BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 22


__ADS_3

"Al, kamu tidak datang ke acara ulang tahun anak Miss Alesha?" -Clara-


Aldrich hanya membaca sekilas pesan masuk dari notifikasi, ia menghela nafas bingung untuk melawan perasaanya sendiri.


Sementara Clara hanya menatap ponselnya, menunggu jawaban dari Aldrich yang tak kunjung membaca pesannya.


"Al, apa pada akhirnya kamu ingin menjaga jarak denganku karna statusku?" Batin Clara.


"Ra.." Panggil ragil yang menghampiri Clara.


"Aldi gak kesini?" Tanya nya lagi.


Clara menggelengkan kepalanya, "Aku mengirimkan pesan untuknya tapi belum dibaca." Kata Clara.


"Kalian bertengkar?" Tanya Ragil.


Clara menggelengkan kepalanya lagi, "Tidak Miss, hanya saja sekarang Aldi sudah tau statusku yang bersuami."


Ragil menatap intens wajah Clara, mungkin jika Ragil pria yang normal, ia akan menyukai Clara.


"Mungkinkah Aldi ingin menjaga jarak denganku, Miss?" Tanya Clara.


"Dia menyukaimu, Ra." Kata Ragil pada akhirnya.


Clara mengernyitkan dahinya.


"Dia menyukaimu sampai rela menjadi supir di Erlasha." Kata Ragil lagi. "Mungkin Aldi tengah shock karna mengetahui statusmu yang sudah bersuami, mungkin juga sekarang Aldi tengah berperang melawan hatinya sendiri." Ragil terus mengungkapkan pendapatnya.


"Aku yang salah, Miss. Karna tidak bilang soal statusku dari awal. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud membohonginya. Aku hanya terlalu nyaman berteman dengannya." Kata Clara.


"Rasa nyamanmu bisa menumbuhkan cinta dihatimu sendiri, Ra." Ucap Ragil.


Clara tersenyun getir, "Aku sadar diri, Miss. Aku tidak pantas untuk dicintai oleh seorang pria lajang seperti Aldi."


Ragil tersenyum, "Jika pernikahanmu tidak membuatmu bahagia, mundurlah Ra. Aku yakin feelingku slama ini benar, rumah tanggamu tidak baik baik saja."


Seketika Clara menatap wajah Ragil, "Miss." Lirih Clara.


"Eike tau, Ra. Walaupun eike gak tau masalahnya apa." Ragil menghela nafas sejenak. "Jika butuh dukungan, Eike akan dukung kamu, jika butuh bantuan financial, jangan ragu bilang ke Eike. Eike dah anggep kamu seperti adikku sendiri." Ragil menepuk pundak Clara.


"Trimakasih, Miss." Lirih Clara.


"Bahagia itu dikejar, Ra. Bukan ditunggu." Kata Ragil sebelum meninggalkan Clara untuk menghampiri klien Erlasha lainnya yang turut diundang juga.


**

__ADS_1


"Maaf Ra. Tadi aku harus nengantar mamaku, tapi aku sudah mengirim pesan pada Miss Ragil." Balas Aldrich pada malam harinya.


"Iya Al.. Selemat beristirahat." Jawab Clara.


Keesokan harinya, Aldrich datang agak siang, sebelumnya ia meminta ijin pada Ragil dan mendapatkan ijin dari Ragil.


Rencananya, Aldrich akan mengundurkan diri tepat hari ini disaat gajinya sudah turun. Ia akan beralasan diterima kerja diperusahaanya sendiri.


"Jadi kamu berhenti dari sini, Al?" Tanya Alesha.


"Iya, Miss." Jawab Aldrich.


Alesha tersenyum, "Sepertinya Clara akan kehilangan teman makan siangnya."


Aldrich hanya diam dan tak membalas perkataan Alesha, meski ia juga akan merindukan hari hari dimana makan siang bersama Clara dibawah pohon ataupun di pantry meski dengan makanan yang begitu sederhana.


"Gajimu bulan ini akan diberikan oleh Ragil, aku akan memberikanmu bonus karna selama tiga bulan ini kamu bekerja dengan baik." Ucap Alesha.


Aldrich memang menerima gajinya secara manual, itu dikarnakan ia tidak bisa mempalsukan nama rekeningnya di Bank, Aldrich beralasan tidak mempunyai rekening sehingga gajinya diberikan manual.


"Hmm Miss." Panggil Aldrich ragu.


"Ya, ada yang ingin kamu katakan?" Tanya Alesha.


"Bisakah gaji dan bonus yang akan Miss berikan pada saya, semuanya digunakan untuk membayar cicilan Clara di butik ini." Ucap Aldrich yakin.


"Maaf, Miss. Saya hanya ingin membantu teman saya." Kata Aldrich.


