
Clara mengambil kotak P3K diruangan bos nya. Saat mendengar kegaduhan itu, Clara langsung mendekat ke arah Aldrich dan melihat Aldrich yang tengah memegang keningnya.
Clara mendudukan Aldrich di kursi kebesarannya lalu mengambil gel untuk memar dan di oleskan di kening Aldrich.
"Kamu gak bisa hati hati apa, Al? Jidatmu ini gak ada yang jual kalo sampe penyok." Kata Clara seolah memarahi Aldrich.
Aldrich tersenyum tipis tatkala mendengar omelan Clara, ia berpikir bahwa Clara memperdulikannya.
"Menang banyak." Gumam Joni yang terdengar samar oleh Aldrich. "Modus." Gumamnya lagi.
Aldrich menajamkan matanya menatap Joni, sementara yang dilihatnya pura pura tidak melihat.
Clara tersadar dirinya tengah berbuat jauh, terlebih ia lupa jika saat ini Aldrich adalah atasannya, bukan temannya seperti sewaktu mereka di Erlasha dulu.
Clara yang tersadar perlahan menjauh memberi jarak pada Aldrich. Hal itu membuat hati Aldrich sedikit tercubit. Pasalnya ia tengah merasa bahwa Clara tengah membentengi dirinya karna sudah menikah.
"Makasih, Ra." Kata Aldrich setelah Clara mundur beberapa langkah dari dekatnya.
"Iya Pak, sama sama." Jawab Clara.
"Tuan muda, ini berkas untuk besok di Bali." Kata Joni memecah kecanggungan antara Aldrich dan Clara.
Aldrich menerimanya, "Ra, kamu sudah mempersiapkan diri untuk besok ikut denganku ke Bali?" Tanya Aldrich.
"Sudah Pak, dokumen yang akan dibawa sudah siap, jadwal bapak slama disana juga sudah saya susun." Jawab Clara formal.
Aldrich mengangguk, "Good. Sore ini kamu bisa pulang cepat untuk mempersiapkan keberangkatanmu besok."
"Baik Pak, terimakasih." Jawab Clara kemudian pamit untuk keluar.
Aldrich menatap punggung Clara yang kemudian menghilang dibalik pintu. Kemudian ia melihat kearah Joni yang tampak tenang.
"Jon..!!" Panggil Aldrich.
"Jangan memarahi saya Bos, bukankah karna kejadian terbentur pintu, Bos jadi dekat dengan Clara." Jawab joni enteng.
Aldrich seketika terdiam, memang benar apa yang dikatakan Joni, dirinya merasa senang walau hanya sedikit menikmati kedekatannya dengan Clara.
"Siapkan Villa di Bali, Kita tidak akan menginap di hotel, aku ingin di Villa Kakek Erick." Titah Aldrich.
"Modus lagi, Bos?" Tanya Joni meledek.
__ADS_1
"Diam Jon!! Atau ku potong gajimu 70%." Ancam Aldrich.
"Ja Jangan Bos." Kata Joni memelas.
"Lakukan perintahku dan tempatkan kamar Clara berdekatan dengan kamarku." Kata Aldrich lagi.
Joni memutar malas bola mata, ia akan kembali menyaksikan kebucinan bos nya itu di Bali nanti.
**
Mendarat di pulau bali, Joni mulai melihat gelagat Aldrich dengan kebucinannya.
"Ra, sini aku bawain koper kamu." Tanpa menunggu jawaban Clara, Aldrich meraih gagang koper milik Clara dan menggaretnya.
"Ck, dasar bucin. Koper sendiri nyuruh aku yang bawain, tapi dia malah sok bawain koper orang lain." Gerutu Joni dalam hati yang kerepotan menggaret dua koper sekaligus, belum lagi ransel dipunggungnya yang berisikan laptop dan berkas berkas, Joni tak berpikir untuk mengambil trolly karna dikiranya akan menbawa koper masing masing.
"Ehh Al gak usah." Kata Clara menahan gagang kopernya.
"Udah gak apa apa, Ra." Jawab Aldrich sambil tersenyum.
"Ra, kamu bawain koper si Bos aja, nih." Ucap Joni.
Aldrich langsung menoleh kearah Joni, "Gajimu mau ku potong, Jon?" Tanya Aldrich.
Selama perjalanan menuju Villa, Clara hanya diam melihat keeaarah kaca samping mobil. Ia menikmati pemamdangan hamparan laut dan ombak disisi pantai.
sesekali Clara melihat kearah ponselnya dan tersenyum sambil berbalas pesan dengan seseorang.
