BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 41


__ADS_3

"Apa??" Tanya Stevi yang ternyata mendengar percakapan Chelsea dan Davan.


Chelsea terkesiap saat menyadari ternyata Stevi, Jessi dan Ghea mendengar ceritanya.


Stevi membawa Chelsea untuk masuk kedalam ruang kerja Fariz.


"Ceritakan pada tante, Chel." Pinta Stevi yang diangguki oleh Jessi juga. Sementara Ghea hanya diam meskipun ia juga begitu penasaran.


Chelsea menggigit bibir bawahnya. Hingga suara pintu terbuka. Rupanya Fariz, Fadhil dan Tristan mencari keberadaan istri istri mereka.


"Ada apa ini? Mengapa berkumpul disini semua?" Tanya Fariz.


Jessi menghampiri Tristan. "Pi, benar kamu yang jadi kuasa hukum Clara saat bercerai dengan suaminya?"


Tristan terkejut karna Jessi mengetahuinya, ia menatap Chelsea yang seolah sedang dihakimi.


"Mami, Mama Ghea dan Tante Stevi gak sengaja dengar obrolan Chelsea dan Davan, Pi." Ucap Chelsea pelan.


Tristan melihat kearah Fariz dan Fariz hanya mengerdikan bahunya, "Gue gak bilang siapa siapa, mereka tau dengan sendirinya, Tan." Kata Fariz.


"Jadi kamu tau ini, Pap?" Tanya Stevi.


Fariz mengangguk.


"Tau soal apa?" Kali Fadhil yang tak mengertipun bertanya.


Akhirnya mau tidak mau, Tristan menceritakan soal permasalah Clara mengapa dirinya menggugat cerai Mantan suaminya dulu yang merupakan seorang g*ay dan tak pernah menyentuhnya, juga permasalahan soal mertua nya yang slalu mencecarnya soal anak, belum lagi soal Clara yang tetap membiayai dirinya sendiri meski sudah menikah.


"Jadi Clara masih....?" Stevi menggantung kalimatnya.


Chelsea mengangguk. "Maaf tante, tapi ini kemauan Clara sendiri untuk tidak diberitahu soal keadaanya, karna Clara ingin benar benar mendapatkan pria yang tulus mencintai apa adanya."


Stevi mengusap pelipisnya. "Aku tidak salah memilih menantu." Kata Stevi.


"Aku harap setelah ini kalian tetap bersikap seolah tidak tau." Ucap Tristan. "Ini privasi klienku." Ucapnya lagi.

__ADS_1


"Hargai keputusan Clara, cukup kita tau sampai disini saja dan jangan pernah membahas apapun." Sahut Fadhil dengan bijak.


"Aldrich tidak tau ini, Chel?" Tanya Ghea.


Chelsea menggelengkan kepalanya, "Al tidak tau ini, Ma." Kata Chelsea pelan.


"Ya sudah, Al akan tau sendiri, anggap saja ini hadiah karna kesabaran Al dan sikap Al yang dewasa bisa menerima seorang wanita dengan segala masa lalunya." Kata Jessi yang diangguki oleh semua orang.


"Lu beruntung banget Stev, Clara terbukti wanita baik baik." Ucap Ghea pada Stevi.


Sementara Stevi, ia begitu merasakan lega karna tidak salah nemilih pasangan untuk Aldrich.


Malam semakin larut, tamu yang hadirpun semakin berkurang. Keluarga Tristan dan Ghea pun sudah pulang kerumahnya masing masing.


"Sayang, kamu pasti lelah. Istirahatlah dikamar Aldrich." Kata Stevi pada menantunya nya itu.


"Iya, Ma..." Jawab Clara kikuk.


"Al ajak istrimu istirahat." Kata Stevi pada Aldrich. "Dan biarkan istrimu istirahat, dia sudah terlalu lelah, jangan kau ganggu istrimu." Stevi menatap tajam pada putranya itu.


"Tidak lagi, yang sekarang jadi anak Mama adalah Clara, awas kalau kamu berani menyakitinya, Mama akan usir kamu dari sini." Ucap Stevi.


Fariz menghampiri istrinya lalu merangkul pundaknya. "Sudah malam, Ma. Anakmu sudah ada istri yang akan mengurusnya, Mama fokus saja mengurus Papap, Papap sudah mengantuk." Fariz bergelayut manja dibahu Stevi.


"Ck, kalian ini tidak punya rasa malu." Dengus Aldrich.


