BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 43


__ADS_3

Siang hari, Aldrich dan Clara menuju rumah keluarga Fadhil, karna meskipun Zayn sedang dinas luar kota, Chelsea tetap berada dirumah mertuanya itu.


"Ishh pengantin baru, belum 24 jam jadi pengantin udah berkeliaran aja." Cibir Chelsea saat menghampiri Aldrich dan Clara diruang tamu.


"Kita kesini biar kamu gak badmood, Chel. Sampai rela deh aku gak honeymoon sama Clara." Jawab Aldrich.


Chelsea dan Clara tertawa, "Pikirannya lelaki gak jauh jauh sama honeymoon. Memang semalam gak dapat jatah, Al?" Ledek Chelsea.


"Gak dapet, Claranya lagi dapet." Jawab Aldrich ambigu namun dapat dimengerti oleh Chelsea dan Clara. "Mana Davan?" Tanya Aldrich.


"Dikamar, kamu tau kan kalo week end itu dia asik sama dunia maya nya. Kecantol cewek di sosmed kali." Kata Chelsea.


Aldrich berdiri dari duduknya. "Aku nyusul Davan dulu deh, kalian ngobrol aja."


Setelah Aldrich menyusul Davan, Chelsea dan Clara melanjutkan berbincang bincang.


"Aku kira kamu udah belah duren dan kasih kejutan buat Aldrich." Ledek Chelsea.


Clara tertawa, "Lagi diperboden, Chel. Sepertinya sahabatmu itu masih harus dikasih ujian sabar."


"Aku kira kamu dirumah orang tuamu Chel." Kini Clara mengalihkan pembicaraan.


Chelsea menggelengkan kepalanya, "Aku lebih nyaman dirumah mertuaku, Ra."


Clara mengernyitkan dahinya, pasalnya dulu dia sendiri tidak pernah nyaman saat diajak berkunjung kerumah mertuanya karna slalu dicecar soal anak.


"Kamu pasti bingung, Ra." Chelsea tersenyum. "Mertuaku itu baik sekali. Dia slalu membuatku nyaman dengan tidak pernah menanyaiku soal anak, meskipun sesekali ada obrolan kesana tapi Mama Ghea tidak pernah menekanku, menurutnya bahwa jodoh, maut dan rejaki bukan kuasa kita, termasuk soal anak. Sementara jika aku dirumah orang tuaku sendiri, Mami slalu menanyaiku soal anak, slalu menceritakan kekhawatirannya jika suamiku nanti selingkuh karna tidak memiliki anak, membuatku merasa jadi tidak nyaman." Kata Chelsea.


"Ya terkadang insecure itu datang dari keluarga kita sendiri." Clara hanya mengangguk anggukan kepalnya, "Dimana rumah orang tuamu, Chel? Jauh dari sini?" Tanya Clara


Chelsea tertawa, "Kamu lihat gak didepan rumah mertuaku ini?" Tanya Chelsea yang diangguki oleh Clara, "Itu rumah Mami dan Papiku."


"What?? Jadi kalian ini benar benar pacar lima langkah?" Tanya Clara tak percaya.


Chelsea tertawa dan mengangguk. "Pacar depan rumah." Kata Chelsea dan mereka asik tertawa berdua.


Setelah beberapa waktu, dan berbicara soal kehidupan Chelsea yang merasa betah dirumah orang tuanya itu. Clara menghela nafas,


"Senangnya punya mertua yang baik, Chel." Kata Clara sambil menerawang kekehidupan dimasa lalunya.


"Hei, tante Stevi mertuamu itu juga baik. percaya deh sama aku." Chelsea mengusap punggung Clara.


"Iya, Aku bisa merasakan kebaikan Mama Stevi. Hanya saja aku masih trauma jika ditanya soal anak."


Chelsea mengangguk, "Ya, aku juga tidak mengerti kenapa kadar berhasilnya suatu rumah tangga slalu dilihat dari sudut pandang soal anak."


"Kamu merasakan beban itu Chel?" Tanya Clara.

__ADS_1


Clara mengangguk, "Jujur aku sedikit takut akan ucapan Mamiku. Aku takut Kak Zayn selingkuh hanya karna aku tak kunjung memberinya anak."


"Apa suamimu pernah menekanmu soal anak?" Clara semakin tertarik mendengarkan cerita Chelsea.


"Tidak pernah, Ra. Malah Kak Zayn slalu menguatkan aku."


"Lalu, apa yang kau takuti?" Tanya Clara lagi.


"Aku sedang jenuh, Ra. Aku berpikir karna tak kunjung memiliki anak dariku, Kak Zayn menyibukan dirinya dengan pekerjaan."


Clara menatap wajah sedih Chelsea. "Aku yakin suamimu orang yang baik, Chel. Jika kamu merasa ia kurang membagi waktu, bicaralah dari hati ke hati dengannya."


Chelsea merasa senang karna kini ia mendapat teman wanita yang bisa mengerti dirinya. Karna setelah menikah dengan Zayn, Chelsea dengan sendirinya memberi batasan pada Davan dan Juga Adrich untuk bercerita semua masalahnya, tapi kini, ia mempunyai teman bicara yang bisa menguatkannya.


Malam hari,


Clara baru saja membersihkan dirinya dan segera menyusul Aldrich keatas tempat tidur.


Aldrich yang sedang fokus melihat laporan yang dikirim oleh Joni diponselnya langsung membentangkan satu tangannya pada Clara agar Clara kembali masuk kedalam dekapannya.


"Al..." Panggil Clara didalam dekapan Aldrich.


