
"Aku akan merindukanmu." Kata Jidan lalu memeluk Jihan.
"Jangan telat makan, Jid. Dan jangan terlalu banyak bergadang." Ucap Jihan didalam pelukan Jidan.
Jidan mengendurkan pelukannya. "Kau juga jangan terlalu sibuk bekerja. Beritahu aku jika Alaska menyusahkanmu." Kata Jidan yang diangguki oleh Jihan.
Jihan beralih pada Gibran. "Jangan macam macam disana, Gab. Atau akan aku rontokkan gigimu." Kata Jihan lalu tertawa.
Gibran dan Jidan pun ikut tertawa.
"Tidak, Ji. Malah aku berharap, jika kita bertemu dua minggu lagi, sudah ada kata cinta dari dirimu, aku akan langsung melamarmu." Kata Gibran.
Jihan hanya tersenyum.
Gibran menengok kearah Jidan, "Jid, boleh aku peluk saudarimu?" Tanyanya.
Jidan mengerdikan bahunya, "Jihannya mau gak kau peluk?" Tanya Jidan balik.
Gibran menatap wajah Jihan dan terkesiap saat Jihan memeluknya terlebih dahulu. "Aku juga akan merindukan makan siang denganmu." Kata Jihan.
Gibran balas memeluknya, "Jaga dirimu, kabari aku terus." Dan Jihan mengangguk di dalam pelukan Gibran.
Jihan tersenyum saat melepas Jidan dan Gibran yang memilih pergi dengan naik kereta api, hingga kereta itu meninggalkan Jihan dan Jihan kembali ke kantor Dewantara.
"Jidan sudah berangkat?" Tanya Alaska berbasa basi saat Jihan menyerahkan dokumen ke ruangan Alaska.
"Sudah. Terimakasih sudah berbaik hati mengijinkanku mengantar Jidan." Kata Jihan.
"Hubunganku dulu dengan Jidan begitu baik dan dekat, tapi semenjak Jidan tau soal perjodohan itu, ia mulai menjaga jarak denganku." Alaska menghembuskan nafasnya kasar.
"Jidan hanya tidak ingin aku mendapatkan orang yang tidak tepat. Terlebih kau sudah memiliki kekasih." Balas Jihan.
"Kau tau Rania, Ji? Apa kau tau juga kisah Aku, Rania dan Jidan?" Tanya Alaska.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Bukan urusanku."
"Apa kau tau alasan Jidan ke Jogja?" Tanya Alaska.
"Manajemen salah satu hotel disana sedang tidak beres." Jawab Jihan apa adanya, itu yang sering dikatakan oleh Jidan. Jidan juga ke kota itu untuk melihat rumah masa lalu mereka yang sudah Jidan beli dan akan sedikit direnovasi untuk ia berikan pada Billa. Namun hal ini tidak ada yang tau terkeculi Jihan.
"Jidan mencari cinta masa kecilnya." Kata Alaska.
Jihan mengernyitkan dahinya. "Cinta masa kecil?" Tanya Jihan, ia takut salah dengar.
Alaska mengangguk. "Jidan pernah menyukai seorang wanita yang katanya pernah baik padamu. Entah siapa namanya, dia tak pernah menyebutkan namanya."
Jihan sungguh terkejut, "Jidan tidak pernah bicara soal ini padaku."
"Karna Jidan hanya ingin memastikanmu bahagia, baru dia akan mengejar kebahagiaannya sendiri." Jawab Alaska.
__ADS_1
Jihan terdiam,
"Ji, Jidan takut aku menyakitimu. Padahal Jidan juga tau jika hubunganku dengan Rania tidak baik." Alaska menjeda kalimatnya. "Rania yang saat itu berstatus kekasihku, Dia menyukai Jidan. Namun Jidan hanya acuh dengan alasan tidak menyukainya."
"Jidan bilang padaku, dia akan mencari wanita masa kecilnya."
Jihan hanya bisa diam, ia baru mengetahui jika Jidan memiliki perasaan terhadap seorang wanita.
"Jidan takut, jika aku menikah denganmu itu karna aku ingin balas dendam karna Rania yang menyukai Jidan. Padahal meski dulu aku belum mencintaimu, tapi aku tidak ada niatan menyakitimu, Ji. Aku yakin perjodohan itu akan berhasil." Kata Alaska.
"Kak, aku sudah ada Gibran. Kakak juga masih bersama Rania. Tolong jangan dibahas lagi. Aku tidak ingin menyakiti Gibran, dia pria yang baik untukku." Kata Jihan.
