BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 88


__ADS_3

Billa perlahan membuka matanya, ia merasakan tubuhnya masih sangat lemah, dilihatnya sang suami yang tertidur dengan posisi duduk dan kepala bersandar dibrangkar Billa.


Billa juga melihat sang mama mertua yang tertidur di sofa.


Betapa beruntungnya Billa memiliki suami dan keluarga yang begitu menerima dirinya apa adanya. Bahkan ia tak mengerti mengapa sang Ibu dulu tega menyakiti keluarga mertuanya itu.


Tangan Billa terulur mengusap kepala Davan, dan itu membuat Davan tersadar.


"Dear, kau sudah bangun?" Tanya Davan dengan suara parau.


"Aku haus, Mas." Kata Billa.


"Sebentar aku panggilkan suster dulu." Ucap Davan lembut.


Suster datang dan memeriksa kondisi Billa dan Billa dinyatakan stabil.


Davan memberi Billa minum lalu membantunya belajar duduk.


"Bayi kita..." Tanya Billa.


"Jaffin Davanka, dia ada di inkubator, karna paru parunya belum terlalu matang." Jawab Davan.


"Tapi bisa diselamatkan?" Tanya Billa lagi.


Davan mengangguk, "Jaffin kuat sekali, kondisinya terus stabil."


"Kau memberinya nama Jaffin?" Tanya Billa.


"Bagus kan? Triple J. Jidan, Jihan, Jaffin." Davan tersenyum.


"Kau sudah bangun, Bill.." Suara Ghea yang baru saja terbangun dari tidurnya dan langsung menghampiri brankar Billa.


"Mama.. Maaf aku merepotkan Mama." Kata Billa.


"Hei, kau juga anak Mama, tidak ada anak yang merepotkan orang tuanya." Kata Ghea sambil mengusap lembut kepala Billa.


"Terimakasih, Ma.." Kata Billa haru.


Ghea tersenyum, "Mama yang harusnya mengucapkan terimakasih, kamu tlah melahirkan cucu Mama."


Setelah kondisi Billa stabil, Ghea menemani Davan untuk menceritakan kondisi Billa dimana rahimnya tlah diangkat. Billa terlihat bersedih, namun Davan menguatkannya dan Ghea mendukungnya.


"Nanti kamu menikah lagi dengan alasan ingin anak lagi." Kata Billa sedih.


"Hei, kenapa mikirnya sampai kesana? kita sudah punya triple J, jangan mikir macem macem." Jawab Davan.


"Iya, betul itu Bill, kalo Davan minta nikah lagi, Mama gak akan akui dia sebagai anak Mama." Sahut Ghea sambil tertawa.


Billa diantar oleh Davan untuk melihat kondisi Jaffin, Billa pun memberi Asi pada Jaff dengan cara memompanya. Beruntung Asi miliknya berlimpah hingga Jaff tidak kekurangan Asi.


**


"Kak Al, buku ini sudah selesai kubaca." Ucap Jidan.


"Bagus kan, Jid?" Tanya Alaska.


Saat ini Jidan dan Rayyan tengah menginap dirumah Aldrich. Jidan yang dekat dengan Alaska membuatnya senang tinggal dirumah Aldrich, ditambah Rayyan yang juga akrab dengan Alaska dan kini mereka bertiga menjadi dekat.

__ADS_1


Sementara Jihan, ia lebih senang dirumah Ghea bermain bersama Amira.


"Kak Ray, apa kita akan pulang malam ini, atau menginap lagi?" Tanya Jidan.


"Kita menginap semalam lagi aja, Jid."


"Ya, untuk apa kalian pulang. Lagi pula Om Zayn dan Om Davan mengijinkan kalian disini kan." Sahut Alaska.


"Tapi aku memikirkan Jihan." Kata Jidan.


"Jid, saudarimu itu bukan anak kecil. Lagi pula disana ada Amira dan tante Chelsea yang menemaninya." Kata Alaska.


"Tidak seperti itu, Al. Wajar Jidan memikirkan saudarinya, mereka kembar mempunya ikatan yang kuat." Sahut Rayyan.


"Aku pulang saja ya, Kak. Aku benar benar memikirkan Jihan." Ucap Jidan.


"Bagaimana jika kau saja yang menginap dirumah Oma Ghea, Al?" Ajak Rayyan.


Alaska berpikir dan menyetujui ajakan Rayyan dan Jidan.


**


"Ji, kau jadi menjemput Jidan ke bandara?" Tanya Billa.


"Jadi Bu, sebentar lagi aku berangkat." Jawab Jihan.


Umur Jihan kini 22 tahun dan baru menyelesaikan S1 nya, sedangkan Jidan, Jidan memilih kuliah S1 diluar negri bersama Alaska dan Rayyan yang melanjutkan kuliah S2 nya di Inggris.


"Jangan ngebut ngebut bawa mobilnya. Jangan sampai ada surat tilang lagi datang ke Ayahmu, Ji.." Omel Billa.


