
Jidan, Davan dan Billa berhasil membuat Jihan kembali tidak mengurung diri dikamarnya. Jidan juga mengijinkan Jihan untuk bekerja agar tidak jenuh dan mempunyai kesibukan sehingga tidak larut dalam kesedihan. Tentunya bekerja di Royal Grand, perusahaan dibidang hotel dan resort yang didirikan oleh Erick, Kakek dari Davan.
"Jangan membantu pekerjaanku ya, Jid." Kata Jihan entah untuk kesekian kalinya dan membuat Davan juga Jidan tersenyum.
Jihan akan menjadi General Manager atau GM yang akan memegang tanggung jawab dibawah Davan dan jidan.
"Iya, Ji. Kau sudah bicara puluhan kali padaku." Kata Jidan.
"Belum ratusan kali, Kak Jid." Sahut Jaffin dan semua yang ada di meja makan itu tertawa.
Jihan berangkat bersama Jidan. Sepanjang perjalanan, Jidan mengajaknya mengobrol agar tidak ada celah bagi Jihan untuk melamun.
"Jid, bagaimana hubunganmu dengan Amel?" Tanya Jihan.
Jidan mengerdikan bahunya, "Amel slalu saja menghindar." Ucapnya.
"Ya kejar dong." Kata Jihan.
"Ngomong sih gampang, Ji. Tiap aku deketin Amel atau ingin mengajaknya makan siang bersama, rasanya aku takut ditolak." Jawab Jidan.
Jihan tertawa, "Payah sekali kau ini, Jid." Kata Jihan.
"Jid, bolehkah aku membawa Amel bekerja bersamaku? Aku membutuhkannya sebagai asistenku. Bukankah Amel juga kursus komputer dan administrasi bisnis?" Tanya Jihan.
Jidan tampak berpikir, itu memang sebuah kesempatan bagus untuk Jidan agar setiap hari bisa bertemu dengan Amel.
Karna slama ini, Jidan hanya ketemu dengan Amel seminggu dua kali, itupun jika Jidan mengunjungi hotel tempat dimana Amel bekerja menjadi housekeeping.
**
Jihan menjalani pekerjaannya dengan baik, kecerdasannya membuatnya mudah beradaptasi dengan pekerjaannya. Kali ini Jihan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi larut dalam kesedihan dan mencoba menerima takdirnya sebagai calon ibu tunggal dari bayi tidak berdosa ini.
Jihan sudah tidak mau tau lagi soal Alaska dan keluarga Dewantara. Ia tidak ingin membuat Jidan dan Billa juga ikut terluka.
Begitupun dengan Davan yang membatasi hubungannya dengan Aldrich dan keluarganya dengan cara menghindarinya. Smeuanya ia lakukan demi keluarga yang slama ini ia sayangi.
Kini kandungan Jihan memasuki usia enam bulan, perut yang kian membuncit tidak menghalangi aktivitas Jihan yang memang pada dasarnya energic. Amel pun menjadi asisten kepercayaan Jihan dan Amel sangat cepat belajar dengan baik. Malam hari Amel kuliah mengambil kelas karyawan jurusan manajemen bisnis.
"Bumill.. Makan buah nya dulu." Kata Amel sambil membawakan piring berisikan potongan buah.
"Hemmm Kakak iparku yang baik hati. Terimakasih" Ucap Jihan menggoda.
"Ish kau ini, sudah simpan dulu pekerjaanmu. Kasihan bayimu sudah ingin cemilan." Kata Amel.
Jihan tersenyum, ia memang senang sekali menggoda Amel.
__ADS_1
"Ji, tadi aku melihat Gibran diruangan Jidan." Kata Amel sambil duduk didepan meja kerja Jihan.
Jihan mengangguk, "Dia sudah kembali dari Jogja?" Tanya Jihan. "Mungkin karna perusahaan Ayah dan Gab kerja sama."
Amel menggelengkan kepalanya, "Tadi aku dengar Gibran menyebut nama Rosalia." Ucap Amel.
"Rosa?" Tanya Jihan memastikan dan Amel mengangguk.
Pikiran Jihan tertuju pada Gibran. "Mungkinkah Gibran berpacaran dengan Rosa?" Tanya Jihan pada Amel.
Amel mengerdikan bahunya.
"Padahal aku berharap Gab dapat wanita yang baik, bukan wanita seperti Rosa." Kata Jihan.
"Ji..." Jidan masuk begitu saja kedalam ruangan Jihan yang tidak tertutup rapat.
Jihan sedikit terkejut saat melihat Gibran ada dibelakang Jidan.
"Hai, Ji. Apa kabarmu?" Sapa Gibran.
Jihan memang sudah lama tidak bertemu dengan Gibran, itu karna Gibran menyelesaikan urusannya di Jogja dan mengurus kepindahan kantor pusatnya ke Jakarta.
"Baik, Gab. Bagaimana kabarmu?" Tanya Jihan balik.