Fariz hanya tersenyum, "Ajaklah istrimu istirahat, dan selamat untuk pernikahan kalian." Fariz menarik Stevi untuk menuju kamarnya meninggalkan Aldrich bersama Clara.


"Ayo, Ra." Ajak Aldrich yang mendadak grogi.


Clara mengekori Aldrich hingga tiba dikamarnya, kamar yang luas dengan dominan warna putih dan abu muda, dikamar Aldrich terdapat ranjang besar, satu set sofa, kursi pijat dan meja kerja juga toilet yang cukup luas.


"Pakaianmu sudah ada dilemariku, di walk in closet, tadi sudah dibereskan Mbok Nah." Kata Aldrich.


Clara mengangguk, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat. Ia melihat beberapa seserahan yang diberikan ibu mertuanya itu, entah kapan mereka mempersiapkannya, pasalnya pernikahan ini begitu mendadak hanya dalam hitungan jam, tapi menurut Clara pernikahan ini begitu sempurna dengan dekorasi sederhana namun tetap elegan juga adanya beberapa seserahan dengan barang barang branded.

__ADS_1


Aldrich memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu, smentara Clara menuju walk in closet untuk mencari pakaiannya. Ia melihat beberapa lingerie dengan berbagai warna dilemarinya yang sudah tergantung, wajah Clara memerah saat melihat lingerie itu, namun Clara belum berani memakainya, ia masih trauma akan penolakan penolakan yang pernah dilakukan oleh mantan suaminya dulu, terlebih sudah beberapanhari ini Clara tengah datang bulan. Clara memilih pakaian piyama tangan pendek dengan celana panjang untuk membalut tubuhnya saat tidur.


Ceklekk..


Aldrich keluar dari dalam kamar mandi, Clara melihat ke arah Aldrich yang tengah terlihat se*xy, handuk yang melingkar diperutnya, dada bidang dan perut rata juga berkulit bersih, tampilan Aldrich semakin terlihat hot saat Aldrich mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil ditangannya. Ohh sungguh Aldrich terlihat tampan dan se*xy sekali.


Aldrich nenyadari dirinya tengah ditatap oleh sang istri, ia mendekatinya dan ingin mencoba menggoda istrinya itu.


"Ngedip, Ra. Tubuhku ini cuma milikmu koq, jangankan hanya menatapnya, menyentuhnya pun boleh." Aldrich mengedipkan satu matanya membuat Clara terkesiap lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.


dan menutupnya rapat.


Aldrich tertawa melihat wajah malu malu istrinya itu. "Apa dulu mantan suaminya tidak setampan aku, hingga Clara menatapku tak berkedip." Gumamnya sambil tersenyum smirk.


Sementara di dalam kamar mandi, Clara menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi yang dingin itu, rasa dingin itu tidak terasa olehnya karna kini Clara merasa tubuhnya panas seolah berada didekat perapian. "Suamiku se*xy sekali, pasti banyak wanita diluaran sana yang mengincarnya." Batin Clara.


Entah mengapa ia ingin menjadi sedikit posessiv pada suaminya itu. Bagaimana tidak, wanita mana yang tidak akan tergila gila pada Aldrich, pewaris tunggal keluarga Dewantara generasi ke empat. Wajah yang tampan dan juga kehidupan yang mapan pasti akan membuat wnaita manapun rela antri untuk menggodanya.


Setelah lima belas menit, Clara keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian lengkap. Ia berjalan menuju tempat tidur dan disana sudah terlihat Aldrich yang sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya


Mata Aldrich mengarah pada Clara yang baru keluar dari walk in closet. "Sini, Ra." Kata Aldrich sambil menepuk bagian tempat tidur yang kosong disebelahnya.


Clara melangkah ragu namun kakinya tetap melangkah.


"Sini, Ra. Duduk sini sama aku." Kata Aldrich lembut dan tangannya meraih pergelangan tangan Clara. Clara pun duduk dan perlahan menaikkan kakinya diatas tempat tidur.


Aldrich mendekap tubuh Clara dan tangannya tetap memegang ponsel, ia melihat beberapa email yang dikirim oleh Joni.


"Al...." Panggil Clara dengan suara pelan.


"Iya, Ra.. Sebentar ya, aku cek email dari joni dulu." Jawab Aldrich lembut, Clarapun melihat layar ponsel itu dan memang Aldrich tengah mengecek isi emailnya.


Setelah beberapa saat, Aldrich menaruh ponselnya di atas nakas.


"Al, haruskah kita menempel seperti ini?" Tanya Clara.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2