BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 28


__ADS_3

Clara berada di pantry kantor untuk membuat kopi susu sachet yang sudah tersedia disana.


"Udah dua minggu aku disini, tapi belum menemukan Aldi. Apa Aldi sudah resign dan pindah kerja ya? Tapi kan ini belum satu tahun, dan pasti Aldi menandatangi kontrak selama satu tahun kedepan, sama sepertiku." Ucap Clara bermonolog.


"Smoga kamu slalu baik baik saja, Al. Terimakasih." Gumam Clara. Entah untuk keberapa kalinya Clara mengucap kata Terimakasih pada Aldi. Seorang pria yang dia anggap teman baiknya itu, yang tanpa Clara sadari ada rasa dihati Clara untuk Aldrich namun Clara slalu menepisnya dengan alasan dirinya tidak pantas untuk Aldrich.


Aldrich menepikan mobilnya dikomplek ruko, ia memarkirkan mobilnya sedikit dengan butik Erlasha. Matanya terus menatap kearah butik namun sudah berapa hari ini ia tak melihat Clara keluar dari butik.


Ya begitulah Aldrich, jika sedang rindu, ia menunggu Clara didepan butik tanpa menemuinya. Baginya melihat Clara saja sudah lebih dari cukup.


Aldrich semakin gusar karna tak kunjung melihat Clara meski ini sudah pulang kerja. Ia melihat Ragil yang keluar dari butik dan berjalan kearah mobilnya. Ragil menghentikan langkahnya kala Aldrich memanggilnya.


"Tuan Aldrich." Kata Ragil.


Aldrich tersenyum, "Miss, panggil saya Al saja seperti biasa."


"Aldi atau Aldrich?" Tanya Ragil lagi.


Aldrich bersandar pada mobil Ragil, "Jika dipanggil sebagai Aldi, bisakah saya masih bertemu dengan Clara?"


"Jadi kalian masih belum bertemu?" Tanya Ragil, ia mengira dengan Clara bekerja di DW Group akan memudahkan mereka untuk bertemu.


"Kemana Clara? sejak berapa hari ini aku tak melihatnya ada di butik." Kata Aldrich.


"Dia sudah resign." Jawab Ragil.


Aldrich mengernyitkan dahinya, "Apa suaminya yang menyuruhnya resign?" Tanyanya.


Ragil mengerdikan bahunya, "Maybe."


Aldrich menunduk sambil tersenyum, ia mau tak mau harus mengakui jika Clara memang sudah dimiliki oleh pria lain secara utuh.


"Al, percaya takdir?" Tanya Ragil mengingatkannya pada pertanyaan yang sama yang pernah dilontarkan oleh Fariz.


Aldrich menatap wajah Ragil, "Jika ada jalannya, kalian pasti akan bertemu lagi." Kata Ragil tanpa memberi tahu posisi dan status Clara saat ini.


***


Sudah sebulan Clara bekerja di DW Group. Atas bimbingan Yuni, Clara dengan cepat belajar bagaimana cara menjadi sekertaris yang baik.


Pagi ini Clara datang pagi sekali sesuai dengan perintah Joni.


Clara menanti surat keputusan akan ditempatkan dibagian mana dirinya kini.


Joni membawa Clara naik ke lantai lima belas, tempat dimana ruangan CEO dan presdir berada.

__ADS_1


Joni membawa dulu Clara ke ruangannya.


"Kamu akan ditempatkan menjadi sekertaris pribadi CEO." Kata Joni.


Clara mengangguk patuh.


"Kamu tau nama Presdir dan CEO disini?" Tanya Joni lagi.


"Presdir DW Gorup bernama Bapak Alfarizi yang biasa dipanggil Pak Fariz dan CEO nya bernama Pak Aldrich." Jawab Clara yang mengetahui banyak hal dari Yuni saat mentraningnya dulu.


"Ya dan kamu akan menjadi sekertaris Tuan muda Aldrich." kata Joni menegaskan.


"Tugas tugasmu sudah tau?" Tanya Joni lagi.


Clara mengangguk, dia tau tugas tugasnya sebagai sekertaris pribadi yang menyiapkan keperluaan atasannya itu.


Joni melihat jam dipergelangan tangannya, "Sepertinya Tuan muda Aldrich sudah ada diruangannya, kamu bisa langsung bekerja."


Clara berdiri dan mengekori Joni dari belakang.


"Ini meja kerjamu, arsipkan dokumen ini sesuai tanggalnya, nanti saya beritahu lagi tugasmumu." kata Joni yang diangguki oleh Clara.


Joni masuk kedalam ruangan Aldrich.


"Kenapa Papap menarik Rissa jadi tim sekertarisnya? Lalu pekerjaanku siapa yang membantu, Jon?" Tanya Aldrich frustasi.


