
Davan menggendong Jihan yang kini kondisinya sudah semakin membaik, meski sudah tiga hari dirumah sakit, Jidan dan Jihan tidak merasa bosan sama sekali karna Jidan dan Jihan merasa kamar rumah sakit itu terasa sangat nyaman sekali. Bahkan Jidan merasa nyenyak tidur di tempat tidur yang di khususkan untuk penunggu passien.
"Ayah.." Panggil Jihan pada Davan.
"Hem?"
"Kata Jidan, Ayah akan terus bersama kami, Apa itu artinya Ayah akan tinggal bersama kami?" Tanya Jihan manja.
"Tidak." Jawab Davan.
Jihan menatap sendu wajah Davan.
Davan tersenyum. "Bukan Ayah yang akan tinggal bersama kalian, melainkan kalian yang akan ikut tinggal dirumah Ayah." Kata Davan.
"Di Jakarta?" Tanya Jihan lagi.
Davan mengangguk, "Rumah Ayah disana, dan kalian akan ikut bersama Ayah."
"Sekolah kami disini?" Tanya Jihan.
"Tentu saja kalian akan pindah sekolah ditempat yang lebih bagus." Kata Davan.
"Ah itu tidak seru, Yah." Kata Jihan.
"Kenapa?" Tanya Davan yang melihat heran pada Jihan.
"Aku belum memamerkan Ayah pada Rosa juga Gibran. Mereka slalu merendahkanku dan Jidan. Mengatai kami anak terbuang yang tidak punya Ayah." Jawab Jihan.
"Perlukah memeperlihatkan apa yang kau punya pada mereka?" Tanya Davan.
"Aku hanya ingin satu kali saja mereka malu dengan apa yang sudah mereka katakan padaku dan Jidan." Ucap Jihan. "Itu harga diriku dan Jidan, Yah." Kata Jihan lagi.
Davan tampak berpikir, sehina itukah anak anak mereka dimata teman temannya, ia tak menyangka jika anak anaknya menjalani hidup yang berat.
Billa dan Jidan masuk kedalam kamar perawatan, tadi Billa dan Jidan sempat pulang untuk mengambil pakaian ganti untuk Billa. Sementara pakaian Jidan dan Jihan semua sudah tersedia karna Davan membelikannya yang baru.
"Kalian sudah datang?" Tanya Davan sambil mendudukan Billa di brankarnya lagi.
"Ji, tadi aku naik mobil Ayah, mobilnya bagus dan dingin, Ji. Ada televisinya juga." Kata Jidan pada Jihan.
Davan tersenyum, ia seakan mengingat saat pertama kali membawa Billa kerumahnya.
"Jidan kenapa sama sekali sepertimu?" Tanya Davan.
"Ya karna dia anakku." Jawab Billa.
"Tapi sikap norakmu menurun pada Jidan." Davan tertawa.
Billa tau jika Davan tengah mengingat masa lalu saat dirinya baru menginjakan kakinya dikamar Davan.
"Kau hanya mengingat kejelakanku saja." Cibir Billa.
"Siapa bilang?" Tanya Davan sambil merangkul Billa lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Billa. "Kadang aku teringat sikapmu yang memanjakanku diatas ranjang, aku merindukan itu, Dear." bisik Davan agar tidak terdengar oleh JJ.
Wajah Billa memanas dan terlihat memerah, "Mas!!" Kata Billa sambil menyikut perut Davan.
"Yah, aku juga ingin naik mobil Ayah." Kata Jihan.
__ADS_1
Davan duduk dibrankar bersama Jihan. "Nanti, kalau kau sudah sembuh, Ayah akan mengajakmu naik mobil setiap hari." Kata Davan.
Setelah satu minggu melakukan perawatan terbaik, Jihan dinyatakan sehat dan bisa beraktifitas kembali seperti sedia kala. Jihan terus menempel pada Davan, melingkarkan kedua tangannya dileher Davan.
Davan menyerahkan Jihan pada Billa saat akan membawa mobilnya sendiri, Jihan duduk disebelah Davan dengan memangku Jihan sedangkan Jidan duduk dibelakang.
"Ayah keren sekali. Jauh lebih keren dari Ayahnya Rosa." Kata Jihan.
"Ya, Ayah juga jauh lebih keren dari Ayahnya Gibran." Ucap Jidan.
"Ya, Ayah memang keren, karna itu Ibu jatuh cinta sama Ayah." Ucap Davan dan mendapat cubitan dari Billa.
"Awsshh." Teriak Davan mengaduh. "Kids, Ibu mencubit Ayah, rasanya sakit sekali." Kata Davan mencoba memprovokasi kedua anaknya.
"Ibu, tidak boleh seperti itu." Kata Jihan.
"Kalian lebih sayang Ayah dari pada sayang Ibu." Ujar Billa.
"Tidak, Bu. Kami menyayangi Ibu. Hanya saja jangan mencubit Ayah, nanti Ayah kesakitan." Bela Jidan.
"Ohh Kids, kalian memang anak anak Ayah." Sahut Davan yang slalu mengembangkan senyumnya akhir akhir ini.
"Kenapa kita belok kesini, arah rumah harusnya lurus." Kata Billa saat memperhatikan jalanan.
