BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BONCHAP 5


__ADS_3

Pagi ini Alika bangun dengan lebih bersemangat, ini hari pertamanya magang diperusahaan yang sedang berkembang, yakni sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa perjalanan dan transportasi, GAB TRAVEL AND TOURS (GTT).


"Anak Daddy semangat sekali." Goda Aldrich pada Alika.


"Hai Dad, apa penampilan Alika cantik?" Tanyanya dengan manja.


Aldrich meneliti penampilan putrinya itu, Alika memang terlihat cantik dengan pakaian berbagai brand mahal yang melekat ditubuhnya itu.


"Kau cantik sekali, sama cantiknya dengan Mommy dan Alfiqa." Kata Aldrich.


Alika tersenyum, "Terimakasih Daddy." Kata Alika lalu mencium pipi Aldrich.


Alika menyetir mobilnya sendiri untuk menuju gedung perkantoran GTT, semua orang memandang tak berkedip pada sosok Alika, tubuh tinggi, kulit putih, rambut panjang dengan bagian bawah yang di curly, membuat penampilan itu sungguh sempurna. Belum lagi stelan blazer dan rok sepan, terlihat begitu sederhana namun tetap elegan.


"Hai Mas Gab..." Sapa Alika dengan senyum termanisnya.


Gibran yang melihatnya pun membalas senyuman Alika. Mereka berdua bertemu di loby dan berjalan menuju lift. Semua karyawan yang melihatnya mulai bertanya tanya dan saling menebak, mungkinkah Alika adalah kekasih CEO nya itu? Terlebih panggilan Alika kepada Gibran yang terdengar manis.


"Mas, nanti aku ditempatin dimana?" Tanya Alika saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Tadinya aku mau menempatkanmu dibagian keuangan, tapi Jihan memintaku untuk menempatkanmu menjadi asisten pribadiku." Kata Gibran dengan tetap ramah.


Alika tersenyum, ia akan sangat berterima kasih pada Jihan karna tlah mempermudah urusannya, yakni bisa dekat dengan Gibran.


"Al, ini Anton asistenku. Kau bisa berkordinasi dengannya." Ucap Gibran saat memperkenalkan Alika dengan Anton.


"Ton, kamu tolong ajari Alika soal pekerjaannya, lebih cenderung ke manajemen bisnis karna sesuai dengan kuliahnya." Kata Gibran pada Anton.


"Silahkan Nona Alika, disana ruangan anda bersama saya." Ucap Anton.


Alika mengangguk sopan. "Terimakasih, Mas." Ucap Alika lalu pergi mengikuti Anton.


"Pak Anton." Panggil Alika.


"Iya Nona." Jawab Anton.


"Jangan panggil saya Nona, panggil saja Alika." Ucapnya.


"Tapi kan Nona salah satu pewaris DW Group." Kata Anton.


"Saya disini sedang bekerja, Pak. Jadi tolong perlakukan saya disini sama dengan pegawai yang lain." Kata Alika ramah.


Anton begitu menyukai kepribadian Alika yang low profile, menurutnya Alika sosok gadis sederhana meski dia kaya namun tidak membanggakan kekayaan yang dimiliki keluarganya.


Anton begitu senang mengajari Alika, Alika gadis yang pintar dan cepat tanggap, cepat mengerti sesuatu yang diajari oleh Anton.

__ADS_1


"Aku mau ke pantry dulu, Pak. Bapak mau saya buatkan kopi?" Tanya Alika pada Anton.


"Tidak usah, Al. Kamu buatkan kopi untuk Pak Gibran saja, di jam segini dia biasa minum kopi." Ucapnya.


Alika mengangguk senang, ini kali pertama Alika membuatkan kopi untuk pria yang sedang menjadi pujaan hatinya, Alika pun begitu percaya diri membuatkan Gibran kopi, Jihan sudah terlebih dahulu memberi tahu takaran kopi yang Gibran sukai pada Alika.


Alika membawa kopi dengan nampan keruangan Gibran.


"Mas, aku buatkan kopi." Kata Alika saat melenggang masuk kedalam ruangan Gibran.


Gibran melihat sekilas dan memberi senyum pada Alika, "Terimakasih ucapnya.


"Dua cangkir?" Tanya Gibran.


"Yang satu punyaku, mau aku bawa keruanganku. Biar sekalian gak bolak balik, Mas." Jawab Alika.


Gibran mengangguk, dilihatnya jam sepuluh pagi, memang waktunya snack time selama 15menit, Gibran menerapkan hal itu agar karyawan tidak ada yang jenuh dengan pekerjaannya.


"Minum saja disini, ini waktu snack time." Ucap Gibran.


Alika mengangguk senang, "Terimakasih." Ucapnya. "Perusahaanmu pasti akan cepat berkembang jika CEO nya sepertimu, memperhatikan sekali karyawan karyawannya."


Gibran mengangguk, "Harus seperti ini, Al. Jika diluaran sana banyak yang bilang mencari kerja itu sulit, tapi buatku mencari karyawan dengan loyalitas tinggi yang sulit, karna itu aku harus bersikap baik pada karyawanku, karna perusahaanku juga bisa maju karna mereka."


