BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 126


__ADS_3

Jihan mulai sering merasakan sakit di pinggangnya, terkadang hanya sering meringis seorang diri. Dalam hati kecilnya, ia ingin sekali ada suami yang menemaninya melalui masa kehamilannya, memijat pelan punggung dan kakinya, namun semua itu tidak mungkin terjadi, mengingat Alaska yang masih belum pulih kembali ingatannya.


"Kau harus kuat ya, Nak. Bantu Mommy melewati semua ini." Kata Jihan sambil mengusap ngusap perutnya yang sudah memasuki bulan lahirnya.


Davan merasa marah dan melempar surat undangan yang dikirim oleh pihak keluarga Aldrich.


"Semudah itu kau menikahkan putramu setelah menghina putriku habis habisan, Al. Aku bersumpah tidak akan menghadirinya." Kata Davan geram.


Davan benar benar kecewa dengan Aldrich, bagaimana bisa Aldrich menikahkan Alaska tanpa meminta maaf terlebih dahulu dari Jihan.


Davan bukan orang yang gila hormat, meski Aldrich sudah beberapa kali memperlihatkan niat baiknya dengan datang atau mengirimi parcel sebagai ungkapan permintaan maaf pada Davan, namun Davan hanya menginginkan Alaska yang datang langsung untuk meminta maaf pada Jihan.


"Musnahkan undangan itu, jangan sampai Jihan melihatnya." Kata Davan pada asistennya.


Keesokan harinya, Ghea dan Fadhil mendatangi rumah Davan.


Tentunya mereka datang untuk melihat kondisi Jihan sekaligus menentukan seragam yang akan mereka pakai dipernikahan Alaska.


Namun Davan dan Billa hanya diam, mereka tidak berbicara apapun hingga Jidan yang berkata.


"Kami tidak akan datang ke pernikahan Alaska atau acara apapun yang diselenggarakan oleh keluarga Dewantara." Ucap Jidan dengan tegas.


Fadhil mengernyitkan dahinya, "Ada apa?" Tanya Fadhil. "Apa kalian sedang memiliki masalah dengan keluarga Dewantara? Atau karna Alaska akan menikah dengan wanita lain?" Tanya Fadhil bertubi tubi.


"Kami tidak masalah jika Alaska akan menikah dengan wanita lain. Tapi ada sesuatu yang kami tidak bisa maafkan, perbuatan apa yang sudah keluarga Dewantara lakukan pada Jihan." Ucap Jidan lagi.


"Apa? adakah sesuatu yang Oma dan Kakek tidak tau?" Tanya Ghea penasaran.


Jidan hanya diam, entah mengapa ia tidak mempunyai keberanian untuk mengadukan hal ini pada Ghea dan Fadhil.


"Alaska menghina Jihan, Ma.." Kata Davan pada akhirnya.


Ghea tidak mengerti, "Menghina seperti apa maksudnya?"


Davan menceritakan permasalahannya, dimana Jihan dihina oleh Alaska.


"Dav tidak terima putri Dav dihina seperti itu." Kata Davan.


Fadhil dan Ghea sama sama terkejut. Selama ini Davan menyembunyikan semuanya dari Ghea dan Fadhil.

__ADS_1


"Maaf Ma, Pa. Davan dan keluarga memutuskan tidak akan menghadiri acara pernikahan itu." Kata Davan.


Fadhil menatap wajah Jidan. "Jid, Kakek tau apa yang kau rasakan. Tapi tidak baik menyimpan dendam berlebihan seperti itu." Kata Fadhil dan Jidan mendengarkannya. "Maafkanlah agar hati kalian lapang, jika tidak ingin datang, setidaknya utuslah seseorang untuk mewakili kalian." Kata Fadhil dengan bijak.


Jidan dan Davan hanya mendengarkannya tanpa membantah.


"Papa dan Mama memakluminya, Papa dan Mama pun ikut merasakan apa yang kalian rasakan. Tapi bukankah memaafkan itu lebih membuat hati kalian menjadi tentram?"


Davan mengangguk, "Iya Pa.. Davan akan mencoba memaafkan, namun untuk kembali seperti dulu, Dav tidak bisa. Dav ingin menjaga perasaan Jihan.


Fadhil dan Ghea pun tidak memaksakannya. Mereka pun sepakat untuk tidak memberitahu Jihan. Biarlah Jihan fokus pada kehamilannya yang sebentar lagi memasuki masa hari perkiraan lahirnya.


Tanpa mereka sadari, Jihan mendengar semuanya, ia mengusap perutnya dan menangis. Jihan segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.


"Daddymu akan menikah dengan wanita lain." Kata Jihan seolah berbicara dengan bayinya.