"Kalian tidak akan kembali kerumah itu, aku sudah menelpon pemilik rumahnya dan mengucapkan terimakasih, tadinya aku ingin membeli rumah itu sebagai kenang kenangan, namun pemiliknya tidak mau menjualnya, jadi aku merenovasinya sedikit sebagai tanda terimakasihku dan mengembalikannya pada pemiliknya." Jelas Davan.
Billa terdiam, ia bingung apakah ia akan tinggal bersama Davan dan ikut kembali ke Jakarta, siapkah Billa jika harus bertemu dengan keluarga Davan kembali.
Davan membawa Istri dan anak anaknya kehotel miliknya.
"Yah kenapa kita kesini?" Tanya Jihan yang kini digendong kembali oleh Davan.
"Kita akan tinggal disini sementara, sebelum Ayah membawa kalian ke Jakarta."
"Disini bisa makan sepuasnya, Yah?" Tanya Jidan.
"Apapun dan kapanpun, kalian bisa melakukan apapun disini." Kata Davan.
Davan membawa ke lantai paling tinggi, dimana lantai tertinggi adalah kamar khusus pemilik hotel atau kerabatnya.
"Besar sekali, Jid.." Seru Jihan.
Jidan berlari kearah jendela. "Waahh kelihatan semuanya dari sini." Seru Jidan. "Ji, kita biasa berjualan disana, kelihatan dari sini." Kata Jidan lagi.
Davan masih merasakan hatinya yang perih jika kedua anaknya menceritakan pengalamannya dimasa lalu.
Davan menidurkan Jihan di tempat tidur yang besar itu. "Istirahatlah." kata Davan lembut pada Jihan.
"Aku juga mengantuk, Yah." Kata Jidan yang kini sudah naik ke tempat tidur bersama Jihan.
"Istirahatlah, nanti Ayah bangunkan untuk makan malam." Ucap Davan.
Setelah Jidan dan Jihan tertidur, Davan menghampiri Billa yang duduk di sofa dan duduk percis disebelahnya.
"Lusa kita pulang ya." Kata Davan sambil menggenggam tangan Billa.
"Aku tidak siap bertemu keluargamu, aku takut dengan melihatku, mereka teringat kembali kesalahan ibuku." Jawab Billa.
__ADS_1
"Mereka sudah tidak pernah membahasnya. Mama sangat merindukanmu." Kata Davan lalu mengekuarkan ponselnya. "Lihatlah, Mama slalu mengirimiku pesan dan menanyakan kabarmu, dan slalu mengingatkanku untuk segera membawa mu pulang."
Billa meraih ponsel Davan dan membaca pesannya satu demi satu.
"Kita pulang ya, hidup bersamaku lagi." Pinta Davan.
Billa mengangguk pelan dan Davan menariknya untuk dipeluk. "Aku sangat mencintaimu, jangan meragukan itu. Kita besarkan anak anak kita bersama, aku tidak ingin lagi berpisah dengan kalian." Kata Davan sungguh sungguh.
Davan merasakan kebahagaiaan, setelah delapan tahun ia menutup diri dan tenggelam dalam kubangan penyesalan, kini ia menjalani hidupnya dengan menjalankan perannya sebagai seorang suami dan Ayah yang baik untuk JJ.
"Mau tambahah lagi, Jid?" Tanya Davan yang sedari tadi melayani Jidan, Jihan dan Billa di restoran hotel miliknya.
"Bolehkah, Yah?" Tanya Jidan yang menyukai sosis bakar dengan krim keju dan kentang goreng.
"Tentu saja boleh." Jawab Davan sambil memanggil pelayan restoran.
"Yah, aku juga ingin tambah spagheti nya." Sahut Jihan.
"Siapp princess." Kata Davan sambil memberi hormat pada Jihan dengan merapatkan jari jarinya dipelipisnya.
Jihan terkikik sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
Mereka kembali kekamar saat sudah selesai makan malam.
Jidan dan Jihan asik menonton televisi yang menyiarkan film anak anak.
"Ayo tidur, Kids.. Sudah malam." Ajak Davan.
"Nanti Yah, aku masih mau nonton." Kata Jihan merengek.
"No.. Ayo kita tidur karna besok Ayah akan mengajak kalian ke Villa Daddy Al." Kata Davan.
Jidan dan Jihan mengangguk patuh.
"Kita tidur satu tempat tidur, Yah?" Tanya Jidan.
"Tentu saja, Ayo tidur." Ucap Davan.
"Aku dekat Ayah, ya." Kata Jihan. "Tidak apa kan, Jid?" Tanya Jihan pada Jidan.
"Ya, kau dekat Ayah dan aku dekat dengan Ibu." Jawab Jidan.
Tangan kekar Davan mampu memeluk Jihan dan Jidan bersamaan, tidak berselang lama, Jidan dan Jihan tlah tertidur pulas.
Davan melihat kearah Billa yang belum memejamkan matanya.
"Dear, apa yang kau pikirkan?" Tanya Davan lembut.
Billa menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, ayo tidur." Kata Billa.
Namun Davan langsung bangkit dan menghampiri Billa lalu menggendongnya begitu saja ala bridal.
"Mas apa yang kau lakukan?" Pekik Billa.
"Pelankan suaramu, Dear. Nanti mereka bangun." Kata Davan dengan senyum menyeringai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ada yang mau berbaik hati memberiku Vote hari ini?
🤗🤗