BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 39


__ADS_3

Ceklekk..


Seketika arah mata Stevi dan Fariz tertuju pada pintu yang terbuka.


Aldrich masuk kedalam ruangan Fariz dan terlihat Clara berada dibelakang tubuh Aldrich mengikuti langkahnya berjalan sambil menunduk.


"Jadi apa keputusan kalian?" Tanya Fariz.


"Al akan menikahi Clara, Pap, Ma." Jawab Aldrich.


"Benar begitu, Clara?" Tanya Fariz serius.


Semua mata menatap kearah Clara, menunggu keputusannya.


Clara mengangguk ragu, Stevi menghela nafasnya merasa lega karna sudah menyetujuinya.


"Tapi maaf Pak Fariz dan Ibu Stevi. Sungguh yang anda lihat tadi tidak seperti apa yang anda pikirkan. Saya dan Pak Aldrich tidak sengaja melakukan hal itu dan tidak bermaksud berbuat mesum dikantor, tolong jangan menganggap saya tlah menggoda putra Bapak dan Ibu." Jelas Clara memelas.


Stevi sangat merasa bersalah karna menciptakan jebakan ini, ia sungguh tidak tega pada Clara. Stevi menghampiri Clara lalu menarik tangannya untuk mengajaknya berbicara berdua.


"Ma, Clara mau dibawa kemana?" Tanya Aldrich.


"Mama pinjam dulu Clara, ada yang mau Mama bicarakan dengannya." Kata Stevi.


Stevi mengajak Clara untuk masuk ke dalam kamar pribadi yang ada didalam ruangan Fariz dan mengajaknya duduk di sisi tempat tidur. Tangan Stevi terulur menggenggam tangan Clara.


"Kamu tidak menggoda putraku, tapi putraku sangat mencintaimu." Kata Stevi dengan ucapan paling lembut.


"Maafkan insiden ini, menikahlah dengan putraku, kami menerimamu dengan tangan terbuka, dengan dirimu yang apa adanya, jangan merasa tidak pantas hanya karna statusmu, setiap orang punya masa lalu dan setiap orang juga berhak mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya." Kata Stevi lagi dengan bijak.


Clara mengangguk.


"Aku titip Aldrich padamu, menualah bersamanya, hiduplah bersama dengan bahagia bersama putraku. Jika Aldrich menyakitimu, bilanglah padaku, aku sendiri yang akan menegurnya, tapi sebelum itu terjadi, aku pastikan jika Aldrich tidak akan pernah menyakitimu." Stevi berkata dengan sungguh sungguh.


Clara tidak mampu menahan tangisnya, ia menatap wajah cantik Stevi, wajah keibuan yang begitu lembut dan hangat. Clara tidak menyangka jika Stevi begitu menerimanya dengan segala statusnya.


"Boleh aku memelukmu, Bu?" Tanya Clara ragu yang diangguki oleh Stevi.


"Panggillah aku Mama, jangan anggap aku mertuamu, tapi anggaplah aku sebagai Mamamu." Stevi mengusap lembut punggung Clara.


Sementara diluar, Aldrich menatap tajam wajah Fariz dan Joni bergantian.


"Ide siapa ini?" tanya Aldrich dingin.


"Oh ayolah, Son. Ide ini membawamu untuk menikah dengan Clara, kan? untuk apa kamu marah dan mempermasalahkannya." Jawab Fariz.

__ADS_1


"Papap tidak bilang soal ini ke Al." Kata Al.


"Marahi saja Joni, dia yang merencanakan ini." Jawab Fariz santai.


Joni hanya menelan salivanya, ia takut jika Aldrich mengamuk padanya.


"Jon!!" Panggil Aldrich.


"I.. Iya tuan muda." Kata Joni.


"Ajukanlah cuti, aku akan memberimu hadiah liburan keliling eropa." Kata Aldrich.


Joni yang semula berwajah tegang langsung mengembangkan senyumnya, "Bos serius?" Tanya Joni.


"Seriuslah." Jawab Aldrich enteng.


"Bolehkah jika hadiahnya diganti berupa uang saja Bos?" Tanya Joni.


"Kamu kekurangan uang, Jon?" Kali ini Fariz yang bertanya dengan heran.


"Bukan begitu, Tuan besar. Hanya saja saya terlalu sepi jika keliling eropa sendirian." Jawab Joni.


"Saya kira gajimu sebagai asistenku kurang, Jon." Kata Fariz lagi.


"Tidak Tuan besar, hanya saja jika memang tuan muda mau menghadiahkan berupa uang, rencananya saya ingin membeli rumah untuk menambah investasi saya, Bos." Joni menjawab dengan jujur.


"Lho koq Papap, kan kamu yang mau beri hadiah untuk Joni." Kata Fariz tidak terima.


