
"Apa pria itu ayah dari bayi yang dikandung adiknya Jidan?" Tanya Rania bergumam.
"Bukan!!" Tegas Alaska dan Rania langsung menatap heran pada Alaska.
Alaska yang menyadari sedikit berbicara keras pada Rania segera meminta maaf. "Maaf, Ran.. Bukan maksud aku untuk...." Kata Alaska yang bingung ingin bicara apa.
Rania tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa, Al." Jawabnya.
Gibran dan Jihan segera menuju parkiran untuk kembali ke kantor, namun dipintu keluar mereka berpapasan dengan Alaska dan Rania yang juga akan keluar.
Jihan mengusap perutnya kala sang calon bayi memberikan reaksi dengan cara menendang perut Jihan seolah ia tahu jika sang Ayah ada didekatnya.
Jihan hanya menatap dingin pada Alaska. Sementara Gibran tetap menyapa Alaska.
"Senang bertemu dengan anda, Pak Alaska." Sapa Gibran.
"Anda disini bersama Jihan?" Tanya Alaska basa basi namun pandangannya tertuju pada perut Jihan yang sudah membuncit. Entah mengapa ada perasaan ingin mendekatkan dirinya pada perut Jihan namun tentu saja Alaska menahannya.
Gibran mengangguk, "Nemenin bumil makan siang." Jawabnya sambil sedikit tertawa.
"Gab, ayo kita kembali ke kantorku, Jidan pasti sudah menunggu." Ajak Jihan.
Gibran tersenyum dan mengangguk, lalu melihat kembali Alaska, "Maaf Pak Alaska, saya dan Jihan permisi dulu." Ucapnya santun lalu berjalan melewati Alaska dan Rania.
Saat menuruni anak tangga didepan pintu restoran, Gibran dengan sabar menuntun Jihan karna Jihan sedikit kesulitan dengan perutnya yang sudah membuncit.
"Terimakasih." ucap Jihan tulus pada Gibran.
Alaska melihat tak suka pada interaksi Jihan dan Gibran, ia memalingkan wajahnya kearah lain saat wajah Gibran bahkan terlihat dekat dengan wajah Jihan.
Raniapun memperhatikan hal itu, ia mengingat saat Alaska belum kehilangan sebagian ingatannya, Alaska menatap Jihan dengan tatapan penuh cinta.
"Al.. Kapan kau akan mengajakku bertemu dengan kedua orang tuamu?" Tanya Rania.
"Daddy tidak mengijinkan aku menikah jika sebagaian ingatanku yang hilang belum kembali." Jawab Alaska.
"Tapi dokter bilang trauma di kepalamu bisa saja membuatmu tidak bisa mengingatnya lagi, Al." Rania mencoba mengingatkan hasil rekam medis Alaska.
Alaska mengerdikan bahunya.
"Kalau begitu kita putus saja, aku akan kembali ke Inggris dan meneruskan karirku." Kata Rania mengancam.
Alaska menoleh sekilas kearah Rania. "Jangan dong sayang. Nanti aku bicarakan lagi dengan Mommy, ya." Bujuk Alaska.
Alaska kembali kekantor setelah mengantar Rania ke apartemennya.
Ia melihat Clara yang juga berada dikantornya untuk mengunjungi Aldrich.
"Mom.." Panggil Alaska.
__ADS_1
"Hei, Al. Dari mana?" Tanya Clara.
"Makan siang bersama Rania." Jawab Alaska.
Clara hanya tersenyum tipis, Alaska mengantarkannya hingga keruangan Aldrich, dilihatnya sang Daddy yang tengah melamun.
"Dad.." Panggil Clara.
Aldrich melihat kearah istrinya kemudian tersenyum.
Joni masuk dengan membawa bingkisan kue dan puding.
"Tuan, maaf. Keluarga Tuan Davan menolaknya lagi." Kata Joni.
Aldrich menghela nafas kemudian Menganggukan kepalanya.
"Bawa keluar, bagikan dengan para pegawai." Ucap Aldrich yang diangguki oleh Joni.
Clara sangat mengetahui jika Aldrich tengah bersedih dengan berbagai macam penolakan yang Davan lakukan.
Alaska pun melihat hal itu dan semakin besar rasa bersalahnya.
"Kau lihat kan, Al? Perbuatanmu menghancurkan persahabatan Daddy dengan Om Dav." Kata Aldrich pelan namun terlihat frustasi.
"Dad.." Panggil Clara mencoba menenangkan.
"Davan benar benar ingin memutuskan hubungan dengan keluarga kita, Mom. Kau tau sendiri kalau Davan adalah sahabatku." Ucap Aldrich.
Aldrich menggelengkan kepalanya, "Papap akan sangat marah jika tau apa yang diperbuat oleh anak kesayanganmu, Mom. Menghina cucu dari sahabatnya sendiri dan itu tidak termaafkan." Kata Aldrich.
