BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 23


__ADS_3

Aldrich mengajak Clara untuk jalan jalan di Mall, ia memang ingin mentraktir Clara dari gaji terakhirnya di Erlasha, namun Clara belum mengetahui tujuan Aldrich mentraktirnya, bahkan Clara tidak tau jika Aldrich sudah mengundurkan diri dari Erlasha.


"Makan sepuasnya, Ra. sayang nih." Kata Aldrich, pasalnya mereka makan di salah satu restoran yang memakai konsep makan sepuaskan atau all you can eat.


Clara tertawa, "Kamu mau membuatku gendut?"


Aldrich pun tertawa, "Gak kebayang deh kalo nanti ketemu kamu lagi, kamu udah gendut."


Tangan Clara yang asalnya sedang memanggang slice daging langsung terhenti, wajahnya menatap wajah Aldrich yang duduk bersebrangan dengannya. "Memang kamu mau kemana?" Tanya Clara.


"Aku resign dari Erlasha, Ra. Baru hari ini." Kata Aldrich dengan senyum yang dipaksakan.


Clara menaruh capitan diatas meja. "Al, apa ini semua karna....." Clara menggantung ucapannya.


Aldrich menggelengkan kepalanya, "Ra, tidak ada hubungannya dengan masalah itu." Kata Aldrich ambigu namun dapat dipahami oleh Clara.


"Aku sekalian mentraktirmu makan disini, selain untuk berterima kasih karna kamu sudah membawaku kerja di Erlasha, ini juga sebagai ucapan perpisahan dua orang teman." Aldrich menatap wajah Clara. "Dan juga sebagai sebuah perayaan, karna aku diterima bekerja di sebuah perusahaan, Ra." Kata Aldrich menenangkan Clara.


Namun Clara tetap merasa bersalah, ia juga merasakan kesedihan karna tidak akan menghabiskan waktu slama bekerja bersama Aldrich.


"Ra.." Aldrich melambaikan tangannya tepat didepan wajah Clara dan membuat Clara kembali pada kesadarannya, lalu mengambil capitan dan membakar slice lagi.


"Diperusahaan mana, Al?" Tanya Clara tak bersemangat.


"DW group. Aku bekerja disana." Kata Aldrich.


Clara mengangguk dan tersenyum samar, semoga kamu betah kerja disana." Ucapnya seakan tak rela.


Aldrich tersenyum, "Aku akan mentraktirmu lagi saat menerima gaji pertamaku disana." Kata Aldrich.


Clara hanya mengangguk.


"Aku akan membelikanmu eskrim tiga rasa juga, saat kita bertemu lagi nanti." Kata Aldrich lagi.


Clara tetap mengangguk.


"Ra...." Panggil Aldrich saat Clara tak kunjung menatap wajahnya.


"Clara." Panggil Aldrich lagi, namun Clara tak juga mengangkat wajahnya. Ia seakan tuli dan fokus memanggang slice daging diatas grill.


Aldrich segera menghampiri Clara dan menariknya kedalam pelukannya. Clara tak menolak, ia sungguh merasakan kenyamanan didalam pelukan Aldrich.

__ADS_1


"Aku tak ada maksud membohongimu, Al. Aku hanya merasa nyaman berteman dengamu sampai aku tidak menyadari bahwa aku belum menceritakan statusku padamu, sungguh, Al." Kata Clara sambil terisak.


Aldrich mengusap rambut sebahu Clara, ia menenangkan Clara bahwa dirinya tidak menyalahkannya. Beruntung restoran itu masih cukup sepi karna mereka berkunjung dihari kerja bukan di hari libur.


"Aku tak perduli kau istri siapa, yang jelas saat bersamaku, kau adalah milikku, Ra." Batin Aldrich.


Sejak saat itu, itulah kali terakhir, Aldrich bertemu dengan Clara.


**


Enam bulan berlalu, Aldrich menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, ia menjadi gila kerja demi mengalihkan pikirannya yang slalu mengingat Clara, wanita yang ia kenal selama tiga bulan dan wanita itu pula yang berhasil membuat dunia Aldrich teralihkan.


Sementara ditempat lain.


Clara tengah malas untuk turun dirumah ibu mertuanya.


"Turunlah, Clara. Bersikaplah seperti biasa." Kata Bisma sebelum melepas seat beltnya.


Clara memutar malas bola matanya, "Suka suka kamu saja, Mas." Kata Clara malas.


Satu satunya keluarga Bisma yang bersikap baik hanya Rissa, ia slalu menjadi penengah saat ibu nya sendiri menyudutkan Clara.


