
"Pak Alaska, anda ada pertemuan dengan pimpinan pemilik GAB Travel untuk membicarakan pembangun kantor cabang di Jakarta." Ucap Beni.
"Kau saja yang menemaniku." Kata Alaska.
"Maaf Pak, tapi bos besar sudah menetapkan Jihan yang ikut jika anda ada pertemuan dengan klien, dan saya stay dikantor." Jawab Beni mengingatkan.
"Tidak bisakah kau mencari cara agar tidak Jihan yang pergi bersamaku?" Tanya Alaska.
"Pak, menurut saya tidak ada cara karna ini perintah langsung bos besar." Jawab Beni.
Jihan masuk kedalam ruangan Alaska. "Apakah anda sudah siap, Pak?" Tanya Jihan.
Alaska hanya mengangguk, kemudian berdiri dan memakai jas nya yang ia sampirkan di sandaran kursi kebesarannya.
"Kau yang akan menyetir? Kita tidak memakai supir?" Tanya Alaska saat berada didepan loby perusahaan.
"Aku bisa menyetir, dan aku adalah asistenmu." Jawab Jihan cuek.
"Tapi kau bukan supirku." Ucap Alaska.
"Tapi semua supir tidak ada yang stay, jika menunggu supir lain akan memakan waktu." Kata Jihan tak mau kalah.
Alaska menengadahkan telapak tangannya. "Berikan kunci mobilnya." Kata Alaska.
Jihan memutar malas bola matanya lalu menyerahkan kunci mobilnya. "Kau tidak asik sekali." Gerutu Jihan.
"Ini masih jam kerja, aku atasanmu." Kata Alaska.
Jihan hanya diam karna enggan berdebat dengan Alaska.
Alaska mengemudikan mobil miliknya, mobil sedan keluaran Eropa. Sementara Jihan hanya duduk sambil bermain ponsel.
"Ji, ada yang mau aku bicarakan padamu." Kata Alaska pada akhirnya.
Jihan melihat sekilas kearah Alaska kemudian menatap kedepan. "Soal apa?" Tanyanya cuek.
Alaska ragu ragu ingin mengatakannya, namun ia mencoba untuk terus mengatakannya.
"Perjodohan kita, apa kau tau soal perjodohan kita, Ji?" Tanya Alaska.
"Perjodohan?" Tanya Jihan, "Kita?" Tanyanya lagi memastikan.
Alaska mengangguk. "Aku kira kau tau."
"Tidak, aku tidak tau." Jawab Jihan.
"Sekarang kau sudah tau, apa tanggapanmu?" Tanya Alaska.
"Jelas saja aku akan menolaknya." Jawab Jihan tanpa ragu.
"Kau tidak menyetujuinya?" Tanya Alaska antuasias.
"Tentu saja tidak, mana mungkin aku mau menikah dengan Kakak yang datar seperti itu, tidak asik."
Cittttt.
Alaska menginjak rem secara tiba tiba lalu menatap tajam Jihan.
"Kakak!!" Pekik Jihan.
"Kau bilang aku apa?" Tanya Alaska lagi.
__ADS_1
Jihan memutar malas bola matanya. "Aku tidak mau menikah dengan orang datar sepertimu, tidak asik." Jawab Jihan sekenanya. "Ayo jalan!! Klien kita kita sudah menunggu."
Alaska pun menjalan kembali mobilnya. "Aku juga tidak mau menikah dengan gadis barbar sepertimu." Ucap Alaska.
"Baguslah, semoga perjodohan ini dibatalkan." Balas Jihan.
Setelah 20 menit, mereka tiba disebuah restoran.
Jihan melihat dua orang pria yang sudah menunggunya.
Setelah mereka bersalaman, Jihan segera melakukan peresentasi mengenai kerjasama yang akan dilakukan. Alaska memperhatikan Jihan dan melihat sisi Jihan yang berbeda.
Alaskan juga melihat sang Klien yang sedari tadi menatap Jihan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, seperti terkesima melihatnya.
Setelah mencapai kesepakatan, mereka menandatangani kesepakatan awal untuk selanjutnya menuju kontrak.
Acara pertemuan itupun dilanjut dengan makan siang bersama.
"Jadi Pak Gibran ini dari Jogja?" Tanya Alaska.
Mendengar kata Jogja, Jihan seketika langsung mengingat kehidupannya di Jogja dan tentunya nama Gibran tidak asing didengarnya.
"Jogja?" Tanya Jihan memastikan.
"Ingatanmu lemah sekali, gadis barbar." Kata Gibran menyeringai.
Jihan menyipitkan matanya, dan mencoba mengenali lawan bicaranya sedari tadi. "Gab?" Tanya Jihan ragu ragu.
"Gib, bukan Gab." Kata Gibran.
"Kau Gibran si mulut pedas itu?" Tanya Jihan lagi.
Jihan menutup mulutnya, "Aku tak menyangka jika akan bertemu lagi denganmu."
"Aku kesini untuk mencari gadis kecil yang katanya akan merindukan bertengkar denganku dan akan merontokkan gigiku." Gibran tertawa.
"Aku bukan gadis kecil lagi, Gab." Kata Jihan sambil tertawa.
