
Jihan membantu Alaska untuk duduk, Jihan juga membuka blazer nya untuk menyumpal luka Alaska agar tidak keluar darah terus menerus, beruntung Alaska tidak sampai pingsan, hanya saja pelipisnya terus mengeluarkan darah.
"Bawa kerumah sakit, Ji." Kata Jidan.
Jidan dan Jihan membantu Alaska untuk beridiri dan memapahnya kemobil Jidan untuk segera membawanya ke rumah sakit.
Disepanjang jalan, Jihan memegangi terus blazer yang menutupi luka Alaska sementara Alaska hanya bersandar dikursi sambil memejamkan matanya yang menahan sakit.
Tanpa Alaska dan Jihan sadari, satu tangan Alaska menggenggeam tangan Jihan yang terus memegangi Blazer dikepala Alaska, hal itu pun terlihat dari kaca spion oleh Jidan yang mengemudikan mobilnya.
Luka itu mengakibatkan sobekan kecil dan harus mendapat tiga jahitan dipelipis Alaska.
Selama proses pengobatan, Jihan terus berada didekat Alaska, dan masih tanpa mereka sadari, tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain.
"Ada yang dirasa?" Tanya dokter di IGD itu setelah selesai menjahit luka di pelipis Alaska.
"Hanya sedikit pusing, Dok." Jawab Alaska sambil meringis.
"Tidak mungkin hanya pusing sedikit, itu pasti sakit sekali." Sahut Jihan dengan raut wajah cemas.
"Ada masalah lain Dok?" Tanya Jidan yang baru saja menyelesaikan administrasi rumah sakit.
"Tidak ada, pasien bisa pulang dan istirahat dirumah." Jawab Dokter. "Saya akan meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik." Ucapnya lagi.
"Terimakasih, Dok." Kata Jidan dan Jihan bersamaan.
Kini mereka sudah berada didalam mobil. "Antar aku ke apartemen saja, Jid." Kata Alaska.
"Di apartemen tidak ada yang mengurusmu, Al." Jawab Jidan.
"Aku tidak mau Mommy cemas padaku, kau tau kan lebay nya Mommy seperti apa?" Tanya Alaska.
"Meskipun berlebihan tapi setidaknya Mommy Cla merawatmu." Kata Jidan.
Alaska menghembuskan nafas kasarnya, "Turunkan saja aku di halte, aku akan ke apartemen sendiri." Kata Alaska keras kepala.
"Antar saja ke Apartemen, Jid. Biar aku yang merawat Alaska." Kata Jihan pada akhirnya.
"Kau yang merawatnya, Ji?" Tanya Jidan memastikan yang melihat dari spion.
"Alaska terluka karna melindungiku. Aku akan merawatnya." Kata Jihan tulus.
"Tidak perlu, Ji. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Ucap Alaska.
Jihan dan Jidan saling bertatapan melalui kaca spion dan Jihan menganggukan kepalanya. Jidan mengerti apa yang dimaksud oleh saudarinya itu.
Jidan mengantar Jihan dan Alaska sampai ke apartemen milik Alaska.
__ADS_1
"Jangan ceritakan ini pada siapapun, termasuk Beni." Ucap Alaska saat baru saja duduk di sofanya.
"Jihan akan disini merawatmu, besok aku yang akan menjagamu." Kata Jidan.
"Aku bilang tidak perlu, Jid." Kata Alaska.
"Suka atau tidak suka, Itu sudah jadi keputusanku atau aku akan bilang hal ini pada Daddy Al dan Mommy Cla." Kata Jidan sedikit mengancam.
"Ji, dimobilku ada pakaianmu, aku akan mengambilkannya." Ucap Jidan lembut pada Jihan.
"Jidan keras kepala sekali. Apapun perkataannya tidak mau dibantah." Kata Alaska.
"Ya sama sepertimu. Kalian memang sama." Balas Jihan.
Alaska terdiam sampai ia melihat blazer Jihan di tangan Jihan.
"Maaf aku mengotori Blazermu." Kata Alaska.
"Tidak apa, Blazerku tidak sebanding dengan luka robekan di pelipismu." Ucap Jihan. "Maaf, karnaku kau terluka."
Alaska hanya diam.
"Hubunganmu dengan Gibran, apa itu benar adanya, Ji?" Tanya alaska dengan nada lirih.
Jihan menatap wajah Alaska yang tidak menatapnya.
Jidan memberikan pakaian ganti milik Jihan, kemudian ia pamit pulang. Beruntung esok adalah hari week end, hari dimana tidak masuk kerja.
