
Davan memikirkan perkataan Aldrich untuk mendekati Jidan dan Jihan secara perlahan, merebut hatinya, kemudian baru memberanikan diri bertemu dengan Billa.
Aldrich memberitahu Davan, Jika Jidan tumbuh menjadi anak yang krisis akan kepercayaan. Keadaan juga membuat Jidan bersikap dewasa sebelum waktunya.
Maka dari itu, Davan harus bisa merebut hati kedua anaknya sebelum mengakui dirinya sebagai Ayah didepan kedua anaknya.
Hal itupun didukung oleh Ghea, Ghea membenarkan untuk mendekati Jidan dan Jihan secara perlahan, setelah itu baru bertemu dengan Billa.
Untuk sementara, Davan akan stay di Jogja sampai ia bisa membawa istri dan anak anaknya pulang ke Jakarta.
Begitupun Aldrich dan Clara yang terpaksa stay diJogja hingga kondisi Alfika, Putri ketiga Aldrich dan Clara memungkinkan untuk dibawa pulang. Sementara Ghea sudah kembali bersama Alaska karna Alaska harus kembali bersekolah.
Davan memakai pakaian kasual dan mengendarai mobilnya menuju sebuah sekolah dasar tempat dimana JJ bersekolah. Ia berdiri di depan gerbang untuk menunggu JJ, dan benar saja, setelah satu jam menunggu JJ keluar dari gerbang sekolah.
"Hei.." Panggil Davan pada Jidan dan Jihan.
JJ menoleh pada sumber suara.
"Bapak itu, Jid." Bisik Jihan.
"Bapak sedang apa disini?" Tanya Jidan.
"Aku kesasar disini, cari orang untuk tanya tanya dan melihat kalian." Jawab Davan beralasan.
"Memang Bapak tidak memakai Maps?" Tanya Jidan yang memang kritis.
"Ponselku lowbat." Kata Davan. "Bisa kalian mengantarkanku hingga kehotel?" Tanya Davan.
Jidan maju selangkah didepan Jihan, "Maaf Om, kami tidak bisa mengantar orang asing." Kata Jidan.
Hati Davan terasa perih mendengar putra yang slalu ia cari menyebutkan dirinya adalah orang asing, Davan pun melihat Jidan yang seolah melindungi Jihan dari orang asing, dan memang Jidan terlihat seperti orang yang krisis akan kepercayaan.
"Jid, Bapak itu sepertinya orang baik." Bisik Jihan.
"Tidak, Ji. Ingat kata Ibu, kita tidak boleh pergi dengan orang asing." Kata Jidan mengingatkan.
Davan tersenyum, ia bangga karna Billa mengajari putra dan putrinya untuk bisa menjaga diri.
Bagaimana jika kita berjalan kaki saja?" Kata Davan tiba tiba. "Tidak mungkin aku menculik kalian ditempat yang ramai, dan sepanjang trotoar itu sangat ramai." Kata Davan lagi.
Jidan dan Jihan saling melihat. "Jid bukankah kata Ibu, kita wajib menolong orang yang sedang kesulitan?" Tanya Jihan.
Jidan mengangguk. "Baiklah." Kata Jidan akhirnya. "Lalu bagaimana dengan mobil Bapak?" Tanya Jidan.
"Biar nanti aku suruh petugas hotel membawa mobilku kesini." Jawab Davan dan Jidan pun mengangguk.
Mereka mulai berjalan dan menyebrang, ingin rasanya Davan meraih tangan tangan mungil itu, namun ia takut jika sampai JJ tidak merasa nyaman.
"Jid, kita kan melewati pasar, apa kita tidak sekalian saja membeli sepatu?" Kata Jihan pada Jidan.
__ADS_1
"Iya, nanti didepan pasar sudah dekat dengan hotel Bapak itu, kita bisa berpisah disana, jawab Jidan yang diangguki oleh Jihan.
Davan mendengar pembicaraan mereka. "Didalam pasar ada apa saja?" Tanya Davan yang memang tidak pernah tau isi pasar.
Jihan menoleh kebelakang, dimana Davan berjalan percis dibelakangnya.
"Banyak, Pak. Disana banyak yang jualan baju batik, dan oleh oleh khas kota ini." Jawab Jihan.
"Boleh aku ikut? Aku ingin berjalan jalan disini tapi takut kesasar lagi." Kata Davan. Hemm atau bagaimana jika kalian bekerja menjadi pemandu wisata untukku. Kalian mengajakku berkeliling dan aku akan membayar kalian 100ribu sehari." Kata Davan menawarkan.
Jidan dan Jihan menghentikan langkahnya lalu mereka saling menatap.
"Berapa lama Bapak disini?" Tanya Jidan yang mulai tergiur dengan tawaran Davan.
"Mungkin satu minggu. Bisa juga lebih jika aku masih betah disini." Kata Davan santai.
