
Davan mencoba mendatangi kamar Jihan, semenjak pulang dari rumah sakit, Jihan slalu mengurung diri dikamar dan tidak ikut makan malam bersama.
"Boleh Ayah masuk?" Tanya Davan yang menyembulkan kepalanya di pintu yang sedikit terbuka.
Jihan menoleh dan tersenyum, "Masuklah Yah." Kata Jihan.
Davan melangkah mendekati Jihan yang duduk di sofa sambil membaca buku, matanya tertuju pada gelas berisikan susu yang belum tersentuh sama sekali.
"Kenapa susunya tidak di minum?" Tanya Davan.
"Ji mual, Yah." Jawab Jihan.
"Tapi kau harus meminumnya biar bayimu sehat." Kata Davan dengan lembut.
Jihan menggelengkan kepalanya. "Dulu Ibu juga bisa sehat mengandung aku dan Jidan tanpa meminum susu." Jawabnya tanpa mengalihkan padangannya dari bukunya.
Davan menghela nafas, ia kembali teringat masa masa yang dilalui Billa saat mengandung buah hatinya tanpa dirinya. Pastilah Billa seperti ini, merasa tidak punya keluarga dan hanya seorang diri.
"Maafkan Ayah." Ucap Davan serius.
"Ayah tidak salah apapun, Ji yang salah pada Ayah karna tidak bisa membuat Ayah bangga dan malah membuat Ayah malu." Ucapnya lirih.
"Tidak, Ji. Kau tetap anak kebanggaan Ayah." Ucap Davan.
"Tidak ada anak yang hamil diluar nikah dan membuat bangga Ayahnya, Yah. Jangan menghibur diriku, Ji tidak apa apa, Yah." Balas Jihan.
Davan terdiam, dirinya memang mencoba menerima kondisi Jihan, namun tidak bisa menutupi rasa kecewanya.
Pandangan Davan tertuju kembali pada gelas susu yang masih belum tersentuh.
"Ji.. Taukah kau apa penyesalan terberat Ayah?" Tanyanya dengan nada lirih. "Membiarkan Ibumu pergi dalam kondisi mengandungmu dan Jidan." Ucapnya.
"Taukah kau apa yang Ayah lakukan selama delapan tahun lebih kehilangan kalian?" Tanya Davan lagi. "Ayah mencari kalian, menyewa detektif handal namun Ibumu pergi tanpa meninggalkan jejak. Ayah menyesal, bahkan rasanya Ayah lebih memilih mati karna penyesalan itu. Tapi Ayah teringat jika Ibumu sedang mengandung anak Ayah."
"Kau tau, Ji?" Davan menghela nafas sejenak. "Saat melihatmu dan Jidan berjualan asongan souvenir di depan hotel. Hati Ayah bertanya, bagaimana nasib anak Ayah saat ini? Dan keesokan harinya, Daddy Al memberi informasi jika Ibu dan anak anak Ayah sudah ditemukan. Betapa bahagianya Ayah karna ternyata bukan hanya satu, melainkah Ayah memiliki dua anak sekaligus. Tetapi.
Ayah juga bersedih saat tau kehidupan kalian yang sangat miskin bahkan untuk membeli sepatu saja kalian harus berjualan souvenir. Ayah merasa tidak berguna, Ji." Katanya mengenang masa masa terpuruknya.
"Ji, jika saat ini kau hamil dan kau tidak ingin memberitahu Ayah siapa pria itu. Ayah akan coba memakluminya. Tapi ijinkan Ayah untuk terus mendampingimu, menemani masa kehamilanmu yang dulu tidak bisa Ayah lakukan pada Ibu saat mengandungmu dan Jidan. Ijinkan Ayah kali ini menebus rasa bersalah Ayah. Ayah janji tidak akan membahas apapun lagi." Kata Davan sungguh sungguh.
Billa masuk kedalam kamar Jihan dan mendengar sedikit apa yang dikatakan Davan pada Jihan.
"Ji.. Kenapa susunya tidak kau minum?" Tanya Billa.
"Ji mual, Bu." Jawab Jihan.
Billa mendekat dan mengusap kepala Jihan. "Istirahatlah. Kau pasti sangat lelah." Ucap Billa.
__ADS_1
Jihan mengangguk. "Selamat malam, Ayah." Ucap Jihan tanpa sebuah kecupan di pipi.
Billa memberi kode pada Davan untuk keluar dan Billa akan menemani Jihan tidur. Davan pun menurut.
Jihan menuju tempat tidurnya dan duduk ditepi tempat tidur, ia tahu jika Billa ingin mengajaknya berbicara.
"Apa yang kau pikirkan, Ji?" Tanya Billa lembut.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, Bu. Hanya saja Ji rindu rumah kita yang dulu, tinggal bertiga seperti dulu."
