BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 114


__ADS_3

"Jika memukuliku bisa membuat Jihan kembali padaku, aku rela Jid." Kata Gibran"


Jidan menghentikan pukulannya. "Apa maksudmu?" Tanya Jidan.


Gibran mengusap darah di sudut bibirnya, "Jihan memintaku datang ke Jakarta untuk membicarakan sesuatu. Awalnya aku mengira Jihan akan mengatakan mencintaiku, namun ternyata Jihan memutuskan hubungannya denganku." Kata Gibran sambil tertunduk.


"Mengapa Jihan ingin memutuskan hubungannya denganmu? Apa karna kau menghamilinya duluan hingga membuat Jihan kecewa, hah?" Kesal Jidan.


"BUKAN AKU YANG MENGHAMILI JIHAN, JID. SUMPAH BUKAN AKU!!" Teriak Gibran pada akhirnya.


"LALU SIAPA??" Tanya Jidan tak kalah berteriak.


"Aku tidak tau, Jid. Jihan tidak bilang. Jihan hanya bilang sesuatu terjadi diluar kuasanya." Kata Gibran. "Bahkan aku tetap ingin menikahi Jihan meski dengan kondisi Jihan seperti ini. Tapi Jihan tidak ingin aku mempertanggung jawabkan apa yang tidak aku perbuat."


Jidan menghembuskan nafas kasarnya lalu terduduk dilantai bersama Gibran. "Siapa pelakunya?" Tanya Jidan.


"Jihan tidak mengatakannya padaku, Jid." Ucap Gibran.


"Kau tau, Gab. Aku gagal menjaga Jihan. Aku gagal Gab. Gagal." Jidan menenggelamkan kepalanya dikedua lututnya yang ditekuk, ia menangis mengeluarkan sesak di dadanya.


Gibran pun tak bisa berbuat banyak, ia juga merasa menyesal karna keputusannya untuk kembali ke Jogja dan berjauhan dengan Jihan.


Sementara dirumah Davan. Davan masih terlihat sedikit frustasi dan Billa juga hanya menangis.


Clara membantu menenangkan Billa. Fadhil terlihat shock karna hal ini, Ghea membawanya ke dokter untuk memeriksakan kesehatan jantungnya.


"Papa kecewa padamu, Dav. Kau tidak bisa menjaga putrimu sendiri." Kata Fadhil sebelum meninggalkan rumah Davan bersama Zayn.


"Dav.." Panggil Aldrich.


"Aku gagal jadi seorang ayah, Al." Lirih davan.


Aldrich hanya diam, ia juga cukup terkejut dengan hal ini, dan mengecam siapapun yang tega melakukannya pada Jihan tanpa Aldrich tau jika putranya sendiri yang tlah melakukannya.


Drtt.. Drttt...


Ponsel Aldrich berdering dan terlihat nomor asing. Aldrich mengangkatnya.


"APA!!" kata Aldrich sedikit keras.


Davan melihat kearah Aldrich.


"Baik saya akan segera kesana." Kata Aldrich langsung menutup telpon.


"Sayang, Alaska dan Beni kecelakaan di jalan Tol, tabrakan beruntun dan mobil mereka diapit oleh truck besar." kata Adlrich pada Clara.


"Apa, Dad?" Kini Clara tampak limbung.


"Ceritakan pelan pelan, Al. Ada apa." Sahut Fariz.

__ADS_1


"Polisi menelpon Al, Pap. Alaska dan Beni mengalami kecelakaan di jalan tol saat menuju ksini. Mereka sudah satu jam yang lalu mendarat." Kata Aldrich.


"Papap ikut kerumah sakit. Mama dan Clara biar disini dulu." Kata Fariz.


"Aku ikut Pap." Kata Stevi.


"Aku juga, Dad." Kata Clara dengan kondisi menangis.


"Kalian tidak stabil, lebih baik disini dulu." ucap Fariz namun Stevi dan Clara sama sama keras kepala dan tetap ingin ikut.


Pada akhirnya seluruh keluarga Aldrich pergi kerumah sakit. Dan tinggallah keluarga Davan.


Jidan pulang dengan wajah lesu, "Mana si baji*ngan itu?" Tanya Davan sengit yang langsung berdiri dari duduknya.


"Bukan Gibran pelakunya, Yah." Kata Jidan.


"Mana ada maling ngaku!!" Kata Davan.


"Bahkan Gibran sendiri ingin mempertanggung jawabkan apa yang dia tidak perbuat tapi Jihan menolaknya, Yah." Kata Jidan.


Davan terduduk lesu. Tiba tiba saja Jihan menghampiri dan bersimpuh di kaki Davan.


"Maafkan Jihan, Yah.." Kata Jihan sambil menangis.


Saat Jihan sadar, Billa sedang menangis dan Jihan bertanya ada apa, Billa yang tidak stabilpun menceritakan kondisi Jihan.


