
Nafas mereka tidak beraturan, Alaska menarik Jihan kedalam pelukannya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut tebal. Berulang kali Alaska menciumi puncak kepala Jihan, mengusap lembut punggungnya yang polos hingga terdengar nafas yang beraturan menandakan Jihan tlah tertidur.
"Ji.. Aku mencintaimu." Ucap Alaska berbisik, kemudian Alaska ikut tertidur bersama.
Pagi hari, Jihan sudah terlihat lebih segar meski ia masih merasa kantuk. Selepas subuh berjamaah bersama sang suami, Jihan tidak tidur lagi dan memilih berbincang ringan dengan Alaska sambil menikmati kopi di balkon kamar hotel.
Kini Jihan dan Alaska tengah bersiap turun ke restoran hotel untuk sarapan. Jihan segera menghampiri Jove yang digendong oleh Davan.
"Anak Mommy, nakal tidak?" Tanya Jihan sambil mendaratkan ciuman diwajah Jovelyn.
"Anakmu anteng sekali, lebih baik Jove segera diberi adik agar Jove bisa ditinggal dirumah Ayah untuk menggantikanmu yang dibawa oleh Alaska." Kata Davan.
"Ishh Ayah, udah gak sayang Ji lagi." Kata Jihan.
Davan tertawa, "Tahtamu terkalahkan oleh Jove, Ji."
Alaska merangkul pinggang Jihan. "Tidak apa Ji, nanti kita buat adiknya Jove lagi." ucapnya yang menggelikan.
Jihan menyikut perut Alaska. "Menyebalkan."
Suasana sarapan di restoran hotel milik keluarga Davan menjadi hangat, Davan bersyukur Jihan menikah dengan Alaska. Entah apa jadinya jika Jihan masuk jebakan Rosa bersama pria lain yang tidak mau tanggung jawab.
Alika mengirimkan sebuah pesan pada Gibran, namun Gibran tak kunjung membacanya. Alika yang tidak suka menunggupun akhirnya menelpon Gibran namun bukan Gibran yang mengangkatnya.
"Lho koq pak Anton yang angkat?" Tanya Alika dengan heran, pasalnya ini hari minggu dan tidak mungkin Anton bersama Gibran.
"Iya, Al. Aku sedang dirumah sakit menjaga Pak Gibran." Jawab Anton.
"Rumah sakit? Menjaga Mas Gibran? Memang Mas Gibran kenapa, Pak?" Tanya Alika bertubi tubi.
"Semalam Pak Gibran menghubungi saya, katanya tubuhnya lemas dan demam, saya bawa kerumah sakit dan ternyata Pak Gibran Typhus." Jawan Anton.
Alika segera mematikan panggilannya setelah Anton memberitahu rumah sakit mana Gibran dirawat. Alika meninggalkan hotel tanpa sarapan terlebih dahulu. Padahal baru kemarin Alika bersama Gibran di acara resepsi pernikahan Jihan dan Alaska.
Alika bertemu dengan Anton yang akan mencari sarapan di kafetaria rumah sakit.
"Pak Anton." Panggil Alika dan Antonpun menoleh kearah Alika.
__ADS_1
"Cepat sekali." Ledek Anton.
"Diruangan mana Mas Gibran dirawat?" Tanya Alika langsung.
Di lantai lima, kamar 515." Jawabnya.
Alika mengangguk, "Pak Anton pulang saja, biar aku yang menjaga Mas Gibran." Kata Alika dan Anton mengerti hal itu.
Alika masuk kedalam ruang perawatan Gibran, dilihatnya Gibran sedang kesulitan memakan makanannya karna jarum infus yang tertanam dipunggung lengannya.
Alika segera mengambil alih sendok dan mangkuk untuk ia suapi pada Gibran.
"Kenapa tidak mengabariku?" Tanya Alika.
Gibran tersenyum, ia sudah menduga pasti Alika akan datang kesini jika tau dirinya tengah dirawat.
"Pak Anton punya keluarga, jangan menyusahkannya. Kamu bisa menghubungiku jika sedang sakit." Ucap Alika.
"Terimakasih." Kata Gibran dengan senyum. "Aku tidak sakit, aku hanya ingin menginap dirumah sakit saja." Jawab Gibran mengelak.
Alika mencebik, "Mana ada orang yang mau menginap dirumah sakit, kamu ini aneh aneh saja." Kata Alika mengomel.
"Ya karna kamu aneh." Jawab Alika cepat.
Selesai menyuapi Gibran, Alika memberikan obat pada Gibran. "Kamu tidak menghubungi adik adikmu?" Tanya Alika.
