BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 36


__ADS_3

Hari hari terlewati begitu saja, hari yang berubah menjadi minggu, dan minggu berganti menjadi bulan. Kini Aldrich mencoba bersikap layaknya seperti seorang teman untuk Clara.


Pagi ini Clara datang dan langsung membuatkan kopi dengan sedikit gula untuk Aldrich, ia juga menyiapkan cemilan kecil untuk Bos nya itu.


Aldrich masuk keruangannya saat Clara menaruh cangkir berisikan kopi dengan asap yang masih mengepul.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Clara.


"Pagi." Jawab aldrich seperti biasa. "Apa jadwal saya hari ini, Ra?" Tanya Aldrich.


"Jam sembilan meeting dengan bagian divisi pemasaran, jam makan siang bapak ada janji bertemu dengan Pak Davan di grand hotel untuk sekalian membahas perencanaan renovasi resort di Labuan bajo. Hanya itu saja." Kata Clara.


"Baik, nanti kamu yang temani aku karna Joni harus meninjau proyek ditempat lain." Ucap Aldrich yang diangguki oleh Clara.


Clara undur diri setelah dipastikan tidak ada yang dibutuhkan oleh Aldrich lagi.


"Bagaimana dengan hubungan mereka?" Tanya Fariz pada Joni.


"Stuck ditempat, tuan." Jawab Joni.


"Nona Clara yang lebih menjaga jarak dengan tuan muda." Katanya lagi.


Fariz mengangguk, "Jalankan rencana selanjutnya." Kata Fariz memberikan intruksi pada Joni yang sudah mereka diskusikan sebelumnya.


"Siap Tuan besar." Kata Joni.


Jam istirahat Clara melihat tempat makan yang ia bawa dari kost kost nya, "Sayang sekali kalo gak kemakan." Gumam Clara. Terlebih ia membuat dua bekal yang sebenarnya ingin ia berikan pada Aldrich.


"Hai Ra. Gak istirahat?" Tanya Joni saat melewati meja Clara.


"Aku lagi mau siap siap ikut Pak Aldrich ketemu sama Pak Davan di Grand hotel." Jawab Clara.


"Oh, sekalian makan siang ya?" Tanyanya lagi.


"Sepertinya iya, Pak." Jawab Clara.


Lalu pandangan Joni mengarah pada kotak makan yang clara pegang diatas meja kerjanya.


"Kamu bawa bekal?" Tanya Joni menyelidik.

__ADS_1


"Iya tapi gak kemakan nih, kan saya mau keluar." Jawab Clara, "Kalo Pak Joni mau, boleh nih buat Bapak aja." Clara menyodorkan kotak makannya pada Joni.


"Wah terimakasih, ada dua bisa aku makan bareng Rissa." Kata Joni, lalu saat tangannya ingin menyentuh kotak makannya terdengar suara Aldrich,


"Stop, jangan sentuh!!" Kata Aldrich dengan tatapan tajam mengintimidasinya.


"Tapi, Pak. Saya dikasih ini sama Clara." Kata Joni sambil menggaruk tengkuknya.


Aldrich melangkah mendekat ke meja Clara lalu mengambil dua kotak berisikan makan siang itu. "Clara, masuk keruangan saya." Kata Aldrich lalu meninggalkan Clara bersama Joni.


"Pak Jon, maaf ya." Ucap Clara sambil nyengir merasa tak enak pada Joni.


"Gak apa apa, Ra." Jawab Joni. "Udah sana masuk, nanti aku kena sembur dia lagi." Kata Joni sambil mengibaskan tangannya.


Clara masuk kedalam ruangan Aldrich, padahal tadi dirinya ingin bertanya pada Joni saat bilang ingin makan bersama Rissa. Mungkinkah mereka ada hubungan? Entahlah.


Aldrich duduk di sofa dengan kotak makan yang ia taruh meja percis dihadapannya.


"Sejak kapan kamu kasih bekal makan siang si Joni?" Tanya Aldrich seperti tak suka.


"Maaf Pak...." Clara ingin menjawab namun Aldrich memotongnya cepat.


"Ini jam istirahat, bukan jam kantor, panggil aku Aldrich." Kata Aldrich sedikit menekan.


Aldrich hanya diam, terlihat gurat antara kecewa dan marah namun ia menyembunyikannya.


"Bekal itu kubuat satu untukku dan satunya untukmu." Kata Clara pada akhirmya.


