BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 84


__ADS_3

"Mommy..." Panggil Alaska.


Alaska datang kembali ke kota ini dihari week end dan rencananya akan kembali esok bersama Davan.


Clara menoleh. "Al, kemarilah." Panggil Clara.


Billa menatap wajah tampan putra sulung Aldrich dan Clara. "Alaska?" Tanya Billa meyakinkan.


"Iya, Ini Alaska yang dulu sering kau gendong." Kata Clara.


Alaska mencium punggung tangan Billa. "Apa kabar, Tante?" Sapa Alaska. Alaska memang tau Billa setelah Aldrich menceritakannya.


Billa tersenyum, "Kau tampan sekali, pasti banyak gadis yang mengejarmu disekolah." Kata Billa menggoda.


"Alaska tidak akan tergoda, karna dia sudah ada jodohnya." Clara tertawa.


"Mommy..." Panggil Alaska memperingatkan.


"Kalian menjodohkan Alaska?" Tanya Billa tak percaya.


Clara mengangguk, "Aldrich bilang ingin berbesan dengan Davan, mungkin Alaska dengan Jihan atau jidan dengan Alika." Ucap Clara tersenyum.


"Alika putri keduaku, umurnya baru lima tahun." Kata Clara lagi.


"Kak Clara melahirkan normal? bukankah Alaska lahir secara operasi?" Tanya Billa heran.


Clara menggelengkan kepalanua, "Kehamilan ku yang ke dua, aku mengalami spontanitas seminggu sebelum jadwal operasi, dan bisa melahirkan normal, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Tapi kemarin meski aku kontraksi, tidak ada jalan lahir dan terpaksa operasi kembali." Jawab Clara.


Dihalaman belakang, Jihan memainkan kakinya kebawah air, ia hanya bisa duduk dipinggir kolam renang karna Aldrich belum mengijinkannya berenang.


"Kak Jihan sudah sekolah?" Tanya Alika.


"Sudah." Jawab Jihan.


"Kelas belapa?" Tanya Alika lagi.


"Kelas dua." Jawab Jihan.


"Alika seneng ya punya adik?" Kali ini Jihan yang bertanya.


Alika mengangguk dan Jihan tersenyum melihat Alika yang lucu itu.


"Sudah sejauh mana hubunganmu dengan Billa?" Tanya Aldrich yang kini duduk sambil minum kopi bersama Davan. Sementara Alfika sudah ia berikan kembali pada Clara.


"Kami membaik, Billa menerimaku kembali, dan mau aku ajak ke Jakarta." Jawab Davan.


Aldrich melihat Billa dan Clara dari kejauhan. "Bahagiakan Billa, Dav. Delapan tahun ini dia sudah menderita sekali, mengurus dua anak kembar sekaligus bukan perkara mudah, tidak ada suami dan lagi masih harus memikirkan biaya hidup." Ucap Aldrich prihatin.


"Bayangkan saja, uang satu juta harus dibagi 30hari untuk makan tiga orang." Aldrich bergidik ngeri memikirkannya.

__ADS_1


"Kamu tau, Dav?" Tanya Aldrich. "Saat aku melihat Jidan berjualan asongan souvernir, pikiranku serasa kembali saat kita masih SD dulu, Jidan benar benar miniatur dirimu, wajahnya sangat mirip denganmu, itu mengapa aku langsung menyuruh orang untuk mengikuti mereka, dan ternyata dugaanku benar, Jidan adalah putramu." Kata Aldrich.


Davan mengangguk. "Thanks, Al. Aku juga tidak menyangka Billa bisa lari kesini. Hidup mereka sungguh memprihatinkan. Aku akan membahagiakannya."


Alika bermain game di tablet pintar, Jihan dan Jidan melihat itu dengan berbinar.


"Kakak mau mencobanya?" Tanya Alika pada Jihan.


Jihan menggelengkan kepalanya, dan Jidan melihat hal itu. Jidan teringat saat Rosa membawa ponsel pintarnya kesekolah, semua orang boleh melihatnya dan meminjamnya untuk memainkan game di ponsel itu. Tapi tidak untuk Jihan, Rosa yang bermulut pedas mengatakan jika nanti ponselnya akan rusak jika disentuh oleh Jihan, Jidan melihat hal itu, ia melihat mata Jihan yang memerah menahan tangisnya. Begitupun dengan Jidan, saat Gibran memainkan ponsel, ia tidak berani melihatnya, ia takut mendengar kata kata menyakitkan dari temannya.


"Ji, Alika baik. Tidak seperti Rosa." Ucap Jidan pada saudarinya.


"Tapi aku takut nanti rusak, Jid. Kasian Ibu jika harus menggantinya." Jawab Jihan.


"Sekarang ada Ayah, Ji. Ibu tidak akan kesulitan lagi." Kata Jidan lagi.


Davan menghampiri putra putrinya itu yang terlihat sedih. "Ada apa?" Tanya Davan pada Jidan.


Jidan dan Jihan saling melirik.


"Bilang pada Ayah, ada apa?" Tanya Davan. Aldrich pun berada dibelakang Davan.


"Jihan sedang mengingat kata kata Rosa, Yah." Jawab Jidan.


Davan melihat kearah Jihan, "Kata kata yang mana?" Tanya Davan.


Jidan menceritakan kejadian demi kejadian disekolahnya itu, tentang penghinaan dan membuat anak anaknya menjadi tidak percaya diri.


Jihan hanya menyembunyikan wajahnya diceruk leher Davan dan tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus.


"Jihan mengantuk, Yah." Kata Jidan.


Davan mengangguk sambil tersenyum.


