
Fariz menerima sebuah berkas berisikan data seseorang.
"Apa ini?" Tanya Fariz pada Joni.
"Maaf tuan, ini CV wanita yang pernah tuan muda dekati." Jawab Joni.
Fariz membukanya dan melihatnya "Clara." Gumam Fariz yang terdengar oleh Joni.
"Dia mengejar Aldrich kesini?" Tanya Fariz.
"Sepertinya tidak, Tuan. Karna setau saya, Nona Clara tidak mengetahui jati diri Tuan muda dan hanya tau nama Tuan muda itu Aldi bukan Aldrich." Jawab Joni.
Fariz mengangguk sambil mengusap dagunya.
"Ada beberapa hal yang saya selidiki, Tuan." Kata Joni ragu ragu.
"Apa?"
"Nona Clara sudah bercerai dengan suaminya satu bulan yang lalu, namun belum merubah status identitasnya. Dan pengacara yang membantu perceraian Nona Clara adalah Tuan Tristan." Kata Joni memberi informasi.
"Tristan?" Tanya Fariz tak percaya. "Bukankan dia hanya wanita biasa dengan pekerjaan sebagai asisten disebuah butik? Bagaimana bisa menyewa jasa pengacara sekelas Tristan yang super sibuk dan terbilang mahal." Kata Fariz lagi.
Tristan memang pengacara kondang yang handal, bahkan kliennya adalah artis artis papan atas, pejabat tinggi sampai konglomerat.
"Nona Chelsea adalah sahabat baik Nona Clara, sepertinya Tuan Tristan membantu Nona Clara karna Berteman baik dengan Nona Chelsea."
"Oh my God, dunia tak selebar daun kelor." Kata Fariz.
Fariz tampak memikirkan sesuatu, lalu ia tersenyum smirk. "Terima dia, training menjadi sekertaris dibagian sekertaris direktur pemasaran selama satu bulan. Setelah satu bulan pindahkan dia untuk menjadi sekertaris pribadi Aldrich." Kata Fariz pada akhirnya.
"Tapi tuan, latar pendidikannya cocok untuk ditempatkan dibagian keuangan. Lagi pula ada carissa yang sudah menjadi sekertaris Tuan muda" Kata Joni.
"Tidak masalah. Aku ingin mengerjai putraku, bagaimana reaksinya jika wanita yang sedang ingin dilupakannya sekarang menjadi dekat dengannya. Dan jangan beritahu statusnya, biarkan saja dulu statusnya tetap seperti itu, sudah menikah." Fariz sedikit tertawa. "Dan soal Carissa, dia bisa masuk menjadi tim sekertarisku, dia cukup berkompetent dan sudah waktunya naik jabatan." Sambung Fariz.
Joni merasa heran, "Tuan akan ngeprank tuan muda?" Tanya Joni heran.
"Aku akan mengerjainya, Jon." Fariz tertawa kembali.
"Tuan tidak keberatan jika pada akhirnya tuan muda mengejar kembali Nona Clara?" Tanya Joni.
Fariz mengerdikan bahunya. "Yang penting putraku tidak merebut istri orang, jika statusnya sudah bukan lagi istri orang, itu tidak masalah." Fariz menjeda kalimatnya. "Aku ingin tau, sampai mana putraku mencintainya dengan statusnya itu." Kata Fariz lagi.
Joni mengangguk dan mulai bersiap menjalankan misi yang diberi oleh bos besarnya itu.
__ADS_1
"Ingat Jon, rahasiakan statusnya dari putraku, biar dia tau sendiri seperti dulu mengetahui statusnya yang sudah bersuami." Kata Fariz penuh penekanan.
Aldrich menghubungi Tristan untuk sekedar minum kopi di kopi shop saat pulang kerja nanti.
"Sibuk sekali, kasian Jessi jika lu sibuk bgini terus." Kata Fariz.
"Yah kasus perceraian dinegri kita ini semakin meningkat, dan semua menginginkan proses cepat." Kata Tristan sambil mengusap pelipisnya.
"Banyak deket sama janda lu, hati hati." Ledek Fariz.
"Hah, dari sekian banyak janda, gue nunggu jandanya Ghea aja." Kata Tristan bercanda.
"Gila lo, inget dia bukan cuma mantan sekarang udah jadi besan lu." Fariz mentoyor kepala Tristan.
Memang hanya Fariz yang berani mentoyor kepala pengacara kondang itu, dan Tristan hanya cengengesan mendapatkan toyoran itu.
"Gue mau tanya sesuatu sama lu." Kata Fariz serius.
"Apa?" Tristan mentautkan kedua halisnya.
"Kemarin kemarin lu ngurusin kasus cerai atas nama Clara?" Tanya Fariz.
Tristan mengangguk, "Dia temannya Chelsea. Ada apa?" Tanya Tristan.
"Kasusnya apa?" Tanya Fariz.
Fariz menghembuskan nafasnya kasar. "Wanita itu yang dulu dikejar Aldrich sampai Aldrich rela menjadi supir di butik Erlasha."