Alaska hanya diam karna ia mengakui jika dirinya memang keterlaluan.
"Al, kau belum pernah sama sekali mengunjungi Beni. Dia adalah asistenmu meski kau tidak mengingatnya. Hormati dan hargaialah Joni karna Beni yang adalah anaknya mengalami kecelakaan bersamamu." Kata Aldrich yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Alaska.
"Iya, Dad. Nanti Al ajak Rania untuk mengunjungi anak Om Joni." Jawab Alaska.
"Apa harus dengan kekasihmu itu?" Tanya Aldrich ketus.
"Dad, cobalah untuk menerima Rania. Alaska akan menikahi Rania." Kata Alaska sedikit berani.
Aldrich tersenyum sinis. "Menikah?" Tanyanya sinis. "Sebelum ingatanmu pulih, Daddy tidak mengijinkanmu menikah dengan dia." Tegas Aldrich.
Alaska menghela nafas, "Suka tidak suka. Alaska akan tetap menikahi Rania." Kata Alaska keras kepala.
Aldrich memijat pangkal hidungnya, sementara Clara hanya memutar malas bola matanya.
"Nanti malam Al akan membawa Rania untuk makan malam dirumah." Kata Alaska lagi yang tidak mendapat tanggapan dan juga jawaban dari kedua orang tuanya.
Sementara Jihan, ia kembali melamun setelah pertemuannya dengan Alaska di restoran. Jihan merasa sakit hati karena hubungan Alaska dengan Rania terus berlanjut dan Alaska melupakan janjinya yang akan bertanggung jawab pada bayi yang dikandung Jihan.
__ADS_1
"Bolehkah Mommy membenci Daddy mu, Nak?" Tanya Jihan sambil mengusap ngusap perutnya.
Sepulang kerja, Jidan membawa Jihan untuk memeriksakan kandungan, Jidan slalu siaga mengantar Jihan untuk kontrol kandungan setiap bulannya.
"Sudah keliahatan jenis kellamminnya, Dok?" Tanya Jidan antusias.
Dokter mengangguk, "Perempuan." Jawab dokter.
Jidan tersenyum lebar. "Aku benar benar tidak ada saingan." Katanya dan Jihan tertawa.
"Perkembangannya bagus, berat badannya normal, semuanya bagus." Ucap Dokter menyudahi pemeriksaannya.
Jidan dan Jihan keluar dari ruangan dokter, seperti biasa Jihan akan mengunjungi Beni setiap kali habis memeriksakan kandungannya.
Namun tidak disangka saat ingin menaiki lift untuk menuju lantai teratas, Jihan bertemu kembali dengan Alaska yang menggandeng erat tangan Rania.
Jihan mengeratkan pegangannya pada lengan Jidan dan Jidan tau itu.
"Ada aku, dia tidak akan berani macam macam padamu." Ucap Jidan menenangkan.
Jidan menatap sinis Alaska sementara Rania menatap Jidan penuh damba.
"Jid..." Panggil Rania saat pintu lift tertutup.
Jidan bergeming.
"Jid.. Apa kabarmu?" Tanya Rania.
Jidan tersenyum sinis. "Ran, aku tidak lupa ingatan seperti Alaska. Jangan berbasa basi denganku." Ucapnya penuh dengan sindiran.
"Jid.." Kini Alaska yang memanggil Jidan.
Jidan menatap tajam Alaska.
"Jid, aku minta maaf." Kata Alaska pada akhirnya.
Namun Jidan tidak menjawab dan keluar dari lift saat lift terbuka.
Alaska menghela nafas dan Jidan menghentikan langkahnya. "Kita tidak pernah saling mengenal, jangan pernah menyapaku." Ucapnya lalu meninggalkan Alaska dan Rania.
"Aku mau masuk sendiri, Jid." Kata Jihan dan Jidan menyetujuinya.
Seperti biasa, Jihan mengajak bicara Beni. Menceritakan soal kandungannya yang berjenis kellammin perempuan. Jihan juga menyemangati Beni untuk segera bangun dan membantunya memberi kesaksian meski hasil akhir tak pernah Jihan harapkan.
Jidan segera menghampiri Jihan saat Jihan keluar dari kamar perawatan Beni. "Sudah?" Tanyanya yang diangguki oleh Jihan.
Sementara itu, Alaska masuk seorang diri ke ruang perawatan Beni karna Rania enggan menemani. Alaska menatap aneh pada Beni yang terbaring lemah, hatinya tiba tiba saja merasakan tak karuan, sekelebat potongan ingatan yang hilang menyelinap masuk meski hanya sesaat.
"Apa dulu kita benar benar dekat?" Tanya Alaska lirih.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa tidak asing denganmu?" Tanya nya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...