
Menjelang sore Alaska memutuskan untuk pulang, namun ditengah jalan ia mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit tempat Jihan dirawat.
Alaska menuju ruang perawatan Jihan, namun saat sudah berada didepan pintu ruangan Jihan, terdengar suara tiga orang yang sedang tertawa. Alaska sangat mengenal suara itu, suara tertawa Jidan dan Jihan. Namun satu orangnya lagi, ia masih mencoba mengenalinya dan ternyata adalah suara Gibran. Alaska melihat jam dipergelangan tangannya, sudah dari empat jam yang lalu terakhir kali Gibran berpamitan akan bertemu dengan Jihan, apakah menjenguk seseorang bisa selama ini? Batin Alaska.
Alaska langsung membuka pintu yang tidak tertutup rapat itu, seketika Jidan, Jihan dan Gibran melihat kearahnya.
Jidan berdiri, "Kau kesini, Al?" Tanya Jidan.
"Aku ingin menjenguk Jihan." Ucapnya sambil menaruh parcel buah yang sempat ia beli.
Jidan mempersilahkannya meski ia masih enggan bicara dengan Alaska.
Alaska mendekati brankar Jihan.
"Ji, bagaimana kondisimu?" Tanya Alaska melembut.
"Aku baik, Kak. Besok sudah bisa pulang kerumah." Jawab Jihan.
Alaska tersenyum, senyum yang baru Jihan lihat dengan jelas. "Syukurlah." Ucapnya singkat.
"Anda masih disini, Pak Gibran?" Tanya Alaska.
Gibran berdiri. "Ya, saya masih disini karna Jihan dan Jidan adalah teman saya, Pak Alaska." Jawab Gibran.
"Al..." Panggil Jidan.
Alaska menoleh lalu menghampiri Jidan.
"Kita keluar saja, Al." Ajak Jidan.
"Lalu meninggalkan saudarimu dengan dia?" Tanya Alaska.
"Dia teman kami, dia tidak akan menyakiti Jihan. Lagi pula Gibran menyukai Jihan." Jawab jidan lalu pergi keluar kamar.
Alaska segera menyusul Jidan. "Jid.." Panggilnya.
Jidan menghentikan langkahnya saat didepan lift dan Alaska juga berhenti disebelah Jidan.
"Apa maksudmu Gibran menyukai Jihan?" Tanya Alaska.
"Jihan wanita bebas dan begitu juga dengan Gibran. Apa salahnya mereka bersama." Jawab Jidan enteng.
"Lalu bagaimana dengan perjodohan kami?" Tanya Alaska.
"Aku tidak menyetujuinya, Al. Jihan bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Jika Daddymu tetap memakasa, aku akan membawa kabur Jihan." Ucap Jidan serius.
"Aku akan membahagiakan Jihan, Jid." Kata Alaska pada akhirnya.
Jidan menatap sengit Alaska, "Kau tidak mencintai Jihan, kau hanya takut jika perjodohanmu batal maka aku yang akan menikahi adikmu." kata Jidan.
__ADS_1
"Tidak seperti itu, Jid." Ucap Alaska.
"Lalu bagaimana dengan Rania? Dia akan kembali beberapa bulan lagi. Bagaimana jika dia kembali? Kau akan mencampakkan Jihan?" Jidan terus saja berkata sesuai dengan apa yang ada didalam pikirannya.
"Aku sudah tidak berhubungan dengan Rania." Kata Alaska meyakinkan.
"Tapi kamu belum mengakhiri hubunganmu dengan Rania, pikirkan jika Rania kembali, Al." Jidan berbalik arah, ia tidak jadi memasuki lift dan kembali keruang perawatan Jihan meninggalkan Alaska yang mematung seorang diri.
Keesokan harinya, kondisi Jihan semakin pulih dan bisa keluar dari rumah sakit. Davan menjemput putri tersayangnya itu.
"Yah.." Panggil Jihan saat mereka didalam mobil.
"Hem..."
"Jika aku menolak perjodohan itu, apa Ayah akan marah padaku?" Tanya Jihan.
Davan yang duduk percis dibelakang supir, langsung menoleh kearah Jihan sementara Jihan hanya melihat jalanan melalui kaca disampingnya.
Tangan Davan terulur mengusap kepala Jihan, Jihan bergeser dan menyandarkan kepalanya di dada Davan.
"Ayah akan bicarakan ini sama Daddy, Al." Kata Davan.
"Aku mempunyai hutang budi pada Daddy Al. Haruskah aku membayarnya dengan menerima perjodohan ini?" Tanya Jihan sendu.
"Davan menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak ada hutang budi. Daddy Al tidak sungguh mengatakan hal itu, Ji." Kata Davan sambil mengusap kepala Jihan.
Dirumah, Jihan langsung disambut oleh Billa dan mengantarkannya langsung ke kamarnya.
"Jid.. Bisakah kita bicara sebentar." Kata Davan.
"Bicara saja, Yah. Ada apa?" Ucap Jidan.
"Kau marah pada Ayah, Jid?" Tanya Davan.
