BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 109


__ADS_3

Alaska melepaskan pagutannya lalu menempelkan keningnya dikening Jihan. "Ji, aku ingin... Tapi pasti Jidan akan membunuhku." Kata Alaska lirih.


Jihan semakin meremang, ia ingin menolak, tapi tubuhnya meminta sentuhan Alaska.


"Ji.. Bolehkah?" Tanya Alaska yang kini menelusuri leher jenjang Jihan.


Jihan tidak menjawab, namun ia juga tidak menolak sentuhan itu. Hal itu membuat Alaska semakin berani, ia mendorong Jihan hingga berbaring ditempat tidur. Menindihnya lalu dengan penuh naffssu menciumi bibir Jihan yang terasa manis beraromakan strawberry.


Tangan Alaska mulai membuka gaun malam Jihan, Jihan pun dengan sukarela membuka kancing demi kancing kemeja Alaska.


Mereka saling mengecap dan memberi satu sama lain dibawah pengaruh obat perangsang yang Rosa bubuhi diminuman milik Jihan.


Kini mereka sama sama polos layaknya bayi yang baru lahir, Alaska dan Jihan saling bertatapan dengan tatapan sayunya.


Sedari tadi Jihan tidak berbicara, hanya terdengar suara dessahhan kecil dari bibirnya.


"Akhh.." Jihan mencengkram kuat bahu Alaska saat merasa sesuatu mencoba menembus bagian intinya.


"Maaf, Ji.." Kata Alaska. "Aku tidak bisa menghentikannya. Hentikan aku jika kau bisa, Ji." Kata Alaska memelas namun Jihan diam saja, pengaruh obat perangsang itu sangat kuat hingga Jihan tidak bisa menolaknya.


Alaska mencobanya kembali, Jihan memenjamkan matanya kuat.. "Sakit Kak..." Rintih Jihan.


"Maaf, Ji... Maaf..." Kata Alaska lagi.


Bless..


Alaska berhasil menembus dinding mahkota Jihan. Terlihat buliran air mata keluar dari kedua sudut mata Jihan.


"Oh tuhan, Jidan benar benar akan membunuhku." Batin Alaska.


Namun perasaan itu segera ditepis, Alaska memainkan pergerakannya hingga membuat Jihan dan Alaska sama sama menikmati malam panjang yang tidak seharusnya terjadi itu.


Hingga Alaska tiba dipelepasannya dan dirinya menyadari, tidak mengenakan pengaman apapun, bagaimana jika Jihan sampai hamil? Lagi lagi Alaska menipisnya. Tentunya ia akan bertanggung jawab 100% untuk menikahi Jihan bahkan sebelum Jihan hamil.


Mereka tertidur karna merasa lelah, Jihan yang sedari tadi hanya diam masih merasakan sakit dikepalanya dan tetidur pulas.


Sementara Beni, ia kebingunan mencari Jihan dan juga Bosnya. Hingga Beni ke Villa dan tetap tidak menemukannya.


"Kemana mereka?" Batin Beni.


**


Pagi menjelang, terdengar suara isakan tangisan dari sisi ranjang. Jihan meratapi kebodohannya yang tak menolak saat Alaska menyentuhnya bahkan lebih.


Jihan mengingat percis bagaimana dirinya menerima semua sentuhan itu.


"Ji..." Panggil Alaska merasa bersalah.


"Kenapa kita melakukannya, Kak?" Tanya Jihan dalam isakannya.

__ADS_1


"Ji.. Ini diluar kuasaku, aku tidak bisa mengendalikannya. Sama dengan mu yang tidak kuasa menolaknya." Kata Alaska.


Jihan hanya terus menangis, bagaimana hubungannya dengan Gibran? Ini tak adil untuk Gibran, meski Jihan belum mencintai Gibran namun ia tidak ingin mengkhianati Gibran. Belum lagi bagaimana jika dirinya sampai hamil? Ia tidak ingin melihat Jidan sampai marah dan kecewa padanya. Jidan slalu menjaganya dan kini Jihan tidak bisa menjaga dirinya sendiri.


Belum lagi bayang bayang kekecewaan Davan dan Billa yang terus terbayang dalam pikirannya.


"Ji, aku akan tanggung jawab. Percayalah." Kata Alaska.


Jihan menggelengkan kepalanya "Aku tidak siap menyakiti Gibran." Kata Jihan.


"Tapi aku harus menikahimu, akulah yang pertama menyentuhmu." Kata Alaska dengan pandangan tertuju pada noda merah diatas sprei putih.


Jihan semakin menangis, dan Alaska memberanikan diri bergeser mendekati Jihan sambil perlahan membawa Jihan kedalam pelukannya.


Setelah suasana tenang, Alaska mau tak mau menghubungi Beni untuk membawakan pakaian ganti untuknya dan juga untuk Jihan. Alaska juga memerintahkan Beni untuk membereskan barang barang karna pesawat mereka sudah dipersiapkan untuk kembali ke Jakarta.


Beni merasa heran, namun ia tidak berani menanyakannya langsung pada Alaska maupun pada Jihan.


