
"Kamu mau makan apa?" Tanya Gibran lembut pada Jihan.
"Samain aja sama kamu." Jawab Jihan.
Alaska merasa cemburu melihat kedekatan Gibran dan Jihan. Terlebih saat Gibran membantu Jihan mengiris potongan steak di piring Jihan. Dan Alaska semakin cemburu saat Gibran mengusap tissu di ujung bibir Jihan lalu mereka tertawa bersama didepan Alaska.
Ponsel Jihan berdering, melihat Jidan yang memanggilnya.
"Jidan telpon, aku angkat dulu." Kata Jihan pada Gibran dan Gibran tersenyum.
Setelah beberapa waktu, Jihan memutuskan panggilannya.
"Udah gede masih dicariin Jidan." Ledek Gibran.
"Takut ilang, ya." Kata Gibran lagi sambil tertawa.
Jihan ikut tertawa, "Apa sih, Gab. Jidan lagi dideket sini. Mau sekalian mampir katanya." Jawab Jihan.
Selang beberapa waktu, Jidan datang dan ikut bergabung bersama.
"Kau disini juga, Al?" Tanya Jidan heran.
"Tadi aku sedang bersama Jihan menemui klien." Jawab Alaska.
"Dari mana, Jid?" Tanya Jihan.
"Dari kantor teman." Jawabnya, "Kebetulan dekat sini, tadinya mau mampir ke DW grup, untung tlp dulu." Lanjutnya lagi.
"Kirain nyusul kesini karna mau nodong aku." Sahut Gibran yang terdengar oleh Alaska.
"Tentu saja, kalian sudah jadian masa iya tidak mentraktirku." Jawab Jidan santai.
Uhukk.. Uhukk
Alaska tersedak makanannya sendiri, semua melihat kearah Alaska.
"Pelan pelan Al." Kata Jidan sambil menepuk nepuk punggung Alaska.
Jihan memberikan air minum pada Alaska dan Alaska meminumnya.
"Siapa yang jadian?" Tanya Alaska setelah merasa baikan.
"Jihan dan Gibran." Jawab Jidan.
"Sejak kapan?" Tanyanya lagi.
"Baru kemarin sepertinya." Jawab Jidan lagi.
Alaska langsung menatap wajah Jihan yang duduk didepannya.
"Ada masalah, Al?" Tanya Jidan.
Alaska menoleh kearah Jidan dan menggelengkan kepalanya seketika.
Alaska merasa ia tlah kalah start dari Gibran, entah mengapa rasanya ingin sekali menarik Jihan dari sisi Gibran dan kembali kekantor, namun tidak mungkin ia melakukannya karna Jidan pasti akan sangat marah padanya.
Alaska menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya perlahan untuk menetralisir emosinya.
"Maaf, aku pulang duluan." Kata Alaska pada akhirnya.
Kemudian Alaska menatap wajah Jihan dengan tatapan sendu. "Kau bisa kembali kekantor jika makan siangmu sudah selesai." Kata Alaska lalu berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Alaska kenapa, Ji?" Tanya Jidan.
Jihan hanya diam, ia sangat tau mengapa Alaska bersikap seperti itu.
"Mungkin Kak Al sedang lelah, Jid. Ia baru kembali dari lombok kemarin sore." Jawab Jihan, dan Jidan hanya mengangguk anggukan kepalanya.
Alaska tidak langsung kembali ke kantor, melainkan ia memilih pulang ke apartemen yang jarang sekali ia tempati.
Alaska mengambil minuman beralkohol lalu meminumnya. "Jihan." Gumam Alaska sambil melihat gelas dalam genggamannya.
"Siapa memangnya dia itu? Berani beraninya memporak porandakan hatiku." Alaska mulai meracau setelah meminum beberapa gelas.
Jihan kembali kekantor diantar oleh Jidan karna jadwal Gibran hari ini sangatlah padat.
Ia langsung menuju ruangannya namun Beni menanyainya.
"Si Bos mana?" Tanya Beni.
"Loh, bukannya sudah kembali duluan." Kata Jihan.
"Belum." Jawab Beni. "Pak Aldrich dari tadi nyariin, ada rapat penting, rapat akhir bulan." Kata Beni.
"Sudah coba ditelpon?" Tanya Jihan.
"Tersambung tapi tidak diangkat." Jawab Beni lagi sambil menyiapkan berkas berkas untuk rapat.
Jihan teringat kejadian di restoran tadi, ia melihat wajah Alaska yang seolah kecewa setelah mengetahui bahwa Jihan dan Gibran adalah pasangan kekasih.
"Beni.." Panggil Aldrich.
Beni dan Jihan menoleh kearah sumber suara yang ternyata Aldrich.
"Ji, tadi kau keluar bersama Alaska? Sekarang mana dia?" Tanya Aldrich.
"Ya Tuhan, Alaska meninggalkanmu diluar sendiri?" Tanya Aldrich.
