
Jidan menyelesaikan urusannya lebih cepat. Ia membawa Amelia untuk kerja di hotel utama di Jakarta.
Sementara Gibran. Ia masih disibukan dengan urusan di Jogja sebelum akhirnya ia memindahkan kantor pusatnya di Jakarta. Terlebih Gibran bersama tim audit masih menyelidiki keuangan perusahaan yang slama ini mencurigakan.
"Jid, aku tidak enak berangkat ke Jakarta bersamamu." Kata Amel saat Jidan menjemputnya.
Jidan tersenyum samar, "Tidak apa, kita kan teman." Ucapnya.
Amel mengangguk, ia melangkah bersama Jidan untuk menuju mobil yang disiapkan pihak hotel untuk mengantarnya ke stasiun.
"AMEL!!" Teriak seseorang.
Amel dan Jidan menoleh kearah sumber suara.
"Mau kemana kau?" Tanya pria paruh baya itu.
"Saya mau ke Jakarta, Pak. Bekerja disana." Jawab Amel.
"Tidak bisa!! Kau pasti mau melarikan diri dari hutang orang tuamu. Tempo yang kuberikan satu minggu lagi, atau kau menikah denganku." Kata Tedjo si pria paruh baya itu.
"Saya akan bayar koq, saya tau kewajiban saya." Jawab Amel.
"Berapa hutangnya?" Tanya Jidan tiba tiba dengan nada dingin namun dengan tatapan tajam pada Tedjo.
"Tiga puluh lima juta, dan berbunga menjadi lima puluh juta." Jawab Tedjo.
"Berapa nomor rekening anda?" Tanya Jidan sambil mengeluarkan ponselnya.
Tedjo membolakan kedua matanya.
"Jangan, Jid. Itu hutangku." Kata Amel.
"Tidak apa, Mel. Aku bisa membantumu lepas dari jerat hutang rentenir ini." Jawab Jidan.
"Saya tidak mau, Amel harus menikah dengan saya." Kata Tedjo.
Jidan menyipitkan matanya, "Masih untung saya membayar hutang Amel pada anda, dari pada saya memanggil pengacara dan memasukan anda ke sel penjara dengan tuduhan pemerasan." Kata Jidan mengancam.
Tedjo menganga saat Jidan mengatakan penjara.
"Aku punya banyak koneksi di kota ini, kau tau siapa aku?" Tanya Jidan sinis.
Tedjo melihat kearah mobil bertuliskan Grand Royal Grup. Itu adalah nama perusahaan dimana salah satu hotel terbesar berada dikota itu.
Tedjo menelan salivanya kasar. Ia terlalu takut menghabiskan waktu masa tuanya di penjara.
"Ba.. Bayar saja hutang intinya. Tiga puluh lima juta." Kata Tedjo tergagap gagap.
"Mana nomer rekeningmu?" Tanya Jidan lagi.
Tedjo mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan nomer rekening yang sudah ia simpan di ponselnya.
Tring..
Ponsel Tedjo berbunyi notifikasi dan terlihat uang masuk dari rekening pribadi Jidan.
__ADS_1
"Bisa baca berita transfernya? Hutang Amel lunas. Jika suatu saat kau perkarakan lagi, maka ku pastikan bukti transfer dariku akan segera ku proses ke polisi." Ancam Jidan dan membuat Tedjo hanya bergeming.
"Ayo Mel." Ajak Jidan pada Amel.
"Aku akan mencicilnya, Jid." Kata Amel pelan saat diperjalan menuju stasiun.
Jidan mengangguk, "Tidak usah dipikirkan, Mel. Kau fokus saja bekerja." kata Jidan.
"Aku berencana untuk kursus juga, Jid. Kursus komputer." Kata Amel.
"Bagus itu, Mel. Nanti ku bantu cari tempat kursus yang dekat dengan hotel dan mess mu." Ucap Jidan.
"Terimakasih bantuannya, Jid. Kau teman yang baik." kata Amel lalu tersenyum.
Jidan membawa Amel menaiki kereta eksekutif, dan Amel merasa tidak enak.
"Jid, aku di kelas ekonomi saja." Kata Amel tak enak.
"Lalu aku sendirian di gerbong ini?" Tanya Jidan. Kamu harus menemaniku, Mel. Agar aku tak bosan." Jidan berkata tegas membuat Amel merasa tak enak.
Mereka menaiki kereta saat menjelang siang, dan tiba di Jakarta selepas maghrib.
"Mel, kita kerumahku saja, ya. Jihan pasti senang bertemu denganmu." Kata Jidan.
"Kerumahmu?" Tanya Amel tak percaya.
"Ayolah Mel, tidak apa koq." Ajak Jidan, "Setelah dari rumahku nanti kuantar ke hotel." Kata Jidan lagi.
Jidan tidak sabar melihat reaksi Jihan jika bertemu dengan Amel.
"Aku malu, Jid. Disana ada orang tuamu." Akhirnya Amel megutarakan isi dalam pikirannya.
"Tidak apa, Mel. Orang tuaku baik koq." Jawab jidan menenangkan.