Jidan tampak berpikir, Jika dimulai dari esok sampai sabtu, maka ia akan mendapatkan uang sebesar 500ribu rupiah.
"Tapi kami sekolah, Pak." Kata Jidan.
"Tidak masalah, kalian kan sekolah hanya sampai jam 11, siangnya kalian mengantarku jalan jalan sampai sore." Ucap Davan.
"Ji, bagaimana menurutmu?" Tanya Jidan.
"Berapa yang akan kita dapat, Jid? Lebih besarkah dari pada kita harus berjualan souvenir?" Tanya Jihan.
"Besar sekali itu, Jid. Kita bisa membeli perlengkapan sekolah bahkan tas baru." Ucap Jihan.
"Tidak, Ji. Uangnya untuk beli sepedah bekas untuk Ibu saja, biar Ibu tidak lelah harus berjalan kaki terus saat bekerja." Kata Jidan.
Deg,
Hati Davan terasa perih seperti disayat sayat saat mendengar percakapan kedua anaknya yang ingin membelikan sebuah sepeda untuk ibunya, meski itu sepeda bekas.
Davan merasa tidak berguna karna membiarkan Billa berjuang sendirian. Jika saja Davan tidak mengingat ucapan Aldrich untuk menahan diri hingga bisa merebut kedua hati anaknya itu, mungkin Davan sudah meraih kedua anaknya kedalam pelukannya dan mengucapkan beribu maaf padanya.
Tanpa terasa Davan meneteskan air mata, hal itu menarik perhatian Jihan dan Jidan.
"Bapak kenapa?" Tanya Davan.
Davan berjalan kearah kursi yang tersedia di sepanjang trotoar, lalu menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Bapak sakit?" Tanya Jihan.
Davan mendongakan wajahnya melihat wajah Jihan yang berdiri didepannya.
"Aku tidak apa apa, aku hanya merindukan anak anakku." Kata Davan.
"Memang dimana anak anak Bapak?" Tanya Jidan yang seolah ingin tau.
__ADS_1
"Istri dan anak anaku sedang marah padaku, hingga mereka pergi meninggalkanku." Kata Davan tersenyum.
"Memang apa salah Bapak?" Tanya Jihan.
"Ji. Tidak boleh seperti itu, tidak sopan." Kata Jidan mengingatkan.
Davan tersenyum, sungguh ia tidak menyangka Billa bisa membesarkan anak anak mereka dengan sangat baik.
"Kalian mulai saja hari ini, Aku ingin tau pasar disini." Kata Davan.
Jidan dan Jihan mengangguk. "Baiklah, Pak."
Mereka berjalan bersama, sesekali Jihan bercanda dengan Jidan dan mereka beberapa kali terlihat saling kejar mengejar.
Hingga mereka melewati restoran cepat saji belogo M berwarna kuning dan merah.
"Jid, nanti uangnya cukup atau tidak jika kita membeli makanan disitu." Kata Jihan sambil menunjuk restoran cepat saji itu.
"Kau mau itu, Ji?" Tanya Jidan.
"Aku ingin merayakan ulang tahun disana seperti Rosa, tapi pasti mahal, Jid." Kata Jihan.
"Bagaimana jika nanti kubelikan burger untukmu saja, Ji. Kata Teguh burger disitu enak." Ucap Jidan.
"Kau akan membelikanku, Jid?" Tanya Jihan.
"Semoga aku mendapatkan sepeda yang murah tapi bagus untuk Ibu, jika ada sisanya kubelikan burger sebagai hadiah ulang tahunmu nanti." Kata Jidan.
"Nanti burgernya kita bagi dua ya, Jid. Sebagian untukku, juga sebagian untukmu." Kata Jihan terus berceloteh.
"Aku tidak mau, Ji. Bagaimana jika sebagian milikku untuk Ibu saja." Kata Jidan.
Perihh.. Itu yang Davan rasakan. Hatinya seperti ditusuk jutaan jarum bahkan seperti disayat sayat saat mendengar langsung kedua anaknya yang belum pernah sama sekali memakan burger.
"Aku lelah sekali." Kata Davan tiba tiba. "Apa masih jauh?" Tanya Davan lagi.
"Kita baru berjalan sebentar, Pak. Masa Bapak sudah lelah." Kata Jihan.
"Aku belum makan sedari pagi, Bisakah kalian menemaniku makan dulu? Aku tidak bisa makan sendirian." Kata Davan berbohong.
Jihan dan Jidan saling melirik, "Bapak akan mentraktir kami?" Tanya Jidan.
Davan mengangguk, "Biasanya makan untuk pemandu wisata ditanggung oleh pelanggannya. Kalian mau?" Tanya Davan.
Jidan dan Jihan mengangguk Kompak.
Davan tersenyum, "Kita makan burger, Come on Kids." Ajak Davan yang langsung menuju restoran cepat saji yang tadi dilewati, Jidan dan Jihan juga ikut tersenyum lalu mengejar Davan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1