BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BONCHAP 3


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Alaska.


Degg..


Jantung Jihan berdegup kencang kala dadanya menempel dengan dada Alaska, dan mata mereka yang saling menatap.


"Kamu kenapa?" Tanya Alaska lagi dan membuat Jihan terkesiap lalu mendorong dada bidang Alaska namun Alaska menahan pinggangnya.


"Sikap Kakak manis sekali pada Jove." Kata Jihan.


Alaska menaikan satu halisnya. "Dia putriku." Ucapnya.


Jihan nengangguk, "Tapi aku istrimu, Mommy nya Jove."


Alaska tersenyum, satu tangannya bergerak merapihkan rambut Jihan, "Cemburu sama Jove?" Tanya Alaska.


Jihan mengangguk tapi tak lama kemudian menggelengkan kepalanya.


"Kamu sudah cinta sama aku?" Tanya Alaska dan Jihan hanya diam saja.


"Benar sudah mencintai aku?" Tanya Alaska lagi.


"Aku masih belajar mencintaimu." Jawab Jihan.


Alaska mengangguk, "Aku rasa, kamu sudah mencintaiku." Alaska menempelkan keningnya dikening Jihan lalu mengecup sekilas bibirnya.


"Terimakasih." Ucap Alaska.


"Terimakasih mau memberi kesempatan padaku, terima kasih karna memaafkan kekhilafanku, dan terimakasih karna tlah melahirkan Jove. Aku janji akan slalu menjagamu dan Jove." Kata Alaska.


Jihan mengangguk, "Tapi semalam kakak tidur di sofa, tidak tidur bersamaku. Aku pikir Kakak menikahiku hanya karna tanggung jawab pada Jove saja."


"Kau mau tau alasannya?" Tanya Alaska yang diangguki oleh Jihan.


Alaska memberanikan diri menyentuh satu gundukan milik Jihan. "Kak Al." Pekik Jihan.


Alaska tertawa, "Semalam, dadamu terekspose saat Jove sudah kenyang, aku takut kebablasan jadi memilih tidur di sofa. aku takut kamu marah jika aku menyentuhmu." Kata Alaska menjelaskan.


Mendengar hal itu, wajah Jihan memerah. "Kak Al melihatnya?" tanya Jihan.


Alaska tersenyum, "Merah muda, dan ukurannya sepertinya lebih besar dari waktu itu." Jawab Alaska.


Jihan mendorong dada Alaska dan Alaska mundur sambil tertawa.


"Gak lucu!!" Kata Jihan cemberut.


Alaska tertawa, kemudian Alaska mendekati Jihan kembali, "Kamu menerima pernikahan ini?" Tanya Alaska.


Jihan menatap mata Alaska dan mengangguk.


"Jika masa nifasmu sudah selesai, boleh aku meminta hakku dan menunaikan kewajibanku?" Tanya Alaska dan Jihan mengangguk.


Alaska memegang dagu Jihan, mendekatkan wajahnya pada wajah Jihan, perlahan Jihan memejamkan matanya saat deruan nafas Alaska mengenai wajahnya.


Bibir itu menyentuh bibir Jihan, mengecupnya sekilas dan mulai memainkannya. Jihan membalasnya, tangannya melingkar dileher Alaska.

__ADS_1


Alaska tersenyum sesaat setelah melepas pagutannya, "Terimakasih sudah mau ikhlas menerimaku." Ucapnya.


Jihan mengangguk, "Setialah padaku, Kak. Aku tidak mentolerir sebuah perselingkuhan." Kata Jihan.


"Aku akan miskin jika selingkuh, Ji. Tapi aku tidak takut akan hal itu, yang aku takuti adalah Jove membenciku. Aku ingin menjadi cinta pertama untuk Jove." Kata Alaska dengan begitu manis.


"Sejak kapan kamu jadi semanis ini, Kak?" Tanya Jihan.


"Aku belajar dari Jidan, dan Gibran. Jidan yang slalu menjagamu, dan Gibran yang begitu setia dan romantis padamu." Jawab Alaska.


Menjelang siang, Alaska membawa Jihan dan juga Jove ke rumah orang tuanya.


Aldrich dan Clara menyambut dengan senang kedatangan menantu dan juga cucu tercintanya.


"Ohh cantik sekali." Kata Clara saat menggendong Jove.


"Lihatlah hidungnya, mirip sekali dengan Alaska." Kata Aldrich yang memperhatikan wajah mungil Jove.


"Kau benar, Dad. Hidungnya mirip Alaska." Balas Clara.


"Kalian istirahatlah dulu, biar Jove disini dulu. Nanti kalau nangis, Mommy akan mengantarkannya ke kamar." kata Aldrich pada Jihan dan Alaska.


Untuk pertama kalinya Jihan masuk kedalam kamar Alaska, meski sering kerumah Aldrich, namun Jihan tidak pernah masuk kekamar Alaska.


Terlihat sekali jika Alaska menyukai buku buku dengan adanya rak buku yang menjulang tinggi di sudut ruangan kamarnya.