Gibran menghubungi Jihan setelah melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari sang kekasih.
"Ji, maafkan aku, tadi aku sedang bertemu klien." ~Gibran~
"Tidak apa, Gab. Tadi mobil ku dan Bos mengalami ban bocor, tapi sudah diatasi, Jidan datang membantu." Jawab Jihan tanpa menceritakan hal detailnya.
"Baiklah, aku menyesal tidak bisa kamu andalkan untuk hari. Nanti aku akan menjemputmu." ~Gibran~
"Tidak perlu, Gab. Aku pulang bersama Jidan karna Jidan masih bersamaku." Lagi lagi Jihan berbohong.
Gibran mempercayainya dan ia menutup panggilannya. Alaska memperhatikan percakapan Jihan dengan Gibran, tiba tiba saja otaknya mempunyai niatan untuk merebut hati Jihan.
Awalnya Alaska memang akan merelakan Jihan, namun setelah ia mendengar Jihan berbohong pada Gibran, ia jadi mempunyai niatan untuk merebut Jihan.
Jihan menghampiri Alaska yang ingin berdiri. "Kak, butuh apa? biar aku yang ambilkan." Ucap Jihan.
"Tidak, aku hanya ingin kekamar mandi. Kamu mau membantuku?" Tanya Alaska dengan senyum usil.
Jihan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Alaska sedikit tertawa sambil meringis menahan sakit, "Harusnya kau tanggung jawab semuanya, termasuk mengantarku kekamar mandi." Kata Alaska lalu berlalu.
Jihan kini beralih ke dapur, ia mencoba memasak sesuatu.
Alaska yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung duduk dikursi meja bar sambil memperhatikan Jihan.
"Kau jago juga berkelahi." Kata Alaska.
"Sudah lama sekali aku tidak berkelahi. Terakhir aku berkelahi saat kelas dua SD dan lawanku adalah Gibran." Ucap Jihan tersenyum seraya mengenang masa lalunya.
Alaska memutar malas bola matanya saat mendengar nama Gibran.
"Kau masak apa?" Tanya Alaska mengalihkan pembicaraan.
"Hanya menggoreng Ayam yang sudah tersedia di kulkas dan membuat sup makaroni untukmu." Jawab Jihan.
"Maaf, aku merepotkanmu." Alaska menatap Jihan yang fokus memotong wortel.
"Aku yang salah, Kak. Karna melindungiku, kakak jadi kena hantaman balok." Jihan tersenyum.
"Karna aku tidak ingin wanita yang kusukai terluka." Kata Alaska dengan tatapan lembut pada Jihan.
Jihan melihat ketulusan di mata Alaska, namun ia segera tersadar karna Tatapan mereka adalah sebuah kesalahan.
Jihan kembali fokus untuk memasak dan Alaska terus memperhatikannya.
"Ji, apa kau mencintai Gibran?" Tanya Alaska.
Jihan hanya diam sambil mengaduk ngaduk sayuran didalam panci.
"Apa Kakak mencintai Rania?" Balas Jihan.
Alaska balik terdiam.
"Fokuslah pada pasangan masing masing, Kak. Aku dengan Gibran dan Kakak dengan Rania." Ucap Jihan dengan pandangan tak lepas dari sayuran yang ia tengah buat.
"Aku pernah menyukainya, namun aku juga dikecewakan olehnya." Alaska menghela nafas sejenak, "Jarak dan waktu yang memisahkan membuat rasa itu memudar dengan sendirinya. Dan seiring jalannya waktu, kebersamaan kita yang hampir setiap hari dan waktu membuatku ingin memilikimu." Ucap Alaska sambil menatap punggung Jihan yang membelakanginya dari jauh.
Jihan hanya diam enggan menaggapi, ia masih mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulu Alaska.
Benarkah Alaska mencintainya? Sejak kapan? mengapa bisa? Pertanyaan itu terus berputar putar dikepala Jihan.
Alaska kembali duduk di sofa, setidaknya ia sudah lega mengatakan isi hatinya pada Jihan, ia tetap akan mengejar Jihan, tidak perduli Jihan sudah memiliki kekasih.
Jihan masuk kekamar tamu setelah membantu Alaska makan dan meminum obatnya. Entah mengapa setelah mendengar ucapan Alaska, Jihan merasa jantungnya berdegup kencang saat berdekatan dengan Alaska.
Jihan mencoba menepisnya, ia tidak ingin mengecewakan Gibran yang sudah begitu tulus padanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...