Gibran menggelengkan kepalanya, "Mereka sedang kuliah dan sekolah. Kasihan kalo harus jauh jauh datang kesini cuma untuk mengurusku."
"Lalu kamu tidak kasian sama Pak Anton? Pak Antonkan juga punya anak dan istri, kasian kalau hari libur masih harus bekerja." Ucap Alika.
"Ya kalau begitu kamu saja yang mengurusku." Jawab Gibran dengan santai.
"Aku bukan istrimu." Kata Alika lalu berdiri dari sisi brankar Gibran namun Gibran menarik tangannya untuk kembali duduk.
"Kalau begitu jadi istriku biar aku ada yang mengurus." Ucap Gibran tiba tiba.
Namun Alika tidak melihat kesungguhan dimata Gibran. "Jangan memberi harapan palsu padaku, Mas."
__ADS_1
Gibran mengangguk, "Maaf." Kata Gibran.
Namun ucapan maaf dari Gibran membuat Alika kecewa, karna ternyata Gibran tidak berusaha untuk meyakinkan Alika.
Setelah beberapa hari dirumah sakit, Alika setia merawat Gibran dan menemaninya hingga pulih. Alika pun mengantar Gibran untuk kembali ke apartemennya. Dilihatnya apartemen Gibran yang cukup sederhana dan jauh kata mewah, padahal bisa saja Gibran membeli apartemen mewah. Apartemen Gibran pun terlihat bersih dan begitu tertata rapih.
"Kamu pakai jasa ART, Mas?" Tanya Alika.
"Tidak, aku hanya tinggal sendirian, aku sendiri yang membereskan apartemen dan masak untuk diri sendiri." Jawab Gibran.
"Semua pekerjaan rumah?" Tanya Alika heran.
Gibran mengangguk, "Kecuali mencuci dan menyetrika pakaian, aku masukan ke laundry."
"Tidak enak menikah denganku, Al. Bisa bisa kamu berhenti menjadi nona muda, karna aku tidak terbiasa menggunakan jasa ART." ucap Gibran sedikit serius.
Alika hanya diam dan tidak menyahuti. Alika berpikir jika Gibran hanya menilai dirinya sebagai nona muda Dewantara yang manja dan tidak mengenal pekerjaan rumah. Padahal Clara slalu mengajarkan anak anaknya, baik itu Alaska maupun Alika dan Alfiqa untuk berbuat mandiri dengan merawat dan membersihkan barang barang pribadinya.
"Istirahatlah, Mas. Aku pulang dulu." Pamit Alika pada akhirnya.
Gibran merasa bersalah akan ucapannya pada Alika, namun Gibran mencoba menepisnya. "Terimakasih, Al. Besok kamu boleh libur untuk istirahat." Ucap Gibran memberikan keringanan pada Alika.
Alika tidak menjawab dan hanya berkata. "Aku pulang." Ucapnya lalu keluar dari apartemen Gibran.
Gibran menghela nafas, lalu duduk bersandar pada sofa. "Maafkan aku, Al." Gumamnya.
Alika kembali kerumahnya, karna lelah dan merasa nyaman dengan tempat tidurnya yang empuk, membuat Alika segera memejamkan matanya. "Mas, kamu tidak mengenalku dengan baik." Gumamnya sebelum akhirnya benar benar tertidur.
Keesokan harinya, Alika mengikuti apa kata Gibran untuk tidak masuk kantor, Alika juga tidak mengirim pesan pada Gibran dan menghabiskan waktunya hanya untuk tidur seharian.
Sementara itu, Gibran tengah dilanda rasa gelisah, berkali kali ia melihat layar ponselnya namun sejak mengantarnya pulang ke apartemen, Alika tidak memberi kabar lagi pada Gibran.
"Apa Alika marah?" Tanya Gibran dalam hatinya. Mendadak Gibran memikirkan Alika, merindukan kopi buatan Alika dan berbincang santai dengannya.
Gibran memijat pangkal hidunya, "Apa aku sudah mulai jatuh cinta pada Alika?" Tanya Gibran lagi dalam hatinya. "Pantaskah aku untuk Alika?" Gibran menghela nafasnya. Ia terus menyelami hatinya dan meyakini jika kini Gibran mulai jatuh cinta pada Alika.
"Alika." Gumam Gibran menyebut nama Alika.
__ADS_1
Gibran nencoba nenghubungi Alika terlebih dahulu, namun Alika tidak menjawabnya. Alika tengah menghabiskan waktunya untuk istirahat tanpa menyentuh ponselnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...