Ekhemmm..
Suara Alaska berdehem.
"Ji, kita harus kembali kekantor." Kata Alaska.
Jihan menghentikan tawanya.
"Maaf, Pak Alaska. Jihan ini dulu teman sekolah saya." Ucap Gibran tidak enak.
Alaska hanya berdehem.
"Sebentar, Pak." Pinta Jihan.
"Gab, berapa nomor ponselmu." Kata Jihan sambil memberikan ponselnya pada Gibran.
Gibran menerimanya dan menyimpan nomor ponselnya diponsel Jihan.
"Akan kuhubungi nanti." Kata Jihan berbisik namun masih terdengar oleh Alaska.
"Salam untuk Jidan." Kata Gibran.
Jihan tersenyum, "Sampai jumpa lagi." Lalu berdiri dan mengikuti Alaska ke mobil.
__ADS_1
Gibran tersenyum saat melihat Jihan yang berlalu meninggalkannya. "Akhirnya aku menemukanmu." Gumam Gibran yang terdengar oleh asistennya.
Didalam mobil Alaska hanya diam sambil menyetir, sementara Jihan asik berbalas pesan entah dengan siapa.
"Kau ternyata wanita agresif juga ya." Kata Alaska dengan tatapan lurus kedepan jalan.
Mendengar hal itu, Jihan menatap sinis Alaska. "Apa maksudmu, Kak?"
"Meminta duluan nomor ponsel lawan jenis, apa lagi kalo bukan disebut agresif?" Tanya Alaska menyindir.
Jihan tertawa, "Kau benar benar tidak asik, Kak. Hidupmu yang datar membuatmu berpikiran negatif pada orang disekelilingmu."
Alaska hanya diam, malas menanggapi ocehan Jihan yang nenurutnya berisik.
"Apa kau mempunyai kekasih, kak?" Tanya Jihan menyelidik.
"Jika ya, kau mau apa?" Tanya Alaska balik.
Jihan seperti membayangkan sesuatu, "Aku ingin tau, gaya berpacaran orang datar sepertimu itu bagaimana, apa pacarmu itu tidak bosan ya?" Gumam Jihan membayangkan.
"Ji..." Pekik Alaska.
Jihan tertawa, "Jika sampai kita dijodohkan, aku tidak bisa membayangkan hidup bersama denganmu seumur hidup."
Alaska menatap sini pada Jihan, "Tidak usah dibayangkan karna itu tidak akan terjadi."
"Ya, kau benar, itu tidak akan terjadi." Kata Jihan memastikan.
Mereka saling terdiam dan larut dalam pemikirannya masing masing. Hingga tiba dikantorpun, Alaska langsung masuk kedalam ruangannya sedangkan Jihan menuju ruangan Aldrich.
"Hai, Sayang.. Kau sudah kembali?" Tanya Aldrich.
"Dad, ada yang mau aku tanyakan." Kata Jihan serius.
"Ada apa? Apa Alaska membuat kesalahan?" Tanya Aldrich.
Jihan menghela nafas, "Bukan soal pekerjaan, Dad. Tapi soal pribadi." Kata Jihan.
"Katakanlah, Ji." Aldrich pun bersiap mendengarkan apa yang ingin diceritakan oleh Jihan.
"Benarkah aku dan Kak Alaska akan dijodohkan, Dad?" Tanya Jihan pada Akhirnya.
"Alaska yang memberitahumu?" Tanya Aldrich. "Apa dia juga memintamu untuk tidak menyetujui perjodohan ini?"
"Kak Al memang memberitahuku, tapi Kak Al tidak menyuruhku untuk tidak menyetujuinya, Dad." Jawab Jihan.
"Daddy harap kau mau menerimanya." Ucap Aldrich penuh harap.
"Maaf, Dad. Tapi aku tidak menyetujui perjodohan ini. Aku dan Kak al tidak memiliki perasaan cinta. Dan aku juga tidak pernah berpikir untuk menikah dengan Kak Al." Kata Jihan panjang lebar.
"Tidak bisa, Ji. Semua sudah menyetujui perjodohan ini." Aldrich berbicara dengan serius.
"Kenapa harus dipaksakan, Dad? Jika aku dan Kak Al sama sama menolaknya?." Tanya Jihan dan Aldrich tidak tega melihat Jihan yang sepertinya mulai merasa tidak nyaman.
"Ji, anggap saja ini sebagai tanda terimakasihmu pada Daddy, karna Daddy yang menemukanmu, Jidan dan Ibumu hingga membuat kalian berkumpul kembali bersama Ayah kalian." Kata Aldrich terpaksa.
Sungguh, Aldrich terpaksa menggunakan cara itu, karna hanya itu satu satunya jalan Jihan tidak menolaknya. Meski tidak terbesit sama sekali dibenak aldrich untuk meminta imbalan apa lagi sampai Jihan membalas kebaikannya.
Namun berbeda dengan Jihan. Jihan tertegun mendengar perkataan Aldrich. Ia tidak menyangka jika Aldrich mengharapkan imbalan karna tlah mempersatukan keluarganya. Haruskah Jihan tetap menolak? Atau Jihan harus menerima perjodohan ini untuk membalas kebaikan Aldrich?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1