Tristan mengangguk, Jessi memang pernah menceritakan soal penyamaran Aldrich mengejar wanita yang bekerja dibutik, namun ia tidak tau siapa namanya, karna Tristan hanya menjadi pendengar yang baik untuk istrinya bercerita, tidak ingin tau lebih dalam siapa yang diceritakannya.
"Itu privasi klien gue, Riz. Gue gak bisa cerita." Kata Tristan.
Fariz mengangguk, "Tapi gue harus tau latar belakangnya, Tan. Gue takut diam diam Aldrich masih berhubungan dengan Clara dan menjadi orang ketiga dirumah tangganya hingga sampai bercerai."
Tristan tampak berfikir. "Kesalahan bukan dari klien gue, Riz." Kata Tristan.
Fariz mengangguk, "Jelas lu bilang begitu, karna dia klien lu, mau dia salah juga pasti lu bela." Kata Fariz yang memang slalu bisa berdebat dengan Tristan.
Tristan memijat keningnya, "Mantan suaminya seorang g*y." Kata Tristan membuat Fariz membolakan kedua matanya.
"Menikah hampir dua tahun namun belum pernah disentuh semenjak malam pertamanya, tidak diberi nafkah lahir batin, dan Clara hanya dijadikan peran untuk mengisi drama suaminya didepan keluarga dan teman kerjanya untuk menutupi prilaku menyimpangnya." Jelas Tristan yang semakin membuat Fariz terheran heran.
"Dia wanita baik baik, Riz. Chelsea anak gue tidak mungkin berteman dengan orang yang tidak baik, Clara hidup sebatang kara, menghidupi dirinya sendiri." Kata Tristan.
__ADS_1
"Jadi maksud lu dia masih..." Tanya Fariz ambigu.
"Aldrich akan beruntung jika menikah dengannya." Kata Tristan. "Lu gak masalah dengan statusnya kan?" Tanyanya kali ini
Fariz mengangguk. "Gue gak masalah. Lu tau sendiri nyokap gue dulu bagaimana, bahkan tanpa status yang jelas, tapi Ayah Erick mau menikahi nyokap." Ucap Fariz.
"Mungkin memang sudah jalannya seperti ini, Riz." Kata Tristan. "Rahasiakan ini dari putramu, Riz. Kita bisa melihat apakah Aldrich tulus hingga mau menerima Clara apa adanya."
***
Clara resmi mengundurkan diri dari Erlasha setelah diterima kerja di DW Group, Alesha memberikan banyak bonus untuk keloyalan Clara slama bekerja di Erlasha.
Clara pun mencari kost kostan baru didekat DW Group agar ia bisa menghemat biaya transportasi.
Ragil dengan sedih melepas Clara, baginya Clara merupakan seorang adik. Ia memahami Clara dengan segala permasalahannya.
Clara pun terkejut saat mengetahui sisa hutangnya ternyata sudah dilunasi oleh pria bernama Aldi, Clara semakin merasa berhutang budi pada Aldrich, ingin rasanya menemukan keberadaan Aldrich untuk membalas kebaikannya.
"Aldi... Terimakasih." Gumam Clara saat meninggalkan Erlasha dan melihat tempat duduk dibawah pohon tempatnya dulu menghabiskan waktu istirahat untuk makan siang bersama Aldrich.
Ragil mengantar Clara untuk pindah ke tempat barunya.
"Miss, masih ingat Aldi?" Tanya Clara pada Ragil saat membantunya membenahi kost kost nya.
"Masih, kenapa emang, Ra?"
"Aldi bilang waktu itu keterima kerja di DW Group, masih gak ya dia disana sedangkan ini sudah mau delapan bulan."
"Menurut eike sih masih, Ra." Jawab Ragil.
"Miss tau gak nama lengkap Aldi? Biar aku gampang cari Aldi di perusahaan sebesar itu." Kata Clara.
Ragil mengerdikan bahunya. "Kalau jodoh, sejauh apapun kalian terpisah, pasti akan bertemu juga, Ra."
"Ishh apaan sih Miss, aku cuma mau balas kebaikan Aldi aja, maunya sih balikin uang Aldi yang bayarin cicilanku slama dua bulan." Kata Clara. "Aku gak berpikir untuk berjodoh dengan Aldi, aku sadar diri dengan statusku, Miss." Lirih Clara lalu duduk diatas karpet sambil meluruskan kakinya.
"Kamu kan meskipun janda tapi masih ting ting, Ra." Ragil mengedipkan satu matanya.
"Tapi aku tidak mau bilang pada siapapun, Miss, cukup Miss Ragil, Miss Alesha dan sahabatku Chelsea juga pengacarku yang tau itu. Aku ingin menemukan pria yang mencintaiku apa adanya." Kata Clara tersenyum.
***
Udah 2minggu berjalan, yg kasih Vote baru 3org.
__ADS_1
adakah yg mau berbaik hati ksh aku Vote dihari senin ini?
yg gak punya Vote, boleh banget kasih aku hadiah.