Alaska hanya diam, Alaska memang sudah menyelidiki soal Gibran, berharap menemukan kejelekan di diri Gibran sebagai kelemahannya. Namun Alaska tidak menemukan hal itu, Gibran benar benar pria yang baik dan juga santun, Gibran tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita, sungguh pria yang langka di jaman yang sudah seba canggih ini.
Jihan kembali keruangannya dan duduk di kursi kerjanya, Beni memperhatikan raut wajah Jihan yang terlihat memikirkan sesuatu.
"Ji.. Kenapa lagi?" Tanya Beni.
Jihan menghela nafas, "Hanya lelah saja."
"Kalau begitu ajukan cuti, kau belum pernah mengajukan cuti." Ucap Beni.
"Aku sudah mengajukannya, tapi untuk 2 minggu lagi, aku akan menyusul Jidan ke Jogja."
Beni mengangguk, "Bagus kalau begitu, Karna minggu ini kita akan terbang ke Bali untuk meninjau proyek disana."
"Kau harus ikut, karna disana juga kita akan menghadiri seminar pengusaha muda, kau bisa banyak melobi calon klien disana." Balas Beni.
Jihan mengangguk, "Baiklah.. Aku akan ikut."
**
Kini.. Mereka bertiga berada di Bali. Menempati Villa milik keluarga Erick yang masih terawat.
"Jam berapa kita akan keluar?" Kata Jihan.
"Besok pagi saja, Ji." Ucap Alaska.
Jihan nengangguk, "kalau begitu sore ini free ya? Aku mau jalan jalan disekitar pantai." Kata Jihan.
"Iya, bersenang senanglah, Ji. Aku akan menemanimu nanti." Balas Alaska.
Sore harinya..
Mereka berjalan jalan bersama, dan duduk didekat pantai sambil menikmati angin sore dan kelapa muda. Beni pun ikut bergabung bersama Alaska dan Jihan.
"Ji.. Dari tadi aku perhatikan kamu diam aja? Sakit?" Tanya Beni.
Jihan menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mengingat masa kecilku dan Jidan." Kata Jihan lalu tersenyum dan Alaska memperhatikan itu.
__ADS_1
"Aku dan Jidan tidak pernah menyangka, jika kami mempunyai Ayah yang sangat kaya. Padahal dulu, untuk jajan saja atau sekedar ingin makan telur, kami berjualan souvenir dipinggir jalan."
"Kau dan pak Jidan dulu adalah anak anak yang kuat, Ji." Puji Beni.
"Kami slalu saling menguatkan satu sama lain, Bang Ben." Balas Jihan.
"Kau disini, gadis barbar?" Teriak seorang wanita yang ternyata adalah Rosa.
Jihan berdiri dan membalas tatapan sengit Rosa. "Mau apa kau?" Tanya Jihan tak gentar.
Rosa melihat kearah Beni dan Alaska yang masih duduk. "Ternyata kau benar ja*lang ya." Rosa tertawa. "Kau ditemani oleh pria pria yang membayarmu. Apa Gibran tau ini?"
Plakk..
Jihan menampar Rosa dengan kencang.
Arghhh..
Jihan menjambak rambut Rosa.
Alaska dan Beni segera berdiri. "Ji, jangan!!" Kata Alaska.
"Biarkan saja, Kak. Aku harus merobek mulut wanita ini, bila perlu akan ku cabuti bulu mata palsunya satu persatu." Kata Jihan Emosi yang membuat Rosa ketakutan.
"Lepas, Ji." Kata Alaska lagi.
Jihan melepaskannya dengan kasar lalu Rosa terjatuh diatas pasir pantai.
"Wanita gila!!" Pekik Rosa.
"Nyalimu besar juga berani mendatangiku seorang diri." Kata Jihan.
"Aku akan membalasnya, Ji. Lihat saja!!" Ancam Rosa.
"Aku akan menunggu." Kata Jihan menantang.
Rosa pergi dengan rambut yang acak acakan dan bekas tamparan dipipinya.
"Siapa dia, Ji?" Tanya Alaska.
"Musuhku sedari kecil, entah mengapa aku bertemu dengan dia disini." Jawab Jihan tak bersemangat.
Rosa memang tengah berlibur di Bali, ia pergi bersama teman temannya untuk bersenang senang. Rosa juga tak menyangka jika ia bertemu dengan Jihan di pulau ini.
Rosa memikirkan rencana jahat yang akan ia lakukan pada Jihan demi membalas dendamnya dan merebut Gibran kembali.
"Lihat saja gadis barbar. Aku akan menghancurkanmu!!" Gumam Rosa saat melihat Jihan dari kejauhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1