**


"Kita berangkat jam berapa?" Tanya Billa pada Davan.


Saat ini Billa tengah membereskan barang barang yang akan dibawa ke Jakarta.


"Siang, pagi ini aku dan Kids akan ke sekolah mereka dulu." Jawab Davan.


"Katamu semua surat pindah dan berkas sudah selesai diurus orang orangmu?" Tanya Billa.


Davan nengangguk, "Ya, tapi ada yang tidak bisa diselesaikan oleh orang orangku." Jawab Davan sambil mengedipkan satu matanya pada Jidan dan Jihan.


"Come on Kids, biar urusan kita cepat selesai." Ajak Davan.


Davan mencium pelipis Billa, Jidan dan Jihan mencium punggung tangan Billa. Billa sendiri tidak ikut karna masih harus membereskan pakai2an kedalam koper.

__ADS_1


Davan masuk ke ruang guru, ia menceritakan tindakan pembullyan yang slama ini terjadi pada kedua putra putrinya. Davan nengatakan jika pihak sekolah tidak tegas, maka akan menuntut pihak sekolah dan melaporkan oknum yang membebaskan siswa bisa membawa ponsel kesekolah dan membuat kecemburuan sosial.


Mengetahui bahwa Jidan dan Jihan adalah anak dari seorang pengusaha dan lumayan berpengaruh di wilayahnya dari segi pembangunan membuat pihak sekolah ketar ketir.


Wali kelas membawa Jidan dan Jihan untuk berpamitan pada teman temannya. Rosa dan Gibran menatap tak percaya pada Jidan dan Jihan yang memakai pakaian juga sepatu mahal, belum lagi Ayah mereka yang terlihat keren mengalahi kekerenan Ayah Rosa dan Juga Ayah Gibran.


Jidan dan Jihan membagikan burger dan juga souvenir berupa botol minum sebagai kenang kenangan kepada teman teman sekelasnya meski dulu mereka tidak mempunyai teman.


Jihan mendekat pada Rosa. "Ayahmu masih kalah jauh dengan Ayahku. Jika Ayahmu hanya bisa membelikan burger pada beberapa teman dekatmu saja, Ayahku bisa memberikan burger untuk teman satu kelas." Kata Jihan. "Jangan sombong lagi, Rosa, karna bisa saja suatu saat nanti kamu yang berada diposisiku dulu." Jihan meninggalkan Rosa yang hanya melongo tidak percaya.


Lalu Jihan beralih pada Gibran, "Aku akan merindukan bertengkar denganmu lagi, Gab. Jangan pernah lagi menghina Ibu dan Kakakku. Meskipun tanpa ada Ayahku, aku masih tetap bisa merontokan gigimu." Ucap Jihan.


Jidan dan Jihan kembali mendekat pada Ayah mereka. "Sudah?" Tanya Davan.


Jihan nengangguk. Sebelum pergi meninggalkan kelas, Jihan kembali mendekati seorang teman yang baik meski tidak terlalu dekat dengannya. Jihan melepaskan jam tangan berwarna pink yang melingkar ditangannya, jam tangan yang Davan belikan untuk Jihan. "Mel, terima kasih pernah baik padaku. Semoga kita bisa bertemu lagi." Ucap Jihan pada Amel, teman sesama penjual asongan souvenir.


Jihan sangat amat berterimakasih pada Amel, karna Amel pernah mengatakan jika berjualan didekat hotel akan laris, dan hal itu yang Jidan dan Jihan lakukan, hingga mereka bertemu dengan Davan, yang ternyata adalah Ayah mereka.


Rosa melotot tak percaya Jihan memberikan jam tangan mahal itu pada Amel. Rosa menghentakan kakinya karna ia pun pernah ingin membeli jam tangan itu namun sang Ayah tidak membelikannya dengan alasan mahal.


"Kau bisa menjualnya jika membutuhkan uang, Mel." Kata Jihan dan akhirnya kembali mendekat pada Davan.


Gibran melihat kebaikan Jihan, sebenarnya Gibran hanya suka melihat Jihan marah, entah mengapa ia hanya senang membuat Jihan marah ketimbang teman yang lainnya.


Wali kelas dan teman yang penasaran mengantar Jidan dan Jihan keluar dari gerbang sekolah, teman mereka terkejut melihat mobil mewah yang Jidan dan Jihan naiki. Rosa semakin sebal saja pada Jihan.


Sementara Gibran hanya melihat dari jauh hingga mobil yang membawa Jihan itu menjauh.


"Gadis barbar, kita akan bertemu kembali." Batin Gibran.


"Kalian puas?" Tanya Davan pada Jidan dan Jihan.


"Aku biasa saja, Yah. Aku tidak suka memperlihatkan apa yang kupunya." Kata Jidan.


"Kau, Ji?" Tanya Davan.


"Puas, Yah. Aku puas melihat Rosa dengan wajah kesalnya." Jawab Jihan.


"Bagaimana dengan Gibran? Kenapa kau tidak memukulnya tadi?" Tanya Jidan meledek.


"Dia tidak sedang mencari gara gara denganku." Jawab Jihan santai.


"Tapi kamu tadi cari gara gara dengan Gibran dengan memanggilnya Gab, dia kan tidak suka dipanggil Gab olehmu." Kata Jidan lagi.


Jihan mengerdikan bahunya, "Mungkin tadi dia terpesona denganku." Jihan tertawa.


"Oh tidak, Ji.. Jangan bilang bgeitu, kau masih gadis kecil Ayah. Tidak boleh ada yang menyukaimu." Ucap Davan.


Mendengar hal itu, Jidan dan Jihan pun tertawa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2