Jawaban Clara membuat Aldrich seketika melihat kearah Clara. "Untukku, Ra?" Tanya Aldrich tak percaya dan seketika wajahnya berbinar.


"Waktu di Erlasha, aku pernah janji sama kamu, kalo aku ada rejeki akan membuatkanmu rendang daging. Dan sekarang baru kesampaian, Al." Ucap nya lagi. "Tapi hari ini kita akan makan siang bersama Pak Davan, aku berpikir dari pada mubazir, lebih baik aku berikan pada pak Joni. Bukan berarti aku berniat membuatkannya bekal." Jelas Clara.


Wajah Aldrich berubah sumringah seperti anak kecil yang diberikan sebuah coklat.


Aldrich berdiri dari duduknya dan menghampiri Clara yang masih berdiri lalu menarik pergelangan tangannya untuk duduk di sofa. "Ayo Ra, kita makan dulu." Kata Aldrich.


"Tapi Al, Davan sedang menunggu kita." ucap Clara.


Aldrich meraih ponselnya den menghubungi Davan, setelah dering kedua, Davan menjawab ponselnya.

__ADS_1


"Iya Al.." -Davan-


"Aku gak jadi makan siang sama kamu, nanti aku langsung kekantormu saja sehabis makan siang." -Aldrich- Mematikan panggilannya sepihak.


Clara hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Selesai, kan?" Aldrich tersenyum lebar, "Ayo kita makan." Katanya lagi sambil melihat kearah kotak makan yang dibuat Clara.


Clara membuka kotak makan satu persatu dan satunya ia berikan pada Aldrich.


Dengan mata berbinar, Aldrich menerimanya.


"Maaf ya Al, aku baru tepatin janji aku sekarang." Kata Clara.


Aldrich tersenyum, "Tidak apa, Ra. Aku seneng kamu masakin aku kayak gini." Ucap Aldrich. "Besok buatin lagi ya, Ra." Katanya tanpa rasa malu.


Clara melihat kearah Aldrich yang terlihat lahap memakan masakannya. "Aku gak tiap hari masak, Al. Aku masak kalo lagi sempat aja."


"Kalo begitu berhentilah bekerja, biar bisa punya waktu untuk masak." Jawab Aldrich asal.


"Kamu percat aku?" Tanya Clara.


"Tidak, aku hanya ingin kamu berhenti kerja disini dan jadi istri aku, biar kamu bisa fokus masak saja untukku." Ucapnya lagi.


Clara menyipitkan matanya, "Kamu sedang melamarku?"


"Tidak, mana berani aku melamarmu, aku takut nanti kamu menjaga jarak lagi denganku. Lagi pula masa iya aku melamarmu tanpa bunga dan cincin, Aku hanya sedang kasih kode keras padamu." Jawabnya lagi sesantai mungkin.


"Isshhh." Kata Clara sambil memonyongkan bibirnya dan melanjutkan makannya.


Sementara Aldrich tersenyum melihat Clara yang wajahnya terlihat memerah, Aldrich yakin dengan sikapnya seperti ini lambat laun akan membuat hati Clara luruh lalu menerimanya.


Aldrich sudah mendapatkan celah untuk semakin dekat dengan Clara, ia terus mencari titik kenyamanan itu dan kini ia tahu harus bagaimana bersikap dengan Clara.


Hal seperti ini lah yang akan ia lakukan, menggoda Clara dan membuatnya malu malu.


Aldrich berpikir, menyembuhkan hati Clara hanya dengan membuatnya nyaman dan tidak memaksa apa lagi tertekan, memberi nya kesal sedikit juga akan membuat bumbu cinta itu semakin greget. Aldrich akan menggunakan cara cara itu, cara untuk meraih hati dan cinta Clara.


Terlebih kali ini tidak ada halangan dari restu kedua orang tuanya, semakin membuat Aldrich percaya diri untuk mendekati Clara.

__ADS_1


Satu satunya yang harus Aldrich waspada adalah kedekatan Clara dengan Joni. Status Joni yang seorang duda dan sedikit sleyengan itu membuat Aldrich ketar ketir. Aldrich takut hanya karna status Joni yang seorang duda membuat Clara merasa lebih pantas bersanding dengan Joni dari pada dengan Aldrich, tentu saja Aldrich tidak akan membiarkan hak itu terjadi.


**


__ADS_2