"Jihan aja nih yang ditanyain kabarnya? Aku engga?" Sahut Amel meledek.
"Ya, itu betul. Kau tidak boleh mengejar Amel, Gab." Jawab Jidan yang bersandar pada dinding tembok.
"Ya, karna Amel sedang kau kejar kan, Jid?" Tebak Gibran dan Jidan hanya mengerdikan bahunya.
"Ji, Aku kesini ingin mengajakmu makan siang." Ajak Gibran pada Jihan.
"Dengan Jidan juga?" Tanya Jihan.
"Tidak, kalian saja. Aku akan makan siang sama Amel." Kata Jidan lalu berjalan kearah Amel dan menarik tangannya menuju luar ruangan Jihan.
"Sekalian tentuin tanggal pernikahan, Jid." Teriak Gibran meledek dan Gibran hanya mengacungkan jempolnya sambil terus berjalan kedepan.
"Jadi, mau makan siang bersamaku?" Tanya Gibran dan akhirnya Jihan mengangguk.
Jihan berdiri dari kursinya dan terlihat jelas perutnya yang sudah membuncit, Gibran tersenyum melihat itu.
"Kau semakin cantik saat hamil, apa bayimu seorang perempuan?" Tanya Gibran.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Aku belum mengetahuinya." Jawab Jihan. "Dan dari mana kau bisa menebak, Gab?" Tanya Jihan dan kini mereka berjalan bersama menuju luar kantor.
__ADS_1
"Kata orang, klo wanita yang semakin cantik saat hamil, tandanya bayinya perempuan." Jawab Gibran.
"Kau sok tau sekali." Jihan tertawa.
Mereka duduk berhadapan disebuah cafe bernuansakan classic.
Gibran memang menyukai hal hal yang berbau classic.
"Spaghetti carbonara dan juice mangga" Kata Jihan pada waitters.
"Spaghetti carbonara dan lemon tea." Kata Gibran lalu tersenyum pada Jihan.
"Jadi sejak kapan kembali ke Jakarta? Urusanmu di Jogja sudah selesai?" Tanya Jihan.
Gibran mengangguk, "Aku dan adik adikku pemilik resmi GAB Travel and tours." Jawab Gibran.
"Karna kau akan menikah dengan Rosa?" Tanya Jihan lebih dalam.
"Itu yang kau pikirkan, Ji?" Gibran balik bertanya dan Jihan mengangguk.
"Kau salah aku dan Rosa sudah tidak memiliki hubungan apapun, aku menemukan bukti pencucian dana oleh ayahnya Rosa. Ku berikan bukti itu, pilihannya hanya dua, mengaku dan mengembalikan semua aset yang tlah dia curi atau berhadapan dengan sidang." Kata Gibran setenang nungkin.
"Jadi...?" Tanya Jihan.
"Rosa jatuh miskin karna kekayaannya slama ini adalah hasil mencuri dari aset milik keluargaku, Ji." Kata Gibran.
Jihan nenghela nafas, "Kasihan." Gumamnya. "Sekarang dia dimana?" Tanya Jihan.
"Di Jogja, aku tidak sejahat itu membiarkan mereka sengsara begitu saja. Ku berikan sebuah rumah sederhana dan toko klontong kecil untuk biaya hidup mereka sehari hari. Hanya itu yang bisa aku lakukan setelah mereka menikmati aset keluargaku." Jawab Gibran.
"Rosa menerimanya?" Tanya Jihan yang sangat tau jika Rosa sedari kecil sudah hidup mewah.
Gibran tersenyum, "Kau tau Rosa seperti apa dan ada baiknya kita jangan bahas dia lagi." Kata Gibran. "Ayo makan." Ajak Gibran setelah pesanan mereka tersaji di meja yang mereka tempati.
Jihan makan dengan lahap, kehamilannya di bulan ke enam ini membuat Jihan mudah sekali lapar. Jihan juga sesekali bercanda dengan Gibran dan mereka sering kali tertawa.
Tanpa Jihan sadari, Alaska tengah memperhatikannya dari sisi meja yang lain. Entah mengapa setelah kejadian yang menyakitkan hati Jihan, membuat Alaska slalu memikirkan Jihan, merasa bersalah dan ingin menemuinya. Namun perasaan itu seolah menjadi perang batin bagi Alaska sendiri. Belum lagi Alaska harus bekerja tanpa Jihan, membuat banyak pekerjaannya menumpuk tidak terselesaikan.
"Al.. Itu kan mantan asistenmu, adiknya Jidan." Kata Rania.
Alaska hanya diam dan kembali memakan makanannya. Sedangkan Rania masih memperhatikan Jihan dan Gibran.
"Apa pria itu ayah dari bayi yang dikandung adiknya Jidan?" Tanya Rania bergumam.
"Bukan!!" Tegas Alaska dan Rania langsung menatap heran pada Alaska.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...