BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 106


__ADS_3

"Kenapa kau disini?" Tanya Gibran dengan heran.


"Tentu saja menyusulmu." Jawab Rosa tanpa rasa malu.


"Siapa dia?" Tanya Rosa tak suka, menunjuk Jihan dengan dagunya.


"Dia kekasihku." Kata Gibran sambil bergeser duduk di dekat Jihan dan menggenggam tangannya.


"GIBRAN!!" Pekik Rosa.


"APA?" Tanya Gibran tak kalah sarkas.


"Bagaimana bisa kau memiliki kekasih sedangkan kau tau aku menyukaimu sejak kecil." Teriak Rosa.


"Dan kau, Ja*lang, jauhi Gibran karna dia adalah calon suamiku!!" Ucap Rosa.


Jihan menyipitkan matanya, "Calon suami? Gibran saja mengakuiku sebagai kekasihnya, berarti aku yang calon istri Gibran, bukan kamu!!" Kata Jihan tegas.


Gibran tersenyum mendengar ucapa Jihan, ia tak menyangka, lagi lagi perkataan Jihan membuatnya merasa bahagia.


"Sudah, Sayang. Jangan ladeni dia." Kata Gibran melembut pada Jihan.


"Ingat Gib, perusahaanmu bisa sesukses ini juga karna orang tuaku!! Dan orang tuamu sudah menyetujui perjodohan ini." Kata Rosa mememperingatkan.


"Aku tidak perduli, bahkan jika aku miskin sekalipun aku tidak akan menikah denganmu." Tegas Gibran.


"Pasti karna wanita ini kan?" Tanya Rosa sambil berdiri.


"Tanpa Jihan pun aku tidak akan memilihmu, Ros!!" Balas Gibran kemudian ia ikut berdiri juga


"Jihan?" Tanya Rosa lalu menilik penampilan wanita yang berada disamping Gibran.


"Kau Jihan si gadis miskin dan kampungan itu?" Tanya Rosa tak percaya.


Jihan ikut berdiri, "Ya, aku Jihan. Dan aku adalah kekasih Gibran. Mungkin juga aku akan menjadi calon istrinya Gibran." Kata Jihan dengan sengaja


"Gib!!" Pekik Rosa.


Sementara Gibran hanya tersenyum sambil menatap wajah Jihan, dan Rosa tidak menyukai itu.


"Gib, ingat ya. 50% perusahaanmu adalah milik keluargaku. Jika Ayahku menariknya, perusahaanmu akan hancur dan bangkrut." Ancam Rosa.


"Aku tidak takut, aku akan memulai kembali semuanya dari nol." Ucap Gibran lantang.


"Dan aku akan menemani Gibran yang berjuang dari Nol." Tambah Jihan yang membuat hati Gibran merasa tersentuh.


"Rosa, lebih baik kamu keluar dari sini sebelum aku memanggil security." Ucap Gibran.


"Apa hak Mu, Gib? Disini hak kita sama." Kata Rosa keras kepala.


"Dan kamu, Jihan. Asal kamu tau!! Gibran deketin kamu karna kamu sudah menjadi orang kaya, jika kamu masih seperti dulu, aku yakin Gibran tidak sudi mendekatimu!!."


Plakk..


Jihan menampar pipi Rosa.

__ADS_1


"Kau..." Kata Rosa sambil mengusap pipinya yang terasa panas.


"Aku bisa merasakan mana ketulusan dan mana yang ingin memanfaatkanku, Ros." Jihan menjeda kalimatnya. "Usia tidak membuatmu berubah, kau masih sama saja dengan gadis kecil berusia delapan tahun yang hobi menghina orang lain."


"Aku akan balas perbuatan kalian, akan ku adukan hal ini pada Ayahku, Gib." Kata Rosa kemudian meninggalkan ruangan Gibran.


Gibran duduk sambil menghela nafas, "Maafkan aku, Ji." Kata Gibran.


Jihan pun kini duduk disebelah Gibran. "Kau dijodohkan dengan Rosa?" Tanya Jihan.


"Tapi aku menolaknya, itu mengapa aku ke Jakarta untuk mengembangkan usaha travel ini, karna keluarga Rosa slalu saja menekanku untuk menikah dengan Rosa." Jawab Gibran.


Tanpa Gibran duga, Jihan menyandarkan kepalanya di bahu Gibran, "Bersemangatlah, Gab. Apapun yang terjadi, aku akan slalu mendukungmu, meski kau harus memulai usahamu sekalipun dari nol lagi."


Gibran menunduk, menyembunyikan air mata yang mulai tergenang begitu saja.


Gibran merasa terharu dengan ketulusan Jihan. Di dalam hatinya, Gibran berjanji tidak akan pernah mengecewakan Jihan.


"Kita hadapi bersama, ya Gab." Ucap Jihan.


Gibran menggenggam tangan Jihan dan mengecup puncak kepalanya, "Terimakasih." Katanya dengan lirih.


**


"Aku akan ke Jogja lusa, Ji." Kata Jidan sambil berkemas.


Jihan duduk ditepi tempat tidur Jidan. "Aku akan merindukanmu." Kata Jihan.


"Rumah itu sudah ku beli, Ji." Ucap Jidan yang kini duduk bersebelahan dengan Jihan.


"Terimakasih, Jid." Kata Jihan.


