BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 127


__ADS_3

Aldrich datang dengan tergesa gesa, ia segera menuju ruang perawatan Beni. dilihiatnya Beni yang sedang duduk bersandar di brankarnya hanya dengan Rissa yang menjaganya.


"Beni..." Panggil Aldrich.


"Tuan Aldrich.." Jawab Beni lemah.


"Tidak usah banyak bicara dulu, Ben. Kau harus banyak istirahat agar segera pulih." Kata Aldrich.


"Saya sudah terlalu banyak istirahat, Tuan." Kata Beni dengan tersenyum.


Aldrich mengangguk, "Terimakasih sudah mau bertahan, Ben. Aku akan merasa bersalah sekali pada Papa dan Mama mu jika kau tidak terselamatkan." Kata Aldrich menyesal.


"Tuan.. Kenapa anda kesini? Bukankah hari ini pernikahan Tuan muda Alaska dengan kekasihnya?" Tanya Joni yang baru saja masuk kedalam kamar perawatan Beni.


"Pak Alaska akan menikah dengan Jihan?" Tanya Beni masih dengan nada lemah.


"Jihan?" Tanya Aldrich. "Jihan bukan kekasih Alaska, kekasihnya adalah Rania." Kata Aldrich.


Beni terlihat bingung. "Sudah berapa lama aku koma?" Tanyanya.


"Tujuh bulan." Jawab Joni. "Kau koma dan Tuan muda Alaska hilang sebagian ingatan, bahkan Tuan muda Alaska tidak mengenalmu, Ben." Kata Joni.


Beni mencoba mengingat ingat kejadian terakhir. "JIHAN." kata Beni sedikit keras.


Aldrich dan Joni saling melirik,


"Ada apa dengan Jihan?" Tanya Aldrich mencoba mencari tau.


"Pak Alaska tidak boleh menikah dengan kekasihnya, Pak Alaska akan tanggung jawab pada Jihan." Kata Beni.


"Tanggung jawab apa?" Tanya Aldrich penuh selidik.


Beni menceritakan kejadian malam saat mereka di Bali, dan tujuan mereka kembali ke Bali untuk mencari bukti agar keluarga Davan bisa menerima Alaska karna semua ini murni ketidaksengajaan namun Alaska akan bertanggung jawab penuh dengan menikahi Jihan.


"Oh my God, terimakasih Beni. Ternyata anak yang di kandung Jihan adalah anaknya Alaska." Kata Aldrich dengan menutup wajahnya.


"Tapi Tuan muda Alaska akan menikah dengan Rania, Tuan." Kata Joni.


"Saya harus kesana, Tuan." Kata Beni.


"Acara akadnya kurang dari dua jam lagi, bisa kah kita sampai ke lokasi?" Tanya Aldrich.


"Saya akan mengurus perijinan Beni untuk keluar sementara dari rumah sakit, semoga prosesnya tidak lama." ucap Joni yang diangguki oleh Aldrich.


Joni keluar untuk mengurus perijinan, sementara Beni terus bercerita soal Alaska yang mulai mencintai Jihan bahkan sudah menyatakan cintanya pada Jihan.


Aldrich merasa tak percaya tapi apa yang dikatakan Beni adalah benar adanya, dan Beni sendiri merasa bersalah karna tidak melaporkan hal ini pada Tuan besarnya.


Joni bergegas kembali keruangan perawatan Beni setelah mendapat perijinan keluar sementara untuk Beni dan didampingi oleh suster khusus.

__ADS_1


Saat di loby rumah sakit, Joni berpapasan dengan Davan yang berjalan tergesa gesa.


"Tuan Davan." Sapa Joni hormat.


"Jon, kau disini? Tidak menghadiri pernikahan Alaska?" Tanya Davan.


"Beni semalam sadar, Tuan." Kata Joni.


Davan menghela nafas, "Syukurlah. Aku akan menengok putramu setelah melihat Jihan. Jihan akan melahirkan." Jawab Davan.


"Semoga persalinan Nona Jihan Lancar, Tuan." Kata Joni tulus.


"Aamiin." Jawab Davan.


"Tuan." Panggil Joni saat Davan hendak berlalu.


"Ada apa, Jon?" Tanya Davan.


Joni memberanikan diri untuk berkata. "Tuan Dav, percayalah jika Tuan Aldrich menyesal dengan apa yang diperbuat putranya pada putrimu. Setiap hari Tuan Aldrich tenggelam dengan kesedihannya karna hubungannya dengan anda menjadi renggang." Kata Joni.


Davan mengangguk, "Aku pergi melihat Jihan dulu, Jon. Lain kali kita berbicara lagi."


Joni segera kembali keruang perawatan Beni dan terlihat Beni sudah duduk di kursi roda.


"Tuan, tadi saya bertemu dengan Tuan Davan di loby, beliau akan menemani Jihan yang akan melahirkan." Kata Joni memberi laporan.


"Jihan akan melahirkan anak Alaska? Sementara Alaska akan menikahi wanita lain." Lirih Aldrich.


