
Gibran mengernyitkan dahinya mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Alika.
"Apa aku salah mendengar?" Batinnya.
"Hai Gab, kau sudah disini?" Tanya Jihan tiba tiba.
"Sudah ada lima belas menit, Ji." Jawab Gibran.
"Al, kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Jihan pada Alika.
"Mas Gibran keasikan ngobrol sama aku, Kak." Jawab Alika asal.
"Mas?" Tanya Jihan memastikan.
"Manis sekali panggilanmu pada Gibran." Sahut Alaska yang kini ikut bergabung.
"Aku kan memang anak yang manis, Kak." Jawab Alika tersenyum tanpa bersalah.
Jihan meraih Jove dalam gendongan Alika sambil menatap penuh tanya pada Alika. Sementara Alika hanya cuek saja.
"Gab, kau ngobrol dulu dengan Alaska ya, aku mau nidurin Jove dulu." Kata Jihan pada Gibran lalu melihat kearah Alika. "Alika, aku butuh bantuanmu." Kata Jihan agar Alika mau mengikutinya.
Alika menurut, "Mas Gibran, ditinggal dulu ya, nanti Aku kesini lagi." Katanya dengan lembut. "Jangan kangen ya, Mas." Kata Jihan lagi dan membuat Gibran sedikit tak enak pada Alaska.
Alaska pun menaruh curiga pada Alika, ia akan menanyai sang adik karna gurauannya itu.
Alika mengikuti Jihan ke kamar, Jihan duduk di sofa sambil menyusui Jove.
"Duduklah, Al." Kata Jihan.
Alika duduk percis didepan Jihan.
"Kau menyukai Gab?" Tanya Jihan.
Alika hanya nyengir, "Kak Jihan peka sekali." Ucap Alika.
"Aku bukan peka, tapi sikapmu terlihat sekali, kau terlalu agresif, Al." Kata Jihan.
"Apa Mas Gibran tidak menyukai wanita Agresif, Kak?" Tanya Alika.
Jihan tampak berpikir. "Aku tidak tau selera Gibran seperti apa, hanya saja aku berharap Gibran mendapatkan wanita yang baik dan tulus kepadanya."
"Aku baik, aku juga tulus, Kak." Kata Alika.
"Kau mau mengejar Gab?" tanya Jihan serius.
Alika mengangguk cepat, "Kak Jihan bisa membantuku?"
__ADS_1
"Kau serius dengannya?" Tanya Jihan dan Alika mengangguk.
"Ada yang harus kau tau tentang Gibran, Al." Kata Jihan.
"Apa Kak? Aku ingin tau." Sahut Alika cepat.
"Gibran yatim piatu, dia sedang mengembangkan usaha Travelnya, jadi perusahaannya masih berproses dan belum cukup dibilang sukses. Jangan berpikir bisa hidup berfoya foya dengan Gibran karna ia tidak suka hal itu. Gibran juga memiliki tanggungan, dua adiknya yang masih kuliah dan bersekolah. Tanggung jawabnya sebagai anak pertama untuk adik adiknya. Gibran adalah tulang punggung keluarganya juga." Kata Jihan menjelaskan. "Kau siap hidup dengannya?" Tanya Jihan.
Alika mengangguk, "No problem." Ucapnya.
"Aku bisa membantu mengembangkan usaha Mas Gibran." Kata Alika.
Jihan mengangguk, "Tapi Gibran susah dekat dengan wanita." Ucap Jihan.
"Kalau gitu Kak Jihan bantuin aku." Kata Alika.
Jihan berpikir kembali, setidaknya Alika tidak buruk untuk Gibran.
"Kau sedang mengajukan magang?" Tanya Jihan yang diangguki oleh Alika.
"Magang saja diperusahaan Gibran, biar sekalian kau tau bagaimana perusahaan Gibran yang sedang berproses. Mungkin Gibran bisa terpesona dengan kepintaranmu." kata Jihan.
Alika mengangguk cepat. "Baiklah, Kak. Aku akan mengajukan magang di perusahaan Travel milik Mas Gibran."
"Biar aku saja, yang bicara dengan Gibran." Kata Jihan dan Alika sangat senang menerima bantuan dari Jihan.
"Ji, kamu ngobrol dulu aja sama Gibran. Aku mau telpon Beni dulu, mau menanyakan kondisinya." Ucap Alaska yang diangguki oleh Jihan.
"Kesini mau lihat Jove, malah Jovenya kamu bawa masuk." Kata Gibran.
Jihan tertawa, "Kasian Jove kalau digendong terus, jadi aku bawa masuk."
"Oh ya, Gab. Apa dikantormu menerima orang untuk magang?" Tanya Jihan.
Gibran mengangguk, "Iya, kantorku menerima orang untuk magang. Ada emangnya, Ji?"
