BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 37


__ADS_3

Weekend ini Chelsea tengah berjalan jalan bersama Clara disebuah Mall. Chelsea sedang ditinggal oleh suaminya dinas luar kota untuk menghadiri seminar mewakili universitasnya.


"Gimana hubunganmu dengan Aldrich?" Tanya Chelsea sambil memilih makeup di sebuah counter kosmetik.


"Chel, hubunganku dengan Aldrich tidak lebih dari bos dengan sekertarisnya."


Chelsea meyenggol Clara, "Aldrich menyukaimu." Ucapnya sedikit berbisik.


Clara menghela nafas, "Aku baru resmi bercerai lima bulan, gak mungkin aku secepat itu langsung punya hubungan sama orang lain."


"Tapi kan dulu pernikahanmu hanya sebuah status, Ra." Kata Chelsea mengingatkan.


"Ya, dan kuharap kau tidak cerita detailnya pada Aldrich ya." Entah sudah berapa kali Clara mengingatkannya.


"Iya iya bawell." Kata Chelsea sambil tertawa.


"Oh iya, bulan depan anniv ku yg ke 3 sama Kak Zayn. Aku mengundangmu untuk datang ya, aku merayakannya di resort milik keluarga suamiku di Anyer. Menginap satu malam aja." Kata Chelsea.


"Aldrich ikut?" Tanya Clara.


"Tentu saja, selain dia sahabatku, Aldrich juga sepupu suamiku dan juga Davan."


Clara hanya mengangguk anggukan kepalanya.


Di dalam Mall, Clara dan Chelsea duduk disebuah kedai minuman thai tea sambil terus mengobrol.


"Chell..".Panggilan itu membuat Chelsea menoleh kearah sumber suara.


"Mami, Tante Stevi." Kata Chelsea lalu berdiri dan diikuti oleh Clara.


"Kamu disini?" Tanya Jessi.


"Iya Mi, aku sama Clara jalan jalan ngilangin penat."


"Hai Nona Clara kita ketemu lagi disini." Sapa Jessi ramah.


"Kamu kenal Clara, Jess?" Tanya Stevi.


"Pernah ketemu di butik Erlasha, tapi sekarang sudah gak bekerja lagi disana." Kata Jessi.


"Iya Nyonya, sekarang saya bekerja di DW Group." Jawab Clara sopan.


Lalu mereka duduk berempat, "Clara ini sekertarisnya Aldrich, Jess." Kata Stevi memberitahu.


Jessi hanya mengangguk anggukan kepalanya.


"Clara lain kali jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja aku Tante atau Mami juga boleh." Kata Jessi.


Clara hanya mengangguk kikuk dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaanmu, Clara? Apa putraku sering menyusahkanmu?" Tanya Stevi.


"Ah tidak, Ibu, Pak Aldrich sangat baik dengan pegawai pegawainya." Jawab Clara sopan yang akhirnya memanggil Stevi dengan panggilan Ibu karna menghormatinya sebagai istri dari bos besarnya.


"Dia cantik dan begitu sopan, sepertinya aku harus segera menjalankan rencanaku." Gumam Stevi.


***


"Pak, ini proposal yang diajukan oleh perusahaan Exelin Grup." Kata Clara seraya memberikan berkas kepada Aldrich.


Aldrich menerima lalu membacanya. "Sudah dilihat oleh Joni?" Tanya Aldrich.


"Sudah Pak, tapi Pak Joni bilang masih mau negosiasi dengan pihak Exelin."


Aldrich menganggukan kepalanya sambil fokus membaca, "Ya ini terlalu kecil keuntungannya untuk kita, mereka terlalu pelit berbagi keuntungan." Kata Aldrich tanpa melepas pandangannya pada proposal yang ia pegang.


"Bilang pada Joni, tarik ulur mereka sampai mereka merubah keuntungan yang akan kita dapatkan." Kata Aldrich lagi yang diangguki oleh Clara.


Clara undur diri setelah mendapat ijin dari Aldrich, namun saat ingin membuka pintu dan keluar dari ruangan Aldrich, pintu itu seolah terkunci dan tidak bisa terbuka.


Aldrich yang melihat kesusahan itu segera menghampiri Clara.


"Kenapa, Ra?" Tanya Aldrich.


"Pintunya gak bisa dibuka, Pak." Kata Clara seraya memutar handel pintu namun tidak mau terbuka.


"Coba sini sama aku." Kata Aldrich yang meraih handel pintu dan Clara bergeser seolah memberi ruang pada Aldrich.


"Telpon security atau teknisi aja Pak, biar ada yang kesini." Kata Clara memberi ide.


"Bentar dulu, Ra. Aku coba dulu kali bisa. Gak biasanya macet bgini." Aldrich bukan enggan menghubungi teknisi maupun security dikantornya, melainkan ia mengambil kesemapatan untuk berlama lama berduaan dengan Clara diruangannya.


