
"Boleh nebeng?" Davan masuk begitu saja kedalam mobil Aldrich.
Hari ini mereka akan ke resort milik keluarga Ghea untuk ikut merayakan anniversary Chelsea dan Zayn. Acara yang dikira semua orang akan batal karna kesibukan Zayn ternyata tetap berjalan sesuai rencana. Tanpa Chelsea tau, Zayn sudah mengajukan cuti untuk mengajak Chelsea liburan dan juga mengundang keluarganya semua.
"Ck, kau ini. Ganggu kami saja, Dav." Kesal Aldrich.
"Dasar bucin, gak mau aja diganggu." Cibir Aldrich.
"Makanya cepet punya pacar, biar ada gandengannya dan gak gangguin orang." Ucap Aldrich.
"Udah sih, Al. Sama sama lebih seru." Clara menengahi perdebatan dua sepupu itu.
"Hai, Ra?" Sapa Davan yang menoleh kebelakang kursinya, karna Clara duduk dikursi belakang.
"Hai juga Dav." Clara menjawab dengan tersenyum.
"Harusnya pas dulu kuliah, pas Aldrich lagi bucin sama Metha, aku deketin kamu ya, Ra. Mungkin sekarang kamu istri aku, bukan istri si bucin ini." Ledek Davan.
Aldrich mentoyor kepala Davan yang sudah maksa duduk didepan bersama Aldrich, "Aku mengendus aroma pebinor disini."
Clara hanya tertawa.
Davan pun tertawa, "Bukannya kamu ya yang sempet mikir mau jadi pebinor pas tau Clara udah nikah."
"Aku bukan pebinor, aku memang mencintai Clara." Jawab Aldrich yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
"Dulu juga bilangnya gitu, Aku cinta sama Methaku, Dav." Kata Davan yang menirukan ucapan Aldrich kala itu.
"Sekarang juga kayaknya masih cinta Metha deh, Dav. Minggu lalu kan ketemu tuh di Mall." Sahut Clara yang masuk kedalam obrolan Aldrich dan Davan.
"Widihh.. hati hati cinta lama bersemi kembali." Davan terus saja meledek Aldrich. "Gimana tuh, Ra?" Tanya Davan kemudian pada Clara.
"Gak apa apa deh, Dav. Masih ada kamu koq." Balas Clara yang ikut menggoda suaminya itu.
"Ayang...." Panggil Aldrich dan menatapnya dari spion.
Clara hanya tersenyum menanggapinya.
Setelah dua jam perjalanan, mereka tiba di resort milik keluarga Ghea yang terletak di anyer. Aldrich, Davan dan Clara turun dari mobil.
"Banyak bus, kayaknya anak sekolah lagi study tour disini ya, Dav?" Tanya Aldrich yang mengamati sekelilingnya.
"Iya, Kak Zayn kemarin waktunya maju mundur sih, jadi gak bisa sepi dan bentrok sama anak anak sekolah yang lagi study tour disini."
Aldrich mengangguk, kemudian menghampiri Clara dan merangkul pundaknya. Mereka bertiga masuk kedalam resort yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan hotelnya juga.
Mereka berkumpul diruangan VIP dan mendapatkan kamar dengan pasangannya masing masing.
"Dav kamu kamarnya sendiri ya, soalnya Yoda gak ikut, ada turnamen futsal katanya." Ucap Tristan.
__ADS_1
Davan mengangguk, "Iya, Om."
Biasanya Davan akan sekamar bersama Aldrich dan Yoda, tapi kali ini kondisinya sudah lain, Aldrich sudah menikah dan tentunya satu kamar bersama istrinya.
Davan masuk kedalam kamarnya dan membuka jendela kamarnya, ia menatap laut dari kejauhan. Dari kamarnya, Davan juga melihat sekelompok anak remaja yang sedang bermain dipesisir pantai. Davan melihat jam dipergelangan tangannya, kemudian ia mengganti pakaiannya, memakai celana pendek dan kaos berwarna putih. Ia juga memakai kacamata hitam dan sendal jepit lalu keluar untuk merasakan angin laut.
Davan berjalan jalan seorang diri menelusuri pantai, is melihat ombak yang silih bergulung, ia juga melihat laut yang terhampar luas.
Sejak Chelsea menikah dengan Zayn, dan tiga tahun berikutnya akhirnya Aldrich yang menyusul untuk menikah dengan Clara, kini Davan merasa kesepian.
Hanya Ghea dan Fadhil, orangtuanya yang Davan jadikan tempatnya melepas lelah. Terkadang Davan berpikir, ingin rasanya ia memiliki kekasih dan mencoba dekat dengan wanita, namun ia merasa tidak pernah cocok dengan wanita yang pernah ia kenal, padahal umunya sudah dua puluh lima tahun dan sudah sangat cukup untuk membina rumah tangga.
