BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 69


__ADS_3

Brukk..


Billa bertubrukan dengan Joni, asisten Aldrich yang baru saja mengurus berkas bersama Samsul.


"Maaf Nona Billa." Kata Joni yang memang mengetahui Billa adalah istri dari Davan.


Billa tidak mengatakan apa apa, ia hanya kembali berjalan cepat meninggalkan kantor Davan. Pikirannya sudah tidak tenang mendengar Davan yang akan melepasnya, Billa akan pergi, menjauh dari kehidupan Davan dan tidak akan pernah menunjukan dirinya lagi dikeluarga Davan.


Billa kembali kerumah, ia membereskan barang barang pribadinya, ia juga hanya membawa beberapa helai pakaian, sama seperti saat dirinya datang kerumah ini, hanya dengan membawa beberapa helai pakaian.


Billa menaruh kartu kredit dan kartu debit yang Davan berikan untuknya. Ia meletakkan semua itu bersama cincin kawin yang diberikan oleh Ghea untuknya sebagai tanda pengikat.


Billa hanya pergi dengan membawa tas jinjing kecil, beruntung Chelsea sedang berada dirumah orang tuanya sehingga tidak melihat Billa yang membawa tas jinjing.


"Mba Billa mau kemana? Sore ini Ibu pulang." Kata PRT.


Billa tersenyum, "Saya ada perlu sebentar Bi. Nanti tolong Bibi jaga Mama ya, tolong perhatikan juga makanannya Mama." Jawab Billa.


"Mba Billa wajahnya pucat sekali? Apa Mba Billa mau kedokter? Mau Bibi temani?" Tanya PRT.


Billa mengangguk, "Saya keluar sendiri aja, Bi. Kan Bibi harus menyambut Mama pulang." Ucapnya.


"Sampaikan salam maaf saya pada Mama, ya Bi." Pinta Billa.


PRT hanya mengangguk, ia berpikir maaf yang dimaksud adalah karna tidak bisa menyambut ibu mertuanya pulang.


Billa segera menaiki taxi yang sudah menunggunya sedari tadi. Ia menuju terminal bus untuk segera meninggalkan ibu kota ini, entah kemana tujuannya, yang penting jauh dari kota yang penuh kenangan tidak adil untuknya.


"Apa Zayn? Kamu menceritakannya pada Davan?" Tanya Fadhil terkejut.


"Davan berhak tau, Pa." Jawab Zayn.


"Zayn!! Kamu tidak sadar apa yang kamu lakukan bisa mempengaruhi hubungan Davan dan istrinya, mengapa kamu tidak membicarakan dulu hal ini dengan Papa?" Tanya Fadhil.


"Zayn cuma ingin Mama sembuh, Pa."


"Dengan cara membuat Billa pergi? Dengan cara membuat Davan berpisah dengan istrinya? Picik sekali pikiranmu, Zayn. Bagaimana jika itu menimpa dirimu dan Chelsea? Kamu tidak tau dengan jelas masa lalu Papa, Mama, Yasmin, bahkan Tristan Papi mertuamu." Ucap Fadhil emosi.


Fadhil tidak habis pikir, bagaimana bisa putra sulung yang slalu dibanggakannya itu bisa berpikir seperti ini.


"Zayn, semua yang sudah terjadi bukan kemauan kita, kita hanya manusia yang menjalankan takdir dari sang kuasa. Mengapa kamu melewati batasmu, Zayn. Bagaimana jika hubungan Davan dan Billa menjadi hancur karna ini? Papa sudah memberi pengertian pada Mama, bahkan Mama menerima takdir ini, bisa kau lihat sendiri kondisi Mama yang berangsur pulih. Bagaimana jika Mama tau jika Davan mngetahui hal ini?" Fadhil menghela nafas.


"Temui adikmu, dan biilang jika apa yang kau katakan adalah hal yang berlebihan, bilang pada Davan agar ia tidak berpikir hal lain pada istrinya, sedari awal Mama tidak pernah mempermasalahkannya." Kata Fadhil tegas.


Zayn menerima kesalahannya, ia pun mengakui jika dirinya hanya terbawa emosi dan takut jika terjadi sesuatu pada sang ibu.


Billa berdiri diloket bus, ia sendiri bingung kemana tujuannya, ia hanya ingin menjauh sebelum hatinya lebih terluka lagi, mendengar kata Davan yang ingin melepaskannya membuat hati Billa bagai diiris pisau yang begitu tajam.


"Pemberangkatan yang kira kira sebentar lagi kira kira kemana ya mba?" Tanya Billa.


"Ada yang ke Bandung, Jogja, dan Surabaya. Itu yang sekitar lima belas menit lagi berangkat.

