
Selesai makan malam, kini mereka menyantap hidangan penutup.
"Restoran ini enak sekali, Kak." Kata Jihan.
Alaska mengangguk, selain menyajikan makanan dan dessert yang enak, restoran ini pun terkenal sebagai salah satu restoran romantis.
"Setelah ini kita ke menara Eiffel yuk." Ajak Jihan.
Alaska mengangguk, sedari kemarin, Jihan memang meminta mengunjungi Eiffel dimalam hari, namun Alaska slalu menundanya dan hanya sore hari saja mereka mengunjungi menara yang terkenal di negara itu. Tapi malam ini, Alaska akan menuruti kemauan Jihan dan memberinya sebuah kejutan yang mungkin masih Jihan harapkan.
Alaska bahkan mengajak Jihan menaiki pesiar di sungai Seine untuk melihat indahnya kota Paris di malam hari. Sesudahnya mereka berjalan kaki menelusuri sungai Seine yang begitu indah, hingga mereka berada di sisi sungai, Alaska berlutut didepan Jihan.
"Kak.. Ngapain?" Tanya Jihan tak enak melihat Alaska tiba tiba saja berlutut dengan satu lututnya.
Tiba tiba saja banyak orang yang menonton mereka, menyalakan sinar lampu dari ponselnya seolah menerangi mereka.
Alaska tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak bludru berwarna biru dan membukanya.
"Ji.. Maaf karna sehari ini aku meninggalkanmu." Ucapnya dengan senyuman.
"Aku mempersiapkan semua ini, meski terlambat namun aku ingin sekali membuatmu berkesan. Yaitu dengan melamarmu." Kata Alaska.
Jihan membekap mulutnya, ia sungguh tak percaya jika Alaska melakukan semua ini.
"Aku tidak akan memintamu untuk menikah denganku karna pada kenyataannya, kamu sudah menjadi istriku." Alaska menjeda kalimatnya sesaat. "Ji, di depanmu aku berlutut, memintamu dengan resmi, maukah kamu menjalani sisa hidupmu denganku? Membesarkan Jove dan adik adiknya kelak? Lalu menua bersamaku?" Tanya Alaska.
Semua yang menonton adegan romantis itu berteriak Yes.. Yes.. Yess.. Say Yes...
Jihan mengangguk penuh haru. "Tentu saja, Kak." Membuat semua orang yang tidak mengerti bahasa Jihan langsung bersorak karna melihat Jihan mengangguk tanda menyetujuinya.
Alaska segera meraih tangan Jihan lalu menyematkan sebuah cincin berlian dijari manis Jihan.
Jihan membantu Alaska untuk berdiri, kemudian memeluknya dengan erat.
"Selamanya, kamu hanya milikku." Kata Alaska.
Rupanya seharian ini Alaska mempersiapkan semua ini, ia mencari lokasi untuk melakukan makan malam romantis dan melamar Jihan menjadi miliknya seumur hidup, lalu ia membayar sejumlah orang untuk melihat adegannya dan menyinari adegan tersebut dengan lampu ponselnya, tanpa diduga ternyata apa yang dilakukan sejumlah orang tersebut menarik perhatian pengunjung sungai Seine dan ikut melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Jihan merasa sangat bahagia, Impiannya terwujud meski terlambat, Alaska melamarnya, bukan menjadi istrinya, melainkan menjadi teman menuanya.
Sepanjang jalan pulang, Jihan terus saja menempel pada Alaska, merangkul lengan Alaska dan menyandarkan kepalanya disana.
**
Jidan dan Amel melangsungkan acara resepsi pernikahan mereka, dengan bangganya Jidah memperkenalkan Amel sebagai istri yang juga cinta masa kecilnya.
Bahkan Luna, sahabat dekat Jaffin mengabadikan cerita Jidan dan Amel pada sebuah Novel yang ia buat. Jidan dengan senang hati mengijinkan Luna menjadikan cinta masa kecilnya sebagai sebuah cerita.
Cupp..
Alika mencium pipi Gibran secara tiba tiba, Gibran terkesiap karna dirinya tengah mengobrol dengan Aldrich dan calon rekan bisnisnya yang Aldrich kenalkan pada Gibran.
Aldrich tertawa melihat tingkah putrinya yang agresif pada Gibran.
"Al, jaga sikapmu." Kata Gibran dengan lembut dan berbisik.
"Dad, aku ajak Mas Gibran kesana dulu ya." Kata Alika semanis mungkin pada Aldrich.