Alika makin terpesona dengan kebaikan Gibran. Menurut Alika, Gibran adalah sosok yang ramah dan juga santun. Jarang sekali ada pria seperti Gibran di jaman yang sudah serba maju seperti ini.


Alika mengangguk, "Kak Jihan yang mengajariku. Katanya kalau Mas Gibran itu gak suka kopi yang terlalu manis."


Gibran tersenyum. "Apa lagi yang Jihan ajarkan padamu?" Tanyanya.


Alika terlihat berpikir. "Hanya cara menakar kopi saja. Selebihnya Kak Jihan bilang padaku untuk menjadi diri sendiri karna setiap orang mempunyai kelebihannya sendiri sendiri."


"Good. Kau memang gadis pintar Al." Ucap Gibran memuji.


"Apa yang Mas sukai dari Kak Jihan?" Tanya Alika kali ini.


Gibran mengerdikan bahunya. "Menyukai tidak membutuhkan alasan bukan?"


"Sekarang sudah bisa melepas Kak Jihan?" Tanya Alika menyelidik.


Mendengar hal itu, Gibran tertawa, "Tentu saja, Jihan sudah bahagia dengan Jove juga Alaska. Untuk apa aku mengejarnya? Aku benar benar sudah melepas Jihan, Al."


"Sedang buka hati lagi, tidak?" Tanya Alika ingin tau.


Gibran tau arah tujuan bicara Alika. "Al, hidup untuk maju kedepan. Semua orang punya jalan untuk menjemput takdirnya masing masing. Hal itu juga yang aku lakukan, menjalani hidupku untuk menjemput takdirku termasuk jodohku nanti."

__ADS_1


"Boleh aku berusaha masuk mengejarmu, Mas?" Tanya Alika tanpa basa basi.


Gibran salut dengan keberanian Alika, "Bukankah kau sedang masuk kedalam jalanku, Al?"


Wajah Alika bersemu merah, ia tidak menyangka jika Gibran mampu menebaknya.


"Mengajukan magang diperusahaanku, belajar cara menakar kopi untukku, bukankah semua itu artinya kau sedang masuk untuk mengejarku?" Tebak Gibran.


Alika nyengir tanda niatnya sudah diketahui oleh Gibran.


"Al, maganglah dengan baik disini. Aku akan membantumu sebisaku. Untuk masalah kita kedepannya seperti apa, biarlah Tuhan yang menunjukan jalannya." Ucap Gibran dengan lembut.


Alika semakin kagum pada kebaikan hati Gibran. Gibran tidak menolak juga tidak memberi harapan padanya, Gibran lebih menyerahkan urusan hati pada sang pemilik hati. Benar benar Alika semakin menyukai Gibran. Gibran begitu santun dalam berbicara, tidak menyakiti juga tidak membuat senang lawan jenisnya.


"Mas tidak akan menjaga jarak denganku?" Tanya Alika lebih dalam.


"Untuk apa?" Gibran balik bertanya. "Aku tau kau sedang mengejarku, apa sikapku terlihat menjaga jarak denganmu?"


Alika menggelengkan kepalanya, "Apa saat ini ada wanita yang dekat dengan Mas?"


"Dekat dalam artian apa? Jika masalah pekerjaan mungkin ada beberapa karyawan dekat denganku, jika untuk artian teman, Jihan adalah temanku dan dekat denganku juga, tapi jika untuk hal pribadi itu tidak ada." Ucap Gibran jujur.


"Kalau begitu, menurut Mas, aku kategori apa?" Tanya Alika.


Gibran tampak berpikir namun tetap dengan sikap tenangnya, "Kau adik iparnya Jihan yang artinya adalah temanku juga, kau juga magang diperusahaanku yang artinya kau juga karyawanku selama magang disini, dan hmm...." Gibran menjeda kalimatnya sejenak. "Hmm kau juga seorang wanita yang sedang mengejarku. Begitulah kira kira, Al."


"Aku lebih terlihat seperti apa?" Tanya Alika karna tak puas dengan jawaban Gibran.


Gibran tersenyum, ia tidak menyangka jika Alika mempunyai sikap tidak pantang menyerah. "Aku tidak tau, aku melihatmu dari banyak sisi." Jawabnya.


"Saat ini?" Tanya Alika lagi.


"Saat ini kau seperti seorang teman." Jawabnya.


Alika mengangguk. "Oke." Katanya singkat lalu berdiri. "Snack time sudah berakhir, aku kembali keruangan dulu ya, Mas." Ucap Alika dengan senyum manisnya.


Gibran melihat kearah Alika sambil mengangkat cangkir kopinya, "Terimakasih kopinya. Akan ku ganti dengan mentraktirmu makan siang nanti."


Alika membolakan kedua matanya, "Benarkah?" Tanya Alika tak percaya.


Gibran mengangguk, "Selesaikan dulu pekerjaanmu, Al."


"Tentu saja." Jawab Alika cepat dan segera keluar dari ruangan Gibran.


Gibran menggeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum, "Ternyata dia wanita yang unik." Gumamnya sambil meminum habis kopinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2