Alaska langsung membenahi koper milik Jihan ke dalam lemarinya.


"Biar aku saja, Kak." Kata Jihan.


"Kamu manis sekali." Kata Jihan.


"Ya, aku harus slalu manis untuk istri tercintaku." Jawab Alaska.


Jihan mengelilingi kamar Alaska, dilihatnya berbagai macam foto Alaska bersama keluarganya. Lalu Jihan melihat sebuah kalung berbandul mutiara di meja kerja Alaska.


"Kak.. Ini.." Kata Jihan sambil mengangkat kalung itu.


Alaska menghampiri Jihan, "Sewaktu aku hilang ingatan, aku slalu memandangi kalung itu, karna saat itu aku tidak ingat pernah membelinya. Aku berpikir, pasti ada wanita lain yang sedang aku kejar. Karna kalung ini bukan seleranya Rania. Dan ternyata itu kamu." Jawab Alaska.


"Bagaimana dengan Rania sekarang? Kakak meninggalkannya di hari pernikahan kakak dengannya." Tanya Jihan penasaran.


"Dia kembali ke Inggris setelah menemuiku sebelum kita menikah." Jawab Alaska.


"Menemui Kakak?" tanya Jihan.


Alaska mengangguk. "Rania sadar jika dia terlalu plin plan. menyukaiku namun nenyukai Jidan juga." Jawab Alaska.


"Rania meminta maaf dan kembali ke Inggris untuk meneruskan karirnya sebagai seorang editor sebuah majalah disana." Jawab Alaska.


Jihan menghela nafas. "Syukurkah, kukira Rania akan seperti wanita wanita di novel yang akan membalas dendam karna kakak meninggalkan nya di hari pernikahan."


Alaska memeluk Jihan. "Rania wanita yang baik. Sama hal nya dengan Gibran. Namun Gibran terlalu baik dan tidak berambisi. Sedangkan Rania masih sedikit ambisius namun dia juga masih memiliki logika."


"Kalau begitu, pakaikan ini. Bukankah ini milikku?" Tanya Jihan.

__ADS_1


Alaska dengan senang hati memakaikan kalung berbandul mutiara itu, kalung sederhana yang sesuai dengan kepribadian Jihan.


Cupp..


Alaska mencium leher jenjang Jihan saat selesai memakaikannya. Kali ini Jihan tidak marah apa lagi sampai mendorong Alaska.


Alaska memeluk Jihan dari belakang, "Aku mencintaimu, Ji." Bisik Alaska dan semakin mengeratkan pelukannya.


**


Jove tertidur dalam gendongan Alika, Alika yang memang menyukai anak anak slalu terhipnotis dengan pesona yang dimiliki oleh Jove.


"Kamu seperti boneka, Aunty pengen gigit." Kata Alika yang mengajak bicara Jove.


"Permisi Non." Kata Bi Anah yang menghampiri Alika.


"Iya Bi. Ada apa?" Tanya Alika.


"Diluar ada tamunya Non Jihan, Bibi gak berani ketuk kamar Tuan muda Alaska." Jawab Bi Anah.


"Tamu? Koq bisa tau Kak Jihan ada disini? Kak Jihan kan baru tadi datang kesini." ucap Alika heran.


"Laki laki atau perempuan, Bi?" Tanya Alika.


"Laki laki, namanya Tuan Gibran, masih muda sih Non." Ucap Bi Anah memberi tahu.


"Gibran?" Tanya Alika memastikan yang diangguki oleh Bi Anah.


"Biar aku aja yang temui, Bi anah gak usah kasih tau Kak Jihan, nanti ganggu malah Bi Anah dimarahin Kak Alasaka." Kata Alika menakut nakuti dan Bi Anah hanya menurut saja.


Alika berjalan menuju ruang tamu sambil menggendong Jove, Gibran langsung berdiri saat melihat Alika.


"Hai, Mas." Sapa Alika.


Sikapnya yang sopan membuat Gibran membalas senyuman Alika.


"Koq tau Kak Jihan ada disini?" Tanya Alika.


"Alaska yang memberitahu, dia juga yang share alamatnya." Jawab Gibran.


Alika hanya mengangguk, "Kak Jihan dan Kak Alaska dikamar, ga ada yang berani ketuk pintu." Ucap Alika berbohong.


Gibran hanya tersenyum, ia sudah menerima dengan ikhlas jika Jihan sekarang adalah wanita bersuami.


"Jove bersamamu?" Tanya Gibran mengalihkan pembicaraan.


Alika mengangguk, "Mas mau menggendongnya?" Tanya Alika.


"Aku gak berani, Jove masih terlalu kecil." Jawab Gibran.


"Harus berani, Mas. Latihan buat nanti punya anak sama aku." Kata Alika menggoda sambil mengedipkan satu matanya pada Gibran.


Gibran mengernyitkan dahinya mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Alika.


"Apa aku salah mendengar?" Batinnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2