
Ghea berdiri menatap langit malam dari jendela dikamarnya, pikirannya seolah kembali pada kehidupannya tiga puluh tahun yang lalu.
Fadhil memeluk Ghea dari belakang, "Memikirkan Davan, hem?" Tanyanya lembut.
Ghea menggelengkan kepalanya, "Memikirkan kita di tigapuluh tahun yang lalu, By.."
"Kita bisa melewatinya, aku yakin Davan juga bisa melewatinya, Davan sepertimu, masih harus menyelami perasannya dulu." Kata Fadhil.
"Benarkah aku seperti itu, By?"
Fadhil mengecup puncak kepala Ghea, Davan adalah kamu versi pria, kelembutan kamu dan rasa tidak tega juga rasa tidak percaya diri sepertimu melekat pada Davan."
Ghea membalikan tubuhnya dan masuk kedalam pelukan Fadhil. "Apa aku gagal menjadi seorang Ibu, By?"
"Tidak sama sekali, Sayang. Kamu Mama yang hebat untuk Zayn dan Davan, dan kamu juga Mama mertua idaman yang baik untuk Chelsea dan Billa."
Sementara itu, Davan membawa Billa kekamarnya, Billa cukup terperangah saat melihat kamar Davan yang mungkin luasnya enam kali lipat dari kontrakannya.
"Masuk Bill." Kata Davan dengan tersenyum, ia merasa lucu melihat Billa dengan wajah yang terlihat kaget.
"Kenapa?" Tanya Davan yang melihat Billa masih berdiri diambang pintu.
"Kamarnya besar sekali. Seperti di film korea, ternyata ada juga yang beneran seperti ini." Kata Billa yang merasa takjub.
"Jangan norak, kamu akan lebih sering melihat hal hal yang tidak pernah kmu lihat." Kata Davan. "Masuk Bill, mau sampai kapan kamu disitu."
Billa melangkahkan kakinya dan Davan menutup pintunya.
Billa melihat satu tempat tidur berukuran besar, ada satu set sofa, juga meja kerja, ia juga melihat pintu yang terhubungkan dengan balkon kamar, lalu dia melihat pintu seperti kamar.
"Itu pintu kemana, Om?" Tanya Billa.
Davan melihat kearah pintu yang dimaksud oleh Billa, "Oh itu walk in closet, didalam sana ada kamar mandi yang terhubung dengan lemari pakaian." Kata Davan lalu berjalan kearah pintu diikuti oleh Billa.
Davan membuka pintu dan Billa semakin takjub, saat melihat lemari yang menjulang tinggi, sepatu yang tersusun rapih, dan kaca besar.
Davan menuju kamar mandi dan membuka pintunya, "Ini kamar mandi." Kata Davan.
Billa masuk dan semakin lebih takjub lagi. "Kamar Mandinya aja lebih besar dari kontrakanku, ada bathtub nya, Om." Seru Billa. "Ada air sabunnya juga gak, Om?" Tanya Billa.
Davan tertawa, "Aku baru tau kalau kamu senorak ini, Bill."
Billa merengut, "Ishh Om gitu banget." Ucapnya.
"Ya sudah kamu mandi dulu, tau kan nyalain keran air hangatnya?" Tanya Davan.
Billa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Davan tertawa kembali, lalu menunjukan cara memutar keran untuk menghasilkan air hangat, dingin dan panas.
"Ngerti?" Tanya Davan.
Billa mengangguk. "Makasih, Om."
Davan mengacak ngacak rambut Billa, "Cepet mandi." Katanya lalu meninggalkan Billa di kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian, Billa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathtrub, ia lupa jika pakaiannya masih berada dimobil Davan.
Billa membuka lemari dan mengambil satu pakaian milik Davan yang kebesaran ditubuhnya.
Billa keluar dari walk in closet untuk mencari Davan, dan dilihatnya tas milik Billa, ia segera mengambil pakaiann dallam nya dan memakainya kembali dikamar mandi.
Saat Billa memasuki kamarnya kembali, terlihat Davan sudah berada diatas kasurnya sambil duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Davan menoleh kearah Billa saat pintu itu terbuka.
"Sini Bill." Kata Davan.
Billa berjalan ragu kearah Davan.
"Sudah malam, tidurlah." Kata Davan dan tersenyum saat melihat Billa yang memakai baju milik Davan.
"Aku, tidur disofa aja ya, Om." Ucap Billa.
Davan mengerti ketidaksiapan Billa, sebelum masuk kamar, Fadhil memberikannya nasihat agar tidak memaksa dan manjalankan dengan pelan pelan.
"Om, aku tidak bisa, aku tidak siap."
"Siap tidak siap, kita sudah menikah, lagipula aku tidak akan ngapa ngapain kamu." Tegas Davan.