"Kau menyesal bertemu dengan Ayah?" Tanya Billa mendalam.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Bu. Hanya saja aku berpikir. Mungkin jika kita tidak bertemu dengan Ayah dan menikmati hidup yang sekarang, Ji tidak akan seperti ini."
Billa mengangguk paham, ia mengerti apa yang tengah dirasakan oleh putrinya.
"Jangan dipikirkan, Ibu tetap akan menyayangimu dan juga anakmu." Kata Billa menguatkan.
Jihan mengangguk. "Hanya Jidan dan Ibu yang tulus menyayangiku." Ucapnya.
"Ayah juga menyayangimu, Ji." Kata Billa.
Jihan hanya diam.
**
Sementara Alaska, ia juga akan kembali ke perusahaan meski ingatannya masih belum sempurna.
"Ji, tidak perlu bekerja. Bagaimana dengan bayimu." Kata Davan saat sarapan bersama.
"Aku harus tetap bekerja, Yah. Aku harus menghidupi anakku nanti." Jawab Jihan.
"Ji, aku akan bertanggung jawab untuk anakmu." Ucap Jidan.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Jid. Aku tetap akan bekerja untuk menghidupi anakku sendiri. Jika kalian melarang, aku bersumpah akan pergi membawa bayiku sejauh mungkin." Ucap Jihan mantap.
Davan hanya diam, ia sangat takut kehilangan Jihan.
"Kalau begitu bekerjalah bersamaku." Kata Jidan.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Tidak, Jid. Aku harus menyelesaikan kontrakku di DW Group. Aku harus tanggung jawab dipekerjaanku. Kasihan Daddy Al karna Bang Beni masih koma dan Kak Alaska masih belum ingat semuanya. Dan hanya aku yang bisa membantunya." Kata Jihan.
Jidan dan Davan saling melirik.
"Biarkan aku menjalani hidupku." Kata Jihan lagi.
Jidan dan Davan akhirnya mengijinkan. Jihanpun tidak lagi memakai mobil sportnya, ia memakai mobil milik Billa dengan tranmisi matic agar lebih leluasa saat berkendara sendiri.
__ADS_1
"Jihan..." Aldrich sedikit terkejut saat melihat kedatangan Jihan.
"Dad maafkan aku libur terlalu lama." Kata Jihan. "Daddy tidak memecatku, kan? Karna aku membutuhkan pekerjaan ini." Ucap Jihan lirih.
"Ayahmu dan Jidan bisa mencukupi kebutuhanmu, Ji." Kata Aldrich.
Jihan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dad. Aku harus mandiri. Memberikan contoh yang baik untuk anakku." Kata Jihan.
Sebenarnya Jihan mempunyai maksud tujuan lain, ia ingin dekat dengan Alaska dan membuat Alaska kembali mengingat apa yang sudah dilakukannya padanya.
Jihan bertekad akan mengembalikan potongan puzzle yang teracak pada tempatnya lagi.
Tujuan Jihan hanya satu, yakni Alaska mau bertanggung jawa pada bayi yang di kandungnya.
Aldrich mengangguk dan menyetujuinya. Ia memang masih membutuhkan Jihan sebagai asisten Alaska, terlebih saat ini Beni masih dalam kondisi koma.
"Kau masih akan tetap menjadi asisten Alaska. Tidak apa apa kan Ji?"
Jihan tersenyum, "Tidak apa, Dad. Terimakasih." Ucapnya.
"Datanglah keruangan Alaska, dia sudah mulai bekerja juga hari ini." Ucap Aldrich dan Jihan pun mengangguk.
Dengan ragu, Jihan menuju ruangan Alaska, sesekali Jihan mengusap perutnya seolah berkata pada janin yang dikandungnya untuk membantu menguatkan dirinya.
"Kak Al." Panggil Jihan ragu.
Alaska menatap aneh pada Jihan, "Kau masih bekerja?" Tanya Alaska sedikit sinis.
Jihan nengangguk, "Aku membantu Kak Al untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda, karna tidak ada Beni dan Kak Al juga sedikit lupa, jadi aku yang akan mengerjakannya." Ucap Jihan.
"Kau yakin bisa bekerja dengan kondisi hamil seperti itu? Jangan sampai nanti malah menyusahkanku." Kata Alaska dengan ketus.
Jihan menghela nafas dalam dalam, ia mencoba tenang dengan semua perkataan Alaska.
"Kak Al tenang saja, aku tidak akan pernah menyusahkan Kakak." Ucapnya setenang mungkin.
Alaska berdecak, "Ck, kau ini harusnya jauh jauh dari aku." Ucapnya lalu memilih mengerjakan pekerjaannya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon bersabar ya, Readers..
ini konflik terakhir sebelum akhirnya end.
Sesuai ciri khasku, konflik tidak akan bertele tele kok..
Jodohnya Gibran juga udah aku siapin, aku bikin greget dulu ya hubungan Jihan sama Alaska. Jodohnya Gibran ada di Bonchap.
__ADS_1