
Davan mengerjakan pekerjaanya dari rumah, itu karna ia masih ingin melepas rindu dengan istri dan anak anaknya. Davan rela tidur larut malam untuk menyelesaikan pekerjaanya sedangkan siang hari ia bermain bersama Jidan dan Jihan.
"Oke Kids, waktunya tidur, besok kalian akan mulai kembali bersekolah." Ucap Davan pada Jidan dan Jihan.
Jidan dan Jihan pun dengan semangat mempersiapkan keperluan sekolah untuk hari esok.
"Sekolahannya besar sekali." Seru Jidan saat mereka tiba diparkiran sekolah.
"Yah, ini sekolah atau gedung pertunjukan? Besar sekali." Sahut Jihan.
"Disekolah ini semua sudah komplit, Ayah juga sudah mendaftarkan Jidan di ekskul futsal, dan mendaftarkan Jihan di ekskul karate." Kata Davan.
"Kereeennn." Ucap Jidan dan Jihan bersamaan.
Tin.. Tin...
Suara mobil memberi klakson dan ternyata adalah mobil yang mengantar Alaska.
"Ayah, Kak Al sekolah disini juga?" Tanya Jidan.
"Kak Al SMP kelas tujuh. Disini juga." Jawab Davan.
"Om Dav." Sapa Alaska sopan kemudian mencium punggung tangan Davan dan bergantian pada Billa.
"Hai Al. Om titip twins ya, jika tidak merepotkanmu sesekali tolong dilihat." Kata Davan.
"Tentu saja, Om. Mereka kan adikku juga." Jawab Alaska.
Davan dan Billa mengantar Jidan dan Jihan hingga ke kelas karna ini adalah hari pertama mereka bersekolah.
Semua orang melihat kearah Jidan dan jihan yang katanya kembar tapi tidak identik. Jihan langsung mendapatkan teman begitupun dengan Jidan.
Tidak terasa waktu terus berganti, tiga bulan sudah Billa kembali hidup bersama Davan.
Davan benar menjadi suami dan Ayah yang membanggakan.
Davan benar benar menebus rasa bersalahnya slama delapan tahun.
Tangan Billa bergemetar saat melihat dua garis merah terpampang jelas di sebuah tespek.
Billa menghela nafas. Dalam hati, ia mengucap syukur karna kembali dipercaya mengandung buah hatinya bersama Davan.
Billa segera mengganti pakaiannya dan menemui Davan diperusahaannya.
Billa yang sudah tau dimana letak kantor suaminya segera saja masuk kedalam ruangan Davan karna ia tidak melihat sang sekertaris berada dimejanya.
Semua menoleh kearah pintu ketika Billa membuka pintu ruangan Davan. Davan memang tengah mendiskusikan pembangunan resort dibeberapa tempat bersama Samsul asistennya dan Heni sekertarisnya yang merupakan sekertaris senior karna terlihat sudah berumur.
"Dear.." Panggil Davan kemudian berdiri dari kursinya dan menghampiri Billa.
__ADS_1
"Maaf aku ganggu, ya." kata Billa tidak enak.
"Tidak, kami baru saja selesai." Ucap Davan.
Heni yang tidak berada dimejanya membuat Billa langsung masuk keruangan Davan.
Davan mengajak Billa masuk dan Samsul juga Heni kembali keluar.
"Kangen?" Tanya Davan ketika mereka sudah tinggal berdua.
Billa tidak menjawab, dan langsung merogoh sesuatu didalam tasnya lalu memberikannya pada Davan.
Davan menerimanya dan ia tahu apa arti garis dua itu. "Aku akan menjadi Ayah lagi?" Gumamnya lalu tersenyum pada Billa.
Billa mengangguk. "Kau suka?" Tanya Billa.
"Ini yang aku tunggu, aku akan menebus kesalahanku dengan kehamilanmu sekarang." Davan beringsut turun dan mencium perut Billa.
"Terimakasih sudah ada disini." Kata Davan pada perut Billa.
**
"Tunggal, hanya ada satu titik." Kata dokter yang memeriksa kandungan Billa.
"Apa janinnya sehat, dok?" Tanya Billa.
Davan begitu menjaga kehamilan Billa, ia mencukupi semua kebutuhan dan nutrisi Billa. Apalagi kehamilan Billa kali ini membuat Billa sedikit lemah sehingga tidak bisa beraktifitas seperti biasa.
Bahkan Jidan dan Jihan pun dititipkan dirumah Ghea karna Billa harus istirahat total.
