
"Mas apa yang kau lakukan?" Pekik Billa.
"Pelankan suaramu, Dear. Nanti mereka bangun." Kata Davan dengan senyum menyeringai.
"Mas, turunkan aku." Kata Billa.
Davan mendudukan dirinya diatas sofa dan membawa Billa untuk duduk diatas pangkuannya menghadap kedirinya.
Tangan Davan menelusuri wajah Billa, dan mendekatkan wajahnya kewajah Billa lalu menghirup aroma Billa dalam dalam. "Aku merindukanmu." Kata Davan dengan berbisik.
Billa memejamkan matanya menikmati sentuhan dan hembusan nafas Davan yang memburu diwajahnya.
"Katakan jika kau juga merindukanku." Davan menempelkan bibirnya di bibir Billa.
Billa mengangguk, Davan mulai mengecup dan memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk Billa.
Mereka melampiaskan kerinduannya lewat decitan kecapan dan deruan nafas yang saling memburu. Tangan Davan mulai berani menjelajah isi dibalik pakaian yang Billa kenakan, mengusap punggung Billa dan beralih kebagian depannya.
"Ahh.. Mass.." Suara Billa terdengar seksi saat Davan menelusuri leher jenjang Billa.
Perlahan, Davan membaringkan Billa diatas sofa dan menindihnya.
Billa merasakan sesuatu yang mengeras percis berada diatas pahanya.
Entah karna sudah berpisah selama delapan tahun, membuat Billa merasa jantungnya berdegup kencang seperti saat pertama kali Davan menyentuhnya.
Uhukk Uhukkk.
Billa membuka matanya dan menahan wajah Davan saat mendengar Jihan terbatuk batuk.
"Jihan bangun, Mas." Kata Billa.
Wajah Davan terlihat sedikit frustasi, sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Billa. Ia terlalu terbawa suasana, saking merindukan Billa hingga tak mengingat ada dua putra putrinya yang tidur bersamanya dalam satu kamar.
"Bu..." Panggil Jihan.
Billa mengusap rambut Davan, "Aku urus Jihan dulu, ya." Ucapnya lembut.
Davan mengangguk, masih dengan posisi didalam ceruk leher Billa.
"Ibu...." Panggil Jihan lagi.
Davan turun dari atas Billa, beruntung posisi sofa mereka membelakangi tempat tidur sehingga aksi mereka terhalang oleh sandaran sofa. Billa duduk sambil membenahi pakaiannya, lalu segera mengambil air mineral untuk Jihan.
Davan kembali duduk di Sofa dengan menyandarkan kepalanya disandaran kursi, kepalanya mendadak cenat cenut tak menentu, belum lagi bagian juniornya yang masih meronta dan belum dijinakkan. Wajar saja, Davan sudah menahan hasratnya lebih dari delapan tahun.
**
Keesokan harinya, Davan membantu Jidan bersiap, dan Billa membantu Jihan bersiap.
"Jidan dekat sekali dengan Ayah." Kata Jihan mengeluh pada Billa.
Billa tersenyum melihat putrinya yang merasa iri dengan saudara kembarnya.
__ADS_1
"Jidan itu laki laki, wajar jika Ayah yang mengurusnya, Tapi kan saat tidur Ayah slalu bersamamu, menggendongmu, dan kamu slalu menempel pada Ayah. Bahkan Jidan mengalah saat pergi bersama Ayah, kamu duduk di depan dan Jidan di belakang." Kata Billa memberi pengertian.
Jihan masih terlihat cemberut. "Ji, apa kau tidak merasa jika Jidan juga ingin diperhatikan? Selama ini Jidan slalu memperhatikan dan slalu menjagamu, bersikap dewasa sebelum waktunya, tapi Ibu tau, Jidan pun ingin diperhatikan dan dilindungi, sama sepertimu." Kata Billa lagi.
Jihan mengangguk.
"Jangan iri pada saudaramu ya, Ji. Itu tidak baik. Ayah juga sangat menyayangimu." Kata Billa lagi.
"Iya, Ibu. Maafkan Jihan." Kata Jihan pada akhirnya.
Davan menggendong Jihan dan menggandeng tangan jidan menuju resto hotel untuk sarapan sebelum akhirnya berkunjung ke Villa Aldrich.
"Yah, Jihan mau sereal boleh?" Tanya Jihan.
Davan nengangguk, "Ayah akan ambilkan. Jihan mau apa lagi?" Tanya Davan.
Jihan menggelengkan kepalanya.
"Jihan sudah lama ingin makan sereal itu Yah, Jihan sering melihat Rosa membawa bekal sereal yang disiram susu, dan Jihan berkata juga ingin makanan seperti itu." Jawab jidan.
Davan tersenyum perih, bahkan hanya sereal saja, kedua putra putrinya tidka mampu memakannya.
"Jihan bisa makan sereal setiap hari, nanti Ayah akan siapkan yang banyak saat kita kembali kerumah." Kata Davan.
Mata Jihan berbinar. Ia tak menyangka jika kini hidupnya berubah drastis. Memakai pakaian bagus, memakan makanan enak, dan kemanapun pergi slalu memakai mobil.