"Alika mau mengajukan diri magang dikantormu, bisa kan Gab?"
Gibran mengernyitkan dahinya, "Bukankah bisa magang dikantor milik keluarganya sendiri?" Tanyanya heran.
Jihan mencoba mencari alasan. "Alika sama sepertiku, Gab. dia tidak suka diistimewakan, karna itu dia mencari perusahaan lain untuk menggali potensinya."
Gibran menangguk. "Kau sedang tidak berencana mendekatkannya padaku kan, Ji?" Tanya Gibran menyelidik.
Jihan mengerdikan bahunya, "Alika menyukaimu." Jawabnya terus terang.
Gibran menghela nafas. "Ji.. Aku sudah ikhlas melepasmu, kau jangan merasa bersalah dengan cara mendekatkanku dengan wanita lain." Gibran menjeda kalimatnya sejenak. "Aku slalu berdoa semoga mendapatkan jodoh yang baik dari Allah, biarlah berjalan seperti air mengalir." Ucap Gibran.
__ADS_1
Jihan mengangguk, "Aku tidak menjodohkanmu, Gab. Aku hanya membantu Alika yang katanya menyukaimu. Jika kau memang keberatan juga tidak apa, Gab." Jawab Jihan dan Gibran tidak tega akan hal itu.
"Bagaimana bisa, Ji. Salah satu pewaris Dewantara magang diperusahaan kecil. Aku tidak percaya diri." Ucap Gibran.
"Apa karna hal itu juga kau tidak ingin memberikan kesempatan pada Alika?" Tanya Jihan.
"Kau minder, Gab?" Tanya Jihan lagi.
Gibran menghela nafas, "Aku ingin mencari jodoh wanita biasa biasa saja, Ji." Kata Gibran.
"Tapi dulu kau mengejarku, padahal dulu aku juga anak pemilik pengusaha Hotel dan Resort." Ucap Jihan.
"Karna aku tau, kau dan Jidan tidak pernah memandang seseorang dari kedudukannya. Terlebih saat kau bilang pada Rosa, meski aku memulai usaha dari nol, kau akan slalu menemaniku, Ji." Jawab Gibran sedikit mengenang.
Jihan kembali merasa bersalah dengan perbuatannya dulu.
"Tidak perlu merasa bersalah, Ji. Aku tidak mau Nona muda Dewantara menyukai orang sepertiku, aku masih merintis usahaku, aku juga tulang punggung untuk kedua adikku yang masih memerlukan banyak biaya. Biarlah jodohku datang dengan sendirinya." Kata Gibran melembut.
Tanpa mereka sadari, Aldrich diam diam mendengar percakapan itu, ia menaruh rasa kagum pada sosok Gibran, dan menyetujui pendekatan yang akan dilakukan oleh Alika pada Gibran.
"Dewasa sekali pemikirannya, anak yang penuh tanggung jawab." Batin Aldrich.
"Gab, tapi setidaknya biarkan Alika magang ditempatmu, ya." Bujuk Jihan yang tidak mungkin bisa Gibran tolak.
Gibran mengangguk, "Baiklah Mommy j, aku bisa apa jika kau yang sudah meminta." Kata Gibran pada akhirnya.
Gibran makan malam bersama dengan keluarga Dewantara, sebenarnya ia ingin berpamitan pulang sedari sore, namun ia merasa tidak enak saat Aldrich sendiri yang mengajaknya.
"Jadi adik adikmu di Jogja?" Tanya Aldrich.
Gibran nengangguk, "Yang satu kuliah semester enam, yang satunya SMA kelas tiga mau lulus dan meneruskan kuliah disana juga." Ucap Gibran.
"Mereka tinggal dengan siapa?" Tanya Aldrich mendalam yang ingin mengenal Gibran lebih dalam.
"Mereka tingga berdua, masih ada rumah peninggalan orang tua kami. Dan mereka diawasi oleh Pakde, Kakak kandung dari almarhum Ayah." Jawab Gibran.
"Kenapa tidak mengajak mereka pindah ke Jakarta?" Tanya Aldrich lagi.
"Disana ada rumah orang tua kami, Pak. Setidaknya rumah itu ada yang menempati."
Kesan pertama Aldrich pada Gibran cukup menarik, Aldrich menyukai Gibran yang penuh tanggung jawab.
Aldrich lanjut berbincang dengan Gibran mengenai bisnis, Aldrich juga memperlihatkan ketertarikannya untuk menanam saham sebesar 20% diperusahaan Gibran.
Gibran menyambut baik niat Aldrich untuk menjadi investor diperusahaan yang sedang ia kembangkan. Obrolan itu menjadi obrolan bisnis untuk Aldrich dan Gibran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1