"Lalu, jika kamu memberikan seluruh gaji dan bonusmu untuk membayar hutang Clara, bagaimana kehidupanmu satu bulan kedepan, Al?" Tanya Alesha.


"Saya masih punya tabungan, Miss. Saya hanya ingin membalas kebaikan Clara karna Claralah yang memberikan saya jalan untuk bekerja disini." Jawab Aldrich agar tak membuat Alesha curiga.


Alesha berfikir sejenak. "Bagaimana jika gajimu saja, Al. Gaji mu cukup untuk meringankan cicilan hutang Clara slama dua bulan. Bonusmu bisa kamu ambil, bisa juga kan untuk mengajak Clara makan diluar sebagai tanda perpisahan." kata Alesha memberi solusi.


Aldrich berfikir sejenak, "Baiklah, Miss. Ide anda bagus juga."


Aldrich keluar dari ruangan Alesha untuk keruangan Ragil.


Ragil baru saja menutup ponselnya, sebelumnya, Alesha memberitahukan soal niat Aldrich yang tidak mengambil gajinya dan hanya akan memberikan bonusnya.


"Ini bonusmu." Ucap Ragil memberikan amplop berisikan bonus untuk Aldrich.


"Terimakasih, Miss." Jawab Aldrich.


"Jadi kamu akan bekerja di DW Group?" Tanya Aldrich menyelidik.

__ADS_1


"Iya Miss." jawab Aldrich.


"Kasian Clara, dia bukan hanya kesepian dirumahnya, nanti akan kesepian juga disini." Kata Ragil santai tanpa melihat kearah Aldrich.


Dengan seketika, Aldrich mengernyitkan dahinya.


"Perjuangkan jika cinta, Al. Mana tau kalian itu berjodoh, bukan menghindar seperti ini." Kata Ragil lagi yang membuat Aldrich semakin bingung.


"Satu clue yang akan kuberikan padamu, Tuan Aldrich Dewantara." Ragil menatap tajam Aldrich.


Sontak Aldrich terkejut, tatkala Ragil memanggil nama aslinya dan bukan nama samarannya.


"Clara tidak pernah bahagia dalam pernikahannya." Kata Ragil dengan tatapan serius.


"Maksudnya, Miss?" Tanya Aldrich.


"Eike hanya memberikan satu Clue, tuan Aldrich Dewantara, selanjutnya silahkan berusaha sendiri." Ragil tersenyum penuh kemenangan.


"Miss tau saya?" Tanya Aldrich lagi.


Ragil mengangguk, "Aldrich Dewantara, putra satu satunya dan generasi ke empat juga pewaris tunggal DW Group. Anak dari Tuan Alfarizi Dewantara dan Nyonya Stevi yang merupakan Donatur tetap dirumah sakit Anak XX Pimpinan Dokter Vino."


Aldrich benar benar terkejut karna Ragil mengetahui jati dirinya.


"Rumah sakit XX yang di pimpin dokter Vino adalah Kakak Miss Alesha. Eike sering bertemu dengan Nyonya Stevi saat acara amal, dan beberapa kali eike melihatmu menjemput Nyonya Stevi disana." Kata Ragil pada akhirnya.


Aldrich menghembuskan nafasnya kasar. "Clara...." Kata Aldrich menggantung kalimatnya.


"Hanya Eike yang tau." jawab Ragil cepat. "Mungkin jika kemarin kamu datang keacara ulang tahun anak anak Miss Alesha, maka penyamaranmu akan terbuka, karna suami Miss Alesha adalah pimpinan Tama Group, kalian mempunyai hubungan relasi karna menjalin kerjasama. Bukankah begitu?" Kata Ragil lagi.


Aldrich menyandarkan punggungnya, satu tangannya mengusap pelipisnya.


"Tuan Aldrich. Eike tau maksud anda masuk kerja disini karna ingin mengejar Clara. Dan kini anda sudah tau jika Clara sudah menikah dan bersuami. Tetapi, bukankah tidak ada yang tidak mungkin?" Ragil manaikan satu halisnya.


"Saya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain, Miss." Jawab Aldrich.


Ragil tersenyum penuh arti. "Jauh sebelum kamu masuk kedalam kehidupan Clara, rumah tangga Clara memang sudah rusak dan tidak baik baik saja."


Aldrich menatap wajah Ragil, meminta Ragil untuk memberikan cerita yang lebih rinci.


"No!!" Kata Ragil sambil mengangkat kedua telapak tangannya, "Tidak ada clue selanjutnya." Ucap Ragil mantap. "Silahkan selesaikan pekerjaanmu hari ini. Eike masih atasanmu dan kamu masih supir di Erlasha hingga jam kerjamu berakhir." Ragil tertawa, sementata Aldrich hanya berdecak.


"Kalau mau bantu orang jangan setengah setengah!!" Kata Aldrich.


"Berjuanglah sendiri, Clara patut diperjuangkan." Ragil mengerlingkan satu matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2