
"Kakek." Kata Alaska kikuk. "Oma Ghea, Kakek Fadhil." Alaska menunduk.
Mereka duduk bersama untuk menentukan langkah selanjutnya, Clara dan Aldrich juga Davan dan Billa ikut duduk bersama mencari jalan keluar. Tak lupa juga Jidan yang slalu tak mau tertinggal untuk urusan Jihan.
"Meski sebuah kesalahan, tapi kalian tlah melakukan dosa besar. Kakek hanya meminta kalian untuk bertubat, Al." Kata Fadhil penuh dengan penyesalan.
Alaska mengangguk patuh, "Maafkan Al dan Jihan, Kek, Oma, Om Dav, dan Tante Billa. Al akan bertanggung jawab penuh dengan menikahi Jihan."
"Hanya sekedar menikah?" Tanya Fariz.
Alaska menggelengkan kepalanya. "Tidak Kek, Al akan menjalani sungguh sungguh rumah tangga Al dengan Jihan. Al akan mencintai Jihan dan putri kami, memberikan contoh yang baik juga membimbing Jihan dan putri kami." Jawab Alaska dengan mantap dan Aldrich bangga akan hal itu.
Fadhil mengangguk, "Baiknya kalian akan menikah setelah Jihan selesai mana nifasnya." Ucap Fadhil yang disetujui oleh semua orang.
"Jid, bagaimana pendapatmu?" Tanya Ghea pada Jidan. Ghea sangat tau jika Jidan masih terlihat berat melepas Jihan.
Jidan mengangguk, "Jid ikut yang terbaik untuk Jihan, Oma. Tapi jika Alaska menyakiti Jihan, Jid bersumpah akan mengambil Jihan dan Jove dari tangan keluarga Dewantara dan menutup akses untuk keluarga Dewantara bertemu dengan Jove." Ucapnya serius.
"Daddy akan memastikan hal itu tidak akan terjadi." Kata Aldrich.
Fariz menangguk. "Kakek akan meminta Opa Tristan merubah isi wasiat, Alaska akan dicoret dari hak waris dan dialihkan pada...." Fariz menjeda kalimatnya lalu melihat kearah Jidan. "Siapa nama bayinya, Jid?" Tanya Fariz.
"Jid memberi nama Jovelyn yang artinya wanita tegas, Kek." Jawab Jidan.
Fariz mengangguk. "Alaska akan dicoret dari hak waris dan dialihkan pada Jovelyn dan Jihan sebagai ibu kandungnya. Alaska hanya memegang kuasa untuk mengelolanya saja." Jawab fariz demi meyakinkan Jidan dan keluarga Davan meski Fariz tau, keluarga Davan tidak membutuhkan hal itu.
"Setuju." Sahut Aldrich yang diangguki oleh Clara.
"Bagaimana, Al?" Tanya Clara.
Alaska mengangguk, "Alaska siap menerima segala resiko, bukan karna Alaska akan kehilangan kekayaan, tapi karna sekarang Jove dan Jihan adalah prioritas Al." Kata Alaska mantap.
Mereka lanjut membahas soal penjebakan yang dilakukan oleh Rosa, dan semua sepakat untuk menyeretnya kedalam hukum.
Aldrich dan Davan pun akhirnya berdamai. Tak hentinya Aldrich terus mengucap kata maaf pada sahabatnya itu. Sementara Jidan segera keluar karna ingin melihat bayi yang dilahirkan Jihan.
Dari sebuah kaca besar, Jidan menatap wajah mungil Jove yang sedang terlelap.
"Kau memiliki keluarga yang kumplit, Daddy Jid tidak khawatir lagi denganmu." Ucapnya lirih.
Gibran berdiri percis disebelah Jidah.
"Bayi itu cantik sekali." Ucap Gibran.
"Dia mirip Jihan." Balas Jidan.
__ADS_1
"Haruskah aku menunggunya dewasa untuk menggantikan Jihan, Jid?" Tanya Gibran.
Jidan menoleh kearah Gibran, "Akan ku rontokkan gigimu." Ucapnya lalu mereka berdua tertawa.
Jidan memeluk Gibran ala persahabatan. "Terimakasih telah berbesar hati, Gab. Jihan sangat beruntung dicintai pria sepertimu." Katanya lagi dengan tulus.
"Level tertinggi dari mencintai adalah berjuang, tapi ada yang lebih tertinggi lagi, yakni melepaskan." Ucap Gibran.
"Kau benar benar dewasa sekali, Gab. Semoga akan ada wanita yang begitu baik untukmu." Kata Jidan dengan tulus.
Mereka lanjut mengobrol di kafetaria, Alaska menyusulnya. "Jid..." Panggil Alaska.
"Jid, ponselmu mati, Om Dav mencarimu." Ucap Alaska.