"Kenapa kau lakukan ini pada Ayah, Ji." Tanya Davan dengan kecewa.


"Semua tidak disengaja, Yah. Jihan dijebak." Kata Jihan menangis.


"Siapa pelakunya?" Tanya Jidan lagi.


Jihan menggelengkan kepalanya, "Dia akan kesini membawa bukti, Jid. Dan mempertanggungjawabkan semuanya." Kata Jihan sambil menangis.


"Bukan Gibran?" tanya Jidan.


"Bukan Gab, Jid. Sumpah jangan menyalahkannya Gibran." Kata Jihan membela.


"Lalu siapa?" Tanya Jidan namun Jihan tetap menggelengkan kepalanya.


"Kapan dia mau datang?" Tanya Davan.


"Secepatnya Yah. Setelah bukti itu sudah di dapat." Kata Jihan.


Davan mengangguk.


"Istirahatlah. Ayah harus kerumah sakit melihat keadaan Alaska." Kata Davan.


"Alaska? Ada apa dengannya Yah?" Tanya Jidan.

__ADS_1


"Alaska mengalami kecelakaan beruntun, dan mobil mereka diapit oleh dua truck. Ayah harus melihatnya." kata Davan.


"Apa Yah?" Jihan terlihat shock.


"Alaska dan Asistennya. Beruntung kau tidak ikut perjalanan bisnis kali ini, Ji." Kata Davan.


Jihan semakin terlihat shock.


"Aku ikut, Yah." Kata Jihan.


"Tidak, Ji. Kau sangat lemah." Ucap Jidan. "Biar aku saja dan ayah." Kata Jidan.


"Beri tahu Ayah jika pria itu sudah datang, Ayah akan segera kembali." Kata Davan melembut.


Jihan hanya diam, bagaimana bisa Alaska datang sedangkan alaska sendiri berada di rumah sakit.


"Ayah dan jidan marah sama Jihan?" tanya Jihan dengan nada sedih.


"Kami kecewa, Ji." kata Jidan.


"Aku gagal menjadi saudaramu, tidak bisa menjagamu." Tambahnya lagi.


Jihan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Jid. Aku yang salah." Kata Jihan. "Jangan membenciku, Jid." Jihan kembali menangis.


Jidan meraih Jihan kedalam pelukannya, "Bagaimana bisa aku membencimu, Ji. Kau adalah saudariku yang sangat aku sayang. Meski dia tidak mau bertanggung jawab, kau tetap adikku. Aku akan bertanggung jawab padamu dan anakmu. Jangan takut Ji." Kata Jidan.


"Benar, Ji. jika kondisimu sudah stabil. Beritahu Ayah dan Jidan siapa yang melakukannya. Kita bicarakan semua baik baik." Kata Davan yang membuat Jihan semakin menangis.


"Ayah pasti malu karna perbuatan Jihan, bahkan Kakek sampai sakit." Kata Jihan yang mengetahui jika Fadhil dibawa kerumah sakit karna mengalami sakit di dadanya.


Davan menghela nafas, ia tidak ingin Jihan sampai down meskipun Jihan salah.


Davan hanya takut kejadian di masa lalu terulang lagi, Jihan pergi dengan kondisi hamil sama percis dengan Billa saat itu.


"Ji, seperti apapun kamu. Kamu tetap anak Ayah. Tetap anak yang Ayah sayangi sepenuh hati Ayah. Jangan pernah berpikir Ayah malu padamu, karna Ayah tetap Ayahmu dan kamu tetap anak Ayah." Kata Davan menguatkan.


"Benar, Ji. Jangan berpikir macam macam. Kasian anakmu. Kau harus bahagia agar anakmu juga tumbuh menjadi anak yang bahagia." Ucap Jidan mendukung perkataan Davan.


Jihan sangat terharu, ia bersyukur memiliki keluarga yang slalu menemaninya.


"Tetaplah dirumah bersama Ibu dan Jaff. Ayah dan Jidan akan melihat kondisi Alaska dulu." Kata Davan dan Jihanpun menurut.


Jihan kembali kekamar Billa dan bersimpuh di kaki Billa. "Bu maafkan Jihan." Kata Billa.


Billa mengusap rambut Jihan, sebelumnya Davan sudah menenangkan Billa dan tetap menerima kondisi Jihan,.meski bagaimanapun Jihan adalah putri mereka dan mereka harus merangkulnya.


"Tidak apa, Ji. Jadikan hal ini pelajaran. Jangan mengulang kesalahan lagi. Rawatlah anakmu sedari dia masih diperutmu." Kata Billa menguatkan.


Billa tau, jika Jihan masih belum mau jujur tentang siapa pria yang menghamilinya. Billa akan menunggu hingga Jihan mau berbicara dengan jujur tanpa tekanan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2