"Tidak apa, Nak. Kau slamanya hanya akan jadi anak Mommy. Kita tidak membutuhkan Daddymu." Jihan akhirnya meluapkan tangisannya. Ia menutup wajahnya dengan bantal agar tidak ada yang mendengar suara tangisannya.


"Kau jahat, Kak. Semudah itu kau melupakan janjimu. Kau benar benar jahat Kak, Aku sangat membencimu." Raung Jihan dari balik bantal hingga akhirnya Jihan lelah dan tertidur.


Akhirnya hari H pun tiba, namun tidak ada kebahagiaan terpancar di wajah Alaska. Alaska terlihat bingung, ia berpikir jika semua yang dikatalan oleh Aldrich adalah benar, tak seharusnya Alaska menikah jika ingatannya belum pulih sempurna.


Suara suara dimasa lalunya semakin sering terjadi, dan hanya ada bisikan suara tanpa ada gambaran dengan siapa Alaska berbicara.


Arghhh..


"Sebenarnya siapa yang sedang berbicara denganku?" Kata Alaska.


Aldrich masuk kedalam kamar Alaska dan melihat Alaska yang belum bersiap.


"Kau ragu?" Tanya Aldrich yang memang tepat.


Aldrich duduk percis disebelah Alaska, "Selamat untuk pernikahanmu, semoga kau menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan semoga kau tidak akan pernah menyesali apapun keputusanmu." Kata Aldrich.


"Dad..." Panggil Alaska.


Aldrich menghela nafas, "Sedari kecil, kau tidak pernah mengecewakan Daddy. Bahkan saat kau berat menerima perjodohanmu dengan Jihan itu sama sekali tidak membuat Daddy kecewa. Tapi Al, Daddy tidak menyangka kau bisa mengeluarkan kata kata semenyakitkan itu pada Jihan, setidaknya kau tau jika Daddy sangat menyayangi Jihan." Ucap Aldrich.


"Daddy kira, kau akan datang menemui Jihan ataupun Om Dav untuk meminta maaf, namun Daddy salah. Kau sama sekali angkuh dan tidak merasa bersalah. Tak tau kah kau begitu berharganya persabatan Daddy dengan Om Dav?" Aldrich mengusap wajahnya kasar. "Itulah kali pertama Daddy kecewa denganmu."

__ADS_1


Aldrich berdiri dan ingin meninggalkan Alaska. Tetapi ponselnya berdering dan Aldrich segera mengangkatnya.


"Apa? Baik aku akan segera kesana, Jon." Kata Aldrich lalu menutup ponselnya dan melihat kembali kearah Alaska. "Daddy tidak bisa mendampingimu. Beni sadar dan Daddy akan menemuinya di rumah sakit. Daddy rasa, Mommy saja cukup untuk mendampingimu karna Kakekmu sendiri saja tidak mau datang." Ucapnya lalu bergegas keluar.


Jihan merasakan sakit dibagian perutnya, dan Gibran memperhatikannya.


"Ji, are you okay?" Tanya Gibran.


"Perutku sakit, dan sesekali menghilang lalu sakit lagi." Kata Jihan.


"Aku panggilkan ibumu." Gibran segera masuk untuk mencari Billa.


"Tante, Jihan perutnya sakit dan sesekali menghilang lalu sakit lagi." Kata Gibran panik.


"Sepertinya Jihan sudah mau lahiran, Gab. Dimana Jihannya?"


"Di halaman samping." Jawab Gibran dan segera saja menuju tempat dimana Jihan berada.


"Ji..." Panggil Billa.


"Bu, perut Jihan sakit." Kata Jihan sambil meringis menahan sakit.


"Ayo kita kerumah sakit." Kata Billa.


Gibran membantu memapah Jihan, sementara Billa menyuruh ART nya untuk membawakannya tas perlengkapan bayi yang sudah tersedia.


"Bu.. Sakit sekali." Kata Jihan.


"Sabar, Ji. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan Baby J." Kata Billa menenangkan.


Gibran segera menghubungi Jidan dan Jidan akan segera menuju ke rumah sakit.


Jidan menemani Jihan layaknya seorang suami yang siaga terhadap istrinya. Amel melihatnya dan merasa tersentuh dengan apa yang Jidan lakukan terhadap Jihan.


"Masih pembukaan lima." Kata dokter yang memeriksanya. "Silahkan ajak ibu Jihan untuk berjalan di lorong rumah sakit sambil menunggu pembukaannya sempurna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ini beneran dikit lg mau tamat lho,

__ADS_1


udh disiapin Bonchapnya.


kalo bonchap abis bingung mau lanjut ceritain apa? Jaffin kah?


__ADS_2