"Jid, kau didepan saja, aku dibelakang bersama Ibu." Kata Jihan saat akan masuk kedalam mobil.
"Aku ingin tiduran dibelakang." Jawab Jihan berbohong.
Billa tersenyum, Jihan mengerti apa yang dijelaskan oleh Billa tadi saat sedang mengurus dirinya.
Davan melihat kearah Billa mencoba bertanya lewat tatapan, namun Billa hanya mengerdikan bahunya sambil tersenyum.
Inilah yang Davan nantikan, jika selama delapan tahun ini hati Davan terasa sakit saat melihat kebehagaiaan kecil keluarga Zayn dan Chelsea juga Aldrich dan Clara yang bisa pergi dalam satu mobil bersama anak anak mereka, kini Davan juga merasakan kebahagiaan sederhana itu.
"Rumah Om Dedi Al besar, Yah?" Tanya Jihan.
"Daddy Al, Ji." Ralat Jidan.
"Iya, Jid. Mulutku terlalu banyak makan tempe, jadi susah bicara bahasa inggris." Kata Jihan yang membuat Billa ingin tertawa.
"Jadi harus makan apa biar lancar bahasa inggirsnya?" Tanya Davan.
"Makan roti setiap hari, Yah. Makan Pizza, makan spagethi, makan burger." Jawab Jihan yang menyebutkan makanan yang akhir akhir ini sering ia makan.
Davan tersenyum, Ia berjanji dalam hatinya akan memberikan makanan layak untuk keluarga kecilnya. Tidak ada lagi menahan lapar, tidak ada lagi satu butir telur dibagi tiga, dan tidak ada lagi menahan apa yang ingin mereka makan.
Davan memberhentikan mobilnya disebuah Villa yang cukup besar.
"Besar sekali." Gumam Jihan. "Om Dedi Al kaya sekali." Kata Jihan lagi yang memandang takjub pada Villa yang Davan tempati. Tanpa Jihan tau, jika Villa ini adalah milik Davan, salah satu bisnis Ayahnya sendiri.
Aldrich sedang menggendong bayi perempuan mungil bernama Alfiqa dihalaman belakang. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Davan yang menggendong Jihan dan menggandeng tangan Jidan, dibelakangnya ada Billa yang berjalan mengekor.
__ADS_1
"Keluarga cemara sudah datang." Sambut Aldrich.
"Adik bayi..." Seru Jihan.
"Lihatlah, lucu bukan?" Tanya Aldrich sambil memperlihatkan Alfiqa pada Jihan.
"Ya lucu sekali." Jawab Jihan yang tak berkedip menatap wajah mungil Alfiqa.
"Nanti kau akan punya juga, Ji." Ucap Aldrich.
"Om Dedi akan memberikan adik bayi padaku?" Tanya Jihan.
"Oh my god, Jihan sayang. Bukan Om Dedi. Panggil Daddy Al saja." Kata Aldrich.
Jihan terkikik sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hai, kalian sudah datang?" Suara Clara yang baru saja keluar dari kamar.
Billa melihat kearah Clara dan entah mengapa hatinya menjadi tidak percaya diri. Melihat Clara yang baru melahirkan begitu terawat, wajah yang glowing, pakaian sederhana namun terlihat mahal ditubuh Clara.
Clara menghampiri Billa yang terlihat insecure, Clara pun pernah diposisi Billa.
"Hai Bill, apa kabarmu?" Calara memeluk Billa dengan ramah.
"Baik kak, Kakak semakin cantik." Ucap Billa.
"Kamu juga cantik, cantik sekali malahan, wajar saja, kamu masih muda, Bill. Cantik alami." Kata Clara menguatkan.
Billa hanya tersenyum, ia tau jika Clara memanglah wanita baik yang bisa menjaga perasaan orang lain.
"Aku tidak menyangka kamu melahirkan anak kembar. Padahal aku ingin sekali mempunyai anak kembar." Ucap Clara saat mengajak Billa duduk di sofa ruang televisi.
"Jaman sekarang kan canggih, Kak. Bisa program bayi kembar." Jawab Billa.
"Tuh." Kata Billa sambil menunjuk Aldrich yang masih menggendong Alfiqa ditaman belakang. "Itu juga hasil dari program, tapi jadinya suma satu." Jawab clara terkikik geli.
Billa tersenyum.
"Kamu kuat sekali, membesarkan anak kembar tanpa finansial dari Davan. Aku salut padamu, Bill." Kata Clara.
"Jangan lagi pergi, Bill. Davan benar benar mencintaimu, tidak ada hari terlewatkan tanpa menyesali kepergianmu, terlebih saat tahu kamu pergi dalam keadaan hamil, membuat Davan tidak bersemangat hidup." Kata Clara lagi.
Billa mengangguk.
"Kalian sudah berbaikan? Kamu akan kembali pada Davan kan?" Tanya Clara.
"Sudah Kak, aku kembali pada Davan demi anak anak." Jawab Billa.
"Bukan kembali karna kamu masih mencintainya?" Tanya Billa lagi.
Billa mengangguk. "Aku masih mencintai Mas Davan, Kak." Jawab Billa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1