Setelah dua puluh lima menit, taxi yang membawa mereka tiba dirumah Davan. Jidan membawa Amel masuk kedalam rumahnya.
"Duduklah dulu, aku akan memanggil Jihan." Kata Jidan.
"Jid kau sudah datang? Mengapa tidak minta Jihan atau supir untuk menjemput?" Tanya Davan.
"Tidak usah Yah, Jid naik kereta takutnya jadwal tibanya tidak sesuai." Jawab Jidan.
Pandangan Davan tertuju pada seorang gadis yang beridiri didekat sofa. "Kau membawa seseorang?" Tanya Davan.
Jidan memperkenalkan Amel pada Davan. "Yah, dia Amel, teman Jihan sewaktu kami masih kecil di Jogja. Jihan bekerja di hotel kita sebagai pramubakti dan Jid membawanya kesini untuk bekerja di hotel utama. Bolehkah?" Tanya Jidan.
Davan mengangguk anggukan kepalanya. Memang benar kata semua orang jika Jidan adalah miniatur dirinya, bahkan rasa perduli kepada orang disekelilingnya juga ada didiri Jidan.
Davan mengingat masalalu dimana ia menolong Billa, hal itu bukan hanya sekedar menolong, melainkan Davan yang sudah tertarik pada diri Billa sejak pandangan pertama. Mungkinkah ini yang sekarang dirasakan oleh putra sulungnya itu? Rasa perduli karna Jidan menaruh hati pada seorang gadis yang dibawanya.
"Jid.." panggil Jihan lalu berhambur memeluk Jidan.
"Anak nakal, kau baru ingat pulang." Entah mengapa Jihan menangis didalam pelukan Jidan seolah ingin melepas beban yang slama ini ada didirinya.
"Hei, kenapa kau menangis, aku hanya pergi selama satu bulan. Sewaktu diluar negri tidak pulang 1tahun kau tidak seperti ini." Jidan tertawa.
__ADS_1
Namun Jihan mendorong dada Jidan. "Kau menyebalkan, Jid." Kata Jihan.
"Ji, lihat siapa yang ku bawa." Kata Jidan menunjuk seseorang dengan tatapan lembutnya, dan Davan dapat melihat hal itu.
Jihan menghapus air matanya dan melihat wajah seorang wanita yang Jidan bawa.
"Amel...?" Tanya Jihan memastikan.
Amel hanya tersenyum, Jihan berjalan mendekat ke dekat Amel. "Kau Amel?" Tanya jihan memastikan lagi dan diangguki oleh Amel.
Jihan memeluk Amel, "Apa kabarmu, Mel?" Tanya Jihan lalu melepaskan pelukannya kembali.
"Baik, Ji." Jawab Amel.
"Bagaimana bisa?" Tanya Jihan.
"Sudah, Ji. Kasian temanmu masih lelah sudah kau berondong banyak pertanyaan. Ajak untuk makan malam bersama." Kata Davan.
"Selamat datang dirumah kami, Nak. Anggap saja rumah sendiri." Sapa Davan dengan ramah.
Setelah Davan meninggalkan ruang tamu, Jihan mengajak Amel duduk. Jidan menceritakan semuanya dan Jihan sangat senang. Tiba tiba saja moodnya menjadi membaik.
"Jidan tidak usah mengantarmu ke Hotel, kau menginap saja disini bersamaku, Mel." Kata Jihan.
"Ya betul itu. Menginap saja disini." Kali ini Jidan mendukung keinginan Jihan.
"Tapi aku tidak enak." Kata Amel.
"Aku ini temanmu, Mel. Kau pernah baik padaku, karna saranmu akhirnya aku bertemu dengan ayahku." Ucap Jihan.
Billa menyambut baik kedatangan Amel, merekapun kini duduk satu meja untuk makan malam bersama.
"Jadi Amel akan bekerja di hotel pusat sebagai housekeeping?" Tanya Davan.
"Iya Pak." Jawab Amel.
"Amel juga mau kursus, Yah." Ucap Jihan setelah tadi Amel mengatakan rencananya pada Jihan.
"Kalau begitu fokus saja untuk kursus. Ambil komputer dan akuntansi, tidak usah pusingkan masalah Biaya, Ayah pikir Jidan mampu membiayainya." Kata Davan lalu tersenyum pada Jidan. "Bukankah begitu, Son?" Tanya Davan.
"Yah..." Jidan merasa malu dengan wajah sedikit memerah.
"Ayah juga pernah muda, Jid." Davan tertawa. Billa mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
"Ibu pikir, ada baiknya Amel tinggal saja disini." Kata Billa menambahi.
Davan nengangguk, "Ya, Ibu benar. Biar Jidan semangat pulang kerumah." Lagi lagi Davan menggoda putranya itu.
"Ayah.." Kata Davan memperingatkan agar Davan berhenti membuatnya malu.
"Kau calon saudara iparku, Mel?" Kali ini Jihan yang bertanya.
Membuat Jidan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang malu itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mumpung senin, yg punya jatah vote ksh aku dong 😁