"Hem.."


"Nanti aku masih kerja jadi sekertaris kamu, kan?" Tanya Clara.


"Kamu masih ingin bekerja? Tidak ingin menemani Mama dirumah dan Jalan jalan bersamanya?" Tanya Aldrich.


Aldrich menaruh ponselnya, "Kenapa, Ra?" Tanya Aldrich.


"Aku masih malu sama Mama dan Pak Fariz." Ucap Clara pelan.


"Papap, Ra. Presdir itu sekarang Papapmu juga." Kata Aldrich.


"Iya, Al."


"Malu kenapa, hem?" Tanya Aldrich.


"Karna mereka terlalu baik sama aku."


Aldrich tersenyum, "Mereka juga orang tuamu, Ra. Dari dulu Mama selalu menyuruhku menikah, katanya biar Mama bisa punya anak perempuan seperti Chelsea."


**


Zayn pulang kerumah orangtuanya saat sudah larut, seharusnya Zayn kembali esok saat acara penutupan seminar sekaligus ramah tamah, namun Zayn memilih pulang karna merindukan Chelsea.


"Zayn.." Panggil Ghea saat ia sedang didapur untuk mengambil minum.

__ADS_1


"Mama belum tidur?" Tanya Zayn.


"Bukannya pulang besok, Zayn?" Ghea balik bertanya, pasalnya yang Ghea tahu, Zayn akan pulang esok hari.


"Zayn kangen Chelsea, Ma." Kata Zayn sambil menggaruk tengkuknya.


Ghea tersenyum mendengar penuturan anak sulungnya itu, "Jangan terlalu sibuk, Zayn. Chelsea juga butuh kamu sebagai figur seorang suami."


Zayn mengernyitkan dahinya, "Mama melihatku terlalu sibuk?" Tanyanya.


Ghea mengangguk, "Mama tidak enak sama Chelsea, dia terlalu banyak menyendiri, seolah olah sedang jenuh menjalani kehidupannya, atau mungkin rumah tangganya." Ghea menghela nafas sejenak lalu mengambil posisi duduk di kursi meja bar, "Perasaan wanita itu sensitif, Zayn. Mama tau apa yang tengah dirasakan Chelsea, Zayn. Tiga tahun menikah dan belum juga diberikan anak membuat wanita menjadi tidak percaya diri. Mama yakin kini Chelsea ada di fase itu, tengah tidak percaya diri."


"Zayn tidak pernah menuntutnya untuk segera hamil, Ma." Kata Zayn.


Ghea mengangguk, "Ya, kamu memang tidak menuntutnya, tapi bagaimana dengan lingkungan sekitarnya? Lingkungan kerja Chelsea mungkin?" Tanya Ghea. "Dia butuh support kamu, Zayn. Jangan sampai Chelsea berpikir kamu menyibukan diri bekerja karna tidak memiliki anak."


"Zayn tidak seperti itu, Ma. Zayn mencintai Chelsea tanpa menuntutnya apapun. Lagi pula kehamilan itu bukan kuasa Zayn maupun Chelsea, itu semua kuasa Allah, Ma." Kata Zayn.


Ghea menggenggam tangan putra sulungnya itu, "Mama bangga karna Zayn bisa mencintai dan mengasihi istri Zayn sendiri tanpa menuntutnya macam macam. Mama cuma berpesan sama Zayn, jadikan diri Zayn orang pertama yang Chelsea cari untuk mendapatkan rasa aman dan nyamannya."


"Zayn nengerti, Ma. Zayn naik keatas dulu ya, Ma." Zsyn mencium pipi Ghea.


"Pastikan kamu membersihkan diri dulu ya, Zayn. Asem sekali aroma tubuhmu." Ledek Ghea.


Zayn tertawa, "Asem asem gini juga Chelsea cinta sama Zayn, Ma."


Zayn berjalan dengan segera menuju kamarnya, terlihat Chelsea yang sudah tertidur dengan tasbih ditangannya, Zayn tersenyum melihatnya, Zayn tau jika Chelsea tengah banyak pikiran maka ia akan mengambil tasbih untuk menenangkan pikirannya.


Zayn segera membersihkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya menyusul Chelsea keatas tempat tidur.


Diambilnya Tasbih dari genggaman tangan Chelsea yang sudah melemas, memperlihatkan bahwa Chelsea tidur dengan sangat nyenyak.


"Apa ini?" Tanya Zayn pada dirinya sendiri saat menyentuh bagian pipi Chelsea yang terasa lengket.


"Kamu menangis?" Tanya Zayn yang tentu saja tidak terdengar oleh Chelsea.


Zayn mengecup kedua pipi Chlesea terus menerus, seraya menghilangkan jejak tangisannya, "Apa aku berbuat salah padamu? Maafkan aku." Lirihnya sambil mencium ujung hidung Chelsea.


Chelsea perlahan mengerjapkan matanya, ia melihat sang suami yang tengah menciumi pipinya bergantian. "Kak.." Panggil Chelsea dengan suara serak.


"Maaf, maafkan aku Sea." Lirih Zayn.


"Kakak kenapa? Kakak tidak ada salah sedikitpun."


Zayn menggelengkan kepalanya, "Aku membuatmu menangis, ah pasti karna kerjaanku yang banyak dan membuatmu sepi."


Chelsea membelai rambut Zayn masih lembab, "Aku merindukanmu, Kak." Kata Chelsea.

__ADS_1


Zayn tersenyum, ia segera menyesap bibir tipis Chelsea dan menunaikan hak dan kewajibannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2