Aldrich mengangguk penuh semangat, "Ayo kita jalan." Kata Aldrich.


Aldrich melihat adanya Patwal yang berada di dekat mobilnya kemudian melirik kearah Joni.


"Saya menghubungi Tuan Fariz dan tuan Fariz yang menyiapkan ini semua. Tuan Fariz menghubungi polisi untuk memakai jasa patwal karna ini darurat, Tuan. Dan Beni sendiri masih harus segera kembali kerumah sakit." Ucap Joni.


Aldrich merasa tersentuh dengan apa yang Joni lakukan, benar benar totalitas tanpa batas.


hanya membutuhkan waktu lima belas menit, mobil Aldrich yang dikawal oleh Patwal berada di sebuah hotel tempat diselenggrakannya pernikahan Alaska.


Alaska yang hampir menjabat tangan penghulu seketika terhenti saat mendengar suara Aldrich berteriak.


"Hentikan!!" Kata Aldrich dengan mendorong kursi roda Beni.


Alaska melihat kearah Beni yang semakin mendekat.


"Bos..." Panggil Beni.


Alaska menyipitkan matanya. Tiba tiba saja ingatan itu kembali perlahan demi perlahan.


"Ji, aku ingin... Tapi pasti Jidan akan membunuhku."

__ADS_1


"Maaf, Ji.."


"Aku tidak bisa menghentikannya. Hentikan aku jika kau bisa, Ji."


"Oh tuhan, Jidan benar benar akan membunuhku."


"Aku sudah tidak berhubungan dengannya, Beni adalah saksinya. Aku tidak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun, tidak akan mengkhianati pernikahan kita meski kita awali dengan cara yang salah. Satu yang harus kau ingat, Ji. Diperutmu ada anakku, tidak mungkin aku menyakiti wanita yang dengan rela mengandung anakku. Kau bisa pegang ucapanku."


"Hai.. Aku Daddy mu. Kau mau kan menungguku? Aku janji akan bertanggung jawab padamu. Baik baiklah di dalam perut Mommy mu, Jangan menyusahkannya. Oke?"


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk merenggut kesucianmu, tapi bolehkah aku bersyukur karna adanya dia diperutmu? Aku mohon bertahanlah, Ji. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Percayalah padaku."


"JIHAN." Kata Alaska sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Alaska menoleh kearah Rania dan menatapnya heran. "Ini sebuah kesalahan." Ucapnya.


"Al, ada apa? Tanya Rania dan memegang lengan Alaska.


Alaska menepisnya, "Ini salah, kau memanfaatkan aku yang kehilangan sebagian ingatanku. Padahal kau sangat tau jika hubungan kita sudah berakhir." Kata Alaska.


"Al, tolong jangan mempermalukan aku disini." Kata Rania memohon.


Alaska menggelengkan kepalanya. "Ini tidak benar. Jihan sedang menunggu tanggung jawabku." Kata Alaska.


Rania mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Alaska, "Tanggung jawab?" Gumamnya.


"Rania maaf, sejak awal ini salah. Kau tau itu namun kau tidak menghentikannya. Aku harus bertanggung jawab pada Jihan." Kata Alaska.


Mendengar ucapan sang putra, Aldrich tersenyum, ingatan putranya kembali begitu saja. Aldrich berjalan mendekat pada Alaska. "Jihan dirumah sakit, dia akan melahirkan anakmu, Al." Kata Aldrich.


Alaska segera mengangguk, "Terimakasih, Dad." kata Alaska kemudian mendekati Beni. "Senang melihatmu kembali, Ben. Dan Terimakasih untuk perjuanganmu, aku tidak akan melupakan kebaikanmu." Ucapnya tulus.


Alaska segera berjalan disusul oleh Aldrich. Joni pun mendorong kembali kursi roda Beni untuk kembali kerumah sakit. Mereka pergi beriringan dan masih dikawal agar bisa segera sampai.


Aldrich segera menghubungi sang istri yang tidak terlihat di hotel tadi untuk segera menuju kerumah sakit dan memberitahu jika pernikahan Alaska tlah batal.


Jihan meringis merasakan mulas yang lebih sering lagi ia rasa, Jidan dengan setia menggenggam tangan Jihan dan mengusap keringat di dahinya.


"Sakit sekali, Jid." Kata Jihan.


"Kau pasti bisa, Ji. Kau sekuat Ibu. Pasti bisa." Kata Jidan menyemangati.


"Bagaimana nanti dengan anakku, Jid? Apa dia akan malu jika tidak mempunyai seorang Daddy?" Tanya Jihan.


Jidan sangat tau jika Jihan tengah tidak percaya diri. Jihan mengkhawatirkan sang anak apa lagi jika sampai mendapatkan pembullyan karna tidak memiliki Ayah.


"Beritahu aku, siapa pria itu?" Kata Jidan.


Jihan diam, "Aku takut kau hilang kendali, Jid." Ucapnya.

__ADS_1


"Ceritakan padaku apa yang terjadi, dan beritahu aku siapa pria itu." Ucap Jidan dengan mengusap lembut kepala Jihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2