"Kamu tuh gak pantes satu kelompok sama kita, tau gak!!"
"Iya, ngaca dong!! Sekolah ngandelin beasiswa aja sok sok an mau satu kelompok sama kita."
"Jangan jangan dia cuma mau deket sama Adit, berharap jadi pacarnya Adit."
Terdengar suara beberapa remaja yang sepertinya sedang membully satu temannya. Hal itu membuat Davan tertarik lalu melihatnya.
"Nih ya, aku bilangin kamu. Adit itu cowok populer di sekolahan, mana mau dia sama anak gak jelas kayak kamu, Ibu kamu aja gak tau siapa bapak kamu."
"Ya maklum lah, kan ibunya kupu kupu malam. Oupsss.."
"DIAMM." kata gadis itu ketika mendengar ibunya di hina, padahal sebelumnya gadis itu menerima hinaan dari teman temannya, namun saat ibunya dihina, gadis itu langsung emosi.
"Lihatt guys, anak pel*acur ini bisa marah juga ternyata." Keempat remaja itu tertawa.
Gadis itu terduduk menghadap lautan yang luas, menenggelamkan kepalanya dikedua lututnya yang ia peluk.
Entah mendapat keberanian dari mana, Davan menghampiri gadis itu dan duduk percis di sebelahnya.
"Teman temanmu kejam." Kata Davan begitu saja.
Gadis itu mengangkat kepalanya lalu melihat kesampingnya, Davan hanya melihat lurus kedepan.
"Om siapa?" Tanya gadis itu.
"Aku hanya sekedar lewat dan melihat kamu dibully." Jawab Davan lalu menoleh kearah gadis itu.
"Kenapa tidak melawan?" Tanya Davan.
Gadis utu kembali menatap lurus kedepan. "Mereka anak anak orang kaya yang mempunyai kuasa, jika aku melawannya, aku bisa kena sanksi disekolah karna pasti tidak akan ada yang mau menjadi saksi untukku. Sekolahku hanya tingal beberapa bulan lagi, hanya tinggal menunggu ujian dan lulus. Aku tidak mau sampai bermasalah dengan mereka." Jawabnya sendu.
"Siapa namamu?" Tanya Davan.
"Nabilla, panggil saja aku Billa." Jawabnya, "Om siapa?" Tanya Gadis yang bernama Billa itu.
"Davan." Jawab Davan singkat.
__ADS_1
"Om sedang apa disini?" Tanya Billa.
"Sedang menikmati angin pantai." Jawabnya singkat.
"Kenapa tidak diteruskan?"
Davan tersenyum, "Nemenin anak labil untuk menetralisir emosinya."
"Ish, aku bukan anak labil, Om!!" Kata Billa.
Davan tertawa karna berhasil membuat Billa kesal, dan mereka pun terdiam, matanya memandang lurus kearah laut tanpa batas.
"Kamu kelas 12?" Tanya Davan.
Billa mengangguk, "Iya."
"Lulus sekolah lanjutin kemana?" Tanyanya.
"Cari kerja, Om. Aku harus hidupin diri aku sendiri."
Davan mengangguk, entah nengapa ia semakiin tertarik dengan gadis ini. "Orang tuamu dimana?"
"Ibuku meninggal dua bulan yang lalu, korban tabrak lari, tapi lambat laun aku tau bahwa ibuku mengejar pelanggannya karna tlah memakai jasanya dan tidak membayarnya, lalu orang itu menabrak ibuku hingga tewas." Cerita Billa.
"Ibumu...." Ucap Davan mengantung.
"Ibuku kupu kupu malam, hingga akhir hayatnyapun dia seperti itu." Billa menghela nafasnya. "Tapi aku tidak membencinya, dia mempunyai keberanian untuk melahirkan aku dan membesarkan aku meski dengan jalan yang salah."
"Ayahmu?" Tanya Davan ragu ragu.
"Aku tidak tau, dan Ibu juga tidak pernah memberi tahuku siapa Ayahku."
"Kamu kuat sekali." Ucap Davan.
"Ya harus kuat, hidupku terus berjalan meski aku seorang diri." Jawab Billa.
"Mau kerja dikantorku?" Tanya Davan.
Billa langsung menoleh kearah Davan.
"Kerja apa, Om?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jodoh Davan bukan ya?
Jodohnya koq anak SMA?
Terusin jangan?
__ADS_1
Ramein komentarnya ya Readers, jangan lupa Vote nya, pleaseeee..
Ini sudah masuk season 2 ya, bagian Davan Lebih dominan di Bab Bab selanjutnya. Kasian Davan kalo gak diceritain juga, nanti ngiri kalo gak dapet jodoh 😁😁