BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 27


__ADS_3

Clara menatap tampilannya dicermin, ia memakai kemeja putih, rok sepan selutut berwarna hitam dan blazer senada dengan roknya.


"Koq deg deg an ya." Gumam Clara sambil memegang bagian depan dadanya saat berada di loby perusahaan.


"Lantai tujuh ya Mba, nanti akan ada yang menunjukan dimana ruangannya." Kata resepsionist pada Clara saat menanyakan tempat yang ditujunya.


Clara mengangguk, "Trimakasih, Mba."


Clara menekan tombol tujuh di tombol lift, kotak besi itu membawa Clara tiba dilantai tujuh, ia melihat tulisan divisi pemasaran.


"Kayaknya aku melamar untuk staf keuangan, kenapa dialihkan ke divisi pemasaran ya? Apa bagian disini yang membutuhkan tenaga tambahan?" Batin Clara bermonolog.


Clara duduk diruang tunggu bersama tujuh orang lainnya yang diterima bekerja.


"Clara Adisti." Panggil seseorang yang menyuruhnya masuk kedalam ruangan.


Clara perlahan masuk kedalam ruangan, ia sedikit terkejut saat melihat sosok Joni yang ia kenal sebagai majikannya Aldi dulu. Namun Clara hanya diam meski ia ingin sekali menanyakan sesuatu.


"Clara Adisty." Kata Joni berwibawa.


"Iya, Pak." Jawab Clara.


"Status menikah?" Tanya Joni lagi.


"Hmm, sebenarnya saya baru bercerai hampir dua bulan yang lalu, Pak." Kata Clara jujur.


"Belum dirubah identitasmu?" Tanya Joni.


"Belum sempat, Pak." Jawab Clara.


"Kalau begitu, tetaplah dengan status anda yang sudah menikah ini, karna perusahaan sulit menerima status yang belum dirubah." Kata Joni mulai menjalankan misinya.


"Melamar sebagai keuangan?" Tanya Joni kemudian.


"Betul, Pak." Jawab Clara.


"Maaf tapi Staff keuangan sudah terisi oleh orang lain." Kata Joni.


Clara mengernyitkan dahinya, "Tapi pak, kemarin saya di telpon katanya diterima kerja di DW Group."


Joni mengangguk, "Betul, hanya saja kami tidak bilang menerima anda di bagian staff keuangan. Kami menerima anda untuk menjadi sekertaris direktur pemasaran yang sedang kosong." Kata Joni menjelaskan. "Bagaimana?" Tanya Joni lagi.


"Tapi pak, saya melamar pekerjaan untuk jdi staff keuangan." Kata Clara bingung.


"Tidak masalah, anda akan kami training dulu slama satu bulan. Bukankah sebelumnua anda juga pernah bekerja sebagai sekertaris?" Ucap Joni.


Clara tampak berpikir.


"Ini kisaran gajimu." Joni menyodorkan kertas bertuliskan nominal.


Clara cukup tergiur dengan tawaran angka yang berjejer itu, pasalnya itu dua kali lipat dari gajinya di Erlasha. Meski Clara bekerja sebagai sekertaris sama seperti di Erlasha dulu, tapi Erlasha hanya butik yang sedang berkembang tentunya beda dengan perusahaan yang sudah mempunya nama seperti DW Group.


"Ini belum termasuk tunjangan kesehatan, uang makan, transport dan bonus kehadiran." Kata Joni lagi yang membuat mata Clara berbinar.

__ADS_1


"Bagaimana? Saya tidak punya waktu menunggu anda untuk berpikir."


Clara mengangguk, dengan gaji dan bonus sebanyak itu, Clara bisa mencicil sebuah kendaraan dan rumah minimalis sekaligus.


Joni mengambil map berisikan kontrak. "Silahkan baca, dan tanyakan jika ada yang dimengerti."


Clara membuka dan membaca satu persatu setiap point yang tertulis jelas disana.


"Kontrak satu tahun, Pak?" Tanya Clara.


"Iya, dan bersedia dipindahkan posisi atau jabatan diwaktu tertentu." Kata Joni memperjelas. "Jika mengundurkan diri dari masa kontrak akan dikenakan penalty sepuluh kali lipat dari gaji pokok yang diterima."


"Jadi sewaktu waktu jabatan saya bisa dipindah, Pak?" Tanya Clara.


"Iya, kerja di DW group harus siap menjalani jabatan apapun." Kata Joni.


"Baiklah, Pak. Saya menyetujuinya." Clara membubuhkan tanda tangannya diatas materai. Menyetujui kontrak untuk satu tahun kedepan.


Kontrak ini sudah di atur sedemikian rupanya oleh Joni, agar Clara tidak mengundurkan diri saat mengetahui jati diri Aldrich disini. Joni hanya berjaga jaga jika Clara tidak terima jika slama ini Aldrich membohonginya lalu mengundurkan diri dan gagal pada misinya.


"Maaf, Pak. Boleh saya bertanya satu hal?" Tanya Clara pada Joni saat selesai memberikan tanda tangannya.


"Silahkan." Kata Joni.


Clara seakan ragu, namun rasa penasaran membuatnya untuk menyingkirkan keraguannya.


