
"ITU DIA ORANGNYA!!"
Degg...
Davan dan Billa menoleh kearah pintu, terlihatnya beberapa orang tengah bergerombol, Davan pun mengenali salah satu diantaranya adalah pemilik warung yang tadi sempat ia tanyai alamat kontrakan Billa.
"KALIAN BERBUAT MESUM DISINI!!" Teriak salah satu warga.
"Tidak, kami tidak melakukan apapun." Jawab Davan.
Brakk..
Satu orang warga memukul pintu yang terbuka dengan keras.
"Lihat ini, dia habis mandi dan Gadis ini terlihat acak acakan." Kata pemilik warung.
"Anda jangan mengada ngada, Pak. Kami tidak melakukan hal apapun disini." Tegas Davan.
"Tidak melakukan apa apa tapi basah." Cibir warga lainnya.
"Tamu saya ini kehujanan Pak, dan saya meminjamkannya baju." Kata Billa ikut membela diri.
"Halah jangan dipercaya deh Pak RT. Pak RT kan tau sendiri ibunya dia aja dulu orang seperti apa, sekarang nurun keanaknya, dan siialnya anaknya lebih berani karna bawa laki laki ke kampung kita ini, bisa sial kampung kita Pak." Ucap Warga lainnya.
"Jangan bawa bawa ibu saya, Pak. Biarkan Ibu saya tenang disana." Kata Billa yang mulai terpancing emosinya.
"Halaaahh, banyak bicara kamu anak ja*lang, lulus sekolah dan malah jadi ja*lang seperti ibumu. Usir saja mereka Pak." Kecam warga.
"Sebelum diusir kampung ini harus disterilkan, kita arrak mereka keliling kampung, sesudah itu baru diusir."
Billa merasa shock, ia sudah menangis ketakutan,
"Anda RT disini, harusnya anda bisa berpikir bijaksana, Pak. Kami tidak melakukan apapun." Ucap Davan pada ketua RT.
"Cukup!!" Kata Pak RT pada akhirnya.
"Anda harus tanggung jawab, jika anda tidak ingin di arrak keliling kampung dan dipertontonkan dilapangan lalu diserahkan ke pihak berwajib, maka anda harus menikahi Billa saat ini juga." Ucap Pak RT pada akhirnya. "Setelah kalian menikah tinggalkan kampung ini dan jangan pernah kembali lagi." Tegas Pak RT yang ikut tersulut emosi.
"Ya, betul itu. Pilih mana, di arrak lalu kepolisi atau menikah dan pergi." Teriak satu warga.
"Ya betul itu." Kata warga lainnya yang saling bersahutan.
Davan melihat kearah Billa yang sudah menangis sesenggukan, ia juga melihat warga yang kian ramai seolah mendapatkan tontonan gratis.
"Panggil ustadz setempat dan cari penghulu!!" Titah Pak RT pada salah satu warganya.
"Anda silahkan panggil keluarga anda untuk menjadi wali anda, Mas." Ucap Pak RT pada Davan.
"Saya laki laki, saya tidak butuh wali." Kata Davan tegas.
__ADS_1
Davan sungguh tidak tega melihat Billa yang menangis sesenggukan. Ia melihat tatapan warga yang memang tidak menyukai dan bahkan membenci Billa, mereka menatap tak suka bahkan jijik pada Billa.
Davan menelpon Aldrich untuk segera datang menemuinya, kurang dari setengah jam, Aldrich tiba dikontrakan Billa yang sudah dikerumuni oleh warga.
"Dav.." Panggil Aldrich. "Bagaimana bisa, ini..." Kata Aldrich didekat Davan.
"Fitnah, Al. Ini Fitnah. Percayalah padaku. Aku tidak berzina dengan Billa." Kata Davan lalu menceritakan kronologinya sedetail mungkin tanpa dikurangi apa lagi dilebihkan.
"Kita panggil Om Tristan, dia pengacara hebat akan menuntut mereka semua yang tlah memfitnahmu dengan pasal pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan." Kata Aldrich.
Davan diam untuk berpikir.
"Jangan banyak mikir, Dav. Ini sudah dilewat batas." Kata Aldrich mendesak.
"Om Tristan belum sampai kesini, aku sudah diarrak keliling kampung oleh warga, Al." Kata Davan.
"Lalu?" Tanya Aldrich bingung.
"Aku harus menikahi Billa." Lirih Davan. "Apa menurutmu ini solusi yang tepat?" Tanya Davan.
"Kurasa ini bukan sekedar solusi, Dav. Tapi juga karna kamu mencintai gadis itu." Ucap Aldrich.
"Entahlah, Al. Aku hanya tidak ingin melihatnya disakiti oleh orang orang ini. Dia hanya sendirian." Kata Davan.