Jidan melihat kearah sang Ayah. "Aku kecewa pada Ayah. Ayah tidak memikirkan perasaan Jihan. Ayah lebih memikirkan perasaan Daddy Al dari pada anak Ayah sendiri." Kata kata Jidan begitu menusuk hati Davan yang terdalam. Davan menyadari jika keegoisannya akan membuat anak anaknya menjauh.
"Jika boleh memilih, lebih baik dulu kami tidak dipertemukan dengan Ayah." Kata Jidan seolah menahan rasa kecewanya.
"Jid..." Panggil Billa yang tidak tega melihat Jidan penuh dengan rasa kecewa.
"Bu, maafkan Jidan. Tapi jika perjodohan Jihan diteruskan, lebih baik Jidan membawa Jihan pergi menjauh dari keluarga ini. Terserah ibu mau ikut Jidan atau tetap bersama Ayah dan Jaff." Kata Jidan sungguh sungguh.
"Jid, semua masih bisa dibicarakan." Bujuk Billa.
"Tidak, Bu. Jika Ayah masih seperti itu, Jidan benar benar akan membawa Jihan. Tanpa Ayah dulu juga Jidan bisa menjaga Jihan." Kata Jidan keras kepala.
"Jid, maafkan Ayah.. Tolong jangan pergi kemanapun. Ayah menyayangi kalian." Kata Davan.
"Kalau begitu hentikan perjodohan ini, silahkan ayah pilih, aku dan Jihan atau persahabatan Ayah dengan Daddy Al." Kata Jidan tegas.
__ADS_1
Davan hanya diam tidak menjawab, ia menyayangi kedua anaknya, namun ia juga tidak enak pada Aldrich, terlebih ia juga berpikir jika Alaska adalah pilihan yang tepat untuk Jihan.
"Ayah sudah memiliki Jaff, aku rasa Ayah tidak akan akan merasa kehilangan aku dan Jihan, terlebih Ayah pernah tidak ada dihidup kami, pasti Ayah akan terbiasa kembali tanpa kami."
"Ayah akan membatalkannya, Jid. Berilah Ayah waktu. Ayah teramat sangat menyayangi kalian, Ayah pernah kehilangan kalian, Ayah tidak ingin lagi kehilangan kalian, kalian separuh hidup Ayah, tolong berilah Ayah waktu sedikit saja." Kata Davan mengeluarkan isi hatinya.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang yang ternyata adalah Fadhil yang datang bersama Ghea untuk menjenguk Jihan kerumah mereka.
"Papa.." Davan sedikit terkejut.
"Kalian bertengkar?" Tanya Fadhil.
Billa langsung menghampiri Ghea dan Fadhil lalu mencium punggung tangannya bergantian.
"Duduk dulu, Pa, Ma..." Ajak Billa.
Fadhil dan Ghea duduk disofa, namun wajah ketegangan diwajah Davan masih terlihat."
Fadhil menanyakan permasalahannya, lalu Jidan menceritakan semua keluh kesahnya.
"Jidan tidak mau Jihan dijodohkan dengan Alaska, Kek." kata Jidan dengan sendu.
Fadhil menimbang semua perkataan Jidan, Fadhil juga mengingat pesan terakhir Erick dan Diana untuk menjodohkan kedua anak dari Aldrich dan Davan."
"Panggil Aldrich kesini." Titah Fadhil.
"Ma, hubungi juga Fariz dan Stevi." Kata Fadhil pada Ghea.
Davan menghubungi Aldrich dan Ghea menghubungi Fariz untuk segera datang kerumah Davan.
Dan disinilah mereka berada, dua keluarga bersaudara tiri namun slalu akur itu akhirnya berkumpul.
"Amanat itu memang harus dijalankan jika yang diberi amanat menyanggupinya." Kata Fadhil memulai pembicaraannya.
"Namun masalah perjodohan itu bukanlah hal yang sepele, menikah itu adalah ibadah yang paling panjang, bagaimana bisa berjalan jika salah seorangnya tidak bisa menjalankannya?"
"Tapi, Mas. Bagaimana dengan amanat dari Ayah Erick?" Tanya Fariz. "Alaska sudah bersedia untuk menikahi Jihan."
Fadhil mengangguk.
"Tapi Alaska tidak mencintai Jihan, Alaska sudah memiliki kekasih bernama Rania. Bahkan Bang Rayyan sendiri juga tau." Kata Jidan.
"Jid.." Billa menenangkan Jidan.
"Tidak apa, Bill. Wajar Jidan seperti itu, dia melindungi adiknya. Papa bangga pada anakmu itu, Bill. Kau mendidiknya dengan sangat baik." Kata Fadhil.
"Perjodohan ini resmi saya batalkan. Tapi..." Fadhil menjeda kalimatnya.
"Biarkan Alaska dengan Jihan terus kerja bersama hingga mereka menjalani hubungan dengan sendirinya, jika memang mereka berjodoh, maka mereka akan bersatu dengan sendirinya. Jangan ada campur tangan dari pihak manapun. Biarkan Alaska dan Jihan yang nanti menjalaninya. Jika nanti Alaska berjodoh dengan kekasihnya itu memang sudah takdirnya." Ucap Fadhil dengan bijak.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...