"Tapi nanti kalau bablas gimana?" Tanya Billa.
"Gak akan, Bill. Aku juga tidak akan menyentuhmu sampai ada cinta diantara kita, tapi aku mohon sama kamu tolong jalani rumah tangga ini, kita tidak sedang menjalankan sebuah drama pernikahan." Ucap Davan.
Bila tampak berpikir. Kemudian ia mengangguk, "Tapi dibatasin ya, Om." Katanya.
Davan menghembuskan nafasnya, "Ya sudah, atur saja." kata Davan.
Billa dengan sigap mengambil guling dan menaruhnya ditengah tengah, membuat Davan hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
Malam terlewati begitu saja, Davan tidak mengerti kenapa bisa Billa tidur senyenyak itu, padahal dirinya sendiri tidak bisa memejamkan mata. Sejak Davan melihat Billa keluar dari walk in closet dengan menggunakan baju kaos milik Davan, membuat pikirannya bertraveling.
"Ahh andai aku saja yang jadi baju itu, bisa melekat dengan tubuh Billa." Batin Davan malam itu.
"Ahh ternyata Billa sexy sekali." Batin Davan lagi saat Billa menyusun guling untuk membatasi tempat tidurnya, pergerakan Billa membuat Davan sedikit bergairah.
Tanpa Davan sadari, Davan meraih guling pembatas dan menyingkirkannya, lalu ia tidur didekat Billa dan memeluknya dari belakang. Rasa nyaman menyelimuti diri Davan, entah mengapa ada sesuatu yang bergetar dihatinya, rasa nyaman membuat Davan akhirnya tertidur tanpa mau memikirkan bagaimana reaksi Billa nanti jika tau Davan memeluknya.
__ADS_1
Alarm di ponsel Davan berbunyi, Billa menggeliat namun tubuhnya merasa berat, tak lama kemudian ia mulai mengerjapkan matanya dan terkejut saat mendapati Davan yang tidak menjaga batas apa lagi jarak dengannya.
Billa refleks mendorong Davan membuat Davan terjatuh dari atas tempat tidur.
"Awsshhh." Kata Davan menggaduh.
"Sejak kapan om peluk peluk aku?" Tanya Billa kesal.
Billa merutuki dirinya sendiri karna tidur terlalu nyenyak, ia baru pertama kali tidur dikamar yang menggunakan pendingin ruangan dengan kasur empuk juga bantal lembut, belum lagi selimut tebal namun ringan yang memanjakan tubuhnya.
"Bill, sakit tau!!" Kata Davan yang belum sepenuh ya sadar.
"Om mau berbuat mesum sama aku ya?" Tuduh Billa.
"Apa sih Bill? Siapa yang mau mesum?" Tanya Davan yang belum menyadari mengapa Bill bisa semarah ini.
Davan berdiri dan naik keatas tempat tidurnya lagi, Billa bergeser menjauh.
"Aku benci, Om." Kata Billa sedikit sinis.
Davan melihat wajah tak nyaman Billa.
"Bill.." Panggil Davan.
"Ceraikan aku saja, Om. Aku tidak siap menikah, aku tidak bisa melayani Om, Biarkan aku pergi dari sini!!" Kata Billa yang akhirnya menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Davan menghela nafas, Billa memang baru saja berumur tujuh belas tahun, sikapnya memang masih labil, dan Davan mengerti jika Billa memang tidak siap untuk hal ini.
"Maafkan aku, Bill." Kata Davan. "Aku tidak sengaja." Ucap Davan tulus.
"Aku gak siap, Om. Aku gak siap." Billa terus menangis, "Aku tidak bisa mulai semuanya sama Om, Om lepasin aku ya, please." Kata Billa sesenggukan.
Davan berdiri dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu ia menunaikan kewajiban untuk melakukan shubuh 2 rakaat. Setelah selesai ia menghampiri Billa kembali sambil memberikan mukena yang semalam Ghea berikan pada Davan.
"Sholat Bill, biar hati kamu tenang." Ucap Davan sambil meletakan mukena itu di tempat tidur.
Davan memilih keluar kamar untuk menenangkan pikirannya, ia duduk di dekat kolam ikan sambil memberi makan ikan koi peliharaan sang Kakek.
Ghea yang akan kedapur pun melihat putra bungsunya itu seperti tengah melamun, ia menghampirinya setelah membuatkan Davan kopi susu favoritnya.
"Dav.." Panggil Ghea dan Davan menoleh kearah Ghea.
Ghea duduk dikursi taman sambil meletakan cangkir berisikan kopi susu, lalu Davan berlutut dengan menaruh kepalanya dipangkuan sang Mama.
"Davan harus bagaimana, Ma.. Apa Davan harus menyerah? Apa Davan harus melepaskan Billa?" Isakan Davan dipangkuan sang Mama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1