"Itu cinta, Dav. Percayalah padaku." Kata Aldrich sambil menepuk pundak Davan.
Tidak lama, Joni pun datang membawa sebuah paperbag lalu diberikannya pada Aldrich.
"Dav.." Panggil Aldrich pelan lalu memberikan paperbag pada Davan.
"Apa ini?" Tanya Davan.
"Tadi aku beli ini, rencananya hadiah untuk Clara. Tapi kamu butuh ini untuk Mas kawin pernikahanmu." Kata Aldrich.
Davan melihat isi paperbag, ada sebuah kotak buludru berwarna biru, ia membuka dan terdapat gelang cantik bertahtakan berlian.
"Thanks, Al. Karna ini untuk mas kawin, aku akan menggantinya." Balas Davan.
"Ya, tentu kau harus menggantinya." Aldrich tertawa agar Davan bisa menetralisir rasa tegangnya.
Sehabis sholat maghrib, akhirnya warga dan RT setempat menikahkan Davan dan Billa secara siri, Aldrich menjadi saksi dari pihak Davan dan Joni menjadi saksi untuk pihak Billa. Setelah acara akad itu selesai, RT setempat menegaskan pada Davan untuk segera membawa Billa pergi dari kampungnya.
Davan membantu Billa berkemas. "Bawa saja pakaianmu, ijazah dan surat penting lainnya. sisanya tinggalkan saja disini, Bill." Kata Davan lembut.
Billa hanya mengangguk, kedua matanya sudah terlihat bengkak karna menangis.
"Dav, aku akan mengantrmu pulang." Kata Aldrich.
"Tidak perlu, Al. Aku bisa hadapi ini." Jawab Davan.
__ADS_1
"Tidak, Al. Setidaknya aku memberi kesaksian pada Tante Ghea dan Om Fadhil." Ucap Aldrich keras kepala.
Davan membawa Billa menggunakan mobilnya sendiri, sementara Aldrich diantar oleh Joni untuk menuju kediaman Fadhil.
Sepanjang perjalanan, Davan hanya diam, ia bingung apa yang akan ia sampaikan pada Ghea dan Fadhil.
Billa pun juga ikut diam, ia merasa jika Davan tengah menyesalinya dan akhirnya mendiamkan Billa.
"Om.. Om bisa menceraikanku disini sebelum tiba dirumah Orang tua, Om. Aku bisa mengontrak di kontrakan lain yang lingkungannya tidak mengenaliku." Kata Billa yang membuka suaranya.
Davan hanya diam, ia fokus menyetir meski sebebarnya ia ingin mengatakan sesuatu pada Billa.
Billa yang tak kunjung mendengar suara Davan pun akhirnya ikut diam kembali.
Davan tiba dirumahnya, ia menghembuskan nafas kasar sebelum membuka seatbeltnya.
Sementara Billa menatap takjub pada rumah Davan, rumah yang diberikan Erick pada Ghea memanglah besar sekali.
Mobil Aldrich pun berhenti percis dibelakang mobil Davan.
Davan masuk kerumahnya diikuti oleh Billa dan Aldrich.
Ghea dan Fadhil yang sedang duduk diruang televisi sedikit terkejut saat melihat Davan membawa seorang wanita dan juga Aldrich.
Ghea berdiri saat Davan mencium tangannya lalu kedua pipinya. Fadhil pun demikian.
"Ada apa ini?" Tanya Fadhil sedikit curiga.
"Om.. Ini..." Kata Aldrich yang baru saja mencium tangan Fadhil juga.
"Al.. Biar aku saja." Kata Davan.
Tidak lama kemudian, Chelsea dan Zayn yang baru saja kembali dari rumah Tristan ikut bergabung dengan keluarga suaminya itu.
Chelsea bertanya melalui kode pada Aldrich dan Aldrich hanya mengerdikan bahunya.
Mereka semua duduk diruang televisi itu.
"Ma.. Pa.. Davan minta maaf sebelumnya jika Davan mengecewakan Papa dan Mama." Davan menghela nafas sejenak. "Maaf jika apa yang akan Davan sampaikan akan membuat Papa dan Mama kecewa."
"Davan, ada apa?" Tanya Ghea mendesak. Hatinya tidak tenang saat melihat mata gadis yang Davan bawa terlihat membengkak, pikirannya jauh kemana mana, takut jika Putra bungsunya berbuat lebih pada gadis malang itu.
"Davan sudah menikahi Billa tanpa ijin dari Papa dan Mama." Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Davan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lanjut jangan?
semangatku melemah lihat vote yg masih minim, padahal ide cerita mulai banyak bermunculan. 🥺
__ADS_1