Aldrich memperhatikan gerak gerik Clara, ia menyangka Clara tengah bertukar pesan dengan suaminya sampai tersenyum tanpa menyadari adanya Aldrich didekatnya.
Padahal Clara tengah bertukar pesan dengan Chelsea, Chelsea mengabari dirinya tengah main ke DW group namun tak menemukan Clara, hal itu membuat Chelsea badmood dan akan meminta Clara mentraktirnya salad salmon kesukaannya jika nanti mereka bertemu kembali.
Tingkahlaku Clara maupun Aldrich tak luput dari pandangan Joni. Joni hanya bersiul pelan seolah meledek kedua orang tersebut.
Mereka tiba di Villa milik Erick, Villa ini masih didalam resort yang dikembangkan oleh Bryan dan akan diteruskan oleh Davan saat ia selesai menyelesaikan pendidikannya.
"Kita gak nginep di hotel?" Tanya Clara saat turun di halaman Villa.
"No, disini udaranya lebih bersih, Ra. Jauh dari kebisingan, dan cocok untuk berlibur." Jawab Aldrich.
"Berlibur?" Tanya Clara bingung. "Bukankah kita disini sedang bekerja?" Tanya Clara lagi.
__ADS_1
Aldrich terlihat santai menjawab, "Ya sekalian liburan, Ra. Selesai bekerja ada baiknya kita merefreshkan pikiran disini, agar nanti pulang kita siap bekerja lagi."
"Jon, bawa masuk semuanya." Titah Aldrich.
Clara mendekat pada Joni, "Pak Jon sini saya bantu." Kata Clara ramah.
"Ahh terimakasih Bu Bos." Jawab Joni sambil menurunkan koper koper.
"Hah, Bu Bos?" Tanya Clara.
Joni hanya menaik turunkan halisnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Aldrich menyelidik.
"Pedekate, Bos." Jawab Joni asal dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Aldrich.
Clara hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Bos dan asistennya itu, "Seperti Tom and Jerry." Batin Clara.
Clara masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Nanti sore mereka akan meninjau lokasi proyek yang akan diresmikan esok hari.
Clara membuka blazer dan kemejanya, ia hanya menyisakan tanktopnya saja. Ia merebahkan tubuhnya dikasur dan kakinya menjuntai kebawah, Clara memasangkan earphone ditelinganya mendengarkan lagu favoritnya sambil menatap langit langit kamar.
"Aldrich, andai kau benar menjadi Aldi saja, Al." Gumam Clara disela sela kantuknya.
Karna lelahnya, Clara pun akhirnya memejamkan mata dan tertidur dengan earphone masih menempel ditelinganya.
Sementara Aldrich, ia memilih keluar dari kamar, Aldrich menatap pintu kamar Clara yang berada percis didepan kamarnya, ingin rasanya ia masuk untuk melihat Clara.
Aldrich melangkahkan kakinya kedekat pintu, tangannya meraih handel pintu, ia ingin memutarnya namun ia urungkan.
Aldrich lebih memilih mengetuk pintu kamar Clara, satu ketukan, dua ketukan, hingga yang ketiga kali tak kunjung ada jawaban dari sang penghuni kamar.
Aldrich yang khawatir dengan Clara akhirnya memberanikan diri memutar handel pintu, seketika matanya terbelalak saat melihat pemandangan yang tak biasa dimatanya. Clara mengenakan tanktop dan belahan dikedua dadanya begitu jelas terlihat, meski masih memakai calana formalnya, namun bagian atasnya terpampang nyata, membuat sisi ke lakilakiannya bangkit.
"Ahh." Kesadaran Aldrich kembali dan segera menutup pintu tanpa melangkahkan kakinya masuk.
Aldrich mengatur nafasnya yang tengah memburu, ia heran dengan perasannya. Dulu Aldrich sering melihat Metha dengan lingerie sekkssii, pernah juga ia mendapati Metha tidur tanpa mengenakan apapun kecuali segitiga pengamannya, namun dulu Aldrich tidak pernah tergoda meski Metha menggodanya sekalipun. Tidak seperti saat ini, Aldrich merasa hanya karna melihat Clara tertidur dengan tanktop yang dikenakannya membuat sesuatu menegang didalam sana.
"Bos, Bos kenapa?" Tanya Joni yang kebetulan lewat dan mendapati Aldrich tengah mematung.
"Jon, benar kata netizen. Istri orang lebih menggoda." Gumam Aldrich sambil menatap pintu kamar Clara yang tertutup.
__ADS_1
***