Aldrich berdecak, "Ck, sekertaris baru bisa apa? Mulai lagi dari nol, aku malas yang ada kerjaanku hanya mengajarinya." Aldrich memberengut kesal.


Joni menahan senyumnya, "Ah Bos, kalo lu tau aja siapa sekertaris barunya pasti lu rela ngajarin A sampai Z ke dia dan lama didalam ruangan sama dia." Batin Joni.


"Kamu ngetawain saya, Jon?" Tanya Aldrich saat melihat Joni senyum senyum sendiri.


"Ti tidak tuan, mana berani saya ngetawain tuan." Jawab Joni.


"Ya sudah, ajarin sekertaris baru itu, jangan sampai ada kesalaham atau saya pecat dia." Ucap Aldrich ketus.


"Anda tidak ingin mengenalnya dulu, Bos?" Tanya Joni yang terkadang memanggil Aldrich dengan sebutan Bos.


"Tidak perlu, hanya buang buang waktu, suruh saja dia menyelesaikan pekerjaannya dan jangan ada yang salah sedikitpun." Kata Aldrich lagi.


Joni keluar dari ruangan Aldrich dengan menahan tawanya, "Rupanya seperti ini perasaan bos besar yang mengerjai putranya sendiri." Bathin Joni tertawa.


"Tuan, ini sudah selesai, saya harus kerjakan apa lagi?" Tanya Clara.


"Buat proposal bisa?" Tanya Joni yang kini sikapnya lebih baik pada Clara.

__ADS_1


"Bisa, Pak." kata Clara.


Joni memberikan dokumen, "Proposal ini belum sempurna, coba kamu sempurnakan, tiga jam lagi saya kesini lagi untuk menyerahkan proposal itu pada Bos."


Clara mengangguk sambil menerima dokumen yang diberikan Joni, ia memulai pekerjaanya saat Joni meninggalkannya untuk kembali keruangannya.


Aldrich disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk, ia harus menyelesaikan pekerjaannya karna Fariz kini tengah berada dinegri sebrang untuk menghadiri undangan pernikahan anak dari klien nya. Ditambah Rissa sekertaris yang slalu diandalkannya kini naik jabatan menjadi tim sekertaris presdir, membuat Aldrich kewalahan mengerjakan pekerjaannya.


"Dimana dokumen itu?" Tanya Aldrich pada dirinya sendiri sambil membuka lembar demi lembar map yang berserakan dimejanya.


"Ah Sh*itt. Pasti masih dikerjakan sekertaris baru itu." Umpat Aldrich.


Aldrich berdiri dari duduknya, ia berencana keluar menghampiri sekertaris barunya untuk menanyakan dokumen yang sedang ia butuhkan. Namun ia sedikit kesal ketika tak melihat sekertarisnya dimeja kerjanya.


Joni yang kebetulan akan mendatangi ruangan Aldrich pun sedikit terburu buru ketika melihat sang bos mengacak ngacak meja sekertarisnya.


"Bos, cari apa?" Tanya Joni.


Aldrich menatap tajam Joni. "Mencari dokumen perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan kita. Dimana sekertaris baru itu? Jam kerja malah kelayapan." Geram Aldrich.


Joni hanya menghela nafas, "Sekarang bisa lu bos bilang begtu, besok besok awas aja kalo sampai bucin sama sekertaris baru." Batin Joni.


"Biar saya yang cari, Bos." Kata Joni.


"Kamu cari saja sekertaris itu dan siapkan surat pemecatannya sekarang juga." Tegas Aldrich yang kembali mengacak ngacak meja Clara.


"Jangan, Bos. Bos kan belum bertemu dengan dia." kata Joni.


Aldrich menatap tajam Joni, "Cari dia dan bawa masuk keruanganku, aku yang akan memecatnya langsung." Tekan Aldrich lalu masuk dan membanting pintu ruangannya.


Brakk.


Joni menghela nafas sambil melihat pintu yang tertutup sempurna, "Aku yakin ini terakhir kali dia bersikap dingin dan arogan begini, coba aja kalo dia udah lihat siapa sekertarisnya, pasti dia menjilatt ludahnya sendiri." Gumam Joni bermonolog.


"Pak Joni." Panggil Clara.


Joni menoleh. "Kamu dari mana, Ra?" Tanya Joni.


"Toilet, Pak. Kebelet tadi. Ada apa Pak?" Tanya Clara.


"Bos marah karna gak nemuin kamu dimeja, dia cari dokumen ini." Kata Joni sambil mengangkat dokumen yang dicari Aldrich.


Clara merasa takut, "Bos marah?" Tanya Clara.


Joni berniat mengerjai Clara. "Marah banget, kamu disuruh keruangannya. Kata Bos, kamu mau dipecat langsung."

__ADS_1


Clara mendadak lemas, ia mendudukan dirinya dikursi sambil menghela nafas.


***


__ADS_2