"Koq panas ya, Ra." Kata Aldrich sambil mengipas ngipaskan kedua tangannya di wajahnya.


Clara melihat kearah pendingin ruangan. "Lho pak, Ac diruangan Bapak sepertinya juga mati." Kata Clara.


Mata Aldrich pun melihat kearah pendingin ruangan, "Iya, Mati juga, Ra." Kata Aldrich.


Aldrich membuka jasnya dan melonggarkan dasinya, ia juga membuka kancing bagian atas kemejanya lalu melipat pergelangan bagian tangannya hingga ke siku.


Sementara Clara juga sudah berkeringat karna suhu didalam ruangan Aldrich memang sedikit panas.


"Telpon aja Pak, bagian Teknisi." Kata Clara.


Aldrich akhirnya nenyerah, ia meraih gagang telpon namun tak ada suara sambungan. "Ra, telpon diruanganku juga mati." Kata Aldrich.


Clara meraih gagang telpon itu dan benar saja tidak ada suara nada telpon disana.


"Ponsel Bapak saja, hubungi Pak Joni." Kata Clara.

__ADS_1


Aldrich memasukan tangannya kesaku celana, namun tak menemukan apa yang dicarinya, ia juga merogoh saku di jasnya dan tidak juga menemukannya. "Sepertinya ponselku tertinggal di mobil, Ra." Kata Aldrich lagi. "Ponselmu mana, Ra?" Tanya Aldrich.


"Ponsel saya di tas, Pak. Ada dibawah meja kerja saya." Kata Clara.


"Oh My God, ada apa ini." Kata Aldrich.


Aldrich kembali meraih handel pintu dan mencoba membukanya kembali.


"Bantu tarik, Ra." Kata Aldrich dengan sedikit modus.


Clara menyimpan berkas dimeja Aldrich lalu kembali mencoba membantu Aldrich memutar handel pintu. Setekah beberapa saat Aldrich dan Clara mencoba menarik handel pintu sekuat tenaga namun pintu terbuka dengan sendirinya dan terdorong begitu saja, membuat Aldrich dan Clara terhuyung karna kehilangan keseimbangan lalu mereka berdua terjatuh dengan posisi Aldrich berada diatas Clara. Mata mereka saling bertatapan dan seolah mengunci, tanpa sadar Aldrich memajukan wajahnya dan Clara memenjamkan matanya, hembusan nafas mereka semakin hangat terasa.


"ALDRICH!!" Pekik seorang wanita yang ternyata ada Stevi.


Aldrich dan Clara sama sama terkesiap lalu melihat kearah pintu yang sudah terbuka itu, ada Stevi, Fariz dan Joni yang seolah siap menghakimi.


"Oh Tuhan, drama apa lagi ini?" Batin Aldrich saat melihat keberadaan sang Mama dan Papapnya di ambang pintu.


Clara mendorong dada Aldrich dari atas tubuhnya.


"Awshhh." Kata Aldrich sambil memegang pinggangnya. "Tega kamu, Ra." Kata Aldrich.


Sementara Clara langsung berdiri dan membenahi pakaiannya yang terlihat acak acakan.


"Maaf Pak, Bu." Kata Clara sambil menunduk.


"Aldrich, jelaskan pada Mama, kamu ngapain sekertarismu ini?" Tanya Stevi mengintimidasi.


"Gak Aldrich apa apain Mam, itu gak sengaja, tadi pintu macet dan gak bisa dibuka." Kata Aldrich.


"Kenapa gak telpon teknisi?" Tanya Fariz dengan kesal yang dibuat buat.


"Telpon di ruangan Al mati, Pap." Jawab Aldrich, "Dan ponsel Al...."


"Tuan muda, maaf ponsel anda tadi tertinggal dimobil." Sahut Joni cepat, sambil memberikan ponsel milik Aldrich kepadanya Tuannya.


Aldrich menerimanya dan mengangkat ponselnya kearah Fariz, "Tertinggal, Pap." Ucapnya singkat.


"Lalu kenapa pakaian kalian berantakan?" Stevi bertanya lagi.


"Ruangan Al pendinginnya Mati, Mam. Al tadi buka jas karna gerah dan berusaha membuka pintu." Jawab Aldrich jujur.


"Joni hubungin teknisi dan suruh cek ada masalah apa diruangan ini." Kata Fariz memberi perintah.


"Siap, Tuan." Jawab Joni. "Pasti Tuan besar akan memberiku bonus banyak." Gumamnya senang dalam hati.


Arah mata Stevi masih tertuju pada Aldrich dan Clara.


"Tapi tadi kalian seperti mau berciuman? Mama lihat sendiri." Kata Stevi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2