Kesabaran Clara sudah berada di puncaknya, terlebih ia akan mendapatkan periodenya dalam waktu dekat, membuat hormon Clara menjadi tidak stabil dan cenderung emosi.


"Suruh saja anak ibu menceraikanku." Sahut Clara santai.


"Clara!! bicaralah sopan pada ibuku." Kata Bisma membentak.


"Ibumu yang mulai duluan, Mas! Lagi pula aku sudah bilang, aku malas datang kesini tapi kamu terus saja memaksaku." Kesal Clara.


"Lihat istrimu itu, Bis. Tidak ada sopan santunnya sama sekali. Pantas saja tuhan tidak kunjung memberikannya anak, dia memang tidak ada pantas pantasnya menjadi seorang Ibu." Kata Intan.


Brakk


Kekesalan Clara semakin memuncak, kesabarannya pun sudah habis terkikis.


"Ibu ingin cucu?" Tanya Clara dengan emosi.


"Clara stop!!" Kata Bisma membentak.


"Cukup Mas." Clara tak kalah membentak. "Aku sudah muak dengan semua ini!!" Teriak Clara lalu Clara menatap tajam pada sang Ibu mertua. "Dengarkan aku, Bu. Bukan aku yang bermasalah, tapi putra tersayangmu itu yang bermasalah, selamanya dia tidak akan pernah memberikanmu cucu." Kata Clara geram.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Clara?" Tanya Intan tak terima.


Clara tersenyum sinis pada Intan. "Ibu bisa tanyakan pada anak ibu sendiri mengapa dia tidak akan pernah bisa memberikan ibu cucu."


Kemudian Clara menatap sinis suaminya. "Sudah selesai semua ini, Mas. Aku meminta cerai darimu, aku akan menggugatmu." Ucap Clara dingin.


"Clara, pikirkan baik baik." Sahut Rissa, kakak iparnya.


"Tidak Mbak, aku sudah lelah menjalani drama pernikahan yang Mas Bisma buat. Aku ingin bercerai darinya." Kata Clara.


"Tidak akan ada perceraian!!" Tegas Bisma.


Clara memutar malas bola matanya. "Terserah, yang jelas aku akan segera mendaftarkan gugatanku dipengadilan." Kata Clara.


Clara berjalan melewati Bisma dan Intan. Ia melangkah keluar untuk menuju kontrakannya yang satu minggu lalu baru saja ia kontrak. Clara memutuskan bercerai meski ia tidak tau harus mulai darimana. Clara pun diam diam sudah memindahkan sebagian barang barangnya ke kontrakannya yang baru, sebagian lagi ia tinggalkan dan akan ia bawa nanti.


"Bisma, apa maksudnya yang dikatakan oleh Clara?" Tanya Intan.


Bisma mengusap wajahnya kasar. "Ini semua karna Ibu terlalu menekan Clara sehingga Clara menyalahkan diriku." Kata Bisma frustasi.


"Ibu, berhentilah masuk kedalam rumah tangga Bisma dan Clara, tak cukupkah aku sebagai contoh atas kehancuran rumah tanggaku, Ibu slalu mendikte suamiku sehingga dia jengah dan berselingkuh lalu lebih memilih wanita selingkuhannya dari pada aku." Kata Rissa yang mulai berani mengeluarkan suaranya.


"Diam, Kau Rissa!!" Kata Intan.


"Bisma, kamu laki laki, dimana tanggung jawabmu? Aku sebagai Kakak kecewa padamu, dan jika aku menjadi Clara pun aku akan meninggalkanmu." Kata Rissa lalu meninggalkan Intan dan Bisma.


"Bisma, katakan pada Ibu." Tegas Intan. "Apa benar kamu yang bermasalah?" Tanya Intan.


"Aku pria normal Bu, tidak ada masalah pada diriku, itu hanya bualan Clara yang tidak ingin disalahkan terus menerus." Kata Bisma membela diri.


Bisma segera meraih kunci mobilnya, Bisma berpikir jika Clara akan pulang kerumah kontrakan mereka, Ia akan membuat perhitungan dengan Clara. Namun Bisma salah, ia tak menemukan Clara saat tiba dirumah itu, Bisma meraih ponselnya dan mendial nomer ponsel Clara, namun tak kunjung diangkat.


"Kemana kau Clara?" Geram Bisma.


Sementara itu, Clara menghubungi Chelsea untuk bertemu, ia ingin menceritakan segala permasalahannya pada Chelsea. Mereka berjanjian disebuah kafe.


"Ayolah Al, antar aku kesana." Rengek Chelsea pada Aldrich yang kini sedang berada di kantornya.


"Ya ampun Chel, aku sedang banyak pekerjaan." Kata Aldrich kesal.


***

__ADS_1


__ADS_2