Sepanjang di perjalanan pulangpun mereka hanya saling diam. Tidak ada yang membuka suaranya. Bahkan hingga pesawat mendarat sempurna, Jihan dan Alaska masih tetap diam dan tak saling bicara.


Begitupun saat Jihan tiba dirumahnya dan langsung masuk begitu saja kedalam rumahnya tanpa berpamitan pada Alaska dan Beni.


"Ben.." Panggil Alaska saat mobilnya sudah melaju kembali.


"Iya Bos." Jawab Beni sambil menyetir.


"Selidiki siapa yang menaruh obat perangsang diminuman Jihan dan apa motifnya."


Beni tak sengaja menginjak rem secara mendadak, namun Alaska tidak marah.


"Apa maksud Bos?" Tanya Beni.


"Aku dan Jihan melakukan hubungan yang dilarang, Ben." Kata Alaska jujur pada Beni.


"APA??" Pekik Beni dan segerakan menepikan mobilnya dipinggir jalan.


"Ada yang menaruh obat perangsang di minuman Jihan. Jihan meminumnya sedikit dan aku pun ikut meminumnya. Lalu itupun terjadi begitu saja." Kata Alaska yang berbicara jujur dengan Beni.


"Rahasiakan ini, Ben. Dan segera selidiki." Kata Alaska.


"Apa ada yang ingin mengerjai Jihan, Bos? Bagaimana jika Jihan jatuh ditangan pria asing." Kata Beni.


"Karna itu, selidikilah Ben. Suruh anak buahmu menyelidikinya." Kata Alaska frustasi.


Sementara itu, Jihan membuka ponselnya yang baru saja diisi daya, ia melihat banyaknya pesan singkat dari Gibran yang mencemaskan dirinya. Jihan segera membalas pesannya dan mengatakan jika dirinya baru saja tiba dirumahnya.


"Maafkan aku, Gab. Maaf.." Kata Jihan sambil menempelkan ponselnya didadanya.


**

__ADS_1


Jidan meminta manager hotel untuk mengangkat Amelia menjadi housekeeping dan bertanggung jawab untuk memegang kamar dan bagian laundry Jidan selama di Jogja.


Shinta tidak bisa berkutik karna Jidan adalah pemilik hotel.


"Mel.. Kenapa kau bisa bekerja disini?" Tanya Jidan saat Amel membersihkan kamarnya.


"Temanku yang membawaku kerja disini, Jid." Kata Amel.


"Apa kau mau kerja di hotelku yang di Jakarta?" Tanya Jidan.


"Bisakah, Jid?" Tanya Amel antusias.


"Tentu saja bisa. Kamu akan mendapatkan mess disana." Kata Jidan.


Amel tampak berpikir, dirinya sudah tidak memiliki siapapun dikota ini, ia mempunyai dua kakak namun mereka juga sama sama merantau dan tidak tau kini ada dimana.


"Kenapa kau ingi menolongku, Jid?" Tanya Amel.


"Karna kamu begitu baik pada Jihan. Teman baik Jihan berarti temanku juga." Jawab Jidan.


Amel mengangguk, "Jika memang bisa, aku ingin kerja di Jakarta, Jid."


Jidan tersenyum. "Setelah urusanku selesai disini, aku akan membawamu ke Jakarta."


"Terimakasih, Jid." Ucap Amel.


**


Jihan memutuskan untuk tidak datang menyusul Jidan Gibran ke Jogja. Jihan takut tidak bisa berbohong terutama pada Jidan.


Urusan pekerjaan Gibran pun tak kalah rumit, ia mendapatkan laporan dari tim audit yang merupakan orang orang kepercayaan Jidan menemukan sesuatu hal yang janggal, yaitu beberapa transaksi mencurigakan. Hal itu membuat Gibran untuk fokus menyelesaikan urusannya terlebih dahulu di Jogja.


Jihan masuk kedalam ruangannya, ia mencoba seprofesional mungkin untuk bekerja.


Beni mengajaknya berbicara bahwa ada seseorang yang ingin menjebaknya sewaktu di Bali dengan memberikan minuman pada Jihan yang sudah dibubuhi obat perangsang.


Entah Jihan harus bersyukur atau meratapi nasibnya yang kehilangan kehormatannya ditangan Alaska. Ia pun berpikir bagaimana jika orang asing yang merenggut kehormatannya dengan paksa dan tanpa tanggung jawab.


Jihan juga tidak menyalahkan Alaska sepenuhnya, ia sadar diri bahwa pada malam itu mereka berdua tidak bisa mengendalikan diri dari efek obat perangsang itu.


"Aku harus bagaimana, Bang Ben? Siapa orang yang tega membuatku kehilangan masa depan." Kata Jihan dengan sendu.


"Kau tidak kehilangan masa depan, Si Bos kan mau tanggung jawab, Ji." Jawab Beni menenangkan.


"Lalu bagaimana dengan Gibran? Aku tak sampai hati menyakitinya." Jihan menundukan kepalanya di meja kerjanya.


"Aku masih menyelidikinya, Ji. Ini sengaja atau salah sasaran. Semua masih aku selidiki." Ucap Beni.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Kasih like dan Vote dong..


jangan lupa tulis sesuatu dikolom komentar ya..


__ADS_2