"Tidak, Dad. Tadi aku sedang bersama Jidan." Jawab Jihan tanpa menyebutkan nama Gibran.
"Kemana anak itu?" Tanya Aldrich bingung.
"Ya sudah. Ben, kau wakili Alaska. Jihan tetap bekerja seperti biasa." Titah Aldrich.
Jihan kembali duduk dikursinya dan Beni kembali merapihkan berkas.
Sore hari, Gibran sudah standby menjemput Jihan. Jihan segera menghampiri Gibran diparkiran.
"Udah lama nunggu?" Tanya Jihan.
Gibran tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Belum." Jawabnya lalu membukan pintu untuk Jihan.
"Kamu jadi makan malam di rumahku?" Tanya Jihan.
Gibran mengangguk, "Iya. Mampir ke toko kue dulu ya. Ayahmu suka kue apa?" Tanya Gibran.
"Ayah suka sekali bolu gulung pandan keju." Jawab Jihan.
"Ibumu?" Tanyanya lagi.
"Ibu suka semuanya, dia bukan type orang pemilih, diberi apapun juga pasti di makan." Jawab Jihan.
Mereka mampir di sebuah toko kue, selain bolu gulung pandan keju, Gibran juga membeli puding leci untuk Ibunya Jihan.
__ADS_1
Billa menyambut kedatangan Jihan dan Gibran.
"Bu, ini dari Gibran." Kata Jihan memberikan paperbag pada Billa.
Billa menerimanya, "Terimakasih Gab." Ucap Billa yang ikut ikutan memanggil Gibran dengan panggilan Gab.
"Ayah belum pulang, Bu?" Tanya Jihan.
"Tadi sudah dijalan bersama Jidan. Mungkin sebentar lagi." Jawab Billa.
"Jaff dimana?" Tanya Jihan.
"Adikmu pergi bersama Luna."
"Mereka berpacaran?" Tanya Jihan.
"Tidak, Ji. Mereka kan bersahabat. Katanya mau anter Luna ke toko buku." Jawab Billa.
Jihan mengangguk, ia memang mengetahui jika Luna adalah satu satunya teman Jaff di kompleknya yang satu sekolahan dengan Jaff.
Davan mulai mengagumi sosok Gibran. Meski sedang berkunjung, namun Gibran menyempatkan dirinya untuk sholat berjamaah di masjid, padahal didalam rumah Davan terdapat musholla, namun Gibran memilih menunaikan kewajibannya di masjid dekat rumahnya. Bahkan Gibran tidak kembali hingga sholat isya.
"Pacarmu baik." Kata Davan pada Jihan.
"Ayah sudah bisa menerimanya?" Tanya Jihan.
"Sedari awal Ayah sudah menerimanya, Ji. Semoga dia akan menjadi pria yang bertanggung jawab padamu." Doa Davan tulus.
Jidan mendengarnya, ia tersenyum karna mendengar apa yang Ayahnya ucapkan.
Makan malam dikeluarga Davan terasa begitu hangat, sikap santun Gibran sangat disukai oleh Davan dan Billa. Gibran juga bukan tipikal orang yang suka membual dan banyak bicara, ia lebih senang mendengarkan dan sesekali berbicara.
Lain hal dengan keluarga Davan, keluarga Aldrich justru sedang kebingungan mencari Alaska yang tak kunjung bisa dihubungi.
Aldrich bersama Joni sang asisten, dan juga Beni yang merupakan anak Joni dan asisten Alaska mencarinya ke apartemen.
Dengan kartu Akses, Aldrich dapat membuka pintu apartemen Alaska.
Bau Alkohol dan asap rokok begitu menusuk hidung saat pintu terbuka, Aldrich sempat berpikir apa yang menimpa Alaska hingga Alaska seperti ini.
"Tuan Aldrich, Pak Alaska tertidur di sofa." Kata Beni.
Aldrich segera menghampiri Alaska dilihatnya satu tangan menggenggam gelas yang masih terisi minuman dan satu tangannya lagi menggenggam liontin berbandul mutiara indah.
Aldrich meraihnya dan memperhatikannya. Ia mengetahui jika sang anak baru kembali dari kunjungan kerjanya ke pulau lombok.
"Beni, untuk siapa Alaska membeli ini?" Tanya Aldrich pada Beni.
"Saya tidak tau, Tuan." Kata Beni berbohong.
Aldrich hanya diam sambil terus memandangi liontin itu.
"Cari tau hubungan Alaska dengan wanita itu, apa mereka tlah putus hinggal Alaska seperti ini." Titah Aldrich pada Beni.
"Maaf tuan, selama di lombok, Nona Rania terus menghubungi Pak Alaska, namun Pak Alaska mengabaikannya." Kata Beni memberitahu.
Aldrich tampak berpikir. "Ben.." Panggil Aldrich.
"Iya tuan..." Jawab Beni.
"Apa ada wanita lain yang sedang dikejar oleh putraku?" Tanya Aldrich pada akhirmya membuat Beni membeku seketika.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...