata kata murahan." Aldrich terlihat gusar.
"Tapi Jon. saya yakin bukan Beni yang menghamili Jihan. Untuk apa Alaska kembali ke Bali jika itu hanya urusan Beni." Ucap Joni kembali.
Joni mengangguk, "Saya juga beranggapan seperti itu."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Jihan tetap bungkam?" Tanya Alaska.
"Mungkin Nona Jihan hanya takut tidak ada yang mempercayainya, terlebih kondisi Beni juga masih koma." Kata Joni menebak.
Davan membawa Jihan pulang kerumahnya, Jihan hanya diam sepanjang perjalanan. Jihan seolah lelah berjuang seorang diri, terlebih dengan kahadiran Rania kembali di hidup Alaska.
"Terimakasih telah membelaku, Yah. Aku permisi ke kamar dulu, aku lelah ingin istirahat." Kata Jihan terdengar lirih.
Davan mengusap puncak kepala Jihan, "Ayah akan slalu membelamu, istirahatlah." Kata Davan dengan lembut.
Billa merasa sedih setelah mendengar cerita Davan, Jihan mengalami penghinaan yang pelakunya adalah Alaska.
__ADS_1
"Aku ingin memindahkan Jihan dari sini, Mas." Kata Billa sambil mengusap air mata di pipinya.