Alika bersandar dilengan Gibran, "Biar rekan rekan Daddy tau, aku sudah memiliki calon suami, karna banyak dari mereka yang ingin menjodohkan putra mereka dengan putri Dewantara." Kata Alika sedikit kesal.
Gibran memeluk pinggang Alika, "Apakah aku orang yang beruntung karna memiliki hatimu?" Tanya Gibran.
Alika menggelengkan kepalanya. "Tidak, akulah yang beruntung karna Mas mencintaiku." Jawabnya.
"Sepertinya kita sama sama beruntung." Balas Gibran sambil tersenyum hangat pada Alika.
"Kapan Mas akan menikahiku?" Tanya Alika tiba tiba.
Gibran nengernyitkan dahinya, "Bukankah kita sepakat, aku akan menikahimu setelah kamu lulus kuliah?"
"Kelamaan." Kata Alika dengan cepat. "Aku kan ingin punya yang lucu seperti Jove." Ucapnya.
Gibran tertawa, "Ingin punya yang lucu seperti Jove atau ingin membuat yang lucu seperti Jove?" Tanya Gibran menggoda.
"Itu tau." Alika tertawa dan Gibran hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Sungguh hidupnya sedikit berwarna setelah mengenal Alika, wanita ceria sedikit agresif dan apa adanya.
__ADS_1
Jidan dan Amel memutuskan tidak berangkat bulan madu karna kondisi Amel yang sedang hamil, mereka akan menundanya sampai Amel melahirkan, sama seperti Jihan dan Alaska yang sudah pulang berbulan madu tanpa membawa Jove.
Waktu berlalu, kini usia kehamilan Amel memasuki bulan kelahirannya, bayi yang di prediksi laki laki itu akan segera hadir ke dunia.
Jidan menjadi suami yang sangat siaga, percis seperti saat menjaga Jihan dulu. Amel merasa bahagia karna perhatian Jidan begitu besar padanya, perhatian yang tidak pernah Amel dapatkan dari keluarganya dulu.
"Jid.." Amel menggoyangkan tubuh Jidan yang tidur tertelungkup disisinya.
Jidan mengerjapkan mataplnya, "Iya Sayang kenapa? Kamu haus?" Tanya Jidan meski sangat mengantuk namun Jidan slalu memprioritaskan Amel.
Amel menggelengkan kepelanya sambil mengusap perutnya. "Sepertinya dia sudah ingin keluar, sedari tadi aku merasakan mulas yang hilang dan datang lagi." Kata Amel.
Jidan langsung duduk dan mengusap lembut perut Amel yang membuncit, lalu mendekatkan wajahnya diperut Amel. "Anak Ayah sudah ingin keluar ya? Sudah ingin bertemu Bunda dan Ayah ya? Sabar ya Sayang, Ayah bersiap dulu, jangan nyusahin Bunda ya." Kata Jidan seolah mengajak ngobrol bayi yang masih deperut Amel dan ajaibnya kata kata itu mampu membuat rasa sakit diperut Amel mereda.
Jidan mengganti pakaiannya dan membantu Amel juga untuk bersiap, karna ini sudah malam. jidan memutuskan tidak memberitahu Billa dan Davan. Namun saat Jidan akan menuju mobilnya, ia melihat Jaffin yang baru saja pulang memakai motor balapnya.
"Kau baru pulang, Jaff?" Tanya Jidan heran.
Jaff mengerdikan bahunya. "Biasalah kak, anak muda." Jawab Jaffin sekenanya. "Kak Amel kenapa?" Tanya Jaffin memperhatikan Kakak iparnya yang slalu baik terhadapnya.
"Kak Amel mau melahirkan, ini mau ke rumah sakit, nanti kamu kasih tau Ayah dan Ibu ya, Jaff. Kakak tidak membangunkan mereka." Kata Jidan yang diangguki oleh Jaffin.
Jaffin membantu Jidan memapah Amel dan membawakan tas berisikan perlengkapan bayi, lalu membuka pintu untuk Amel.
"Jaff ikut saja ya Kak?" Tanya Jaffin.
"Tidak usah Jaff, nanti tolong kasih tau Ayah dan Ibu saja." Ucap Jidan dan Jaff pun menurut meski ia khawatir pada Amel.
"Kak Amel, yang semangat ya. Semoga diberi keselamatan." Ucap Jaff perhatian dengan tulus.
"Makasih Jaff." Kata Amel dengan tersenyum.
"Hati hati Kak Jid." Kata Jaffin saat Jidan mulai menjalankan kendaraannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Baby Boy J otw nih.. J siapa ya kira2 🤭
__ADS_1