"Soal Aldi supir Bapak dulu, setau saya dia bekerja disini juga, apa Bapak tau di bagian mana Aldi ditempatkan?" Tanya Clara.


"Maaf Nona Clara, bertanyalah untuk membahas pekerjaan, bukan untuk masalah pribadi, disini saya sedang bekerja juga." Kata Joni yang memang sudah mempersiapkan jawabannya, karna Joni tau Clara pasti akan mempertanyakan hal ini.


Hari pertama Clara lewati dengan berat, ia tak memiliki ilmu soal sekertaris apa lagi soal mengatur jadwal, beruntung dulu saat di Erlasha menjadi asisten ada sebagian ilmu tentang menghubungi klien satu sama lain. Meski berat, namun Clara dapat melewati harinya dengan baik, Clara juga belajar dengan begitu cepat. Joni slalu memperhatikan gerak gerik dan perkembangan Clara, lalu memberikan infonya pada Fariz.


Satu hari, dua hari, tiga hari terlewati. Clara bersyukur mendapatkan teman kerja yang baik baik.


Saat ini Clara sedang duduk dikantin bersama temannya yang bernama Yuni. Pandangan Clara tertuju pada seoramg wanita yang ia kenali.


"Mbak Rissa." Gumam Clara yang terdengar oleh Yuni.


"Kamu kenal Carissa?" Tanya Yuni sekertaris senior yang mentraining Clara.


Clara hanya mengangguk tanpa memberi keterangan.


"Dia Carissa, sekertaris CEO. Kabarnya dia dapat rekomendasi untuk naik jabatan jadi tim sekertaris presdir." Kata Yuni.


Clara mengangguk, dirinya tidak tau jika Rissa bekerja di DW Group. Clara hanya tau jika Rissa bekerja sebagai sekertaris disebuah perusahaan besar.


Clara ijin pada Yuni untuk menghampiri Rissa.


"Mbak.." Panggil Clara dan Rissa menoleh seketika.


"Clara..." Rissa terlejut saat melihat Clara mantan adik iparnya.


"Kamu disini?" Tanya Rissa.

__ADS_1


"Aku kerja disini, Mbak. Masih training jadi sekertaris direktur pemasaran." jawab Clara.


"Ya ampun, Ra. Ayo duduk sama aku." Rissa tetap bersikap baik pada Clara.


"Ternyata Mbak sekertaris disini." Clara masih tidak menyangka bisa satu perusahaan dengan Rissa.


"Iya, Ra. Aku sekertaris pribadi CEO." Jawab Rissa.


"Tapi denger denger Mba mau naik jabatan jadi tim sekertaris presdir?" Tanya Clara.


"Iya, Ra. Setelah lima tahun aku dapat rekomendasi jadi tim sekertaris Presdir."


Clara mengangguk.


"Gimana kabar kamu, Ra?" Tanya Rissa.


"Baik, Mbak." Jawab Clara. "Maaf, Mbak." Ucap Clara kemudian.


"Untuk?" Tanya Rissa.


"Perceraianku." Lirih Clara.


Rissa tersenyum. "Aku yang harusnya minta maaf, Ra. Aku seakan menutup mata untuk masalah kalian dulu."


Clara menggelengkan kepalanya. "Engga Mbak, malah Mbak slalu membela aku."


"Aku pernah ada diposisimu, saat aku tak kunjung hamil dan mertuaku menekanku. Aku tau rasanya seperti apa, Ra." Ucap Rissa. "Kamu bahagia?" Tanya Rissa.


Clara mengangguk, "Aku lega, Mbak."


"Aku tau apa masalahmu, soal Bisma yang mempunyai prilaku menyimpang." Kata Rissa pelan.


"Mbak tau?" Clara terkejut dengan perkataan Rissa.


Rissa mengangguk, "Aku sering melihat gelagat aneh Bisma. Bahkan Bisma pernah menatap mantan suamiku dengan tatapan menjijikan." Rissa menghela nafas sejenak. "Awalnya aku ingin menepis kecurigaanku, tapi saat aku melihat Bisma dan Sammy sering menginap bersama dihotel dan satu kamar, aku menjadi curiga, dan aku pernah melihat mereka berciumman di dalam mobil."


Clara menghela nafas,


"Aku cerita pada Ibu dan Ibu seolah menutup mata." Kata Rissa lagi.


Clara mengangguk, "Sudahlah Mbak. Aku tidak apa apa. Hidupku jauh lebih baik setelah perceraian." Kata Clara.


"Kamu tinggal dimana sekarang, Ra?" Tanya Rissa.


"Kost kost an dekat sini Mbak." Jawab Clara.


"Aku juga sudah tidak tinggal dirumah, aku lebih memilih keluar karna tidak tahan dengan sikap Ibu."


Clara mengernyitkan dahinya.


"Aku dan Bisma satu ayah beda ibu, Ra. Ibu memang ibunya Bisma, tapi bukan Ibu kandungku." Jawab Rissa yang seakan tau kebingungan Clara.


***

__ADS_1


Otw ketemu Aldrich nih..


kangen deh sama semangat dr readers..


__ADS_2