"Apa sewaktu mengandung Jidan dan Jihan, kau juga seperti ini?" Tanya Davan yang merasa bersalah.
Billa mengangguk, "Awal kehamilan, saat aku masih dirumah Mama, aku juga seperti ini." Kata Billa.
Hati Davan bergemuruh, ia mengingat jika waktu Billa masih menyembunyikan kehamilannya, ia tengah disibukan dengan sang ibu yang berada dirumah sakit dan menghindari Billa karna termakan ucapan Zayn.
Kini didepan mata Davan, Billa terlihat lemah sekali. Davan sampai tidak tega meninggalkan Billa.
Davan sengaja bekerja dari rumah karna tidak ingin melewati masa masa kehamilan Billa, ia slalu meminta Samsul menghandel pekerjaan maupun pertemuan dengan klien. Bersyukur Samsul dapat slalu diandalkan.
Kandungan Billa menginjak usia delapan bulan, selama itu juga Davan menemaninya.
"Awsshhh.." Rintih Billa.
Davan yang baru saja memejamkan matanyapun terlihat begitu pulas dan Billa tidak tega membangunkannya.
"Kenapa tidak ada gerakannya." Batin Billa.
Billa mengusap perutnya dan merasakan perutnya yang sakit. Dengan terpaksa Billa membangunkan Davan.
__ADS_1
Davan yang baru tertidur pun segera membuka matanya. "Dear..." panggilnya dan langsung duduk saat melihat Billa meringis.
"Mas, perutku sakit, rasanya tidak nyaman, dan baby nya gak bergerak didalam sini." Kata Billa.
Davan langsung melebarkan matanya, ia segera menggendong Billa namun terasa basah dibagian bawah.
"Dear, kamu ngompol?" Tanya Davan.
Billa menggelengkan kepalanya. "Sepertinya ketubanku pecah, Mas." Ringis Billa.
Davan semakin panik dan segera membawa Billa kerumah sakit.
Davan menunggu dilorong rumah sakit sambil menunggu Billa diperiksa, Zayn dan Fadhil segera datang kerumah sakit setelah mendapatkan telopon dari Davan mengenai kabar Billa.
"Dav.." Panggil Fadhil.
"Pa.. Billa didalam, masih diperiksa." Kata Davan.
"Kandungannya baru delapan bulan, kan? Mengapa bisa kontraksi?" Tanya Zayn.
"Dav gak tau, Kak. Tadi Billa ngeluh perutnya sakit dan bayinya tidak terasa pergerakannya." Jawab Davan.
Seorang suster keluar dan memanggil Davan untuk menghadap dokter. Dokter mengatakan jika Billa harus dioperasi karna kondisi bayi yang meminta untuk dilahirkan sebelum waktunya. Davan nenyetujui dan malam itu juga Billa mendapatkan tindakan.
"Doakan istrimu, semoga anak dan istrimu selamat." Kata Fadhil.
"Iya, Pa...Bagaimana anak anak, apa rewel Pa?" Tanya Davan menanyakan Jidan dan Jihan yang sudah beberapa hari ini tinggal bersama Ghea.
"Anak anakmu anteng tinggal bersama Mama, kan ada Amira juga Chelsea yang menemani." Kata Fadhil.
Bayi yang dilahirkan Billa terpaksa harus masuk inkubator karna paru paru yang belum matang. Bayi yang diberi nama Jaffin Davanka itu tlah lahir kedunia dengan kondisi lemah.
Davan masih terus berdoa untuk kondisi istrinya yang masih berada diruang operasi, ia berharap sang istri segera pulih kembali.
Namun kenyataan tidak slalu sama dengan harapan, Billa mengalami pendarahan, dokter menyarankan untuk mengangkat rahim Billa dan kabar itu membuat Davan menjadi shock.
Fadhil segera meminta Ghea kerumah sakit untuk menenangkan Davan, sementara Jidan dan Jihan berada dirumah bersama Chelsea.
"Dav.. Lakukan yang terbaik. Nyawa Billa lebih penting." Kata Ghea.
Dengan tangan gemetar, Davan membubuhi tandatangan di dokumen yang diberikan oleh rumah sakit.
"Kalian sudah memiliki Jidan, Jihan dan kini ada Jaffin." Kata Ghea menguatkan Davan.
"Apa Billa akan marah, Ma?" Tanya Davan.
"Kau melakukan yang terbaik untuk Billa. Billa pasti mengerti. Jidan, Jihan dan Jaffin membutuhkan Billa." Kata Ghea pada Davan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1