__ADS_1


Billa berpikir, jika ia memilih Bandung, jaraknya sangat dekat dan masih terjangkau. Jika Surabaya, itu sangat jauh dan ia memikirkan kandungannya.


"Jogja saja satu mba." Kata Billa pada akhirnya.


Dan disinilah Billa berada, didalam bis menuju kota asing untuk dirinya tinggal sementara.


Billa mengusap ngusap perutnya yang mulai merasakan mual kembali.


"Sabar ya Nak, Maafkan Ibu membawamu pergi jauh dari Ayahmu." Gumam Billa.


Joni dan Samsul mendatangi ruangan Davan.


"Ini berkasnya, Pak." Kata Samsul pada Davan dan Davan membacanya.


Hal yang samapun dilakukan oleh Joni pada Davan.


"Bos, tadi saya bertabrakan dengan istrinya Pak Davan di loby, sepertinya istrinya Pak Davan sedang terburu buru." Bisik Joni pada Aldrich.


"Kapan?" Tanya Aldrich sedikit kencang yang mulai tidak enak perasaan.


"Ada apa, Al?" Tanya Davan yang heran.


"Billa tadi kesini, dia bertubrukan dengan Joni di Loby." Kata Aldrich.


"Pintu tadi tidak tertutup, Bos." Kata Joni lagi.


Davan dan Aldrich saling memandang.


Davan melihat jam dipergelangan tangannya,


"Sh*iitt, Billa pasti dengar semuanya Al." Davan berdiri dan segera keluar dari ruangannya, Aldrich pun menyusul.


"Dav biar aku yang bawa mobil." Kata Aldrich.


"Engga, Billa pasti denger semuanya, Al. Aku harus segera pulang." Kata Davan keras kepala.


Namun Aldrich berhasil merebut kunci mobil Davan, "Aku yang bawa atau tidak pulang sama sekali."


Davan malas berdebat, hingga ia menuruti kemauan Aldrich.


Davan mengaktifkan kembali ponselnya, dilihatnya banyak panggilan tidak terjawab dari Billa, juga beberapa pesan masuk dari Billa.


"Omi.. Jaga kesehatan, salam ya untuk Mama."


"Mi kenapa ponselnya tidak aktif?"


"Mas koq gak bisa dihubungin?"


"Mas dimana? hari ini kekantor? Jangan lupa minum vitaminnya."


"Mas, aku mampir kekantor ya? Ponselmu kenapa masih belum juga aktif?"

__ADS_1


Serentet pesan dari Billa yang terlihat mengkhawatirkannya dan memberi perhatiannya pada Davan.


Davan menelpon balik Billa dan hanya ada nada sambung namun tak kunjung diangkat.


"Lebih cepat, Al." Kata Davan.


"Ini sudah cepat, Dav. Aku tidak mau mati konyol lalu membuat istriku menjadi janda dan Alaska menjadi yatim." Kata Aldrich.


Davan terus menghubungi Billa meski terus tidak ada jawabannya.


Hingga tiba dirumah, dengan segera Davan keluar dari mobil dan masuk kedalam kamarnya.


"Dear.." Panggil Davan namun kamarnya terasa sunyi.


Davan menuju walk in closet dan tidak juga menemukan Billa disana.


"Bill, Billa.." Teriak Davan namun tetap tidak menemukan Billa. Mata Davan tertuju pada benda diatas nakas.


Selembar kertas, ponsel milik billa dengan dua buah kartu bank dan sebuah cincin yang tentunya sangat Davan ketahui.


"Hai, Om..


Maaf aku harus pergi dengan cara ini.


Aku rasa kamu juga tidak akan mempermasalahkannya bukan?


Bukankah pada akhirnya Om juga akan melepasku?


Maaf atas kelakuan Ibuku yang tlah menyakiti keluarga, Om.


Om tenang saja, Aku pergi dengan membawa kenangan buruk tentang ibuku di masa lalu.


Pintaku tak banyak, berikanlah maaf untuk ibuku yang sudah tidak ada,


percayalah, meski ibuku terlihat jahat dimata Om dan keluarga, namun Ibuku tetap berharga dimataku.


Maafkan aku, Om. Bukan maksudku pergi dengan cara seperti ini, aku hanya merasa tidak sanggup jika nanti harus mendengar kata cerai darimu, jadi biarkan aku pergi dengan caraku sendiri.


Terimakasih untuk kebaikan Om dan keluarga Om, anggaplah aku tidak pernah ada.


Aku mencintaimu, dan sampaikan maafku untuk keluargamu. Semoga kamu menemukan pendamping yang lebih baik dariku.


-Nabilla-


"BILLAAAAAAAA." Teriak Davan sesaat setelah membaca isi surat yang menyakitkan dari Billa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Udah dapet feel nyeseknya jadi Billa belum sih?


🥺😘

__ADS_1


__ADS_2