"Kak Jihan keren.." Sahut Jaffin yang kini berumur 13 tahun.


"Ibu akan bilang pada Ayah untuk menyita mobil sport mu." Ancam Billa.


"Ibu tidak asik." Ucap Jihan kemudian mencium punggung tangan Billa.


Billa mengemudikan mobil sportnya, menuju bandara.



Ia menunggu Sudara kembarnya yang satu tahun ini tidak ingat pulang dengan alasan banyak tugas dikampusnya.


Jihan menunggu di tempat yang sedikit jauh dari pintu kedatangan sambil menikmati ice cream. Ia tersenyum saat melihat Jidan datang keluar dari pintu itu bersama pria tampan lainnya yang tak lain adalah Alaska.


"Kau menjemputku, Ji?" Tanya Jidan yang langsung memeluk Jihan.


"Aku disuruh Ibu menjemputmu, Jid." Jawab Jihan.


"Hai Ji.." Sapa Alaska.


"Hai Kak Al." Jawab Jihan.


"Mana Bang Rayyan?" Tanya Jihan.


"Bang Rayyan baru lusa akan kembali, masih ada berkas yang belum selesai disana." Jawab Jidan.


"Ayo kita pulang, aku masih banyak kerjaan." Ajak Jihan.

__ADS_1


"Kau kerja, Ji?" Tanya Alaska.


"Awalnya aku magang dikantor Dewantara, tapi Daddy Al malah menarikku kerja disana." Jawab Jihan.


"What?? Dikantor Daddy Al??" Tanya Jidan meyakinkan. "Kenapa tidak dikantor Ayah?" Tanya Jidan lagi.


Jihan mengerdikan bahunya, "Jika dikantor Ayah, aku bukan bekerja, melainkan duduk manis dan itu adalah hal membosankan, Jid. Ayah tidak akan memberikanku pekerjaan dan pegawainya tidak ada yang berani menyuruhku. Lebih baik aku dikantor Daddy Al dan disana aku bisa menggali potensiku." Jawab Jihan.


Alaska hanya menyimak, sedari dulu Alaska memang tidak suka masuk ke dalam pembicaraan orang lain.


"Mobilmu keren sekali, Ji." Puji Alaska.


Jihan tersenyum, "Orangnya juga gak kalah keren Kak. Ayo masuk." Ajak Jihan.


"Al, kau didepan saja biar aku yang dibelakang." Ucap Jidan karna ia tau apa yang akan dilakukan oleh saudari kembarnya itu.


Jidan lebih memilih duduk dikursi belakang meski terkesan sempit dari pada ia harus menahan mual dan pusing setelah turun dari mobil Jihan.


Alaska tidak menaruh curiga sama sekali, terlebih ia memang jarang berinteraksi dengan Jihan. Hanya sekedar bertegur sapa dan tidak lebih.


Jihan membawa mobilnya masih dibatas kecepatan yang wajar, namun saat memasuki area jalanan bebas hambatan itu, Jihan memulai aksinya dengan menambah laju kecepatannya.


"Ji.. Pelan saja." Kata Alaska yang mencengkram erat seat belt didadanya.


"Ini seru Kak, mobil ini tidak cocok jika hanya dibawa pelan." Jawab Jihan.


"Oh kau ini barbar sekali ternyata, Ji" Kata Alaska yang mulai memejamkan matanya dari pada harus melihat jalanan.


Jihan mengantar Alaska terlebih dahulu, dan ia menyempatkan diri untuk menyapa Mommy Clara.


"Ji, kau ini perempuan tapi gak ada feminim feminimnya." Kata Clara.


Jihan tertawa. "Maaf Mom, Segini aku masih feminim karna masih menyukai warna pink." Jawab jihan.


"Ya, tapi kau barbar sekali. Feminimlah sedikit biar ada cowok yang lirik." Ucap Clara.


"Jodoh gak kemana, Mom. Ada pria, pasti akan ada wanita." Jawab Jihan.


"Ya, kalau gitu Mommy jodohkan saja kau dengan Alaska." Kata Clara.


"Jangan Mom, Kak Alaska gak asik. Aku gak bisa nikah sama orang gak asik." Jihan tertawa.


"Ck, siapa juga yang mau menikah dengan cewek barbar sepertimu." Ketus Alaska.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Catatan Author.


Disini alurnya agak aku percepat..


Sudah mulai masuk season 3.


Jodohnya JJ.


Oh ya, cuma mau kasih tau,


Disini aku udah nulis dengan apa yang ada dalam pikiranku, mengalir begitu saja.

__ADS_1


Semoga kalian masih tetap menyukai alurnya ya.


Bantu promosikan Novelku ke teman2 kalian ya, siapa tau Novelku bisa mendapat apresiasi dari Pihak NT seperti novelku yang berjudul MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU.


__ADS_2