Tangan Jidan merangkul pundak Jihan, "Akan aku lakukan apapun untukmu dan Ibu."


"Kau tidak menyayangi Ayah dan Jaff, Jid?" Tanya Jihan.


"Aku menyayanginya, hanya saja rasa sayangku ke Ibu dan padamu itu berbeda." Jawabnya.


"Oh ya, Gibran juga akan ke Jogja bersamaku. Apa Gab bilang padamu, Ji?" Tanya Jidan mengalihkan pembicaraan.


Jihan mengangguk, "Ya, dia akan melepaskan saham milik orang tua Rosa agar bisa terbebas bayang bayang Rosa." Kata Jihan.


"Anak itu masih saja sok kuasa seperti dulu." Kesal Jidan.


"Jid, Rosa bilang padaku, dia bilang kalau Gibran mendekatiku karna aku yang sudah menjadi orang kaya, jika aku masih miskin seperti dulu, Gibran tidak akan mendekatiku. Menurutmu bagaimana?" Tanya Jihan.


"Apa Gibran membela dirinya sendiri saat Rosa berkata seperti itu?" Tanya Jidan.


Jihan menggelengkan kepalanya, "Gibran hanya diam."


Jidan mengangguk, "Gibran diam karna dia merasa percuma berurusan dan menyangkal ucapan Rosa, Gab tidak perlu menyangkal melainkan membuktikannya jika ia tak merasa."


"Menurutmu seperti itu?" Tanya Jihan.


"Aku rasa, Gibran sudah menyukaimu sedari kecil, Ji. Karna itu dia menyembunyikan rasa sukanya dengan membuatmu marah." Jawab Jidan.

__ADS_1


"Benarkah, Jid?" Tanya Jihan.


"Sewaktu kecil aku merasa, Gibran adalah pria yang baik, aku merasa aneh, kenapa Gibran slalu mencari gara gara denganmu sedangkan denganku tidak, bahkan disaat teman temannya membully ku, Gibran memilih diam dan tidak ikut ikutan." Ucap Jidan.


Jihan tersenyum, "Kau slalu saja bisa memahami perasaan orang lain."


Keesokan harinya, Jidan dan Jihan makan siang bersama Gibran.


"Kalian LDR." Kata Jidan meledek.


"Cuma dua minggu." Jawab Gibran sambil terus mengulas senyum. Semenjak kejadian dikantornya, Rasa cinta Gibran semakin dalam pada Jihan.


"Setelah dua minggu, aku nyusul ke Jogja." Sahut Jihan yang diangguki oleh Gibran.


"Baguslah, sejak kecil kau belum pernah kembali lagi ke Jogja." Kata Jidan pada Jihan.


"Rosa, dia dimana sekarang, Gab?" Tanya Jihan.


"Pakde ku bilang dia kembali ke Jogja, ngadu sama orang tuanya." Jawab Gibran.


"Lalu?" Tanya Jidan.


Gibran tersenyum getir, "Ayahnya mengancam akan menarik semua sahamnya, karna itu aku ke Jogja untuk konsultasi dengan pengacara."


"Perusahaanmu akan goyang, Gab jika itu sampai terjadi." Kata Jidan.


"Tidak apa, Jid. Ada Jihan yang menemaniku dari nol. Dan jika perusahaanku tidak bisa diselamatkan. Aku akan mencari pekerjaan." Gibran berbicara dengan begitu tenang.


"Aku akan membantumu." Kata Jidan tulus.


"Jangan, Jid. Aku tidak ingin orang mengira aku memanfaatkanmu dengan kedekatanku dengan Jihan. Aku seorang lelaki, aku akan tanggung jawab dengan masa depanku sendiri." Balas Gibran.


"Sejak kapan orang tuamu meninggal?" Tanya Jihan.


"Ayahku meninggal saat aku mulai kuliah. Dan Ibuku dua tahun yang lalu." Jawab Gibran.


Jidan menyukai sikap dewasa Gibran. Terlebih Gibran pun tanggung jawab terhadap dua adiknya yang kuliah dan sekolah. Itu menambah point plus dari Jidan.


"Bagaimana bisa keluargamu mengenal keluarga Rosa, Gab?" Tanya Jidan.


Gibran mengerdikan bahunya, "Entahlah. Yang aku tau dulu, Ayahnya Rosa adalah orang kepercayaan Ayahku. Entah mengapa ia bisa memiliki saham 50% di perusahaan Ayah." Jawab Gibran.


"Menurutku disini ada yang tidak beres, Gab." Sahut Jihan.


"Coba kau cek bagian tim audit keuangan perusahaanmu. Atau bisa jadi ada sesuatu didalam perusahaanmu jauh sebelum kau memegangnya, Gab." Kata Jidan yang nemiliki otak yang cerdas.


"Seuatu? Terjadi?" Tanya Gibran.


Jidan berpikir sejenak. "Aku akan mengirim tim audit dan pengacara perusahaan Ayahku untuk membantumu memeriksa perusahaanmu. Apa kau setuju, Gab?" Tanya Jidan.


Jihan menggenggam tangan Gibran. "Terima maksud baik Jidan, Gab. Insting Jidan slalu tepat." Kata Jihan.


Gibran mengangguk. "Maaf jika membuatmu repot, Jid." Kata Gibran.


"Kita berteman, Gab. Dan kau adalah kekasih saudariku, aku akan membantu sebisaku."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2