"Ya Papap lah, kan Uang Al juga masih berasal dari uang Papap." Jawab Aldrich santai.


Fariz ingin menjawab perkataan Aldrich namun ia melihat Stevi yang jalan beriringan dengan Clara.


Mata Aldrich tidak lepas memandangi Clara, ia ingin segera menghampirinya dan memeluknya, namun keadaan belum memungkinkan untuknya berbuat lebih.


"Kalian akan menikah malam ini juga." Ucap Stevi.


Aldrich terkejut, ia tak menyangka jika memang akan menikah dengan Clara hari ini juga. "Tapi, Ma. Al belum melamar Clara."


"Tadi Mama tinggalkan kamu satu jam bersama Clara, kamu ngapain aja? Tidak melamarnya?" Stevi menatap sinis pada Aldrich.


"Bukan begitu, Ma. Al sudah mengajak Clara menikah dan Clara menyetujuinya, tapi Clara juga seorang wanita, pasti ingin dilamar secara romantis. Mana ada melamar tanpa bunga dan cincin." Jelas Aldrich.


"Setelah ini kalian pergilah mencari cincin pernikahan, sekalian antar Clara ke kost an nya untuk merapihkan pakaiannya dan pindah ke rumah kita. Malam ini kalian akan menikah dirumah, dan Mama janji akan membuatkan resepsi bulan depan untuk kalian." Kata Stevi.


Clara yang sudah tau hal itu pun hanya menurut saja, memang sebelumnya Stevi sudah memberitahu Clara soal rencana rencananya ini, namun Clara akan menolak secara halus perihal respsei itu, karna ini bukanlah pernikahan yang pertama untuknya, ia terlalu tidak percaya diri terlebih jika publik mengetahui status dirinya sebagai janda.

__ADS_1


Aldrich membawa Clara keluar dari gedung perkantoran itu. Aldrich yang biasanya suka menggoda Clara kini mendadak menjadi kikuk.


"Kita mau kemana, Al?" Tanya Clara saat mobil Aldrich membelah jalanan di ibu kota.


"Kita ke Mall saja, Ra. Tapi makan dulu ya." Kata Aldrich.


"Padahal aku membawa bekal, Al. Tau begitu bekalku aku berikan saja pada...."


"Joni maksudmu? Kamu tidak boleh lagi memberikan Joni hasil masakanmu lagi." Kata Aldrich cepat.


Clara hanya diam sembari menghela nafas, dirinya sudah terlalu lelah jika harus berdebat dengan Aldrich kembali.


Hingga mereka tiba diparkiran basement, Aldrich memarkirkan kendaraannya dan tidak mematikan mesin mobilnya.


"Mana bekalmu?" Tanya Aldrich.


Clara membuka totebag canvas yang slalu ia bawa untuk menyimpan bekalnya.


"Kamu bawa dua?" Tanya Aldrich.


Clara mengangguk. "Aku membuatkanmu beef teriyaki dan Eggroll." Kata Clara pelan.


Aldrich tersenyum dan meraih satu lunchbox milik Clara lalu membukanya.


"Keenakan si Joni kalau dikasih makanan ini." Kata Aldrich lalu mulai menyuapkan nasi berisikan apa yang sudah dibuat Clara ke dalam mulutnya.


Clara hanya tersenyum, ingatannya kembali mengingat saat saat makan bersama Aldrich dimanapun tempatnya. Clarapun mulai memakan bekalnya dengan senyum samar yang tentunya tidak terlihat oleh Aldrich.


"Ini bagus, Ra." Kata Aldrich sambil menunjukan sepasang cincin pernikahan.


Setelah makan siang di dalam mobil tadi, Al membawa Clara memasuki Mall dipusat kota itu untuk menuju toko perhiasan langganan keluarga Dewantara.


"Enggak, Al. Aku gak suka, batu permatanya terlalu besar."


Aldrich mengangguk dan memilih kembali cincin yang berada didalam etalase kaca.


"Al, kalo menurutmu yang ini bagaimana?" Tanya Clara menunjuk pada sepasang cincin sederhana dengan berlian kecil diatasnya.


Aldrich melihatnya. "Ini gak terlalu simpel Ra? Berliannya juga kecil."


"Aku suka yang ini, Al. Simpel dan tidak terlalu mewah. Bisa aku pakai untuk sehari hari juga kan." Kata Clara.


"Kamu mau memakainya?" Tanya Aldrich.


Clara mengangguk, "Pasti aku pakai, Al."

__ADS_1


Aldrich langsung menyetujui pilihan Clara, tidak apa cincinnya begitu sederhana yang penting Clara mau memakainya. Aldrich sungguh menyukai kepribadian Clara yang sederhana, meski Clara tau Aldrich bisa membeli yang lebih dari cincin pilihannya namun Clara tetap memilih cincin yang sederhana.


__ADS_2