Jidan berdiri. "Ponselku lowbat, baiklah aku kekamar Jihan dulu. Dan ada baiknya juga kalian untuk berbicara berdua." Kata Jidan pada Alaska dan Gibran.
Jidan pergi dan Alaska duduk bersama Gibran. "Maaf." Kata Alaska begitu saja.
Gibran mengangguk, "Aku tidak mengaku kalah, Al." Kata Gibran.
Alaska hanya diam.
"Ku titipkan Jihan padamu. Jangan sampai aku melihat Jihan bersedih ataupun menangis. Jika aku belum menikah, mungkin aku akan merebutnya kembali." Kata Gibran dengan serius.
Gibran megerdikan bahunya, "Ternyata takdirku cuma jagain jodoh orang." Gibran tertawa dan Alaska juga ikut tertawa.
Mereka berdamai dengan hati yang lapang, kebesaran hati Gibran mampu membuka mata hati Alaska untuk bersikap lebih baik lagi.
Alaska kembali kekamar perawatan Jihan sementara Gibran memutuskan untuk pulang.
Jihan baru saja selesai menyusi baby Jove. Billa dan Clara begitu setia menemani Jihan, Clara dengan antusias segera menggendong Jove setelah selesai diberikan asi oleh Jihan.
"Al, lihat sini. Jove begitu pintar menyusu." Kata Clara.
Alaska mendekat kearah Clara, "Kenapa dia tidur terus, Mom?" Tanya Alaska.
"Ya begitulah bayi, kerjanya hanya tidur dan menyusu." Jawab Clara.
"Ji, siapa nama lengkapnya?" Tanya Aldrich.
"Sementara ini hanya Jovelyn, Dad." Jawab Jihan.
Aldrich mengangguk, "Bolehkah Daddy menambahkan namanya?" Tanya Aldrich ragu2.
Jihan melirik kearah Jidan dan Jidan mengangguk.
__ADS_1
"Boleh Dad." Jawab Jihan.
"Alarice Jovelyn Dav Dewantara." Kata Aldrich.
"Not Bad." Sahut Davan. "Tapi tetap dipanggil Jove." Kata Davan lagi.
"Ya, aku setuju itu. Tidak apa awalan namanya Al, tetapi tetap panggilannya Jove." Kata Jidan setuju.
Keesokan harinya, Beni mengunjungi Jihan. Jihan menyambut Beni dengan suka cinta, "Bang Ben." Sapa Jihan.
"Ji, senang bisa melihatmu lagi." Kata Beni.
"Aku sering mengunjungimu, Bang Ben." Ucap Jihan.
"Ya dan mengajakku berbicara juga menangis." Beni tertawa.
"Dari mana Bang Ben tau?" Tanya Jihan.
Beni tersenyum, "Orang koma juga masih bisa merasakan, aku hanya seperti sedang tertidur dan bermimpi, mendengarmu bercerita, mendengarmu menangis, namun aku tidak bisa bangun." Kata Beni.
Jihan menghela nafas, "Pernikahan Kak Al dan Rania batal. Apa itu karna aku?" Tanya Jihan.
Beni mengerdikan bahunya. "Tidak. Memang hubungan mereka sudah berakhir sebelum Bos kehilangan ingatannya. Rania memanfaatkan hal itu." Ucap Beni.
"Oh ya, Bayi mu cantik sekali." Kata Beni memuji.
"Mereka semua bilang, Jove mirip denganku." Ucap Jihan.
Beni mengangguk setuju, "Ya, karna sewaktu kau hamil dan si bos kehilangan ingatannya, si Bos gak mengakuinya, karna itu anaknya juga tidak mau mirip dengannya." Beni tertawa.
"Berani sekali, Kau Ben." Sahut Alaska yang tiba tiba saja masuk kekamar perawatan Jihan bersama Jidan.
"Tapi itu benar, Al. Sepertinya Jove tidak ingin mirip denganmu." Kata Jidan seolah setuju dengan pemikiran Beni.
"Mana ada anak yang mau mirip dengan Daddynya setelah Daddynya menghina Mommynya." Kali ini Jihan yang berkata penuh dengan sindiran.
"Ji..." Panggil Alaska dan Jihan hanya cuek saja.
"Aku kan kemarin sedang lupa ingatan, tidak berniat seperti itu." Kata Alaska merasa bersalah.
"Sepertinya kalian harus berbicara." Sahut Beni dan Jidan menyetujuinya.
"Bicaralah berdua, meski Kakek Fadhil telah menentukan pernikahan kalian, tapi Jika Jihan merasa keberatan, maka aku akan kembali menolaknya dan melepaskan Jihan dari perjodohan ini kembali." Ucap Jidan sambil mendorong kursi roda Beni keluar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1